Ketakutan Gendis.

1582 Words
Gendis mengerjapkan matanya. Pikirannya berkabut memikirkan di mana ia berada saat ini. Segala hipotesa berjejal dan bercabang tentang segala kemungkinan-kemungkinan yang ada. Jika boleh meminta, ia sangat ingin ketika matanya terjaga seperti ini, ia mendapati dirinya sudah berada di kasurnya yang empuk dengan aroma jasmin kesukaannya. Aroma yang kata ibunya lebih mirip dengan aroma kematian dibanding aroma yang memberi kesegaran seperti yang Gendis sering sangkalkan kepada ibunya. Apakah apa yang selalu ibunya ucapkan di setiap kali memasuki kamarnya itu menjadi kenyataan bahwa ia kini sudah mati? Namun Gendis bukan tak tahu gambaran alam barzah. Malaikat Mungkar Nakir tak mungkin ada banyak, bukan? Lagi-lagi Gendis mengerjapkan matanya lalu kembali mencoba untuk mengedarkan pandangan. Apa yang ia lihat masih sama dengan apa yang ia lihat satu menit yang lalu. Sebuah gubuk dengan atap jerami yang di dalamnya terdapat satu bale-bale dengan kain satin yang menjadi tempat perebahannya saat ini dan juga dua buah kendi di atas meja persegi panjang dari kayu jati. Selain itu tidak ada lagi yang bisa ia temukan. Suara talu dari luar terdengar di indra pendengarannya. Gendis menyadari akan suara itu semenjak ia tersadar. Hanya saja wanita itu terlalu bingung atas semua yang terjadi padanya sehingga ia memilih mengabaikan suara yang mengganggunya. Namun tidak saat ini. Setelah suara itu makin riuh membuat gadis itu mulai penasaran dengan talu suara di luar sana. Ia bangun perlahan, lalu duduk di tepi bale-bale. Pandangannya masih berkabut, tapi rasa penasaran yang mendorongnya membuat ia memaksakan diri berjalan dengan kondisi setengah terhuyung. Gerak yang terbata membuat Gendis menyenggol salah satu kendi dan pecah. Suara pecahan membuat Sanjaya menghentikan kegiatannya—memotong kayu bakar— di luar sana lalu masuk segera dan mendapati Gendis meringkuk memegang kepala. “Kau terlalu ceroboh, Nyai.” Sanjaya mendekati Gendis. Memikul tubuh wanita itu lalu merebahkannya di atas bale-bale. Pandangannya yang terbatas membuat Gendis belum sepenuhnya melihat wajah seseorang di hadapannya. Ia menutup-bukakan matanya agar bisa melihat siapa seseorang di hadapannya. Mana kala kabut di penglihatannya memudar, Gendis terperangah. “Kamu?” Matanya setengah memicing. Keningnya berkerut. “Orang yang sama dengan lelaki di pasar aneh tadi?” Sesaat Sanjaya terdiam, sama sekali tidak berniat menimpali sampai akhirnya ia membuka suara. “Istirahatlah,” titah Sanjaya. Lalu kemudian gegas pemuda itu melangkah pergi. Otak Gendis masih sibuk berputar-putar. Menyusun semua keanehan yang terjadi. Pakaian ala sinetron kolosal, pohon yang bisa bicara lalu keberadaannya saat ini bersama pemuda yang sama dengan saat ia berada di pasar. “Tunggu! Kamu harus jelasin ini dulu sama aku.” Gendis menghentikan Sanjaya. Berharap ia dapat menemukan satu titik terang. Sanjaya berbalik. Menatap Gendis dengan ekspresi dingin. Hingga Gendis merasa lelaki di hadapannya berbeda dengan lelaki sebelumnya yang ia temui terlihat dari perangainya. “Di mana aku?” tanya Gendis. Matanya menatap Sanjaya lekat. "Kenapa aku tiba-tiba ada di sini? Terakhir kali seingatku, aku ada di tempat si pohon bicara itu, menunggu sekelompok orang menunggangi kuda. Bisa kamu jelaskan?" pinta Gendis. Ia masih berusaha mengingat-mengingat kejadian sebelumnya . “Kenapa bertanya padaku?” Suara Sanjaya terdengar. Berdiri di ambang pintu, lelaki itu menatap Gendis dengan ekspresi yang dingin. “Apa kamu yang bawa aku ke sini? Dan saat tadi di pasar, kamu bilang aku tidak tersesat. Bisa kamu jelaskan ucapan kamu sebelumnya.” Mata Gendis masih menerobos masuk ke manik mata dingin di hadapannya. Memohon dalam diam agar lelaki itu memberi secercah titik terang. “Kamu memang tidak tersesat. Kamu sendiri yang memilih jalan menuju ke sini," jelasnya. “Maksudmu?” Gendis beringsut bangun dari tidurnya. Ia mengabaikan rasa pening yang masih menggelayuti. Rasa penasarannya atas kondisinya saat itu lebih besar dibanding rasa pening yang terus menghunjam. "Aku tidak merasa pernah memilih ke mana aku akan pergi. Terlebih ke tempat aneh ini. Tolong, bisakah kamu jelaskan?" pintanya. “Belum saatnya kamu mengetahuinya. Tidurlah, Nyai," perintah Sanjaya. “Namaku bukan Nyai. Kenapa semua orang memanggilku nyai di sini?!” “Sebutkan siapa namamu." Sanjaya berjalan mendekat. Cara Sanjaya melihatnya sungguh mengintimidasi. Membuat Gendis sedikit meremas tangannya pada seonggok kain satin di bawah dirinya. “Kau memerintah?" Meski jantungnya bertalu-talu. Gendis memperlihatkan kegentarannya. Ia berusaha membuat air wajah senormal mungkin. “Menurutmu ini memerintah?” “Tentu saja, bukan begini cara berkenalan dengan seorang gadis.” Sial! Kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Sanjaya terkekeh. Hingga menampakkan wajah paling manis yang pernah Gendis lihat. “Jadi sekarang kau ingin berkenalan, Nyai?” Sanjaya semakin mendekat. Wajahnya mengikis jarak membuat wajah keduanya hanya berjarak beberapa 3 cm saja. "Jadi siapa namamu, Nyai?" Seringainya mengerikan bersama hangat napasnya menerpa wajah Gendis. Susah payah Gendis menelan Saliva. “A—aku bukan Nyai," cicit Gendis. Gadis berusia 20 tahun itu tahu jika posisi ini terlalu berbahaya untuknya. “Kalau begitu sebutkan saja namamu.” Gendis mencoba menormalkan detak jantungnya. Tidak bisakah berkenalan dengan cara paling normal yang pernah gadis itu ketahui, dibanding harus dengan kalimat todongan juga posisi mengintimidasi?! “A—ku Gendis.” Gendis menyebutkan namanya. Wajahnya bersemu merah membuat seringai Sanjaya kembali tercetak di bibir merahnya. “Astaga! Bibirnya merah.” Bahkan kini pikiran gadis itu terlalu kacau sampai-sampai mata dan pikirannya tak luput dari gurat-gurat ketampanan orang di hadapannya. “Baiklah, selesai, ”jawabnya singkat lalu kembali membalikkan tubuhnya begitu saja. Membuat Gendis menganga seketika. Ini jelas penghinaan! Ter nobatnya gadis itu sebagai wanita jomlo dengan waktu lama bukan berarti tidak ada sama sekali yang tertarik padanya. Untuk ukuran wanita berkuli putih dengan bibir mungil juga wajah oriental serta surai panjang bergelombang. Siapa yang tak tertarik pada Gendis? Beberapa lelaki yang pernah mengajak gadis itu berkenalan, hampir semua memberikan ekspresi senang. Tapi apa yang dilakukan Sanjaya? Jelas seringai tadi merupakan ejekan! “Hei! Kamu mau ke mana” Gendis memekik, tapi Sanjaya tetap abai dan memilih terus melangkah pergi hingga punggung bidangnya lepas dari jangkauan Gendis. *** Mata Gendis terus menatap awas pada semua sudut di sekelilingnya. Tubuhnya kembali gemetar. Seperginya Sanjaya ia kembali merasakan hawa takut yang terus menghantuinya secara bertubi-tubi. Mulai dari desau aneh yang selalu ia dengar dari awal ia terbangun di tempat ini. Juga auman-auman misterius dari jarak jauh. Gadis itu meringkuk di atas bale-bale. Ia masih berharap Sanjaya akan datang kembali dan membantunya. Meski ia tak yakin Sanjaya adalah seseorang yang baik, setidaknya lelaki itu tidak melukai dari awal pertemuan mereka. Namun faktanya Sanjaya tidak kunjung kembali, membuat Gendis semakin di dera rasa ketakutan yang dahsyat. Berdiam diri tanpa usaha adalah kebodohan. Tidak seharusnya ia terus berdiam diri dan tenggelam dalam hawa takut. Perlahan gadis itu bangkit. Ia menampakkan kakinya pada tanah lembap di bawah sana. Kakinya gemetar, napasnya masih tersengal. Gendis bukan anak yang lemah pada awalnya. Tapi tidak di tempat ini. Frontalnya, oratornya tidak lagi berfungsi di saat-saat seperti ini. Sehingga ia terpaksa memaksa dirinya sendiri untuk mengembalikan maindset bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sanjaya benar-benar tak datang lagi. Gendis sudah menyerah untuk menjadikan lelaki itu bahan pertolongannya. Ia memilih untuk keluar dari gubuk itu. Memegang daun pintu, didorongnya hingga suara denyitan terdengar. Dari kejauhan Gendis melihat lelaki yang sama dengan saat ia lihat di pasar. Bukan Sanjaya. Melainkan lelaki yang samar suaranya sempat ia dengan. “Dia milikku.” Instingnya mengatakan kalimat “Dia milikku” memiliki arti yang lebih. Bukan hanya sekedar diri. Lelaki itu berlaku seperti seorang ular. Kepalanya meliuk-liku sambil hidungnya mengendus-endus naik turun ke udara, membuat Gendis meringis ngeri. Tidak hanya itu. Tentu jika hanya sekedar mengendus, Gendis akan mengira kalau lelaki tersebut hanya sedang mengalami gangguan penciuman. Masalahnya lelaki itu mengeluarkan lidah yang tak selazimnya. Meski jauh, Gendis jelas melihat lelaki itu memiliki lidah serupa ular, panjang dan terbagi dua di sisi ujungnya. Gendis gegas kembali menutup pintu itu dengan tergesa. Ia melihat-lihat ke semua sudut— kiranya mana yang bisa ia jadikan tempat persembunyian— dengan panik. Soalnya tidak ada satu sudut pun tempat ideal untuknya menyembunyikan diri. Sehingga yang bisa ia lakukan hanya duduk berjongkok lalu meringkukkan tubuhnya seolah akan ada godam besar yang menghantam tubuh. Suara desisan semakin jelas terdengar. Kali ini terasa mendekat dan sangat dekat juga pekat. Gendis semakin memperkuat rengkuhan tubuhnya. Doa tak pernah lekat di lisan. Setidaknya itu adalah usaha satu-satunya dibanding harus berpasrah. Suara debuman benda terbentur terdengar di luar sana. Seiring itu, suara Auman menggema hingga membuat gendis terperanjat dari posisinya. Disertai getar tanah karena pijakan sesuatu, juga angin besar menghembus masuk dari sela-sela dinding bilik seperti kipas besar yang mengepak. Semua kegaduhan itu terhenti, tak ia dengar lagi suara desisan dan berganti dengan terbukanya pintu. Kedua kalinya gadis itu terperanjat. Namun tak sama sekali berani membuka matanya untuk melihat siapa yang masuk hingga cekalan dingin tangan seseorang terasa di tangan sebelah kanan. “Ampun. Jangan celakain aku. Aku Cuma tersesat, aku bukan orang jahat” Suara Gendis bergetar lirih memohon. “Bangunlah.” Gendis menggelengkan kepala. “Izinin aku pergi. Aku nggak akan ganggu kalian. Sumpah, aku juga nggak tau kenapa aku bisa di sini. Jadi tolong lepasin aku.” Kali ini bukan suaranya saja yang bergetar, melainkan punggung wanita itu pun bergetar. Lelaki berdiri di hadapannya memilih melepaskan tangan wanita yang ketakutan itu. Seringai licik tampak di sudut bibirnya. Dia merendahkan tubuh, berjongkok satu posisi dengan Gendis. Lalu mulutnya mendekat ke telinga gadis tersebut. Ia menghembuskan napasnya lalu berkata “Aku ingin sekali mencicipimu. Ingin sekali. Kurasa, kulitmu bagian sini.” Jemarinya menyusuri di permukaan leher jenjang Gendis. ”Memiliki darah yang sangat segar.” Deru napas terasa semakin dekat, membuat tubuh Gendis meremang. Ia semakin mengeratkan mata bersama air mata yang jatuh bersimbah tanpa henti. Mungkinkan ini jatah hidupnya yang terakhir?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD