Bab 6

1066 Words
Follow Akun, dan jangan lupa Tap Love ceritanya *** Ketika Yohan jalan berdua dengan Anya, mereka memang terlihat seperti seorang teman sebaya. Mengingat dandanan Anya yang biasa saja ketika keluar, berbeda ketika bekerja, terlihat lebih dewasa. Sekarang Yohan harus merelakan waktu bermainnya, dan pergi bersama Anya, melihat gedung tempat pernikahan mereka diadakan. Awalnya Anya tidak masalah Yohan tidak ikut, tapi karena Pak Jeremy sudah memberikan sebuah perintah, maka salah satu dari mereka tidak bisa melawan. Mereka sempat mampir ke restoran cepat saji. Yohan mengeluh kalau dia belum sarapan, karena Anya terburu-buru menjemputnya, sementara sang Papa malah pergi bermain golf bersama teman-temannya. Anya dan Yohan mengambil tempat di paling pojok, dekat dengan pintu keluar. Tempat favorit Yohan dan merasa cukup tenang ketika duduk di sana. "Kalau kamu belum makan, kenapa gak bilang dulu? Saya bisa masakin kamu sebelum pergi lihat gedung," ujar Anya dengan tampang serius. Yohan hanya menatap Anya dengan tatapan datar. Kemudian melanjutkan makannya dengan lahap. Anya menghela nafas, agak heran dengan sikap Yohan yang begitu dingin dan acuh padanya. "Kak Anya," panggil Yohan. Tentu saja Anya langsung menoleh ketika Yohan memanggil. Tidak biasanya Yohan akan memanggil namanya lebih dulu. "Sebenarnya alasan Kak Anya mau menikah sama aku, apa?" Anya mengernyitkan dahinya bingung, "ada apa? Kamu bertanya seperti itu sungguh mengherankan." "Memangnya salah ya kalau aku tanya alasan kak Anya?" Ulang Yohan sekali lagi. Anya terdiam di tempatnya. Otaknya sedang mencari jawaban yang tepat yang nantinya akan dia berikan pada Yohan. Karena sejujurnya, Anya sendiri tidak tau kenapa dia bisa menyetujuinya dengan sangat cepat. "Kak, aku bicara kaya gini juga sebelum Kak Anya nyesel." "Aku cuma gak mau Kak Anya nyesel di kemudian hari karena menikah sama bocah kaya Aku," terang Yohan. Ketika Anya mencoba menatapnya, tatapan pemuda itu begitu serius. Seakan tidak ada celah canda di dalam ucapannya. Anya hanya diam dan kembali mengalihkan pandangannya. Merasa kalau dia tidak perlu menjawab pertanyaan Yohan, karena ada hal yang lebih ingin dia jawab. "Kamu sendiri, kenapa mau menikah dengan saya?" Lempar Anya dengan cepat. Wanita itu dengan santainya duduk sembari menaikan satu kakinya, dan menatap Yohan dengan santai. "Kamu tidak bisa jawab kan?" Anya menarik kedua sudut bibirnya ke atas, "mungkin kamu belum menemukan jawaban yang tepat, walau kamu sudah memegang alasan itu dari awal. Nah, hal itu yang saya rasakan sekarang. Jadi untuk saat ini saya belum bisa memberikan jawaban." Yohan tidak bisa berkutik dibuatnya. Sosok wanita yang awalnya ia kira menjadi ibu tiri, ternyata berubah menjadi istrinya sendiri? "Saya sudah kenal kamu cukup lama, dari kamu masih SMP. Bahkan saat itu saya belum bekerja dan diberi bantuan oleh Papa kamu. Jadi mungkin, alasan itu apa bisa saya gunakan?" Yohan mendesah pasrah dan memilih untuk kembali melahap makanannya. Diam-diam Anya mengamati, Yohan sekilas memang sangat tampan. Tidak ada tandingannya kalau kata Anya. Mirip Pak Jeremy, tapi lebih tampan dan lebih muda. Anya jadi berpikir mungkin saja karena Yohan tampan makanya hati ini ikhlas menerima. Namun Anya kembali membantah dirinya sendiri, karena menurutnya sedikit tidak masuk akal, kalau memang karena wajah yang tampan. "Kak Anya," panggil Yohan. Anya dengan cepat sadar dan melihat Yohan hendak keluar dari restoran. "Ngapain dari tadi ngelamun terus." Anya segera menggeleng, "kita pergi sekarang." *** Yohan sama sekali tidak menyangka mengetahui sang Papa menyewakan sebuah gedung mewah. Dia bahkan semua persiapan pernikahan ini dibayar oleh Papanya. "Bagaimana menurutmu?" Tanya Anya pada Yohan. Gedung ini belum di dekor saja sudah sangat bagus, apalagi kalau sudah di dekor? Pikir Yohan. Diam-diam dia menyunggingkan sebuah senyum tipis. "Perlu diperhatikan jarak dari pintu ke altar, mungkin cukup jauh. Kamu akan berdiri cukup lama saat pernikahan nanti disahkan." Ucapan Anya menyadarkan Yohan. Pemuda itu menganggukan kepalanya. Setelah selesai melihat-lihat, mereka sempat pergi jalan-jalan, lebih tepatnya Yohan yang sedang butuh refreshing lalu Anya mengajaknya. Daritadi saat bersama dengan Yohan, pemuda itu sama sekali tidak pernah terlihat santai atau menyunggingkan sebuah senyum untuknya. Berbeda saat Anya melihat Yohan bersama gadis cantik yang memberikannya hadiah. Ck, kalau sudah seperti ini Anya hanya bisa pasrah menerima takdir menjadi baby sitter Yohan. "Kak?" Panggil Yohan. Anya melirik sekilas tanpa minat, "kenapa?" Tanya Anya galak. "Mau kemana?" Anya melirik ke arah samping, dia baru sadar kalau dia itu hampir aja salah arah, beruntung Yohan dengan cepat menyadarkannya. "Hati-hati kak, gak pernah ke sini ya?" Tanya Yohan sedikit random dari biasanya. "Iya," jawab Anya jujur. Dia memang tidak pernah kemari. Anya terlalu sibuk dengan urusan belajar dulu, jadi tidak sempat menikmati masa muda. Bahkan circle SMAnya saja tidak ada, dari situ Anya tidak begitu suka cerita anak SMA. Yang selalu mengingatkannya tentang masa lalu Anya yang dulu anak terpinggirkan, dan kutu buku yang selalu mengendap di perpustakaan sekolah. "Kamu suka ke taman begini han?" Yohan menganggukkan kepalanya dengan tatapan datar. Benar-benar tidak ramah sama sekali, padahal Anya ingin melihat bagaimana Yohan menjadi sosok yang ramah. "Iya, saat butuh ketenangan aku pasti kemari." "Kak Anya, kalau emang tidak suka di sini, kita mungkin bisa pindah." "Kemana?" Tanya Anya bingung. "Ke Mall?" Anya dengan cepat menggeleng, dia paling tidak suka jika diajak belanja di sana. Lebih baik beli baju di pasar dapat harga nawar dan Langsung dapat barang. "Saya tidak terlalu suka ke sana, karena nanti ujung-ujungnya saya yang akan bolos." Yohan tidak menjawab Apapun. Masib dengan sikapnya yang dingin dan terlihat acuh. Demi Tuhan Anya ingin menjambak rambut Yohan karena pemuda itu sengaja mengacuhkannya saat Anya bertanya padanya. "Yohan ... Kamu mau undang temen kamu atau tidak?" Bingung mau mencari topik obrolan seperti apa? Karena sejujurnya mereka banyak hal yang membuat pembahasan mereka mungkin berbeda. "Tidak, lebih baik mereka tidak tau." "Kenapa?" Tanya Anya bingung. Baru Yohan ingin menjawab, namun tiba-tiba Yohan menarik lengan Anya. Membuat Anya oleng dan hampir saja jatuh, kalau tangan Yohan tidak menangkapnya dengan cepat. Rambutnya yang licin, tidak sadar membuat ikat rambut Anya, jatuh karena licin, membuat rambut Anya menjadi beterbangan. Tatapan mata Yohan kali ini berbeda dengan tatapan mata sebelumnya. Hal itu membuat Anya merasa cukup gugup dan ini pertama kalinya, Anya gugup ketika berhadapan dengan Yohan. Tiba-tiba saja mereka mendengar suara seseorang yang berdehem. Ketika mereka berbalik, pria yang menjadi petugas kebersihan itu berdehem pelan. "Permisi, saya mau bekerja. Kalau mau mesra-mesraan mending di pojokan atau di dalam rumah," sahut si Bapak petugas kebersihan. Hal itu membuat Yohan dan Anya saling pandang, dan Yohan segera mengembalikan Anya di posisi semula. Entah mereka sadar atau tidak, tapi wajah Anya memerah, lalu Yohan merasa sesuatu berdebar dengan cukup kencang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD