Bab 5 : Rahasia Besar

1042 Words
Tomi berbaring di kasurnya. Baru saja ia akan memejamkan matanya, tiba-tiba Tiara datang mengejutkannya. Dia benar-benar mirip hantu. Datang dan pergi sesuka hati. "Tomi, temenin aku ngobrol dong!" pinta Tiara dengan nada manjanya. "Kamu ngapain kamu masih berkeliaran? Aku mohon kembali pada ragamu. Aku ingin lihat kamu sembuh seperti dulu," Tomi memohon dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku sudah berusaha kembali ke tubuhku, tidak bisa. Mungkin karena aku tahu. Sekali pun aku sembuh, kita tidak bisa bersama. Ibu sangat keras. Jadi lebih baik aku tidak hidup." Mereka menghabiskan malam berdua di kamar Tomi yang sangat sempit. Namun Tiara bahagia. Setidaknya impiannya bisa keluar malam dan bersama Tomi memandang bintang di malam hari sudah terwujud. Tiara bercerita satu hal rahasia besar pada Tomi yang selama belasan tahun ini ia pendam. Ini mengenai ibu Tiara. Ibu yang selama ini ia hormati, ternyata bukan ibu kandung Tiara. Tentu saja penjelasan ini membuat Tomi terkejut. Tomi pun menanyakan keberadaan ibu kandungnya. Mungkin ia bisa membantu membuat Tiara sembuh. Pertanyaan Tomi justru memancing Tiara untuk bercerita panjang lebar tentang keluarganya. *** Waktu Tiara berusia 5 tahun sebuah perceraian itu terjadi. Tiara tidak tahu sebabnya, mungkin karena ia masih terlalu kecil. Dia bahkan tidak boleh berkomunikasi dengan ibu kandungnya, apalagi menemuinya. Kejadiannya begitu singkat. Tiba-tiba ayah menikah lagi dengan primadona desa. Perawan yang cantik jelita. Gadis mana yang tidak mau bersanding dengan pengusaha furnitur kaya raya seperti ayah. Beberapa hari kemudian. Tiara dibawa oleh ayah dan tinggal dengan ibu tirinya. Dia sangat tertekan sekali dari kecil, untung Tuhan mempertemukan Tomi dengan Tiara. Jadi hidupnya yang sial terasa berwarna karena kehadiran Tomi. Tiara tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menuruti semua keinginan ayahnya. Ayah sangat nurut dengan ibu tiri itu. Jadi Tiara seperti kesulitan untuk berbicara empat mata dengan ayahnya sendiri. Tiara hanya bisa diam dan selalu nurut. "Sekarang kesempatanku untuk mencari tahu yang sebenarnya terjadi. Kenapa ibu selalu melarang hubungan kita? kenapa ayah selalu nurut dengan ucapan ibu? kenapa aku selalu kesulitan berbicara dengan ayah? banyak hal yang ingin aku selidiki," jelas Tiara pada Tomi. "Baiklah. Aku akan bantu jika kamu memerlukan bantuanku. Semoga masa sulit ini cepat terlewati dan kita bisa cepat bersama," ucap Tomi penuh harap. *** Rindu sekali rasanya. Ingin sekali Tiara memeluk Tomi dan mengecup pipinya. Namun tidak bisa. Jemarinya malah menembus tubuh Tomi. Sulit disentuh. Jadi mereka hanya saling pandang dan mengingat bersama masa-masa indah itu. "Kamu ingat tidak, waktu pertama kali kita berenang bersama? waktu praktik ujian akhir di sekolah SMP dulu?" Tiara bertanya untuk memulai bernostalgia. "Iya aku ingat. Kamu ngambek minta dicium keningnya. Padahal kita kan masih anak ingusan hahahaha …." Tomi tertawa puas. Namun sesaat sedih kembali karena ia sadar semua kenangan itu akan berakhir. Waktu itu hampir saja Tomi tidak ikut parktik renang karena tidak ada uang. Untungnya Tiara berbaik hati, membayarkan tiket masuknya. Tomi selalu saja berhutang budi padanya. Sedihnya, sampai sekarang Tomi belum mampu membalasnya. Tomi hanya seorang marbot masjid yang sedang menunggu panggilan kerja. Tomi sudah berusaha melamar ke sana sini. Namun belum juga dapat panggilan kerja. Jaman sekarang mencari kerja dengan cepat harus ada orang dalam dan uang. Jadi Tomi berusaha saja semampunya. Beda dengan Tiara yang sudah bekerja diperusahaan ayahnya menjadi sekertaris. *** "Ada rahasia besar lainnya yang kamu tidak tahu." "Apa?" tanya Tomi. "Dulu waktu SMP, setelah kamu mengajariku main gitar. Aku langsung ciptain lagu untuk kamu." "Ohh, itu rahasia besarnya? hehe lucu juga," jawab Tomi dengan senyuman manisnya. *** Nostalgia waktu SMP. Jam istirahat. Semua teman-teman saling berjabat tangan dan berkenalan. Masih dengan seragam merah putihnya, Tiara sangat bahagia bisa sekolah di SMP Negeri yang elit. Tiara melihat ke arah bangku belakang. Memperhatikan Tomi yang menyendiri. Dia menghampirinya dan mengulurkan tangan. "Kamu baik-baik saja?" Tomi membalas uluran tangan Tiara dan menjabat tangannya. "Ya, aku baik-baik saja." Tangannya sangat dingin seperti sedang gugup. Ini sentuhan tangan mereka dengan mesra untuk yang pertama kalinya. Tiara dan Tomi saling pandang dan lupa melepaskan tangan mereka. Putri temen sebagku Tiara langung bersorak ‘Cie-Cie’ dan itu membuat kelas heboh. Tiara melepaskan jabat tangannya dan mengajak Putri ke kantin. Tiara bahagia sekali bisa menyentuh tangan Tomi. Dia belum mengenal Tomi lebih dekat. Namun Tomi nampak seperti cowok cool yang cuek dan tidak suka bergaul dan kumpul-kumpul dengan cewek, seperti cowok lainya. Bagi Tiara, dia berbeda. Bagi Tiara, dia adalah inspirasinya. Baru bertemu beberapa hari saja, otaknya sudah pintar bisa menciptakan lagu. Sejak Tomi mengajarinya main gitar. Dia langsung beli gitar dan berlatih tiap hari di rumah. Dia mulai suka musik, terutama gitar. Jadilah dia memetik gitarnya dan membuat lagu untuk Tomi. Ini lagu pertamanya, judulnya "Jatuh Cinta". Murni karya anak putih-biru. Tiara berharap, suatu hari nanti bakalan ada produser atau artis band yang mau membeli lagu ciptaannya itu, meski masih amatiran. Tapi Tiara selalu ingin bisa mendapatkan uang dari karyanya itu. Impian dan cita-citanya dari kecil ingin jadi artis, jadi orang terkenal, bisa di kenal oleh banyak orang dan punya banyak uang agar bisa bahagiain orang-orang yang dia sayang. *** Lagu karya Tiara untuk Tomi dengan judul "Jatuh Cinta". "Semua sesal dalam hatiku, Kini menghilang karena kehadiranmu, Entah mengapa terjadi padaku, Mungkin ku jatuh cinta padamu, Sa'atku berada didekatmu, Berdebar-debar rasa jantungku, Betapa bahagianya hatiku, Disa'at berdua bersama kamu... Reff: ku akui, ku jatuh cinta padamu Ku sadari, cintaku hanyalah untukmu Aku ingin menjadi kekasih dirimu Aku sangat mencintai dirimu Kekasih ku Ho... ho... ho... Kalau orang tuanya tau tentang lirik lagu ini dan tentang perasaan anaknya ini. Pasti akan geram dan kecewa. Bagaimana tidak? Anak ingusan seperti Tiara sudah berani-beraninya jatuh cinta. Harusnya fokus belajar dan berbakti pada orang tua. Kalau ingat ini, Tiara suka berdo’a semoga anaknya kelak tidak seperti dirinya yang mengalami jatuh cinta di saat belum waktunya. Anak ingusan seperti Tiara hanya menulis apa adanya sesuai perasaannya. Jadi waktu itu, memang Tomi membuat dirinya berdebar, semua kesal sesal yang Tiara alamin hilang begitu saja setelah kenal Tomi. Tiara ngerasa nyaman dan selalu berbuga-bunga tiap dekat Tomi. Lihat dari kejauhan saja jantungnya berdebar-debar, apalagi kalau deket-deketan. Tiara suka lebay bilang ke Putri, "Ya ampun ... Putri coba deh pegang dadaku. Ini jantung ku berdebar karena lihat Tomi senyum dari kejauhan." Putri langsung bilang, "kalau ngga berdebar kamu ngga hiduplah Tiara," ucapan Putri ada benarnya juga, karena setiap manusia yang hidup pasti jantungnya berdebar. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD