Bab 4 – Luka yang Tak Terucap

1058 Words
Angin malam merayap perlahan di sela jendela yang sedikit terbuka, membawa hawa dingin yang menusuk ke dalam rumah. Kirana duduk di sudut ruang tamu, tangannya sibuk memilah-milah berkas kerja, tetapi matanya kosong menatap halaman yang seharusnya penuh angka. Di atas meja, vas bunga kering masih berdiri di tempat yang sama—kelopaknya mulai luruh satu per satu, meninggalkan jejak lembut di permukaan kaca. Seperti cinta mereka, pelan-pelan gugur, tapi belum berani disingkirkan. Aksa baru saja pulang. Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu berdiri sejenak di ambang pintu, memperhatikan Kirana yang tampak tenggelam dalam dunianya sendiri. Dulu, keheningan di antara mereka adalah kehangatan; sekarang, keheningan itu seperti dinding transparan yang memisahkan dua jiwa dalam satu rumah. “Kamu sudah makan?” tanya Aksa, suaranya serak, nyaris mekanis. Kirana menoleh sebentar, mengangguk pelan. Senyumnya tipis, sekadar basa-basi, sebelum kembali menunduk ke arah berkas. Aksa berjalan ke dapur, menenggak segelas air. Pandangannya jatuh pada panci di atas kompor—sup ayam yang sudah dingin. Ia tahu Kirana memasaknya untuknya, seperti biasanya. Namun, rasa sup itu tak lagi seperti dulu. Bukan soal bumbu, tapi karena ada yang hilang di antara sendok dan mangkuk, antara niat memasak dan tangan yang menyendokkan. Malam itu berlalu seperti malam-malam sebelumnya, sepi dan membeku. Namun, api kecil yang lama terpendam mulai merambat dalam diam. Hujan mulai turun pelan saat mereka berdua bersiap tidur. Rintiknya mengetuk lembut kaca jendela kamar, seperti suara-suara kecil dari alam yang mengingatkan bahwa segala sesuatu sedang bergerak, bahkan yang tak kasat mata. Aksa merebahkan tubuhnya di sisi kanan ranjang, sementara Kirana di sisi kiri. Jarak di antara mereka terasa lebih luas dari sekadar bentangan seprai. Kirana ingin bicara, ingin mengeluh, ingin menangis—tapi lidahnya kelu. Setiap kali ia ingin mengutarakan luka yang menggumpal, selalu ada ketakutan kalau-kalau Aksa akan menganggapnya lemah, atau lebih buruk lagi—bosan. Aksa pun demikian. Ia ingin merengkuh Kirana, mengatakan bahwa semua ini akan baik-baik saja. Namun, yang terucap hanya, “Besok aku pulang agak malam. Ada pertemuan dengan klien.” “Oh,” sahut Kirana pendek. “Oke.” Bukan kali pertama Aksa pulang terlambat, tapi entah kenapa, malam itu Kirana merasa ada yang berbeda. Barangkali firasat seorang istri yang tahu ketika sesuatu mulai berubah. Namun, sekali lagi, ia memilih diam. “Kamu kalau capek langsung tidur aja besok, nggak usah masak untuk aku, apalagi nungguin aku pulang,” kata Aksa memberi pengertian. Kirana hanya bergumam, dia merasa jenuh dengan kebiasaan Aksa yang pulang larut malam beberapa pekan ini. Seolah ingin menjauh dan memperbesar jarak dengan Kirana. Pagi harinya, Kirana berangkat kerja lebih awal. Di kantor, ia bertemu Sinta, sahabatnya, yang langsung tahu ada sesuatu yang disimpan di balik mata sembab Kirana. “Kamu kenapa, Ran? Mukamu kayak kurang tidur,” tanya Sinta sambil menyesap kopi. Kirana tersenyum tipis. “Cuma lagi banyak pikiran.” Sinta hendak bertanya lebih jauh, tapi Kirana buru-buru mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Membicarakan dirinya sendiri seperti membuka luka yang selama ini ditutup rapat. Ia tak siap. Di sisi lain, Aksa juga larut dalam pekerjaannya. Namun, ia tak bisa mengelak ketika sesosok perempuan bersuara riang menyapanya. Tiara. Perempuan itu membawa aura berbeda—ceria, lepas, seperti tak punya beban hidup. Sesuatu yang perlahan mulai menggelitik Aksa, menghadirkan kontras dengan rumahnya yang muram. Namun, saat siang berganti sore, wajah Kirana kembali membayang di benaknya. Matanya yang lelah, genggaman tangannya yang dulu selalu menghangatkan, kini terasa dingin. Malam itu, Kirana duduk di meja makan dengan hati yang penuh sesak. Ia ingin berbicara tentang rasa sakitnya. Tentang tekanan dari Bu Mirna. Tentang dirinya yang mulai merasa gagal sebagai istri. Tentang ketakutannya ditinggalkan. Namun, setiap kata yang disusunnya di kepala, luruh begitu saja. Saat Aksa pulang, kelelahan terpancar di wajahnya. Ia baru saja selesai rapat panjang, tetapi yang lebih menguras tenaga adalah perasaannya sendiri—pertarungan antara tanggung jawab sebagai suami dan ketertarikan pada kebebasan yang dibawa Tiara. “Aku mau bicara,” Kirana memberanikan diri. Aksa duduk di seberangnya, menatap penuh tanya. “Ya, ada apa?” “Aku… Aku cuma merasa… Aku takut, Mas. Takut kalau kita—” Kirana terdiam sejenak, menelan ludah, “—tak pernah bisa punya anak. Aku takut kamu kecewa. Takut kamu akan ninggalin aku.” Kalimat terakhir itu nyaris tak terdengar, seperti desahan lirih di tengah suara hujan yang mulai mengguyur deras di luar. Aksa menunduk. Hatinya berkecamuk. Ia mencintai Kirana, tapi di sisi lain, ia juga manusia yang punya mimpi tentang keluarga sempurna. Tentang anak yang memanggilnya ‘Ayah’. “Kamu nggak boleh mikir gitu. Aku sayang kamu,” jawab Aksa, meski suaranya terdengar lelah. “Tapi aku tahu kamu juga ingin anak. Aku lihat dari mata kamu tiap kali kita datang ke rumah Ibu.” Suasana makin berat. Aksa menghela napas. “Mungkin… Mungkin memang kita nggak ditakdirkan punya anak, Ran. Mungkin aku nggak ditakdirkan punya anak… darimu.” Kirana tersentak. Kalimat itu bagai pisau yang mengoyak hatinya. Ia menatap Aksa, berusaha memastikan apakah benar yang baru saja didengarnya. Mata Aksa menyesal setelah kata-kata itu keluar, tapi semuanya sudah terlambat. “Aku nggak maksud—” Kirana berdiri, wajahnya pucat, air mata menggenang, tapi ia menahannya. Ia berlari kecil ke kamar mandi, mengunci pintu, dan di sanalah ia pecah. Isak tangis menggema, bercampur dengan suara hujan yang makin menderas. Air matanya jatuh, seperti sungai kecil yang tak terbendung. Aksa berdiri di luar pintu, mengetuk pelan. “Ran… maafin aku… Aku nggak maksud ngomong kayak tadi…” Tak ada jawaban. Hanya suara air keran yang dibuka, menutupi tangis yang semakin lirih. Malam itu, Aksa keluar rumah. Ia tak kuat berada di sana, di bawah atap yang kini terasa seperti penjara. Hujan menyambutnya, deras, dingin, mengguyur sebagian tubuhnya sebelum masuk ke dalam mobil. Ia mengemudi tanpa tujuan, hingga akhirnya berhenti di sebuah bar kecil, bertemu dengan beberapa rekan kerja—dan Tiara. Tiara tertawa lepas, bercerita tentang kegagalan pernikahannya seolah itu bukan apa-apa. Aksa tersenyum, untuk pertama kalinya hari itu. Ia merasa didengar, merasa dipahami, meski hanya sebentar. Namun, di rumah, Kirana duduk di tepi ranjang, matanya sembab, tangannya gemetar. Di atas meja kecil di sampingnya, vas bunga kering itu diam tak bergerak. Sekeping kelopak kembali jatuh, melayang pelan, lalu mendarat di lantai. Malam itu, bunga cinta mereka meranggas sedikit lebih banyak—tanpa mereka sadari, akar-akar yang pernah kuat mulai rapuh di dalam tanah. Hujan terus mengguyur, seakan menjadi saksi luka yang tak terucap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD