Bab 4 : Jiwa dan Ragaku terpisah

1008 Words
Tomi langsung masuk ke dalam gubuk reotnya dan masuk ke kamar, kemudian mengambil telepon genggamnya. Ternyata benar yang ibunya katakan, ada 20 panggilan tidak terjawab dari Tiara. "Ada apa menelpon? bukannya tadi sudah bertemu," tanya Tomi pada hati kecilnya. Jari jemari Tomi langsung mengklik tombol memanggil Tiara dan terlihat status berdering tanda sedang aktif. Beberapa detik kemudian, diangkat. "Selamat malam. Apa benar ini Tomi?" tanya seorang laki-laki yang terdengar dari ponsel Tiara. "Iya pak betul. Ada apa ya tadi memanggil?" tanya Tomi. "Tiara sedang koma dari seminggu yang lalu. Malam ini dia mengigau memanggil nama Tomi. Jadi kami mencari tahu nama itu lewat kontak handphonenya. Bisa kamu ke rumah sakit sekarang? alamatnya akan saya kirimkan lewat pesan." Panggilan itu berakhir sebelum Tomi menjawabnya. Tomi hanya tertegun mengetahui Tiara sedang koma seminggu lalu. Jadi barusan yang berbincang dengan Tomi siapa? Tomi terus memikirkan hal yang tidak masuk akal itu. Tubuh Tomi mulai melemas. Dia berbaring di kasur kapuknya yang tingginya hanya dua centimeter saja, tanpa ranjang. Ibu dan ayah Tomi menghampirinya setelah menguping perbincangannya di telpon tadi. "Tiara kenapa?" tanya ibunya membuka pembicaraan. "Tiara koma seminggu lalu bu, tapi anehnya. Tepat pukul 12 malam tadi baru saja kami ngobrol di depan rumah. Aneh sekali," Tomi berusaha menahan tangis. "Yang sabar ya. Mungkin itu halusinasi kamu saja, karena kamu terlalu rindu. Ayo kita jenguk sama-sama!" ayah berusaha menenangkan dan memberi solusi. Tepat pukul 3 malam. Mereka sekeluarga menuju rumah sakit. Kebetulan alamatnya baru dikirim oleh keluaraga Tiara. Jadi Tomi baru bisa jenguk sekarang. *** "Apa aku sudah mati? Di mana aku?" Tiara menengok ke arah kanan dan kiri. Dia sangat terkejut melihat jiwanya terlepas dari raganya. Masih di ruang rawat. Tubuhnya terbujur kaku seorang diri dan dihiasi selang oksigen untuk pernapasan dan aksesoris kedokteran lainnya. Tulang kepalanya nampak bekas jahitan seperti habis dioperasi pada bagian kepalanya. Tiara bangun perlahan dari jasadnya dan mengamati dirinya yang terpisah dari raganya itu. Tiara melihat telapak tangannya. Dia mulai mencoba menyentuh tubuhnya untuk kembali pulang. Namun tidak bisa, bahkan arwahnya pun tidak bisa menyentuh raganya. Dia masih penasaran, apa ini hanya mimpi? Dia mulai berjalan melewati pintu yang tertutup rapat. Berhasil! Dia mampu menembusnya dengan baik. "Ya Tuhan! Apa aku benar-benar sudah jadi hantu? bagaimana dengan Tomi? Aku belum kasih kepastian untuknya. Tuhan jangan ambil aku terlebih dahulu. Aku minta sedikit waktu lagi agar Tomi tenang mendapatkan kepastian dariku," rintihnya dengan tulus diiringi air mata yang bercucuran. Sambil berjalan di lorong-lorong rumah sakit. Tiara berpikir keras, kenapa dia bisa koma seperti ini? Kejadian terakhirnya adalah saat dia kabur dari rumah. Namun Tomi tidak setuju dengan keputusannya. Jadi dia kabur sendiri menggunakan angkutan umum. Tidak disangka angkutan umum itu mengalami kecelakaan dahsyat yang menewaskan seluruh penumpangnya, kecuali Tiara. Mungkin Tiara juga sudah mati kalau saja semua alat-alat dokter dilepas. Tiara orang kaya. Jadi orang tuannya mampu memfasilitasi pengobatan anak semata wayangnya itu. Tidak seperti penumpang lain. Tiara terus berjalan sampai akhirnya dia berhasil menemui Tomi di tengah malam itu. *** Tomi dan keluarga sudah berada di rumah sakit. Tampak kedua orang tua Tiara yang tiada henti menangis dan beberapa pengawal menjaga di sekitar ruang tunggu dekat kamar rawatnya. Tomi mencoba menyalami mereka. Tapi disambut cacian oleh ibunya Tiara. "JANGAN SENTUH TANGANKU BOCAH MISKIN!" Sambil menahan isak tangis. Ibunya Tiara terus mengomel dan menyalahkan Tomi atas semua yang terjadi pada Tiara. "Semua gara-gara kamu! Anak saya berubah jadi pembangkang sejak kenal kamu! Bahkan berani kabur dari rumah gara-gara lebih memilih kamu. Tolong jauhi anak saya mulai dari sekarang!" Tomi dan keluarga meminta maaf dan berjanji akan menjauhinya. Sementara ayahnya Tiara hanya bisa diam dan menenangkan ibu Tiara yang sangat murka. Setelah seminggu akhirnya ia tahu sosok Tomi yang membuat anaknya celaka. "Jadi mereka memintaku datang hanya untuk ini? mencaci maki di hadapan orang tua ku?" keluhnya dalam hati. Tomi pamit dan melangkah pergi. Beberapa detik kemudian, suster berteriak histeris karena Tiara sedang sakaratul maut. Detak jantungnya mulai melambat, Ibunya sangat panik, "Tolong suster! Tolong dokter! selamatkan anak semata wayang saya." "Tolong panggilkan Tomi. Dia penyemangat hidup anak ibu. Tolong jangan egois dulu, semua demi keselamatan Tiara. Biarkan Tomi menemani hari-hari yang sulit dilewati anak ibu ini sampai keadaan mulai membaik!" perintah dokter pada keluarga Tiara. Para pengawal langsung berlari mengejar Tomi. Tomi yang sudah sampai parkiran terpaksa kembali lagi dan dijinkan masuk kedalam ruangan yang Tiara tempati. Tomi duduk disamping Tiara. Dia mulai memegang tangan Tiara dan memgecupnya dihadapan orangtuanya dan orang tua Tiara. "Aku datang Tiara ... bangunlah. Aku janji tidak akan menuntutmu lagi dan tidak akan meminta kepastian lagi. Kita akan terus sama-sama seperti keinginanmu. Tidak mengapa kalau harus backstreet lagi. Aku akan terima. Asal kamu nyaman dan bahagia." Tiara masih belum merespon. Semua yang menyaksikan cemas. Tomi akhirnya meneteskan air matanya karena sangat takut kehilangan. Penantiannya belasan tahun, apa harus berakhir seperti ini? "Sayang, bangunlah! TERBITLAH KEKASIH HIDUPKU. Terbitlah seperti hari-hari lalu yang selalu menyinari hari-hariku dan membuatnya lebih berwarna. Aku tidak bisa tanpa kamu." Berulang kali Tomi mengatakan terbitlah kekasihku. Tiba-tiba jemari Tiara bergerak seperti merespon. Detak jantung mulai normal. Semua yang menyaksikan merasa lebih tenang dari sebelumnya. Dokter mulai memeriksa kembali. Keadaannya mulai membaik. Berulang kali dokter memperingati untuk tahan emosi agar Tiara stabil lagi tapi ibu Tiara masih saja mencaci maki, "Ingat ya! sampai mati pun saya tidak akan sudi punya menantu seperti kamu. Setelah anak saya siuman lebih baik kamu pergi menjauh untuk selamanya!" Tomi mengangguk tanda setuju. Tomi dan keluarganya pulang. Menahan pilu yang teramat dalam. Bahkan sedang keritispun orangtuanya masih keras kepala. Seperti tidak ingin melihat anaknya bahagia. Kasihan sekali Tiara. Pasti hidupnya sangat tertekan. "Heran yah, masa seorang ibu ngga mau lihat anaknya bahagia," celetuk ibu Tomi saat memasuki rumah. "Bukan ibu kandungnya kali jadi setega itu sama anak. Udah tahu anak lagi kritis, apa susahnya pura-pura merestui? Kalau keadaan sudah kembali normal ya … terserah. Mau melarang kek, mau menikahkan Tiara sama laki-laki lain yang kaya. Bodo amat!" balas ayah Tomi dengan kesal. "Maafin Tomi Yah, Bu. Harusnya Tomi enggak jatuh cinta sama anak konglomerat, kasihan Tiara. Semoga lekas membaik dan cepet sadar dari komanya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD