Aksa membuka pintu rumah dengan pelan, seolah khawatir suara gesekan engsel akan membangunkan sesuatu yang rapuh di dalam. Udara dingin menyambutnya, bercampur aroma masakan hangat yang samar-samar masih melayang di udara.
Lampu ruang tamu menyala lembut, menyoroti sudut-sudut rumah yang bersih dan rapi. Di atas meja makan, sepiring sup ayam, sambal terasi, dan tahu goreng tersusun dengan hati-hati, seperti dipersiapkan oleh tangan yang penuh kasih.
Di balik meja dapur, Kirana berdiri dengan senyum tipis, memakai celemek hijau lembut yang memeluk pinggang rampingnya. Matanya menatap Aksa sejenak, lalu beralih ke kompor, memastikan api sudah padam.
“Kamu pulang agak malam,” suaranya lirih, seperti embun yang jatuh pelan di daun-daun pagi.
Aksa melepas sepatu, menaruh tas kerja di kursi. “Tadi ada rapat mendadak,” jawabnya, meski sebenarnya ia sempat berhenti di minimarket untuk membeli rokok. Bukan kebohongan besar, hanya sebuah penyederhanaan kenyataan.
Mereka duduk berhadapan di meja makan. Sendok bertemu piring, bunyinya pelan, tak lebih nyaring dari ketukan hujan yang mulai jatuh di luar sana. Sesekali mereka saling melempar pandang, tapi tak ada yang berani menatap terlalu lama. Ada ketegangan tipis di antara mereka, seperti seutas benang yang siap putus jika ditarik sedikit saja.
“Bu Rini melahirkan kemarin,” kata Kirana, memecah keheningan. Ia menyendok kuah sup perlahan.
“Oh ya? Anak kedua, kan?” Aksa berusaha terdengar antusias, meski di dalam hatinya, topik ini terasa bagai duri.
Kirana mengangguk. “Perempuan. Lucu sekali, katanya. Pipinya tembam.”
Senyum terbit di wajah Aksa, tapi hambar. Ia melirik Kirana. Wajah istrinya cantik, lebih cantik daripada hari pertama ia jatuh cinta. Tapi matanya—mata itu tak lagi berbinar. Ada redup di sana, seperti cahaya lilin yang kehabisan oksigen.
Keheningan kembali menyelusup. Kirana menunduk, menatap piringnya yang hampir kosong. Tangannya mengusap perutnya perlahan, gerakan refleks yang sudah sering dilakukan selama sepuluh tahun terakhir. Perut yang tetap rata, kosong.
“Aku senang kalau kamu pulang lebih awal, Mas,” ucap Kirana tiba-tiba, seperti ingin mengalihkan perasaan yang baru saja menyeruak. “Rumah jadi lebih hangat.”
Aksa tersenyum kecil. “Aku usahakan.”
Tapi ia tahu, itu janji yang mungkin akan sering ia langgar. Pekerjaan menuntutnya, dan akhir-akhir ini, ia lebih sering merasa nyaman di luar rumah. Bukan karena ia tak mencintai Kirana—tidak pernah ada perempuan lain yang mampu menggantikan Kirana di hatinya—tapi ada kehampaan yang perlahan merayap dalam pernikahan mereka. Kehampaan yang tak mampu mereka sebutkan dengan kata-kata.
Selesai makan, Kirana membereskan piring. Aksa membantunya, meski lebih banyak berdiri di dekat wastafel, mengamati gerak tangan istrinya yang cekatan mencuci piring.
Ada rasa kagum, juga iba. Kirana begitu sempurna, kecuali satu hal: rahimnya yang belum mampu menghadirkan tangis bayi.
“Kirana…” Aksa membuka suara, pelan.
“Hm?”
“Apa kamu… bahagia?”
Kirana terdiam sejenak, lalu berbalik. Senyumnya terbit, tapi terlalu cepat, seperti reaksi otomatis. “Tentu saja. Kenapa tanya begitu?”
Aksa menggeleng. “Cuma… kadang aku merasa kamu terlihat lelah.”
Kirana tertawa kecil. “Namanya juga hidup. Lelah itu biasa.”
Tapi mereka berdua tahu, lelah yang dimaksud Aksa lebih dari sekadar rutinitas. Itu lelah yang bersumber dari tekanan, harapan yang belum terwujud, dan pertanyaan-pertanyaan yang selalu mampir di setiap pertemuan keluarga: “Sudah isi belum?”
Malam merambat lambat. Mereka duduk di sofa, menonton acara televisi yang suaranya lebih banyak menjadi latar daripada hiburan. Kirana menyandarkan kepala di bahu Aksa, sementara tangan pria itu menggenggam jemarinya. Hangat, tapi seperti ada dinding tipis yang memisahkan.
“Kamu tahu, kan, kalau aku masih akan dan terus mencintaimu,” ujar Aksa lirih.
Kirana menganggukkan kepala, kemudian satu kecupan hangat mendarat di dahinya. Aksa pun memeluk erat Kirana, seakan tidak ingin wanita itu pergi dari jangkauannya.
Kemudian, Aksa memandangi vas bunga kering di atas meja. Dulu, bunga itu adalah mawar merah segar yang Kirana beli untuk memperingati ulang tahun pernikahan mereka yang ke-10.
Kini kelopaknya keriput, warnanya pudar, tangkainya mulai rapuh. Tapi Kirana tak pernah membuangnya. Katanya, bunga itu simbol cinta mereka, yang meski telah melewati badai, tetap bertahan.
Namun, bagi Aksa, bunga itu kini lebih mirip pengingat tentang hubungan mereka yang perlahan layu. Setiap kali ia melihatnya, ada rasa takut bahwa mungkin, cinta mereka pun akan berakhir seperti itu—kering, rapuh, hanya menyisakan kenangan.
“Kita besok ke rumah Ibu, ya?” suara Kirana membuyarkan lamunan Aksa.
Aksa menoleh. “Ada apa?”
“Katanya mau kumpul keluarga. Kakak juga datang.”
Aksa mengangguk. “Baik.”
Di dalam hatinya, ia sudah membayangkan percakapan di sana. Ibunya akan bertanya lagi tentang cucu, mungkin dengan nada bercanda, tapi menyisakan luka di hati Kirana. Ia ingin membela istrinya, tapi ia tahu, kalimat-kalimat ibunya kadang seperti belati yang berselimut kapas—tak terlihat tajam, tapi melukai dalam.
Malam semakin larut. Kirana masuk kamar lebih dulu, sementara Aksa duduk di ruang tamu, memandangi layar ponselnya. Ia membuka galeri foto: potret pernikahan mereka, Kirana dengan kebaya putih, tersenyum bahagia. Begitu jauh rasanya momen itu dengan apa yang ia rasakan sekarang.
Aksa menghela napas panjang. Ia mencintai Kirana. Itu kenyataannya. Tapi cinta saja kadang tak cukup untuk mengusir kekosongan.
Saat akhirnya ia masuk kamar, Kirana sudah tertidur membelakanginya. Aksa berbaring perlahan, lalu merapatkan tubuhnya ke istrinya, melingkarkan tangan di pinggang Kirana. Wanita itu bergeming, napasnya teratur.
Dalam kegelapan, Aksa mencium rambut Kirana yang beraroma melati. “Aku ingin kita bahagia,” bisiknya, meski ia tak tahu apakah Kirana mendengarnya atau tidak.
Di luar jendela, hujan masih turun. Dingin, seperti kesunyian di hati mereka.
Dan di atas meja ruang tamu, bunga kering di dalam vas tetap berdiri di sana. Diam, tapi berbicara lebih banyak dari yang mampu diucapkan siapa pun.