Bab 2 – Tekanan yang Menghimpit

913 Words
Pagi itu langit digelayuti awan kelabu. Udara terasa berat, seolah menekan d**a siapa pun yang melangkah di bawahnya. Kirana berdiri di depan cermin, merapikan kerudung warna lembut yang membingkai wajahnya. Bibirnya tersenyum tipis, tetapi sorot matanya menyiratkan kekhawatiran. Ia tahu siang nanti mereka akan berkunjung ke rumah Bu Mirna—ibu Aksa. Dan di rumah itu, kerap kali ia merasa lebih menjadi tamu ketimbang menantu. Aksa muncul dari kamar, mengenakan kemeja biru yang sudah disetrika rapi. Tatapannya hangat, tetapi ada kelelahan yang disembunyikan. Ia menghampiri Kirana, menyentuh punggung istrinya pelan. “Sudah siap?” tanyanya. Kirana mengangguk. Ia memaksa senyumnya lebih lebar. “Ayo.” Sepanjang perjalanan, hujan mulai turun. Rintiknya perlahan mengetuk kaca mobil, seperti detak pelan dari hati Kirana yang terus gelisah. Di atas dasbor, ia melihat gantungan bunga plastik yang mulai pudar warnanya—kenangan pemberian Aksa sepuluh tahun lalu saat ia masih begitu gigih membuktikan cinta. Kini bunga itu tampak kehilangan nyawa, diam di tempatnya. Mobil berhenti di halaman rumah Bu Mirna. Aroma tanah basah bercampur dengan harum kue bolu dari dapur menyambut keduanya. Suasana yang seharusnya hangat, namun bagi Kirana, ini adalah arena lain di mana ia harus memasang topeng. Mereka duduk di ruang tamu. Bu Mirna, dengan balutan daster cokelat dan kerudung bunga-bunga, segera menyuguhkan teh hangat. “Nanti dicoba kuenya, ya. Itu resep baru, katanya bagus buat ibu hamil,” ucap Bu Mirna, seolah kalimat itu meluncur begitu saja, padahal Kirana tahu—tidak ada yang kebetulan dalam setiap ucapan mertua perempuannya. Kirana tersenyum. Aksa di sampingnya tampak meneguk teh, seakan tidak mendengar. Ia tahu suaminya peka, tetapi ia juga tahu—Aksa memilih diam sebagai bentuk damainya sendiri. Obrolan mengalir. Bu Mirna mulai membicarakan anak dari menantu satunya, Rini, yang baru saja melahirkan. Foto-foto bayi mungil itu ditunjukkan pada Kirana. Tawa dan pujian mengiringi. Kirana ikut tertawa, tetapi di dadanya, sesuatu runtuh pelan-pelan. “Kamu ini cantik, sehat. Mestinya sudah punya momongan juga,” celetuk Bu Mirna sambil terkekeh. “Apa kurang pijat? Atau coba ramuan ini…” Kirana hanya mampu mengangguk. Telinganya menangkap semua, tetapi hatinya seperti berlubang. Aksa menoleh sekilas pada Kirana. Ia menggenggam tangan istrinya di bawah meja, seolah ingin berkata “Aku di sini,” tapi Kirana merasa genggaman itu justru seperti penegasan bahwa ia memang perempuan yang belum mampu memenuhi harapan keluarga. Hujan di luar semakin deras. Awan menggantung lebih rendah. Suara rintiknya seperti menggema di d**a Kirana. Waktu berjalan lambat. Ia berusaha kuat, tetapi ada sesak yang sulit ditepis. Ketika akhirnya mereka berpamitan, Kirana merasa napasnya lebih lega. Namun, di dalam mobil, diam di antara mereka seperti tembok tinggi. Hanya bunyi wiper yang menyapu sisa air hujan di kaca. Aksa sesekali melirik istrinya, ingin mengatakan sesuatu, tetapi kalimat itu tak kunjung dirangkai. Di lampu merah, Aksa menggenggam tangan Kirana lagi. “Maaf, tadi Mama…” “Tidak apa-apa,” potong Kirana cepat. Terlalu cepat, hingga Aksa tahu, ada kepedihan yang ditutup rapat. Ia hanya mengangguk. Hujan mulai mereda, tetapi suasana hati mereka tetap mendung. “Kamu mau singgah ke kafe atau ke toko bunga?” “Tidak, Mas, aku mau pulang sekarang,” jawabnya singkat, kemudian Kirana mengalihkan pandangannya ke jendela mobil. Melihat respons istrinya yang kurang baik, Aksa tidak bersuara. Dia biarkan perjalanan menuju rumah dengan suasana hening, bahkan musik di radio pun tak berkumandang sore itu. Setibanya di rumah, Kirana langsung menuju kamar mandi. Pintu terkunci. Air keran dinyalakan, seolah mencoba menenggelamkan suara tangis yang akhirnya tumpah. Bahunya bergetar. Ia duduk di lantai kamar mandi, memeluk lutut. Betapa inginnya ia hamil. Betapa ia sudah mencobanya, menghitung masa subur, meminum jamu pahit, mendatangi dokter. Tapi rahimnya masih sunyi. Di luar, Aksa bersandar di pintu. Ia mendengar isak pelan itu, tetapi ia tetap diam. Hatinya perih, namun ia takut membuka luka lebih lebar. Lelaki itu memilih menjadi pendengar bayangan, bukan penyelamat. Malam tiba. Mereka makan malam tanpa banyak bicara. Kirana menyajikan sup ayam hangat, tetapi rasanya hambar di lidah Aksa. Vas bunga kering di meja makan menjadi saksi bisu. Kini warnanya memudar, seolah menjadi gambaran cinta mereka yang mulai diterpa debu kelelahan. “Kirana…” “Iya?” Kirana menoleh, mencoba menyunggingkan senyum seperti biasanya. Aksa ingin berbicara lebih banyak—tentang rasa bersalahnya, tentang kecintaannya pada Kirana yang tak pernah berkurang meski tanpa anak. Namun, yang keluar dari mulutnya hanya, “Besok kamu libur, kan?” “Iya.” “Hm… bagus.” Lalu diam lagi. “Kenapa, Mas?” Aksa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Tidak ada, hanya ingin habiskan waktu seharian bareng kamu.” “Oh, oke… mau main PS, besok?” “Boleh. Yang kalah traktir ngopi ya.” Kirana mengangguk antusias. Malam itu, mereka tidur bersebelahan, tetapi terasa seperti dua pulau yang terpisah lautan. Aksa membelakangi Kirana, menatap jendela yang masih basah oleh hujan. Sementara, Kirana menatap punggung Aksa, menghafal lekuk yang dulu selalu memberinya rasa aman. Kini, ia merasa punggung itu semakin jauh. Di antara kesunyian, Kirana berdoa dalam hati, meminta kekuatan. Ia tidak ingin rumah ini hancur. Tidak ingin cintanya layu seperti bunga di atas meja. Tetapi ia tahu, ada retak yang mulai merayap di dinding hatinya. Dan Aksa, meski tidak berkata, mulai merasa kehilangan sesuatu—kehangatan yang dulu selalu ada di antara mereka. Di luar, hujan menyisakan rintik kecil. Angin dingin menyusup dari celah jendela. Vas bunga kering masih di sana, tak terganti, seperti kenangan cinta yang masih dipertahankan, meskipun warnanya mulai pudar. Hanya waktu yang tahu, apakah bunga itu akan tersiram kembali atau akhirnya benar-benar hancur menjadi debu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD