Kasihanilah Istriku Kisanak.

1937 Words
Bau amis menguar di udara membuat perut Gendis mendadak mual seketika. Belum lagi suara riuh di antara hiruk-pikuk membuat pandangan Gendis tak mampu melihat sampai ke ujung sana. Harapannya untuk bertemu sang sutradara film kolosal masih kuat. Sekuat rapalan doa yang tak henti sedari tadi. Semenjak kedatangan Gendis Suara riuh itu berkurang setengahnya, menyisakan beberapa saja sepasang pembeli dan penjual yang masih bertransaksi meminta Haraga untuk diturunkan. Mata Gendis menelisik. Ia meyakini dari bau, hiruk-pikuk bahwa tempat ini memiliki karakteristik untuk disebut sebagai pasar. Masalahnya tak selazimnya pasar pada umumnya yang panas. Di pasar ini atmosfernya terasa dingin, bahkan Gendis merasakan beberapa bagian tubuhnya terasa beku. Sepanjang Gendis mengedarkan pandangannya tidak ia sadari bahwa kini sudah tak ada lagi suara manusia saling bersahutan. Terakhir ganya menyisakan suara ayam memekik karena sebilah pisau menghunus lehernya. Dan pada akhirnya senyap. Benar-benar senyap. Gendis ikut terdiam di tempat. Matanya kembali menelisik mencari keganjilan yang terjadi. Terlebih kesenyapan yang secara tiba-tiba terjadi. Lalu kemudian ia menyadari bahwasanya orang-orang di sekitar pasar memerhatikannya dengan raut wajah tidak mengenakan. Beberapa di antaranya terlihat menautkan alis, dan lebih banyak dari mereka yang memilih bergeser menjauhi titik di mana Gendis berada seolah gendis memiliki penyakit kusta yang menular. Hawa dingin semakin menyeruak melingkupinya membuat Gendis memeluk tubuhnya sendiri. “Ya, mereka sedang ber-acting. Orang asing masuk dengan pakaian formal—tanpa kostum. Lalu sutradara meneriaki kata “cut” lalu dia bakal ngomelin lo, tapi di mana? Di sana?” Ia menatap ke sebelah kiri. “Di sana?” berbalik ke arah kanan. “Ah, baik. Mungkin di depan sana.” Mata gendis menelisik jauh dengan menyipitkan mata. Namun lagi-lagi tak tampak gerombolan manusia dengan mesin-mesin perekam gambar. Sial! Suasana semakin tidak kondusif terlebih kini semua orang menjauhinya. Dengan posisi mengelilinginya membentuk lingkaran membuat Gendis seolah menjadi tontonan satu-satunya. Mereka saling berpandangan di antara desau bisikan juga gumaman yang tetap saja dapat gendis dengar. Baik, sepertinya bulu kuduk Gendis sudah mulai berdiri. Gendis terus menerobos kerumunan dengan langkah kaku serupa robot. Keringat dingin mulai keluar membentuk bintik-bintik embun di punggung yang kemudian membuat pakaiannya basah seketika. “Itu untukku?” Lelaki berperawakan besar—di antara ramai kerumunan—mengendus udara. Ia mendesis seperti ular. Gerakannya terhenti ketika wanita di sebelahnya menahan tangan lelaki itu dengan erat. “Dia milik Raja.” Hanya satu kalimat, tapi berhasil membuat desisnya mereda berganti dengan raut wajah kesal lalu beranjak pergi meninggalkan kerumunan. “Semua baik-baik saja Gendis. Ini hanya mimpi. Sebentar lagi lo bangun. Oke?! Baik mulailah tenang.” Gendis mencoba merelaksasi semua otot-otot yang menegang. Memberikan sinyal kepada otaknya untuk membuat mindsetnya berubah secara cepat. Gendis terus berjalan, menerobos keramaian hingga membuat lingkaran penuh menjadi huruf U lalu meloloskannya dari kepungan karena setelahnya kumpulan itu memilih mundur. Benar-benar menjauhi Gendis lalu berakhir dengan membubarkan diri ketakutan. Gigitan di bibir tak bisa melonggarkan ketegangan meski Gendis sudah berkali-kali merapalkan berbagai macam doa. Dan di doa terakhir dia justru merapalkan doa makan. Ini Gila! Mungkin setelah ini wanita itu harus bertaubat dan juga memohon ampun pada ibunya karena dia tidak mengindahkan nikmat slepetan dari sarung bapaknya oleh tangan ajaib ibunya akibat enggan pergi ke musala untuk mengaji di masa kecil. Lupakan doa yang meleset. Gendis kembali fokus untuk gegas menjauhi pasar tersebut. Rasa-rasanya memang ada ketidakberesan pasar itu. Hanya manusia gila yang terus berada di tempat di mana ia merasa terancam. Gendis terus berjalan tak tentu arah. Sampai akhirnya ia menemui sebuah kedai dengan aroma daging asap yang menggunggah selera. Kebetulan sekali ia sudah sangat merasa kelaparan. Tungkainya mendekat ke kedai dengan nuansa pedesaan. Sebuah kedai gubuk panggung dengan meja-meja kayu jati dan di atasnya terdapat kendi-kendi minuman zaman dulu. Namun mana kala wanita ia mulai akan memasuki kedai, sebuah benda menabraknya—tepat di sebelah bahu kiri— hingga membuat ia terhuyung. Tertelungkup dengan wajah membentur tanah. Ia mengaduh, memegang bagian tubuh yang terasa ngilu bercampur perih. “Bangs—” “BAYAR!!!” Sumpah serapah gagal melesat di bibir kecilnya. Tubuh Gendis sudah lebih tersentak oleh suara pekikan yang berasal dari arah depan—tempat ia terpental. Gendis menoleh seketika ke arah sumber suara. Tak sampai wajahnya menghadap sempurna pada objek tujuan. Tangan kekar seseorang sudah terlebih dulu menarik tubuhnya. Membuat tubuhnya kembali tersungkur di atas badan seseorang. Apa? Seseorang? Pandangan mereka bertemu sesaat. Dan, Oh akhirnya Gendis mengerti, bukan benda yang menubruk gendis, melainkan sesosok pemuda berpangsi sepaket dengan totopong berwarna hitam pekat. Rupanya tubuhnya ikut tersungkur di samping Gendis. Namun masalahnya adalah? Kenapa mereka harus berada di posisi seperti ini? Pemuda itu tak kalah meringis. Menggunakan tangan, ia mengangkat tubuhnya yang kontan membuat Gendis ikut terbangun bersamanya. Untuk sesaat pandangan mereka tertegun sejenak. Sang pemuda menarik sedikit sudut bibirnya. Sangat sedikit dan benar-benar singkat sehingga wanita di hadapannya tidak benar-benar menyadari hal itu. “Istriku.” Mendadak pemuda yang tak Gendis ketahui namanya memeluk dirinya. Kontan mata Gendis mengedip beberapa kali. “Apa kamu segitu laparnya? Aku sudah katakan untuk dirimu di rumah saja. Biar aku yang mencari makanan.” Tangan pemuda itu menangkup, menekan dengan kuat kedua pipi Gendis sehingga membuat bibir gadis berpakaian toska itu mengerucut seperti ikan lohan. Mata gendis melebar, bibirnya bergerak mengeluarkan suara yang justru terdengar serupa cicitan tikus. Pemuda itu menarik wajah yang tampak kebingungan itu, menjauhkan kepala Gendis hingga ke panjang terujung tangannya. Lalu siapa sangka sedetik kemudian ia tarik wajah Gendis hingga membentur d**a bidangnya. Membuat gendis tersentak kaget sampai-sampai ia memejamkan mata dengan mulut terbuka akibat hentakkan kasar wajah yang menubruk d**a. “Drama apa lagi ini, Tuhan?” Gendis meracau dalam hati. Ia berusaha berontak di dalam pelukan lelaki itu, tapi tak bisa karena pemuda tersebut terus menekan kuat kepalanya di depan d**a. “Miskin. Banyak gaya!” Suara berat kembali memekik. Gendis berusaha menoleh sedikit ke arah sumber suara. Sekilas Gendis melihat penampilan Pak Tua di sampingnya. Tubuh tinggi besar dengan pakaian rompi tanpa dalaman, mempertontonkan perut besarnya. Tak lama ia menelisik fisik lelaki yang sedang menaik turunkan dadanya tak beraturan karena pemuda itu sudah kembali menolehkan paksa wajahnya lalu menekannya kembali lebih kuat ke depan dadanya lebih sukat dari yang sebelumnya. “Ampun, kisanak. Saya melakukan ini demi istri saya yang sedang kelaparan.” “Sialan, siapa yang lapar?!” Gendis berucap tak sampai terdengar oleh laki-laki yang sedang penuh Angkara murka dengan kedua tangan bertengger di pinggangnya. Samar suara hanya terdengar di gendang telinga sang pemuda. Membuat ia harus melakukan sesuatu yaitu memasukkan tangan kanan menyusup melalui bawah dan membekap mulut Gendis— tanpa diketahui Pak Tua— membuat Gendis tidak lagi bisa bersuara. “Kau tau makanan di sini butuh tahunan untuk jadi lezat! Seharusnya orang gembel sepertimu mencari serangga saja untuk mengisi lambung sialanmu, itu!” Pak Tua meludah. Ia benar-benar berang pada pemuda yang kini sedang berlaga seolah ia adalah suami yang baik bagi istrinya. “Ampun, kisanak. Istri saya sedang hamil, kisanak.” Selanjutnya Isak tangis dari semuda itu mulai terdengar. Oh lihatlah, betapa lihai ia berperan. Ini semakin meyakinkan kalau sekarang Gendis memang berada di area pembuatan film. “Aku tidak hamil!” Gendis masih berusaha mengeluarkan suara. “Anak di perut kami menginginkan makanan lezat. Sehingga aku terpaksa mencuri makananmu.” “Aku tidak semisikin itu!” tukas Gendis. “Kami tidak memiliki uang.” “Hei. Gue bukan orang miskin!” Tangan Gendis mendorong kuat d**a Pemuda itu. Percuma, tenaganya tidak cukup untuk membuat ia lepas dari dekapan. “Oh, lihatlah kisanak. Istriku bahkan sekarang sangat sedih dan kelaparan sehingga ia tidak bisa berkata-kata. Tidak adakah kebaikan di hatimu untuk kami berdua?” “Cuih.” Kembali Pak Tua meludah. “Aku lepaskan kalian. Pergi sebelum aku benar-benar mengubah kalian menjadi tikus!” Tubuh Gendis kembali tersentak mana kala Pemuda itu menarik mengikuti gerak tubuhnya untuk bangun. Ia lantas menyeret Gendis untuk menjauh dari tempat itu. Sekuat tenaga Gendis menolak, kedua telapak tangan masih bersinergi untuk menjauhkan wajah dari d**a pemuda itu. Lagi, ia kalah dan tak bisa lepas. Membuat mereka berjalan seperti kepiting yang berjalan berhadap-hadapan dengan arah menyamping. *** Gendis menarik kuat dirinya dalam dekapan dan membuatnya terpental karena pemuda itu tidak laki mengungkungnya. “Lo gila?! s***p?! Lo tau nggak gue hampir koit gegara Lo bekap mulut dan hidung gue sampai gue susah napas, hah!” Gendis mengerang marah. Matanya berkobar menampakan api permusuhan. “Lagian makhluk dari mana si Lo? Tiba-tiba bekap anak orang sembarangan. Ngaku gue istri Lo, bilang gue lagi hamil? Lo gini ya.” Telunjuk Gendis menempel di kening. “Sinting? Iya?!” Belum. Kemarahannya belum selesai. Rasanya setengah oksigen yang berkurang di paru-parunya semenjak beberapa waktu lalu tidak cukup ditebusnya hanya dengan sumpah serapah. “Dan Lo—“ “Setelah ini kau akan berterima kasih padaku. Siapa namamu? Lo? Gue?” tanyanya. “Hah?! Gimana?” Gendis kebingungan. Pertanyaan macam apa itu?! “Namamu, Nyai. Siapa namamu?” tanyanya ulang. Tidak ada raut wajah bercanda. Pemuda itu menampakan keseriusan atas pertanyaannya. Gendis merasa pembicaran ini terasa... absurd. “Apa si ini? Ko gue bingung si.” Ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. “Perkenalkan nama saya Sanjaya.” Sanjaya mengulurkan tangan, tapi Gending tak gegas menyambut uluran tangan pemuda itu sehingga tangan dirinya hanya menggantung di udara. Wanita itu terlalu bingung memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan yang menjejali benaknya. “Baiklah. Gue. Sekarang dengarkan saya.” Tangan kanan Sanjaya terbuka seraya naik ke udara. “Eh gimana? Gue dengerin Lo? Atau Lo dengerin Lo sendiri?” Gendis semakin dibuat ingin menangis oleh pembicaraan yang terdengar semakin tidak karuan. “Namamu. Gue?” Telunjuk Sanjaya menunjuk tepat ke arah Gendis. “Nggak! Bukan itu nama Gue.” Gendis terdiam sejenak. “Sebentar! Lo tau arti kata gue dan Lo?” Ia mencoba menganalisa semua dialog mereka yang dari tadi terasa tidak berkolerasi. Dan akhirnya gadis itu tahu di mana letak kesalahan perbincangan mereka. “Semacam nama?” Astaga. Jadi pemuda itu benar-benar tidak tahu? “Gue adalah aku, saya. Dan Lo adalah kamu.” Gendis mencoba menjelaskan. Namun, bukankah aneh jika manusia yang hidup di era kuda besi seperti saat ini tidak mengetahui istilah Lo dan gue. “Baik. Aku mengerti. Sekar—“ Gendis ogah berbasa-basi. Wanita itu segera menodong Sanjaya untuk segera memberi tahu ke mana jalan pulang untuk dirinya. “Sekarang Lo... am maksudku, kamu. Bisa nggak kamu tunjukin ke aku ke mana jalan pulang. Aku tersesat. Rasanya gue, ah sial! Maksudku aku. Rasanya aku udah stres berat.” “Kamu tidak tersesat.” . “Aku tersesat! Aku tidur lalu terbangun di atas jerami. Dan sebelum tidur, aku... ya ampun!” mulut gendis kontan terbuka, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sanjaya tidak sama sekali berniat bertanya apa yang wanita itu pikirkan. Ia memilih duduk di bawah pohon besar nan rindang. Kemudian ia menyenderkan punggungnya, melipatkan tangan serta menemukan satu kaki. Seakan kebingungan Gendis begitu ia nikmati sebagai tontonan. Pusaran putih di dalam kegelapan, dan batu dari orang yang tidak Gendis kenal kemudian satu lagi kejadian di luar nalarnya. Mimpi yang terasa nyata. Mimpi yang memberikan bekas luka di kakinya. Beringsut wanita itu memeriksa kaki, mencari bagian lebam. Namun, tidak ada? Luka itu hilang. Bagaimana bisa? Gendis memegang kepalanya. Tubuhnya berputar-putar, matanya mengedar merekam sudut demi. Ia mulai menyadari semua yang berada di sekelilingnya seperti bernyawa. “Nggak! Nggak mungkin," gumam Gendis. Wajahnya semakin pias. Sanjaya tidak berniat beranjak dari duduknya sekalipun Gendis mundur ketakutan setelah dirinya menyadari sesuatu yang tak lazim. . Pandangannya menelisik jauh ke manik mata hitam milik Sanjaya. Mata yang seperti berbicara sesuatu, tapi Gendis abaikan karena setelahnya ia benar-benar berlari meninggalkan Sanjaya. Gendis sudah menyadari jika semua ini bukan mimpi. Keanehan ini bukan sekedar acara seni peran kolosal belaka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD