Kegagalan Warsana.

1983 Words
Sebelum abad ke 20 sebelum Masehi terdapat kitab peninggalan penguasa siluman terdahulu. Kelenyapan dinasti— pemimpin— terdahulu membuat para siluman saling bersayembara mendapatkan kitab tersebut. Konon, kitab itu menyimpan banyak misteri yang bisa membuat kehidupan siluman berubah seketika. Pun berita tersebut tak luput dari pendengaran Warsana. Warsana ingin kekuasaan, kehebatan, kekuatan yang digadang-gadang bisa ia dapatkan dalam kurang dari semalam. Tak salah jika lelaki itu kemudian mendapatkan kitab tersebut berkat kegigihannya. Kitab yang berhasil ia ambil di salah satu gunung tertinggi. Gunung yang siapa pun tak akan bisa pulang dengan selamat setelah bergelut dengan berbagai siluman hebat. Dan benar saja dongeng tersebut berakhir nyata kala ia mengamalkan semua yang ada pada kitab tersebut, termasuk sebuah kekuatan laser merah yang bisa menjadi mantra pembunuh untuk semua keturunan siluman. Suatu malam Warsana naik ke atas bukit, dikumpulkannya semua siluman. Dengan d**a tegap dan bangga ia mengumumkan akan kepemilikan kitab tersebut. Semuanya tertawa mencemooh. Bagaimana bisa seorang Warsana bisa mendapatkan kitab yang di dapatkannya saja tak mudah. Mereka menganggap Warsana siluman pendusta. Dan memang begitu tabiat para siluman. Semuanya riuh oleh tawa. Bahkan beberapa siluman terpingkal akibat pengumuman yang Warsana sampaikan. Wajah Warsana merah padam. Urat-urat di permukaan kulit seketika menonjok. Napasnya menggebu. Ia tak terima bagaimana para siluman tersebut merendahkannya. Untuk pertama kalinya Warsana menggunakan kemampuan yang ia amalkan dari kitab tersebut. Warsana mengeluarkan laser merah dari matanya, dan menghunus lurus pada sekelompok orang yang sedang terpingkal-pingkal menertawakannya. Tubuh-tubuh mereka ambruk seketika dengan tubuh terbakar lalu menghitam. Mereka mati. Riuh mendadak senyap. Seluruh siluman di atas bukti mundur ketakutan, tanpa terkecuali. Bergantian memandang Warsana dan para siluman yang terkapar. Sebagian dari mereka berhamburan lari. Siluman bukan makhluk yang mudah mati. Masing-masing dari mereka seperti robot yang memiliki masa aktif. Untuk ukuran tahun itu, perkiraan kepunahan generasi saat itu sampai pada. Seribu tahun kemudian. Namun baru sampai tahun ke seratus siluman tersebut mati terpanggang akibat laser yang keluar dari mata Warsana. Ini mustahil! Semua kalut berhambur. Namun Warsana menaikkan tangan. “Ada satu siluman yang turun dari bukit ini. Akan kupastikan semuanya akan mati seperti mereka,” ia menunjuk jasad para siluman di bawah tanah sana. Kontan semua semakin ketakutan. Mereka saling melirik. Ada beberapa yang memperlihatkan taringnya, reaksi alami jika mereka sedang terancam. Warsana tertawa menggelegar. Tangannya bertengger angkuh pada pinggangnya seraya berkata “Mulai sekarang kalian harus memanggilku Raja Warsana. Dan mulai sekarang kunamakan istanaku, Istana Wangkara. Siapa pun yang melawan aku berurusan langsung denganku dan kalau ada yang benar-benar menyangkut atas kekuasaan, kupastikan kalian akan tau pasti kapan usia kalian akan berakhir.” Warsana turun satu langkah, masuk ke dalam kerumunan para siluman. Semuanya bergerak mundur menjauh. Sosok Warsana sekarang menjadi sosok paling menakutkan dan membahayakan. “Kalian mengerti artinya istana? Artinya kau,” Warsana menunjuk pada salah satu siluman harimau berjenis kelamin lelaki, “dan kau, kau, kau.” Dan banyak lainnya yang Warsana tunjuk. “Buatkan aku istana malam ini juga. “Dan teruntuk kalian yang mau mengabdi padaku, datanglah padaku, bawakan padaku darah paling segar yang kalian miliki. Akan kuberikan satu kekuatan yang kumiliki selama kalian. Dan kalian akan menjadi prajurit setiaku.” Mereka kembali saling pandang, sayup-sayup saling berkomunikasi membicarakan hal tersebut. Dan setelah berjalan sekian lama, Warsana memiliki sebuah istana juga prajurit-prajurit yang dia beri sinar kematian di kedua matanya. Atas sinar itu, para prajurit seperti diberi kepercayaan apabiila di antara kalangan para para siluman berkhianat atas aturan di Kerjaan Wangkara, mereka berhak membunuh siluman tersebut. Istana dan prajurit. Apakah sudah cukup untuk memperkuat singgasananya? Belum. Warsana menginginkan kekuasaan yang lebih. Ia terus mempelajari lembar demi lembar kitab bertuliskan aksara kuno tersebut. Di setiap lembarnya dia selalu mendapatkan kejutan. Hingga pada lembar ke 100 dia menemukan fakta bahwa seorang siluman bisa mengenalkan kehidupannya tanpa harus kehabisan daya untuk hidup. Dua cara yang dituliskan. Yakni dengan cara menemukan anak campuran manusia dan siluman yang jelas akan sulit ditemukan karena walau bagaimanapun seorang siluman dan manusia tidak akan pernah bisa menikah. Faktanya tanpa Warsana ketahui, Sanjaya hadir sebagai anak campuran siluman dan manusia. Tentu hal itu sampai di telinga Warsana. Malam itu juga, Warsana memerintahkan para prajurit untuk mendapatkan Sanjaya namun para prajurit tidak berhasil membawa Sanjaya yang justru membunuh kedua orang tua angkat Sanjaya. Pilihan ke dua yakni dengan menyesap darah manusia. Tujuh darah manusia yang dia sajikan di malam gerhana bulan dengan ritual yang dia sebut dengan saji darah. Di mana ia akan meminum darah korbannya tepat di tengah malam bulan purnama. Sudah enam manusia yang berhasil menjadi korban. Namun, Lagi, dia kehilangan korban terakhirnya untuk penyempurnaan ritualnya. Di saat mata Warsana melihat tanda di bahunya Sanjaya, ia paham siapa Sanjaya dan apa yang dia harus lakukan. Tak memedulikan lagi perang tersebut, Warsana berlari ke belakang istana, tempat ia menyimpan kitab kuno di dalam kotak Pandora. Mantra. Mantra tersebut yang seharusnya dari dulu dia kumandangkan. Mantra yang semestinya ia rasakan ketika Sanjaya bertemu dengan kitab tersebut. Kelak jika hal itu terjadi, Sebuah energi akan keluar. Energi yang berasal dari tubuh Sanjaya. Lalu Sanjaya akan mati dan berganti dengan kekelan pada Warsana Siapa sangka usahanya kali ini berakhir gagal kembali. Warsana sungguh marah. Ia membanting semua benda di sekelilingnya dengan membabi buta. “Bodoh!” Ia mengumpat pada semua prajurit yang berkumpul. “Kenapa dia bisa lolos?” Para prajurit menunduk takut. Tentu, karena mereka hafal betul akan apa yang terjadi jika seorang Warsana gelap mata seperti ini. “Cari dia malam ini juga! Cepat!!!!!” “Laksanakan Raja.” Semua serempak menjawab lalu membungkukkan tubuh dan bergerak bubar mengambil masing-masing kuda mereka dan berakhir dengan suara ringkikan kuda mengikik bercampur malam temaram. *** Gendis tak memiliki jam di tangannya. Dan jangan pernah bertanya apakah di dunia Siluman membutuhkan mesin waktu tersebut. Tepat seperti yang Gendala sampaikan saat di pasar siluman. Mereka tidak membutuhkan alat ukur waktu untuk beristirahat atau sekedar mengatur waktu makan dan minum. Ia membuka jendela berbahan kayu. Gendis menilai kayu itu sudah memiliki umur yang sangat tua, terlihat dari beberapa bagian yang sudah habis terkena rayap. Terserah, ia tak begitu memikirkan denyut ngilu yang berasal dari suara jendela yang baru saja ia buka. Wajahnya menengadah ke atas, matanya menerawang ke atas bulan. Ia tak terlalu pandai ilmu astronomi, tapi setidaknya dia belajar akan hal itu. Menurut pengamatannya, ini sudah pagi. Jika boleh ia menebak, tepat pada kisaran jam dua atau tiga malam. Dan hal tersebut divalidasi oleh dinginnya angin yang kian menggigit. Gendis melilitkan kain satin merah pada tubuh hingga menurut seluruh bagian bahu tertutup sisanya menjuntai ke bawah tanah. Seraya memegang bagian pangkal kain, pikirannya tertuju pada Sanjaya selaku pemilik kain tersebut. Beberapa pekan keberadaan dirinya di sini. Mengenal Sanjaya sedikit lebih sulit dibanding Gendala. Ia terlihat lebih tertutup. Setiap perbincangan mereka reaksinya selalu monoton, tertawa singkat, mendengkus lalu memainkan kumpulan asap di mulutnya. Semenjak kejadian memalukan malam itu. Saat... ah, Gendis bahkan tak berani mengingatnya. Tapi otak di dalamnya begitu antusias memutar kembali bayangan bagaimana ketika Mata mereka bertemu dan jantungnya berdegup kencang. Ya, pada intinya semenjak kejadian itu Sanjaya nyaris tidak pernah tidur di gubuk itu. Mungkin hanya sekali saja momen ia mendapati Sanjaya tidur. Pada malam itu dan Gendis tidak yakin Sanjaya benar-benar tidur karena esok harinya Sanjaya tak lagi terlihat keberadaannya. Gendis terkekeh. Dia menganalogikan dirinya dan Sanjaya seperti tokoh di film manusia dan vampir yang saling jatuh cinta. “Hentikan!” katanya dalam hati. Ini sudah berlebihan. Tidak mungkin ia mengharapkan hubungan ini terjadi, bukan? Cerita tak muluk sesuai dengan alur film atau novel. Jelas ia bisa menerka sendiri akhirnya akan seperti apa. Ya jelas, Sad. Manusia dan siluman? Gendis menggelengkan kepalanya. Pikiran-pikiran bodoh itu lagi tak boleh mampir di batok kepalanya. Dirinya menghela napas panjang. Kembali meratapi nasibnya. Rasanya dibanding memikirkan akan cinta-cintaan lebih baik dirinya memikirkan langkah apa yang akan dia lakukan agar cepat keluar dari tempat itu. Menunggu Sanjaya seperti menunggu ia membeli mobil mewah impiannya. Mungkin akan terjadi, tapi entah kapan. Lagi pun Sanjaya tidak pernah membicarakan langkah-langkah apa pun padanya. Jadi mungkinkah kelakar Sanjaya hanya bualan belaka. Dan tunggu. Kapan malam yang dia janjikan akan terjadi? Sehari? Seminggu? Sebulan? Gendis bahkan tidak bisa menerka. Ah, kepalanya hampir pecah. Tangan Gendis bergerak naik hendak menutup kembali jendela namun niatnya kemudian dia anulir ketika dari jauh dia seperti melihat sesuatu bergerak mendekat. Jika matanya tak rusak, gendis melihat Sanjaya sedang berjalan terhuyung seraya memegang sesuatu. Dan itu.... Perut Gendis mendadak mual. Ia geletakkan bagian tubuhnya. Sanjaya ikut duduk di sampingnya. Hanya duduk untuk sekian saat. Gendis masih menunggu atraksi apa yang selanjutnya akan terjadi. Lalu kemudian sebuah cahaya berwarna ungu membungkus seluruh tubuh Sanjaya tanpa celah. Cahayanya terang dan indah. Gendis berani bersumpah, ia hanya pernah melihat cahaya itu saat ini dan pada biasan lampu konser music live yang dia tonton. Silau. Mata Gendis nyaris menyipit, tapi kemudian ia memilih untuk berjaga. Aneh dan ajaib, bagian tubuh Sanjaya kembali menyatu. Seharusnya ini tidak aneh setelah pohon bicara dan banyak lainnya yang anomali. Tapi kenapa rasanya saat ini begitu berbeda. Sanjaya seperti memiliki aura tersendiri. Takutkah dirinya? Atau ini sebuah kekaguman? Cahaya itu menyusut sedikit demi sedikit, berganti kembali dengan gulita. Sanjaya bangkit, begitu pun Gendis yang gegas menutup jendela. Berjalan tergesa lalu membaringkan tubuhnya. Seolah berlaga tidur. Tak lama terdengar suara daun pintu terbuka diikuti derap langkah. Sampai suara tersebut hilang lalu berganti dengan desau napas hangat tepat di belakang kepalanya. “Kau tidur?” Gendis berpura-pura tidak mendengar. Usapan hangat terasa di atas rambutnya. Lalu kemudian hening dan Gendis benar-benar tertidur. **** “Kupikir kamu bakal menghilang lagi.” Nada suara gendis seperti seorang istri yang terlalu sering ditinggalkan suaminya tidur sendiri. Sanjaya tak menjawab. Sejak Gendis bangun tidur, didapatinya lelaki itu duduk termangu di kursi lengkap dengan cerutu serta tak luput asapnya. Semoga tebakan Gendis benar. Kalau tidak, sungguh dia akan memaki dirinya sendiri karena telah menganggap Sanjaya memerhatikannya sedari tadi. Gendis berdehem. Ia lantas bangun mengambil kursi di samping Sanjaya lalu mendaratkan bokongnya. Tangannya mengulur, mengambil kendi berisi air minum. Dan anehnya, air minum tersebut tak pernah habis dan Gendis sendiri tak pernah melihat Sanjaya mengisi isi kendi. Ia menegak air hingga tandas. Gersang di tenggorokan berganti nyaman. “Semalam...” Gendis terdiam. “Maksudku, semalam kau tidur. Ah, tidak. Maksudku kau pulang jam berapa? Lanjutnya terbata. “Apa perlunya kau tau?” Gendis menggigit bibirnya. Lalu tangannya terulur ke atas kepala, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Nggak ada, si. Ya udah lupain.” Akhirnya gendis menyerah mengorek kejadian apa yang menimpanya semalam. Sanjaya baru saja akan beranjak dari kursi. Namun kemudian Gendis memiliki sebuah ide. Ia memegang lengan Sanjaya membuat pandangan mereka bertemu. “Maaf. A—ku Cuma mau tanya. Tanganmu.” Alis Sanjaya berkerut. “Tanganmu yang beberapa hari kemarin terluka. Apa sudah sembuh.” Celakanya tak ada jawaban dari Sanjaya membuat Gendis semakin diserang kikuk. Ditambah tatapan Sanjaya sungguh mengintimidasi. “Aku boleh.” Tangan Gendis menunjuk pada lengan Sanajya. “Melihat lukanya,” izinnya. Kembali tak ada jawaban, membuat dia menelan Saliva. Tapi Gendis sudah kadung menganggapnya sebagai jawaban “boleh” Perlahan tangan mungil itu membuka kancing atasan pangsi Sanjaya. Tak ada reaksi penolakan dari Sanjaya. Pada kancing ke tiga hatinya semakin dibuatnya berdenyut. Tubuh Sanjaya lebih sexy dibanding yang dia pikirkan. “Hentikan pikiran mesummu, Gendis,” katanya dalam hati. Pada kancing ke tiga itu pula ia memilih berhenti untuk meneruskan dan menurunkan bagian bahu lalu memeriksanya. Dan diketahuinya bahu Sanjaya sudah mulus sempurna. Tak ada tanda bekas luka sekalipun bertengger di sana. Gendis mengatupkan mulutnya. Bagaimana bisa? Tapi lagi, dia merutuki kebodohannya. Apa yang tidak bisa di dunia siluman ini. Dunia anomali di dalam sudut pandang manusia. Sebenarnya Gendis masih ingin melihat tangan Sanjaya satu lagi yang menyatu. Namun saat mata Gendis begitu kentara memandang bagian tersebut. Di sana Sanjaya menarik kembali pakaiannya, mengacuhkannya dan tanpa berucap apa pun, ia meninggalkan Gendis kembali. Gendis kembali duduk. Wajahnya murung. Ia seperti terpenjara di sini. Sanjaya begitu dingin terhadapnya. Dia butuh Gendala dan menceritakan semuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD