Bab 4

1019 Words
Bismillahirrahmanirrahim update tiap hari wkwkw *** Anya kaget bukan main saat mengetahui kalau Yohan, anak dari Pak Bosnya sendiri, adalah orang yang akan menikahinya? Takdir macam apa ini? Pagi-pagi sekali setelah mendapat kabar tidak mengenakan dan juga panggilan dari Pak Bosnya itu, Anya harus datang ke butik. Sebenarnya Anya ingin menolak, tapi Pak Bosnya itu sudah banyak berjasa kepadanya. Kalau bukan karena beliau, Anya mungkin akan terjerumus dalam hal-hal yang tidak baik. Pusing sendiri karena tawaran Pak Jeremy begitu mendadak. Mau nolak gak bisa, kelihatan banget Pak Jeremy berharap sama dia. "Mbak, mau gaun yang seperti apa?" Sekarang Anya yang harus memilih gaun pernikahannya dengan Yohan. Mengingat pria itu bahkan baru menginjak usia 19 tahun dan fokus sekolah. "Mau yang sederhana, tapi tetap terlihat elegan. Ukuran tuxedonya L ya mbak." Pelayan itu mengangguk dan kembali lagi setelah membawa setelan yang Anya minta. Setelah ini dia bahkan harus menjemput Yohan. Anya sudah duga, dia akan menikah dengan Yohan karena Pak Jeremy ada yang mau mengurus Yohan. Mau tidak mau Anya hanya bisa pasrah dan mengikuti apa yang menjadi kemauan dari pak bosnya itu. Ketika Anya melihat pakaian yang indah itu. Anya terpesona, setidaknya dia akan pernah merasakan bagaimana menjadi seorang pengantin. "Baik Mbak, yang ini saja." "Tidak ingin melihat yang lain lagi?" Anya menggeleng, kalau begitu banyak pilihan dia akan sangat sulit memilih. Karena lebih baik sekarang dia memilih pakaian yang pertama kali dia lihat. Konon katanya hal yang pertama adalah hal yang baik. Jadi tidak masalah kalau memang ada yang lebih baik dari gaun pilihannya, daripada sulit memilih. Sebelum pulang Anya melirik arloji berwarna silver, barang branded yang dia beli dari hasil tabungan celengan Ayam. Maklum Anya mungkin hanya punya Arloji ini sebagai barang brandednya. "Yohan masih belum pulang jam segini," gumam Anya dalam hati. Dia kembali masuk ke dalam mobil. Sekarang dia harus menanti Yohan di cafe yang letaknya tidak jauh dari sekolah Yohan. Mau kembali ke kantor tidak bisa, karena Pak Jeremy meliburkannya. Menyuruh Anya untuk menemani Yohan dan mulai membicarakan hubungan mereka. Akan sangat sulit memang, disaat Anya sudah menganggap Yohan sebagai adiknya, tidak lebih. Lalu sekarang dia akan menikah dengan orang yang dia anggap seperti adik. Anya duduk sembari menatap ke arah luar. Berharap melihat ada tanda-tanda Yohan sekarang, walaupun setengah dari dirinya ingin Yohan lama pulang. Lagi pula tidak ada yang bisa menjemput Yohan selain dirinya. Pak Jeremy mengatakan kalau motor sport Yohan sudah di sita sampai pernikahan selesai diadakan. Takutnya Yohan kabur dari pernikahan. Terus juga uang Jajan Yohan diberikan secara cash. Agak serem emang Pak Jeremy kalau udah menyangkut hukuman fasilitas. Tidak lama setelah itu Yohan terlihat bersama dengan tiga orang yang sebaya dengannya. Tawa terlihat dari wajah Yohan, berbeda dengan yang dia lihat saat di ruang BK waktu itu. Baru saja Anya ingin menghampiri, seorang wanita terlihat mendekat ke arah mereka. Ah tidak, seorang gadis cantik dengan rambut yang diurai gelombang. Anya mengurungkan niat dan memilih untuk mengamati, apa yang dilakukan gadis itu terhadap Yohan. Karena saat ini raut wajahnya malu-malu. "Kak Yohan, terimakasih karena sudah membantuku kemarin. Gara-gara bantu aku Kakak malah kena masalah." Anya terkejut mendengarnya, Yohan hanya menggeleng dengan senyuman. Astaga! Anya bahkan tidak pernah melihat Yohan begitu ramah pada seseorang. Apalagi pada dirinya, ternyata dia sangat centil ketika berhadapan dengan seorang gadis. "Tidak masalah, aku sengaja membantu karena tau kamu dalam kesulitan. Kalau mereka sampai ganggu kamu lagi, silahkan lapor ke BK ya." Bahkan saat Yohan menjawab pertanyaan gadis itu. Suaranya begitu lembut. Kenapa sekarang Anya mendadak salty ya? Gadis itu terlihat mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah muda lengkap dengan pita di atasnya. Ketiga teman Yohan tadi menggoda Yohan, namun Yohan terlihat enggan. "Terimakasih, tapi aku gak butuh ini. Lebih baik kamu simpan saja." Yohan menolak pemberian gadis itu? Sungguh mengejutkan, bahkan sikapnya begitu baik. Apa Yohan sebenarnya tidak sebengal itu? Anya buru-buru pergi sebelum ketahuan, dia naik ke mobil dan menjalankan mobilnya sampai diketahui oleh Yohan. "Guys, aku pergi dulu ya. Jemputan udah dateng." "Yah, gak ikut balap nih han?" Yohan menggeleng, "masih banyak urusan. Gak usah tungguin aku." Anya terkejut saat Yohan membuka pintu mobil dan duduk di sampingnya. Pria itu terlihat duduk dengan wajah datar. Berbeda dengan apa yang Anya lihat barusan. Tentu saja hal itu membuat Anya jadi bertanya-tanya sebenarnya ada apa dengan Yohan? *** Anya merebahkan tubuhnya di atas kasur single miliknya. Wajahnya sudah tertutup oleh masker. Sebelum pulang tadi Yohan cuma bilang, "tetep jaga jarak ya kak. Aku tau kalau kakak sebenarnya terpaksa nikah sama aku." Anya sebenarnya kepikiran sama ucapan Yohan. Dia memang terpaksa, tapi rasanya juga ikhlas. Karena Anya sendiri gak punya keluarga, gak punya sesuatu impian yang menurutnya sudah dia gapai? Karena dia belum melaporkan pada Yohan tentang pakaian yang akan digunakan mereka saat menikah nanti. Anya memutuskan untuk mengirimkan fotonya. Anya Sent a picture 21. 58 Kamu bisa lihat, bagus apa nggak? Sebelum dipakai. 21. 58 Anya gak dapat balasan setelahnya. Hal itu membuat Anya mendesah pasrah. Apa Yohan membencinya ya? Karena Anya memang sering bersikap galak, tapi itu hanya sebuah sikap wajar ketika ingin menasehati seseorang. Ting! Yohan Bagus, gk perlu diganti 22.03 Anya menghela nafas, setelah itu membanting ponselnya ke atas ranjang. Bagaimana dia harus memperlakukan Yohan setelah ini? Pada dasarnya dia lebih tua dari Yohan? Anya bingung sendiri, lebih baik dia mengerjakan proposal daripada mencari cara dekat dengan seorang pria. Disisi lain ada Yohan yang saat ini berbaring sembari melihat pakaian yang akan mereka gunakan saat menikah. "Papa memang suka bikin kejutan. Masa anak sendiri dinikahin sama sekretarisnya?" Ujar Yohan setengah kesal. Kak Anya adalah orang yang baik menurutnya, hanya saja dia terlalu tegas dan galak. Bagaimana Yohan harus menghadapi orang seperti itu? Pernikahan sudah setengah jalan. Agak sulit bagi Yohan untuk mundur, dan dia merasa heran, bagaimana bisa Kak Anya menyetujui pernikahan ini? "Gak mungkin Kak Anya suka sama Aku kan?" Pikirnya. Tak lama setelah itu Yohan bangkit dan berdiri di depan cermin. Melihat pantulan dirinya dan tersenyum, sok tampan. "Aku tampan, tapi bagaimana bisa?" Yohan melihat sekeliling kamarnya. "Arggh! Bingung bagaimana sekarang?" Yohan memilih untuk memejamkan mata setelah merebahkan tubuhnya diatas kasur. Lupakan saja dulu! Tunggu dan biarkan seperti air mengalir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD