Mimpi apa aku update jam segini wkwkw. Jangan lupa follow akunnya gess
***
Anya siap tidak siap jadi istri dari anak bosnya sendiri. Kemarin saat dia bersama Yohan di taman, entah kenapa dia merasa sesuatu yang membuatnya berdebar bukan main.
"Gak mungkin! Saya gak mungkin jatuh cinta sama bocah ingusan seperti dia kan?" Paniknya yang saat ini tengah berbaring memandang langit kamar.
Anya merasa bahwa Yohan bahkan jauh dari kriteria suami yang dia inginkan. Menerima pernikahan ini, hanya karena Anya merasa banyak hutang budi kepada Pak Jeremy, dan dia juga gak punya impian atau cita-cita yang ingin dia tempuh.
Selama ini Anya hidup menderita, menjadi anak jalanan, lalu dipungut panti asuhan, dan saat bekerja dia menjadi pelayan kafe. Bertemu dengan Pak Jeremy yang salut akan kepandaiannya.
Hidup yang begitu sulit, dia bahkan tidak punya orangtua yang bisa dia banggakan. Jadi menerima pernikahan ini, bukanlah hal yang sulit bagi Anya.
Ting!
Yohan
Dimana? Aku dibawah. Ingat kata Papa, malam ini kita makan diluar.
20.20
Anya terlonjak kaget saat mendapat pesan dari Yohan. Bagaimana bisa? Astaga, dia pasti terlupa. Kemarin karena sibuk mengurus undangan yang begitu banyak, Anya jadi dapat sedikit jatah tidur. Sekarang Anya gak mau menyia-nyiakan waktu dan langsung mengambil setelan yang pertama kali dia lihat.
Dia turun dari apartemen minimalis yang dia beli dengan harga murah. Kemudian memastikan kalau tidak ada make up yang keluar jalur.
Ketika dia turun, dia melihat Yohan sudah berdiri dengan posisi bersandar pada mobil. Menatap kedatangan Anya dengan sebuah senyum tipis.
Hap!
Anya menangkap kunci mobil yang dilempar Yohan, hal itu membuat Anya menggeleng pelan. Dasar bocah, masih saja bertindak nakal seperti sekarang.
"Maaf, seharusnya saya yang menjemput kamu, tapi karena saya kelelahan jadi lupa kalau malam ini ada acara bersama keluarga besar kamu."
Yohan hany melirik sekilas Anya yang sedang menyetir. Sebenarnya dia bisa aja buat kirim pesan Anya cepat datang ke rumah, tapi hatinya tergerak untuk menjemput Anya langsung.
Diperjalanan mereka lebih banyak diam. Terlebih Anya yang ketika menyetir, sangat fokus. Berbeda dengan Yohan yang saat ini menguap menahan kantuknya.
Anya sempat melirik Yohan sejenak, kemudian tanpa sadar menarik satu sudut bibirnya.
"Kalau kamu memang ingin tidur, ya sudah kamu tidur saja. Saya akan membangunkan kamu saat kita tiba."
Yohan tidak menjawab, karena sekarang pandangannya berada pada arena balap liar di pinggir jalan, dia melihat ada Glen di sana. Pemuda yang kemarin sempat membuatnya masuk ruang BK lagi.
"Itu teman kamu ya?" Tanya Anya.
Yohan sempat berbalik dan menatap Anya dengan tatapan terkejut. Bagaimana bisa dia bertanya di saat dia saja tidak melihat ke arah yang Yohan perhatikan.
"Darimana Kak Anya tau?"
"Hanya menebak, karena kamu begitu menatapnya. Mungkin gadis cantik yang sudah kamu incar?"
Yohan berdecih kecil, "saya belum menemukan ada wanita secantik Mama saya Kak, jadi jangan terlalu berpikir keras mengenai saya."
Anya merasa sedikit tertohok dengan ucapan Yohan. Cukup mengherankan seorang Yohan ternyata tidak pernah tertarik pada seorang gadis.
Sampai di sana sepertinya cukup bagi Anya untuk bertanya. Karena setelah itu mereka tiba di sebuah restoran mewah.
"Kamu yakin di sini tempatnya?" Tanya Anya tidak yakin.
"Iya, mereka memilih tempat yang bagus juga ternyata."
Sebenarnya Anya tau seperti apa keluarga besar Yohan. Dia memiliki Kakek Nenek yang masih hidup, kemudian 2 bibi, 3 sepupu, dan 1 orang paman.
Selebihnya masih menjadi rahasia. Ketika mereka masuk, Anya sudah bisa melihat keluarga besar itu duduk melingkari meja makan mewah berbentuk lingkaran.
"Pemeran utama kita hari ini sudah datang."
Mereka disambut oleh salah satu orang, yang kalau tidak salah Anya ingat adalah sepupu Yohan yang kemungkinan lebih tua satu tahun dari Yohan.
"Ahaha, Yohan kita sudah besar. Sebentar lagi akan menikah. Dia membawa wanita cantik untuk kita."
Yohan melirik Neneknya dan tersenyum, kemudian duduk di samping sang Nenek. Anya ikut duduk di samping Yohan.
Dia kira Pak Jeremy ada di sini, ternyata tidak ada. Anya jadi gugup sendiri, setidaknya kalau Pak Jeremy ada di sini bisa sedikit membantu Anya.
"Calonmu lebih tua dari kamu katanya han, tapi kenapa? Tante kira kalian seumuran."
Anya hanya tersenyum menanggapinya. Banyak yang kira mereka sebaya memang. Tinggi mereka yang tidak jauh beda, namun masih tinggian Yohan. Kemudian Anya juga gak kelihatan tua-tua banget kalau dandan ala anak remaja.
Yohan sempat melirik ke arahnya, kemudian tersenyum. Hal itu membuat Anya merasa aneh sendiri, dan merasa apa yang dia lihat ini tidak nyata.
***
"Papa tidak menyukai Kak Anya kan?"
Papanya yang sedang sibuk dengan tablet di tangannya, segera menggeleng. Lagian dia sudah pernah bilang pada putranya itu, kalau Anya memang dari awal sudah ditargetkan untuknya.
"Kamu jangan bicara sembarangan."
Yohan mengendikan bahunya acuh, besok sudah hari pernikahannya. Daritadi Yohan mondar-mandir karena tidak bisa tidur. Mengingat besok hari pernikahannya dilaksanakan.
"Kamu sedang gugup ya?" Tebak sang Papa.
Yohan hanya diam, malas untuk menjawab. Dia duduk di depan meja pantry dan memakan kue yang dibuatkan oleh Kak Anya waktu itu, masih Yohan simpan di kulkas.
"Besok kalian akan menikah, setidaknya Papa lega bisa melihat kamu bersanding dengan orang yang tepat."
"Kenapa Papa begitu memperhatikan Kak Anya?" Tanya Yohan cepat.
"Memperhatikan bagaimana? Anya sudah Papa anggap seperti anak sendiri. Melihat dia akan bersama kamu, setidaknya Papa tenang."
"Anya itu adalah gadis yang kuat. Disaat hidupnya penuh dengan penderitaan, dia itu pandai menyembunyikannya dari senyuman."
Papanya menghela nafas lagi, "Papa ingin kamu juga menjaga Anya. Walaupun Papa tau, kalau Anya lebih tua dari kamu."
Yohan sempat terdiam karena penasaran. Kenapa sang Papa begitu memperhatikan Kak Anya? Sedikit iri, namun karena itu kak Anya, jadi dia tidak begitu mempermasalahkannya.
"Kalian jangan tinggal di rumah lain, karena rumah ini terasa cukup sepi. Kamu bisa menunda untuk memiliki anak. Papa tidak akan memaksa, lagi pula kamu belum lulus Yohan."
Tentu saja ucapan Papanya membuat Yohan menggeleng dengan cepat. Wajahnya memerah, namun bukan itu masalahnya.
Dia dan Kak Anya bahkan tidak ada perasaan sampai ke tahap itu, bagaimana sang Papa bisa berpikir bahwa mereka akan segera memiliki anak.
"Papa berpikir terlalu jauh," ucap Yohan setelah berdehem.
Papa hanya tertawa mendengar hal itu. Masih terlalu sibuk untuk sekedar melirik putranya, yah begitulah dia. Bahkan ketika di rumah akan selalu mementingkan pekerjaan dari apapun.
"Istirahatlah, besok kamu akan menikah. Papa tidak mau kamu sakit sebelum menikah."
Yohan berdecak sebal, "tenang saja, imun ku masih terlalu kuat untuk diserang penyakit sebelum menikah."
Yohan hendak pergi ke kamar namun ucapan Papanya membuatnya menoleh dengan tatapan malu, "setelah kalian menikah, Anya akan tidur di kamar kamu."