Berhati-hatilah.

1013 Words
Tak ada ritual memanggil Gendala. Dan Gendis kebingungan sendiri bagaimana cara ia bertemu dengan Gendala segera. Tapi seolah Gendala memiliki telinga untuk mendengar kegelisahan Gendis. Tak lama lelaki itu muncul di hadapannya. “Kamu tahu film drakor terbaru?” tanyanya tiba-tiba. Kalau ada penobatan siluman paling gaul, fix itu digelarkan untuk sesiluman Sanjaya. Gendis menggelengkan kepala. Mana tahu dirinya tentang hal perdramaan sedangkan hidupnya sekarang tak kalah drama. “Sayang sekali.” Bibirnya merenggut maju. “Kemarin aku ke rumah anak indigo, dia sedang nonton drakor lawas judulnya... Sebentar.” Ia tampak berpikir keras. “My love from... From apa ya?” Kembali Gendala mengingat serpihan ingatan tentang judul film yang katanya baru saja dia tonton. “From the star?” tebak Gendis. “Ya. Benar. Pintar!” pujinya. “ Ceritanya bikin aku baper.” Gendis bergidik. Seorang siluman bahkan mengatakan kata baper, rasanya sangat aneh. Namun, tak ada waktu membahas tentang film seorang manusia bertemu dengan lelaki alien. Tidak pula membahas kata-kata gaul apa saja yang Gendala miliki. Gendis mendekat setelah sebelumnya dia memeriksa ke semua arah, mencari tahu apakah ada Sanjaya atau tidak. Setelah dikiranya aman, dirinya langsung melangkah beberapa langkah, memegang bahu Gendala dan merubah wajah mode serius per sekian persen. “Apa semua siluman punya kemampuan menyembuhkan diri sendiri?” tanya Gendis. Jujur hal ini sangat menggelitik dirinya. Sosok Sanjaya seperti sebuah bawah yang sulit sekali ia kupas. Berharap Gendala bisa membantunya. Bukan apa-apa, dia butuh rasa percaya. Itu saja. Pasalnya jika ternyata Sanjaya pembual dan tak bisa diharapkan, dia bisa pergi dengan caranya sendiri dibandingkan menjadi kambing congek yang buta akan arah mana selatan, mana utara. Alis Gendala berkerut. Jelas itu adalah jawaban. “Bagaimana bisa?” tanyanya. Ia merangsek maju, tangannya berbalik memegang bahu Gendis. Membuat Gendis bergerak mundur sedikit. “Kamu tidak punya kemampuan itu?” tanya Gendis balik. Gendala melepaskan tautan tangannya. Tangannya beralih menjadi bersedekap d**a lalu berjalan gelisah ke sana ke mari. “Apa lagi yang kamu lihat?” tanyanya. Gendis berusaha mengingatnya. Dan akhirnya dia mulai mengingatnya. Cahaya ungu yang membungkus Sanjaya juga mata ungu dirinya yang baru dirinya sadari hanya Sanjaya yang memiliki setelah dia melihat semua siluman di sini cenderung lebih memiliki mata abu dan merah. “Matanya. Memang kamu tidak sadar,” ungkap Gendis. “Mata?” Gendis mengangguk. “Matanya berwarna ungu.” “Iya memang ungu,” akunya, tapi kemudian Gendala terpaku sejenak. Dia seperti terenyak. Ratusan tahun berteman dengan Sanjaya, kenapa baru sekarang dia menyadari akan sesuatu yang bermakna dari warna manik mata Sanjaya. Perbedaan di antara para siluman dengan Sanjaya. Ini sungguh tidak masuk akal, tapi faktanya baik Gendala atau Nyimas memang tidak pernah mempermasalahkan itu sebelumnya. “Ada lagi yang kamu ingat?” Kondisi jadi berbalik, Gendis yang seharusnya bertanya banyak hal, Justru Gendala lah yang banyak bertanya padanya. “Kamu temennya, kenapa kayak baru kenal Sanjaya.” “Jawab saja.” Gendis berpikir kembali. “Dia mengeluarkan cahaya ungu.” Tepat seperti dugaan Gendis. Ketika ia melihat ekspresi Gendala, ia melihat lelaki itu menegang. Wajahnya gelisah. “Ada apa?” Gendis memberanikan diri bertanya. “Ini tidak mungkin,” racaunya. “Kenapa?” Beberapa saat Gendala tidak menjawab, dan malah semakin tampak gelisah lalu tak lama Gendala bersuara. “Kamu harus berhati-hati padanya,” pinta Gendala. Apakah prasangka Gendis benar. Bahwa Sanjaya siluman yang berbahaya. Tapi kenapa keberadaan dirinya di samping lelaki itu memberikan rasa yang nyaman untuknya. Pikiran antara ketakutan dan penyangsian bercokol di kepala wanita itu. Sampai-sampai dia harus menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk mencoba menetralisir semua kecamuk yang mendadak membuat perutnya terasa mual. “Gendis. Dengarkan aku. Hati-hati padanya,” katanya ulang. Gendis mengangguk kaku. Dan sialnya hatinya berkata lain. Ada apa ini? “Aku harus pergi dulu. Ingat kata-kataku tadi. Aku serius, kau harus berhati-hati.” Setelah mengatakan hal demikian, Gendala melangkah pergi. Seperti biasa, di ujung sana sebuah cahaya keluar lalu Gendala masuk ke dalamnya, tertelan dan hilang. Sepergi lelaki itu Gendis beberapa kali harus menghela napas berat. Apakah ini yang Gendala pernah katakan di pasar siluman dulu, tentang bagaimana tabiat siluman. Tak semua siluman baik, dan ada sebagian mereka yang jahat. Lebih jahat lagi jika wajahnya baik lalu faktanya jahat. Tapi sebentar. Sanjaya bahkan tidak pernah sama sekali mengatakan dirinya baik, bukan? Kenyamanan itu murni tercipta sendiri. Kenapa jadi sekarang Gendis seperti di serang gelisah oleh perang dihatinya sendiri. Semenjak kepergian Sanjaya tadi, lelaki itu belum kembali juga. Demi apa pun, Gendis merasa dirinya seperti wanita kurang belaian. Maksudnya, waktu yang seharusnya mereka pakai untuk berdiskusi malah lebih sering dengan perpisahan yang Gendis sendiri tak tau ke mana Sanjaya mengembara. Perut Gendis menginterupsi lamunannya. Ia baru sadar hari ini belum makan sama sekali. Ini hutan, dan jelas bukan hanya Makanan siluman yang ada di sini. Sebenarnya Gendis tidak pandai memasak. Ralat, dia bahkan tidak bisa memasak sama sekali. Dalam keadaan seperti ini tentu sikap defensif akan rasa manjanya harus di buang jauh-jauh. Gadis itu berjalan ke sana ke mari, memacari kiranya apa yang bisa dia makan. Dan beruntungnya, bertahun-tahun masuk komunitas juga belajar di jurusan arkeolog sedikitnya memberi tahu dia makanan apa saja yang bisa dia makan di dalam hutan. Pasalnya bukan sesekali komunitas itu masuk ke dalam hutan untuk sekedar mencari tahu meninggalkan-peninggalan kuno yang ada di dalamnya. Begitu gendis melihat bambu muda, dia mulai berpikir untuk mencari alat untuk bisa menebas calon makanannya tersebut. “Kau butuh bantuan?” Suara seseorang di belakang punggungnya terdengar. Kontan Gendis menengok dan ternyata dugaannya salah. Bukan seseorang melainkan siluman wanita yang tampilannya cantik luar biasa. Nyimas. Gendis mengangguk. “Lemah,” ejeknya. “Bagaimana bisa manusia lemah sepertimu berani mendekati Sanjaya ku.” Betapa percaya dirinya Nyimas menekankan kata ‘Sanjayaku’ seolah Sanjaya memang miliknya. “Mundur,” perintahnya. Lalu kemudian tidak lama, angin berembus keluar dari tangan Nyimas. Angin itu setajam pisau sehingga membuat bambu muda itu terpotong seketika. Selepas Nyimas membantunya. Gendis memberanikan diri bertanya, tapi kemudian urung ia lakukan mengingat bagaimana Nyimas bersikap padanya. Bagaimana kalau Nyimas juga berniat jahat padanya. Apakah di dunia ini hanya Gendala yang bisa dia percaya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD