Heheh Maaf baru bisa update sekarang.
***
Suasana lapangan olahraga begitu ramai. Banyak dari mereka yang saat ini menanti pertandingan legendaris dari seorang Yohan yang terkenal tampan dan anak hits di kalangan mereka.
Kelas tingkat akhir yang menjadi duel terpanas hari ini. Bahkan sengatan sinar matahari tidak menyurutkan langkah Yohan ketika masuk ke arena pertandingan.
Banyak dari para siswi memberikan sebuah teriakan semangat. Mendukung Yohan yang saat ini berdiri di depan lawan, siapa lagi kalau bukan Glen.
Pemuda itu selalu mencari masalah dengannya. Membuat Yohan tidak paham, sebenarnya apa yang terjadi pada pemuda itu, sampai ingin terus bersaing dengan Yohan.
"Kita buktikan siapa yang pantas saat ini."
Yohan hanya diam sembari menggeleng. Tidak tau bagaimana lagi caranya untuk menghadapi pemuda sombong bernama Glen.
Saat bola mulai dilempar ke atas oleh wasit, Yohan dengan cepat menangkapnya. Membawa bola tersebut dengan teknik dribble kemudian menangkis lawan yang hendak merebut bolanya.
Banyak dari para siswi semakin terpikat dengan ketampanan Yohan, apalagi saat dia mulai mengoper bolanya ke rekan tim.
Pertandingan itu berlangsung cukup sengit. Karena baik tim Yohan, maupun tim lawan sama-sama kuat dan tidak bisa dikalahkan begitu saja.
"Menyerah saja, dari awal seharusnya aku yang menang," bisik pemuda itu dengan tatapan meremehkan.
Yohan tidak tinggal diam, segera merebut bola itu darinya, bahkan sampai membuat pemuda tersebut kaget bukan main.
Saat bola itu masuk ke dalam ring basket dengan mulus, menambah score dan menjadi pertanda bahwa kemenangan berpihak pada team Yohan.
Yohan menoleh ke belakang, mendapati pemuda tadi berdiri dengan tatapan tak percaya. Yohan menarik kedua sudut bibirnya ke atas, "see, kalau mau menang itu tidak perlu banyak bicara tapi tidak ada usaha."
Setelah pertandingan itu usai, banyak dari mereka yang memberikan selamat kepada Yohan, tentu saja Yohan senang. Namun, dia memilih untuk mencari tempat untuk menghirup udara segar.
Ketika dia kembali ke kelas, dia membuka tas ranselnya. Mendapati sebuah bekal makan yang ditempatkan dengan rapi.
Sejenak Yohan terdiam untuk berpikir, siapa yang membuatkannya bekal? Kemudian dia ingat, saat Kak Anya mengantarnya. Yohan sempat turun sebentar untuk mengambil sesuatu di dalam kamar.
Pemuda itu menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Namun dengan cepat dia turunkan ketika temannya datang dan menepuk pelan bahunya.
"Wah, ada makanan. Kenapa tidak bagikan ke kami juga?" Pinta salah satu temannya.
Yohan dengan cepat menyembunyikan bekal tersebut. Dia memilih untuk diam, dan berdecak saat salah satu temannya ada yang jahil.
"Tidak usah disentuh, atau kamu mau menjadi musuhku?"
Kawannya itu berdecak, namanya Stefan. Pemuda sebaya dengannya dengan tubuh menggempal karena kebanyakan makan.
"Sepertinya Glen semakin tidak terima dengan kemenanganmu. Buktinya tadi dia seakan ingin kamu dan dia kembali bertanding," sahut salah satu temannya bertubuh ceking dengan tinggi sekitar 170 cm.
"Ck, tidak usah dilayani. Dia tidak akan pernah puas. Bahkan ketika aku memberikannya kesempatan untuk menang, dia hanya akan banyak bicara dan pamer kepada yang lain."
Betul saja saat mereka hendak mengobrol. Glen dengan para antek-anteknya datang menghampiri Yohan.
"Tidak menyangka, orang seperti Yohan masih kekanakan dan membawa bekal makan."
Yohan memutar bolamatanya jengah. Memilih untuk diam dan mengabaikan, tidak tau kalau sekarang Glen semakin kepanasan.
Bugh!
Yohan terkejut bukan main saat Stefan sahabatnya, malah jadi sasaran empuk Glen. Dengan cepat Yohan maju dan memberikan pukulan yang sama.
"Yohan!"
"Glen!"
***
Anya baru aja mau istirahat, tapi niatnya tadi urung karena seseorang menghubunginya. Ketika Anya menerima panggilan itu, dia terkejut bukan main saat mengetahui Yohan kembali berulah.
Anya menghela nafas, bagaimana bisa Yohan kembali terlibat perkelahian? Anya hendak memberitahu Pak Jeremy, tapi rasanya lebih baik Pak Jeremy tidak tau.
Buru-buru wanita itu bersiap untuk pergi lagi. Mengingat dia baru saja pulang dari menengok gedung yang akan menjadi tempat pernikahannya dengan Yohan.
Sesampainya di sekolah, Anya dengan tergesa turun dari mobil. Dia langsung masuk ke dalam sekolah dan kembali masuk ke ruang BK dimana posisinya sudah Anya hapal.
"Permisi," ujar Anya
Guru BK yang menangani Yohan, menoleh dan menyapa. Menyuruh Anya untuk segera masuk. Anya sempat melirik Yohan yang saat ini menunduk namun ekspresi wajahnya terlihat datar.
"Bu Anya, anda lagi yang datang? Pak Jeremy mana?"
Anya menarik kedua sudut bibirnya ke atas, "tidak bisa hadir, saya saja yang gantikan. Saya termasuk walinya Yohan bu."
Wanita dihadapan Anya itu mengangguk paham. Kemudian memberitahukan, apa yang sudah Yohan lakukan pada siswa di sampingnya.
"Bu, saya tidak tau. Kenapa Yohan bisa sebrutal itu. Kemarin dia berkasus sama anak yang lain, sekarang kembali berulah. Saya tidak mengerti lagi bu."
Anya terdiam sejenak, dia sempat melirik Yohan. Tatapan wanita itu menajam ketika Yohan tidak sengaja menatapnya.
Ya Tuhan! Yohan sebentar lagi akan menikah. Lalu sekarang dia harus menyelesaikan masalah yang seperti ini? Apa selamanya akan begini?
"Kalau boleh tau apa yang dia lakukan?"
"Dia memukul teman sebayanya sampai babak belur. Orangtuanya sebentar lagi datang, saya ingin anda menjelaskan kepada orangtuanya nanti, dan meminta maaf."
"Cih." Yohan terdengar berdecih pelan, hal itu membuat Anya segera menggeleng melihat kelakuan Yohan.
Namun, dia tiba-tiba saja teringat bagaimana perangai Yohan ketiks diluar. Anya rasa, Yohan bukanlah orang yang akan memukul temannya tanpa alasan.
"Tapi tunggu dulu bu, saya rasa, ibu belum pernah bertanya pada Yohan. Apa alasan dia memukul temannya, mungkin saja Yohan berusaha membela diri."
"Bagaimana dia mau membela diri! Dia saja, memberikan pukulan yang lebih keras!" Protes pemuda yang tidak salah ingat, namanya adalah Glen.
Mendengar ucapan Anya tadi, Yohan mendongak. Raut wajahnya keheranan, namun segera dia tepis dan kembali datar.
"Tidak percaya, coba sekarang. Siapa saja tadi yang berada di sekitar Yohan?"
Bu Guru BK itu tampak terdiam, dan saat ini memanggil anak-anak yang disekitar Yohan tadi.
"Kalian semua saya panggil ke sini, saya meminta penjelasan atas apa yang terjadi. Saya tidak mau melihat dari satu sudut pandang, kalian bisa menjelaskannya kepada saya."
Mereka semua tampak menunduk, Yohan menghela nafas berat. Tentu saja tidak ada yang berani berkata-kata karena ucapan tegas si ibu BK.
Anya menggeleng pelan, namun seketika matanya menangkap salah satu teman Yohan yang saat ini terluka.
"Saya rasa salah satu dari kalian ada yang bisa membantu menjelaskan kejadian ini kepada kami," ucap Anya yang sengaja memancing salah satu dari mereka untuk berbicara.
Hingga pada akhirnya Yohan bangkit, "sudah---" ucapan itu terputus saat pemuda bertubuh gempal dengan luka di sekitar wajahnya, angkat bicara.
"Maaf, bu, sebenarnya Yohan tidak memukul Glen bukan tanpa alasan. Tapi karena dia marah melihat saya yang dipukul oleh Glen lebih dulu, dan Glen memukul saya tanpa alasan."
Bu guru BK terkejut mendengarnya. Ternyata benar kata Anya, kalau Yohan memukul Glen pasti karena ada alasannya.
Ketika Yohan diperbolehkan pulang dan bu guru menahan Glen. Yohan tampak acuh terhadap Anya, hal itu membuat Anya menghela nafas.
"Kamu pulang sama saya, kamu mau kemana?" Tanya Anya ketika Yohan hendak berbalik.
"Aku tidak mau, Kak Anya kalau mau pulang sendiri. Silahkan saja!"
"Pulang dengan saya, atau saya berteriak memberikan undangan pernikahan kita kepada teman-temanmu," ancam Anya yang membuat langkah Yohan terhenti.