Bab 9

1248 Words
hihi aku update lagi nih, gak ada yang mau Komentar atau kasi love ke aku wkwkw jangan lupa follow yaa *** "Tu-tunggu! Jangan masuk dulu!" Pekik Yohan yang panik saat Anya melihat isi kamarnya yang benuansa merah muda. Persis seperti kamar seorang gadis. Yohan tampak malu dan berusaha menarik Anya untuk keluar. Namun Anya yang awalnya terkejut, segera menggeleng. Lagipula hanya kamarnya yang bernuansa merah muda, dan ada beberapa meja dan juga bedcover. Namun tidak ada boneka atau benda lucu seperti gadis, hanya warnanya saja yang merah muda. "Kamu suka warna ini? Gak apa-apa sih, setiap orang pasti punya warna yang dia suka." Yohan akhirnya menyerah, dan menarik koper Anya untuk masuk ke dalam kamarnya. Lagi pula Anya sudah lihat, untuk apa dia pertahankan. Terserah Anya mau ilfeel atau tidak, memangnya kenapa kalau seorang lelaki sepertinya menyukai warna gadis? Menurutnya tidak ada yang salah, asal sikapnya masih tetap seperti lelaki. "Saya bahkan lebih suka warna hijau mint, tidak menyangka kalau kamu menyukai warna merah muda." "Jangan meledekku Kak Anya." Anya tidak mengatakan apapun selain duduk di sofa empuk yang dibelakangnya ada jendela. Di sana Anya bisa melihat langsung pemandangan yang indah. "Bisa bantu saya sebentar gak han?" Pinta Anya. Yohan menganggukkan kepalanya, dia mendekat dengan tatapan datar. Sungguh kontras memang, apalagi Yohan yang terlihat dingin dan galak, dengan nuansa merah muda di kamarnya. Toh juga Anya tidak mempermasalahkan. Selama dia masih tetap dijalur waras dan tidak menyukai sesama jenis saja. "Mau dibantu apa kak?" Tanya Yohan. "Resleting gaun saya, tolong turunin." Yohan mengangguk, dan saat Anya berbalik Yohan sempat menelan ludahnya gugup. Karena ini pertama kalinya dia akan menyentuh tubuh seorang wanita. "Han?" Panggil Anya beberapa kali. Tangan Yohan sedikit gemetar saat menyentuh ujung resleting. Kemudian perlahan menurunkannya, terlihat Anya sepertinya mengenakan kaus pendek di dalam, sehingga Yohan tidak melihat secara nyata bagaimana tubuh Anya. Yohan segera menggeleng, kenapa dia bisa berpikiran yang tidak-tidak. Ini pasti karena pengaruh dari Erik, Yohan segera bangkit dan dia meminta Anya untuk ganti baju di kamar mandi, dan dia akan ganti baju di kamar ini. Anya mengangguk kemudian bangkit sembari menyeret gaun panjangnya. Sebelum mengunci pintu, dia sempat kembali membawa beberapa peralatan mandi dan juga pakaian yang akan dia kenakan. Setelah mereka berdua bersiap tidur. Yohan dan Anya sama-sama berdiri menatap ranjang kingsize Yohan dan juga sofa yang ada di dekat jendela. "Kamu tidur saja di ranjang kamu, saya tidur di sofa," ujar Anya. Dia merasa kalau Yohan tidak akan mau seranjang berdua dengannya. Maka dia tidak akan memaksa, tubuh ini terlalu lelah untuk sekedar mendebatkan sesuatu yang tidak seharusnya dia perdebatkan. "Kak." "Kak Anya tidur di ranjang, biar Yohan tidur di sofa." Anya menggeleng, "saya tau kamu pasti tidak nyaman jika tidur di tempat selain ranjangmu." Yohan tampak terkejut, "bagaimana kak Anya tau?" "Apa yang tidak saya ketahui dari anak bos saya sendiri? Tenang saja, saya tau diri kok, kamu istirahat saja di sini." Yohan menghela nafas, "tetap saja, Kakak itu wanita, malah aku yang gak enak kalau Kakak tidur di sofa." Tanpa menjawab Anya segera merebahkan dirinya diatas ranjang. Mengikuti kemauan Yohan, sementara pemuda itu segera membawa bantal dan selimut untuk dia pakai tidur di sofa panjang itu. "Yohan, kamu tidak apa-apa?" Tanya Anya dengan suara serak yang memang sudah sangat ngantuk. "Tidak apa-apa bagaimana kak?" "Seharusnya malam ini---" "Kak Anya tenang aja, kita menikah juga karena Papa yang suruh. Jadi gak masalah, gak usah memaksakan diri untuk menjadi istri yang baik bagiku." Anya menarik kedua sudut bibirnya tipis. Syukurlah, Yohan ternyata bisa diajak kerjasama dengan baik. Keesokan paginya Yohan terusik ketika Anya menggoyangkan bahunya. Memanggil namanya beberapa kali. "Ada apa?" Tanya Yohan dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Bangun dan sarapan, Papa kamu menanti di bawah." Yohan dengan segera bangkit, walau sedikit malas. Dia tidak ingin harga dirinya jatuh di depan Kak Anya, mengetahui kalau Yohan itu malas. Yohan masuk ke kamar mandi untuk cuci muka. Setelah keluar, barulah dia bisa melihat dengan jelas. Kak Anya, wanita yang kemarin baru sah menjadi istrinya. Mengenakan daster biru muda polos dan saat ini tengah membersihkan tempat tidur. "Kak Anya, gak turun?" Tanya Yohan sebelum dia pergi. Anya menengok ke belakang, "kamu duluan saja. Saya mau membersihkan kamar dulu." Yohan menganggukkan kepalanya. Saat dia turun, dia menemukan sang Papa yang kini duduk di meja makan membaca koran. "Yohan? Bah, tumben kamu bangun pagi." "Karena Kak Anya," ujar Yohan malas Papa tertawa karena merasa lucu, setidaknya itu awal yang baru dari misinya membuat Yohan nyaman pada Anya. "Selamat Pagi, Pak." Pak Jeremy langsung noleh, kemudian menggeleng, "sekarang kamu menantu saya. Tidak seharusnya kamu memanggil saya dengan sebutan itu." Yohan melirik sekilas ke arah Anya yang tersenyum canggung. Tentu saja akan sangat canggung ketika atasanmu malah menjadi mertuamu. "Karena Yohan masih SMA. Saya tidak menganjurkan kalian berdua untuk berbulan madu. Lebih baik kalian memanfaatkan waktu untuk saling mengenal." "Uhuk!" Yohan terbatuk-batuk karena mendengar ucapan sang Papa. "Lihat, dia saja masih terlalu kekanakan untuk Mengurus anak kecil." Anya hanya bisa menahan malu dengan senyumnya. Entah bagaimana dia menghadapi kehidupan setelah ini. *** "Kak, hari ini aku punya janji sama temanku. Maaf sepertinya kita gak bisa jalan-jalan." Anya yang mendengar itu menoleh sekilas. Kemudian menganggukkan kepalanya pelan, memangnya apa haknya untuk melarang Yohan? "Jangan lupa---" ucapan Anya terhenti saat dia merasa kalau seharusnya dia tidak mengatakan hal itu. Yohan yang hendak pergi, sempat menahan diri karena ucapan Anya yang menggantung. "Tidak jadi, kamu bisa pergi." Yohan mengendikan bahunya acuh. Kemudian pergi begitu saja, terutama saat Anya hanya diam sambil menatap kepergiannya. Sesampainya di arena, Yohan sempat melirik Eros yang tampak terkejut mengetahui Yohan datang membawa motor sport berwarna hitam miliknya. "Ada apa dengan tatapanmu?" Tanya Yohan keheranan. Eros menggeleng seraya berdecak, "bagus Yohan, bagus, kamu baru aja nikah kemarin, bukannya kamu harus menemani istri kamu itu?" "Gak usah terlalu peduli. Kak Anya gak bakal ganggu kalau aku gak bikin dia susah." Tidak lama setelah itu si gendut stefan mulai berlari menghampiri mereka. Dia juga melihat ada Yohan di sini, dan menghela nafas lega. "Beruntung Yohan di sini! Astaga, si Glen cari masalah lagi sekarang." Erik melirik kesal ke arah Stefan, "apa sih, heh buntal. Coba kamu jelasin dulu yang bener. Jangan langsung main tembak gitu aja," omel Erik. Stefan menunjuk rombongan di bawah tribun itu. Saat mereka menoleh, ternyata ada Glen dan kawan-kawannya. "Mau ngapain dia ke sini?" Tanya Yohan keheranan. "Mau nantangin kamu balap, soalnya dia gak terima kejadian kemarin membuatnya habis-habisan di marahi kedua orangtuanya." Yohan berdecak, "itu bukan urusanku." Tak lama setelah itu Glen benar-benar datang. Kemudian menyapa Yohan dengan sinis, tidak menyangka kalau orang yang dia cari sudah ada di sini. "Bagaimana? Kemarin aku mengaku kalah pada saat tanding basket. Tapi ... Tidak saat kita balap." Yohan menarik satu sudut bibirnya ke atas, "tidak, aku sedang lelah. Kamu saja." "Ck, pengecut." Yohan yang mendengar hal itu segera mengambil helmnya, "oke, kalau begitu maumu, mari kita bertanding." Pada akhirnya Yohan setuju, karena dia tidak ingin membuat pemuda itu bersenang hati dan menganggapnya pengecut. Erik menahan tangan Yohan sebelum dia turun dari tibun, "kamu yakin mau balap, han?" "Ck, orang sombong sepertinya tidak akan tutup mulut kalau merasa diri paling tinggi." Balapan pun dimulai, suara terompet sebagai tanda membuat Yohan melaju motornya dengan kecepatan tinggi. Hal itu membuat pesaing merasa terancam. Ketika melalui putaran pertama Yohan berhasil memimpin, sampai pada putaran terakhir. Glen yang tidak ingin Yohan menang malah mencari gara-gara dengan sengaja mendekat ke arah motor Yohan. Yohan tersentak saat motor mereka bersentuhan, Yohan memilih untuk berhenti dan setelah itu. DUGH! "YOHAN!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD