Bab 8

1068 Words
Maaf telat update lagi hiksss Jangan lupa follow akunnya *** Seharusnya hari ini adalah hari yang sangat dinanti dengan suka cita. Namun baik Anya maupun Yohan, sedang berdebar gugup. Berharap kalau rangkaian acara yang akan dilaksanakan sebentar lagi, cepat usai. Daritadi Anya sibuk menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dia mengenakan baju pengantin panjang dengan hiasan renda kebaya di bagian leher. Memperlihatkan dengan samar bagaimana lekuk selangkanya. Terlihat sangat rasi dengan gaya rambut yang disanggul sederhana ke atas, dengan hiasan mahkota kecil yang terbuat dari permata sungguhan. "Aku sangat terkejut mengetahui kamu akan menikah. Aku segera memesan tiket bus untuk segera ke sini, melihatmu menikah dengan brondong tampan di kamar sebelah." Anya menggeleng pelan, saat mendengar sahabatnya berceletuk. Dia tinggal di kota yang lain karena pekerjaan, dan segera kembali saat mengetahui Anya akan menikah. "jangan berbicara seperti itu, dia adalah anak dari Pak Jeremy. Aku tidak enak kalau mendengar kamu memberikan julukan aneh untuknya." Wanita berambut pendek itu berkacak pinggang, kemudian memutar bolamatanya jengah. "Itu bukan julukan aneh, tapi memang untuk orang yang lebih muda usianya dari kita." "Bagaimana kamu bisa berpikir untuk menikah dengannya? Aku dengar dia bahkan belum lulus SMA. Yang benar saja." Anya masih tetap diam, lebih tepatnya tidak tau harus menjawab ucapan sahhabatnya itu bagaimana? Semua terjadi begitu saja. "Sepertinya kamu mau merahasiakannya dari sahabatmu ini? Oh ayolah, kamu tidak ingat kita bahkan menderita sama-sama dulu." Anya menghela nafas, wanita dihadapannya ini memang tidak akan membiarkannya lolos begitu saja sebelum Anya memberikan jawaban yang tepat untuknya. "Kamu tidak bisa menjawab? Atau ... Kamu dipaksa menikah dengannya?" Wanita itu dengan cepat berubah raut menjadi emosi. Lengan bajunya yang panjang, segera digelung ke atas. Namun saat dia ingin pergi, Anya menahan tangannya. "Jangan bertindak gila. kamu akan mempermalukanku kalau sampai itu terjadi Mona." Wanita itu Mona namanya, salah satu sahabat dekat Anya, dan satu-satunya orang yang Anya anggap sahabat. Mereka memiliki latar belakang yang sama. Namun Mona masih punya orangtua, hanya saja sudah tidak peduli dengan keberadaan Putrinya itu. Membuat Mona harus hidup dalam kesendirian. "Aiyoooo, lihat bagaimana Anya kita ini berdiri dengan sangat anggun, membawa sebuket bunga ditangannya." Anya sedikit tersipu, namun dengan cepat melirik Mona dengan tatapan tajamnya. Tiba-tiba seorang pria dengan kamera masuk. Dia mengatakan kalau Pak Jeremy mengutusnya untuk membuat video dan foto tentang pernikahan. Anya bingung harus berbuat apa? Lalu si fotografer tadi meminta Anya untuk tersenyum sembari menunduk mencium aroma buket bunga yang ada ditangannya. Cekrek Cekrek Cekrek Anya kira hanya sampai di sana, namun ternyata ada satu orang lagi yang ikut. Pemuda itu adalah Yohan, yang saat ini mengenakan tuxedo berwarna hitam yang kemarin sudah Anya pilih. Sejenak Yohan terdiam sebelum akhirnya, Fotografer itu menginstrupsi kalau Yohan harus segera duduk di samping Anya. Yohan menurut, dia duduk di samping Anya. Kemudian memegang buket bunga Anya, bersama dengan tangan Anya yang masih di sana. Anya berdebar, tidak berani untuk menatap Yohan yang terlihat tampan sekarang. Cekrek. "Nah bagus, sekarang anda saling berhadapan satu sama lain." Anya menelan ludahnya gugup, "Kak Anya," panggil Yohan pelan. Deg! Ketika Anya berbalik tanpa sengaja hidungnya menyentuh hidung tajam Yohan. Mona yang melihat adegan itu, senang sendiri dan mengambil ponsel untuk memotretnya. "Baik, diam seperti itu ya. Tolong pengantin wanitanya tersenyum dan memejamkan mata. Begitu juga pengantin prianya." Cekrek! *** Pintu ruangan terbuka dan saat ini ada Anya yang berdiri di ujung dengan gaun indahnya. Anya semakin gugup saat melihat Yohan yang berdiri tak jauh di depan sana. Anya tidak punya pendamping, lalu Pak Jeremy datang menggandeng tangan Anya. Hal itu membuat Anya tersenyum haru. Mengingat Anya tidak punya Ayah yang akan menggandeng tangannya menuju altar. Di sana Yohan tampak berdiri dengan gagah. Raut wajahnya berseri, namun ekspresinya biasa saja, walau pipinya bersemu. Ketika mereka berdua mulai mengucapkan sumpah untuk hidup sebagai suami istri yang saling membantu satu sama lain, dan hidup saling bergantung. Disaat itu juga pernikahan disahkan dihadapan Tuhan dan juga Negara. Ketika pengantin pria dipersilahkan untuk mencium pengantin wanitanya. Anya segera menutup mata dan Yohan mendekat untuk mengecup keningnya. Momen sakral ini akhirnya mereka lewati. Entah apa yang sedang menunggu mereka setelah ini. Yang jelas masing-masing dari mereka memiliki degup jantung yang senada. Antara mereka sudah sadar kalau mereka jatuh cinta, atau mereka hanya menganggapnya sebagai degupan gugup biasa. "Selamat bro! Aduh aku gak nyangka kamu akan menikah secepat ini," sapa salah satu teman Yohan, Eros namanya. "Duh nanti malam mantap-mantapan gak han?" Tanya Erik yang emang isi kepalanya hal-hal jelek. Yohan meliriknya dengan tatapan tajam, "gak usah banyak bicara. Syukur-syukur kalian di undang ke sini." "Eh han, tapi istri kamu memang cantik. Aku aja pangling lihatnya, kelihatan dewasa dan aura wanita cantiknya itu dapet." "Gak usah bicara begitu ros, gak tau Yohan nanti cemburu terus kamu yang menghilang gimana?" Eros meringis kecil, sementara Yohan terlihat menatap dari jauh Anya yang saat ini berdiri bersama dengan rekan-rekan Papanya. Mungkin saja, Anya memang kenal teman-teman Papanya. "Gak usah aneh-aneh kalian, Kak Anya udah jadi istriku. Gak usah kalian bicara yang enggak-enggak." Mereka bertiga tampak mengernyit ketika Yohan memanggil istrinya dengan sebutan, "kak" mereka jadi aneh sendiri. "Kak?" "Iya, Kak Anya. Yang sering aku ceritain sama kalian yang udah kaya mama aku sendiri." "Anjir! Aku kira Papa kamu yang akan nikah sama wanita itu. Tapi ternyata ... Kamu?" Erik sampai melongo tidak percaya. Yohan mengendikan bahunya, dia sendiri bingung kenapa Papa malah menikahkannya dengan Kak Anya. "Han, kamu suka gak sih sama kak Anya?" Yohan dengan cepat menggeleng. Dia saja menganggap Anya itu seperti sosok kakak, gak lebih. Cuma akhir-akhir ini Yohan merasa baper karena Anya mau jadi istrinya. "Kalian berdua cocok kok, tenang aja. Dia udah pernah ngurus kamu dan tau segala sesuatu tentang kamu, jadi enak aja kedepannya," ucap Eros yang menepuk bahu Yohan, tanda kalau dia mau menguatkan sahabatnya itu. Setelah pagelaran mewah itu dilaksanakan. Saatnya untuk pulang. Kata Pak Jeremy, dia sudah menyuruh orang untuk membawa barang-barang Anya, dan memindahkannya di kamar Yohan. Mereka tinggal istirahat, dan awalnya Pak Jeremy mau Anya maupun Yohan istirahat di hotel ini. Tapi mereka berdua menolak. Ketika Anya sampai di rumah, dia mengikuti langkah Yohan untuk masuk ke kamarnya. Namun sebelum masuk, Yohan berbalik sejenak. "Kak Anya, yakin mau ke kamar aku?" Anya menganggukkan kepalanya dengan ekspresi polos, lagi pula dia ingin cepat mengganti pakaiannya yang luar biasa berat ini. Ketika hendak masuk, Yohan menahan tangannya dengan ekspresi menahan malu. Tidak sengaja Anya lihat, kamar Yohan yang dipenuhi oleh sesuatu yang bernuansa merah muda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD