Pohon Bermulut Lemes

1926 Words
Suara derap langkah berlomba dengan napas yang terngah. Gendis terus berlari seperti orang yang kesetanan meninggalkan tempat Sanjaya berada. Tubuh lunglainya dia abaikan, begitupun bunyi keroncong serta tenggorokan yang kering kelontrang tak lagi ia pikirkan. Yang dia pikirkan saat ini ia hanya ingin pergi dari tempat ini. Semua praduganya— tentang semua ini hanya sebuah pentas peran— hanya sebatas usaha agar dia memiliki kekuatan. Namun takkala semua upayanya untuk memikirkan bahwa semua ini hanya mimpi, kejadian di pasar tadi kontan mematahkan asa gadis itu seutuhnya. Dan saat jni harapan yang terisa hanya satu lagi, yakni jerami tempat dirinya bangun di tempat ini untuk pertama kalinya. Klise dan bodoh. Gendis sering melihat film bagaimana mereka kembali pasca teleportasi di tempat yang sama. Siapa tahu hal tersebut juga berlaku demikian untuknya. Gendis mulai memasuki jalan setapak tadi. Kelemahannya mengingat jalan membuat ia harus berpikir keras menyambung saraf-saraf dalam mengingat kembali arah jalan menuju tempat semula. Liukkan ingin menemani ketakutannya yang setiap saat semakin menggigit. Gendis terengah, keringatnya bercucuran membuat pakaian yang hampir kering tadi menjadi basah kembali. Ia berlari menerbangkan rendah dedaunan kering di bawah kakinya. Di saat itulah Gendis baru menyadari bahwa apa yang ia laukan saat ini serupa dengan adegan mimpi malam buta bersama makhluk mengerikan yang tidak ia ketahui namanya. Frustasi mecokol kepalanya. Ia terus berlari seraya menoleh ke semua arah. Takut-takut Makluk itu benar-benar akan hadir seperti mimpinya saat itu. Kehilangan fokus membuat kaki Gendis terselip pada akar pohon membuat Ia amburuk di bawah pohon besar serupa dengan beringin tadi. Seingatnya jalan ini merupakan jalan setapak yang hanya berupa tanah gersah ditaburi dedaunan keringa, artinya seharusnya tak ada liukkan akar yang menentang di antara pohon yang bersebrangan. Ketika ia mengangkat kepala pasca menghilangkan pening di kepala ia baru menyadari bahwa pohon di hadapannya bukan pohon yang mirip dengan pohon pagi tadi, tapi Ini memang pohon beringin yang sama. Ia menengadahkan pandangan, menelisik intens pada setiap lekuk pohon yang berisi gagah di depannya lalu tak ada keraguan lagi. Ini memang tempat dia semula bangun memulai mimpi buruknya. Seketika buku kuduknya meremang. Ia menoleh ke belakang, tempat jerami itu berada. Namun betapa terkejutnya Gendis saat ia melihat tumpukan jerami itu sedikit demi sedikit menghilang. Gendis segera berdiri terhuyung menggunakan sisa-sisa dari tenaganya untuk bisa sampai di tumpukan jerami itu. Gendis beruntung, dia masih bisa memegang tumpukan jerami lalu gegas Gendis menidurkan dirinya di atas sana. Gadis itu memejamkan mata, menunggu keajaiban bahwa ia akan bangun dalam keadaan berada di dalam kamarnya. Gendis menghitung maju angka satu sampai sepuluh, dia masih berdiam di tempat. Tidak putus asa, gadis itu kembali mengulang hitungan yang sama, tapi tetap tidak menghasilkan apa-apa selain dia yang masih terlentang di atas tumpukan jerami. Gendis mengerang frustasi. Bangkit dari perebahan, duduk tepekur seraya memegang kepalanya yang terasa nyeri. Keputus asaannya menciptakan pekikan pelepas rasa kecewa. Ia menjerit tidak memedulikan andai ada orang yang melihat. Orang? Bahkan Gendis sendiri tidak yakin jika mereka adalah manusia. Suara gumaman di antara luikan suara angin terdengar. Gendis menengadah, mencari pusat suara. “Kau berisik sekali. Kau tau kau membangunkanku dengan suaramu yang sama sekali tidak enak di dengar itu!” Gendis menoleh ke sana ke mari. Tak ada satu pun manusia di sekelilingnya. “Kau mencariku?” “Si—siapa kamu? Dimana kamu?!” Rasa takut membuat suaranya bergetar, mata Gendis masih awas, tubuhnya masih berputar-putar mencari arah suara. “Di sini.” “Di mana?” “Di hadapanmu.” Gendis meluruskan pandangan. Tak ada manusia, hanya ada pohon beringin itu. Jangan bilang kalau— “Kau jelek sekali. Seperti itik buruk rupa.” Mata Gendis semakin melebar kala ia melihat bayangan wajah keluar pada pohon beringin tersebut. Tubuh Gendis melemas. Ia kembali terhuyung jatuh. Entah sudah berapa kali wanita itu harus jatuh seperti anak balita baru belajar jalan. “Ka—kau bisa bicara? Kau hidup?” cicit Gendis. Mata pada gambaran wajah pohon itu memutar malas. Dan lihatlah! Bahkan dia bisa memutar wajahnya. Membentuk ekspresi sekian rupa. “Tentu saja aku bisa bicara. Bahkan aku bisa mendengar suaramu yang sungguh membuat telingaku ingin pecah.” Tubuh Gendis semakin bergetar. Dalam hidupnya tidak pernah sekalipun terlintas akan melihat pohon bisa berbicara, kecuali dalam film-film kartun fantasi. Dan sekarang ia merasakannya, berhadapan langsung dengan pohon yang ia kira tak akan pernah ada di dunia ini. “Tidak perlu ketakutan. Aku tidak akan memakanmu. Kurasa dagingmu pait. Dari bau tubuhmu saja aku sudah bisa mencium bau tak sedap. Sebentar! Berapa hari sekali kau tidak mandi. Di duniamu pasti kau tidak memiliki banyak teman. Ya, ya siapa yang mau berteman dengan wanita buruk rupa sepertimu.” Pohon itu terus menyerocos. Menghina, merendahkan Gendis dengan mulutnya yang lemes seperti mulut tetangga. Gendis yang awalnya ketakutan berubah menjadi murka kala pohon itu semakin beringas merendahkan dirinya. Baik, dia memang terkenal dengan kejombloannya yang lama, tapi bukan berarti dia tidak diminati oleh banyak pemuda di kampusnya. “Untung el...” ucapan gendis terjeda. Ia mengingat kembali perbincangannya dengan Sanjaya. Sanjaya tidak mengetahui istilah bahasa panggilan anak gahol seperti dirinya. Ada kemungkinan pohon itu pula tidak mengetahuinya. “kamu Cuma pohon ya. Kalau orang udah aku sumpel pake sendal jepit.” Gendis berdiri. Hilang sudah kegugupannya. Kini Kedua tangan gadis itu bertolak di pinggang bersiap mengajak pohon itu untuk bergelut. Dan memang hanya Gendis, gadis ubnormal yang bisa mengajak sebuah pohon bergelut. Dengan gaya ala pesilat profesional yang sebenarnya gendis sendiri tidak pernah meperlajari ilmu bela diri apa pun. Ia memulai aba-aba dengan tangan mengepal di udara dan kaki memasng kuda-kuda dengan kaki kiri berada di posisi terdepan. Sang pehon tidak terkejut sama sekali dengan aksi manusia satu itu. Dia justru kembali memutarkan mata malasnya. “Selain jelek dan bau, kau juga bodoh rupanya,” ejeknya kembali. “Jangan sebut aku sama kata-katamu tadi. Aku ngerasa terhina di sini. Sialan! Bahkan kamu nggak tau berapa lama aku ngabisin waktu buat luluran di kamar.” Bagian yang paling tidak Gendis terima adalah penghinaan itu berasal dari seonggok pohon. Seonggok pohon! Banyangkan! “Ribut-ribut lah. Kepalang panas nih!” “Kau yakin?” Gendis mengangguk bodoh. Tidak sepenuhnya yakin. Karena anggukan gadis itu terbata. Gendis tak sama sekali memulai pergerakan, tapi sesuatu sudah menarik tubuhnya. Lebih tepatnya melilitnya terlebih dahulu sebelum akhirnya benda itu mengangkat tubuhnya ke udara. “Kamu curang!” “Aku Cuma punya menggunakan akar gantungku saja. Lagi pula ini hakku. Kenapa kau sebut ini curang? Kalau tidak menggunakan ini bagaimana bisa aku melawanmu. Ah lihat! Sekarang kau benar-benar memperlihatkan kedunguanmu.” Mulut Gendis bungkam. Bukan karena ia kalah. Ia hanya keheranan kenapa sebuah pohon bisa beribacat begitu cerewet dan penuh penghinaan macam ini. Di mana bergurunya pohon ini? Mungkinkah ia sering melihat aku bibir nyinyir? Akar gantung yang meliuk kontan melonggarkan ikatannya tanpa aba-aba, membuat gendis jatuh seketika. Tubuhnya tepelanting ke bawah tanah. Untuk kedua kalinya ia tersungkur dengan posisi seperti cicak nemplok. “Kenapa nggak bilang?!” Gendis terbangun lalu duduk dengan pandangan nyalang ke arah pohon rasis itu. “Hah! Kau kira aku wahana yang bisa membuat dirimu naik turun sesukamu.” Pohon itu berdecak. “Sudahlah, lekas pergi dari tempat ini. Aku sedang berbaik hati padamu, asal kau tau itu!” “Nggak! Aku nggak akan pergi. Aku tadi bangun di sini. Aku pengen pulang. Aku lagi usahakan untuk aku pulang lewat tempat ini pula.” Pohon itu terbahak. Membuat angin berhembus kencang disekelilingnya disertai getaran seperti gempa kecil. “Mana bisa begitu, hei! Kau—“ pohon itu kembali terbahak. “Kau pikir semudah itu? Sudahlah, cepat pergi dari sini sebelum kau menyesalinya.” Pohon itu terus tertawa sampai akhirnya tawa itu memudar dan berganti dengan wajah kesal. “Sial! Kenapa juga manusia serahkan itu memilih di sini.” Dia mencebik. “Sudahlah, segera pergi! Kalau kau enggan mendengarkan ku, itu urusanmu. Karena aku akan kembali tidur.” “Hei!” Terlambat. Wajah pohon itu kembali menghilang, mengembalikannya kepada bentuk pohon yang semestinya. “Hei... Kembali. Kamu belum ngasih tau cara aku biar bisa keluar dari tempat sialan ini! Hei kembali!” racauannya berakhir dengan tawa putus asa. Wanita itu benar-benar telihat menyedihkan untuk saat ini. Ia terus tertawa seumbang dengan posisi setengah merendahkan punggung dan dua tangan memegang lutut yang sudah tak kuat lagi menahan rasa lemas. Sepetinya dunia yang Gendis sebagai dunia sialan ini tidak pernah memberinya jeda istirahat. Suara samar ringkikan kuda terdengar dari arah selatan. Kontan Gendis segera berdiri. Mencari sumber suara. Semoga suara itu mendekat ke arahnya. Ia akan pergunakan kesempatan itu untuk bertanya bagaimana cara untuk dia bisa kembali ke dunianya. Suara debuman kaki kuda di atas tanah semakin terdengar mendekat. Gendis bahkan bis melihat beberapa kuda menetap ke arahnya. Senyumnya melebar dengan tangan dinaikan ke atas. Memberi isyarat pertolongan menggunakan gerak tubuhnya. Namun belum sempat gerombolan itu datang. Seseorang meraih pinggangnya dengan gerak cepat membuat Gendis bergerak memutar menubruk dadanya. Ketika ia akan menengadahkan wahah guna melihat siapa orang yang melakukan itu pandangannya sudah terlebih dulu mengabur dan berakhir gelap. Tiga ekor kuda berhenti di titik Gendis menghilang. Mereka menepikan kudanya lalu gegas turun dari kemudi. Tiga orang berompi dengan warna berbeda memencar seperti mencari sesuatu. “Kau melihatnya?” pria perompi kuning bertanya. Matanya mencari sesuatu serupa mata elang mencari mangsanya. “Sial! Sepertinya sudah pergi.” Pria berompi merah mengumpat. Mulutnya mendesis. “Ini semua karena ulahmu!” tangannya menunjuk pada wajah lelaki berompi hijau. Ia marah, sangat marah! “kalau kau tidak membuat perjalanan kita lebih lama, mangsa itu tidak mungkin lolos.” “Kau juga memakan darah rusa itu. Kenapa aku saja yang di salahkan!” wajah yang sendiri dari mendapat tatapan nyalang membalas tak kalah nyalang. “Hentikkan! Aku masih mencium baunya. Dia masih ada di dunia kita. Kita masih bisa mencarinya. Ayo cepat!” Tangan lelaki berompi kuning memberikan gerakan mengajak untuk mereka menaiki kembali kuda-kuda mereka *** Aungan terdengar di luar singgasana. Hewan itu berjalan ke dalam singgasana dengan mengentak-entakan kakinya, membuat otot-otot di keempat kakinya kontan menyembul. Sekali lagi, Hewan itu mengaung setelah tepat berada di depan singgasana tempat sesosok manusia berdiri jemawa dengan atribut-atribut kebesaran. Raja Warsana tertawa semakin memperlihatkan tingkat kejemawaannya manakala hewan itu merendahkan tubuh bagian depan dengan tetap mengibas-ngibaskan ekornya. Warna mengkilap pada bulu sesekali memancarkan sinar serupa kilat petir. “Hamba sudah menjalankan perintah Raja.” Suara hewan itu terdengar besar dan berat. “Apa saja yang sudah kau lakukan?” Raja Warsana mengibaskan pakaian kebesarannya setelah ia bangun dari singgasananya dan melangkah menuruni tangga dengan jumlah tiga undakan. Pergerakan Raja Warsana membuat para dayang ikut menunduk mengikuti sungkeman sang siluman hewan. “Hamba sudah memberi batu pembuka dunia kita padanya, juga sudah menyambutnya,” jawab siluman hewan. “Kau sempat mencicipinya?” Hewan itu mengerang sejenak. Matanya memejam, mengingat kembali bagaimana rasa darah Gendis yang begitu lezat meski hanya satu tetes darah. “Sungguh lezat, aku tidak pernah merasakan darah selezat itu.” Raja Warsana tertawa. Tawanya menggelegar memenuhi singgasana. “Luar biasa Lutong. Kau memang pandai memanjakan lidahku. Tak ada keraguan sedikit pun karena kau selalu memberikanku darah yang istimewa. Pergilah ke kandangmu. Tugasmu sudah selesai, sudah kuperintahkan para prajurit untuk mengambil santapanku.” Raja Warsana tertawa terbahak-bahak. “Silakan cicipi persembahan ku untukmu. Persembahan terlezat yang kau minta.” Hewan yang disebut dengan nama Lutong menyunggingkan senyumnya. Mengangguk takzim pada sang Raja lalu kemudian Ia beranjak pergi, menggerakkan kaki hingga kembali entakkannya menggerakkan sedikit singgasana akibat besar dari kekuatan Lutong. Raja Warsana kembali duduk di kursi kebesaran. Bibirnya menyungging ketika ia membayangkan bagaimana segarnya darah gadis itu. Dan yang terpenting semua ritualnya akan selesai lalu kemudian keinginannya untuk kekal tercipta sempurna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD