Aksa duduk di kursinya, menatap layar laptop yang menampilkan serangkaian angka dan grafik. Jemarinya bergerak di atas papan ketik, tetapi pikirannya berkelana.
Di seberang meja kaca ruang meeting, Tiara sedang menjelaskan rencana proyek dengan antusias. Rambut panjangnya tergerai, sedikit berantakan setelah seharian bekerja. Matanya berbinar-binar ketika membicarakan target pencapaian, dan tawanya renyah saat bercanda dengan rekan yang lain.
Aksa memperhatikan Tiara—bukan hanya kata-katanya, melainkan dirinya. Caranya menyelipkan rambut ke belakang telinga, gestur tangannya saat menjelaskan sesuatu, hingga sorot matanya yang hidup.
Ada sesuatu dalam diri perempuan itu yang mengingatkannya pada hari-hari awal pernikahannya dengan Kirana. Saat Kirana masih penuh semangat, belum diliputi kesedihan karena rahimnya yang tak kunjung terisi. Dulu, Kirana pun bercahaya seperti Tiara—sebelum waktu dan kenyataan perlahan-lahan meredupkan kilaunya.
Pertemuan itu berakhir menjelang petang. Para rekan mulai meninggalkan ruangan satu per satu, sementara Aksa masih membereskan berkasnya. Tiara berdiri di ambang pintu, menunggu.
“Mau pulang bareng?” tanyanya santai, seperti ajakan teman biasa.
Aksa ragu sesaat, tetapi akhirnya mengangguk. Mobilnya terparkir bersebelahan dengan mobil Tiara. Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran. Hujan gerimis mulai turun, menciptakan kabut tipis di udara. Aksa membuka pintu mobilnya, bersiap masuk, namun Tiara berseru.
“Kita makan dulu, yuk. Aku tahu tempat enak di sekitar sini. Sup hangat, cocok buat cuaca kayak gini.”
Aksa terdiam. Biasanya, ia langsung pulang. Menemui Kirana di rumah yang hening. Menatap vas bunga kering di meja sudut ruangan. Tetapi sore ini, langkah kakinya terasa enggan menuju rumah itu. Entah kenapa.
“Boleh,” jawabnya.
Restoran itu kecil, dengan lampu kuning temaram dan jendela besar yang menghadap jalan basah. Uap sup yang mengepul menghangatkan udara di sekitarnya. Aksa duduk berhadapan dengan Tiara.
Obrolan mereka ringan, sesekali diselingi tawa. Tiara bercerita tentang pengalamannya bekerja di luar kota, tentang hobinya mendaki gunung, tentang pernikahan yang kandas karena suaminya berselingkuh.
“Sakit banget waktu itu,” ujar Tiara pelan. “Tapi, lama-lama aku sadar, aku lebih baik tanpa dia.”
Aksa mendengarkan. Kata-kata Tiara seperti cermin. Seolah-olah itu bisa menjadi cerita Kirana, jika suatu saat perempuan itu menyerah dan memilih meninggalkan dirinya.
“Terkadang aku merasa bersalah sama istri aku,” kata Aksa lirih. “Dia perempuan baik, tapi aku… sering merasa hampa.”
Tiara diam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Aku paham. Pernikahan itu enggak selalu seindah di awal, ya?”
Aksa mengangguk. Hatinya bergetar. Malam itu, ia merasa ada seseorang yang mengerti. Mendengarkan tanpa menghakimi. Kirana tentu selalu ada, tapi kadang kehadirannya pun seperti bayangan—ada, namun terasa jauh.
Saat mereka berjalan menuju mobil, hujan turun lebih deras. Tiara mengangkat tas di atas kepala, tertawa kecil.
“Kenapa kita enggak bawa payung, sih?”
Aksa tertawa. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, tawanya lepas. Mereka berlari ke mobil, basah kuyup. Napas keduanya terengah-engah ketika duduk di dalam mobil.
“Aduh, basah semua,” ujar Tiara, menepuk-nepuk blusnya yang melekat di tubuh.
Aksa melirik sekilas, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Namun, aroma parfum Tiara bercampur hujan memenuhi ruang sempit mobil itu. Sesuatu yang hangat menjalar di dadanya—dan juga rasa bersalah yang samar.
Tiara menatapnya, mata mereka bertemu. Sunyi. Yang terdengar hanya suara hujan menghantam kaca.
Lalu, tanpa direncanakan, Aksa mendekat. Bibir mereka bertemu. Sekilas. Singkat. Namun, cukup untuk mengguncangkan segalanya.
Begitu mereka menjauh, napas Aksa memburu. Tiara tersenyum canggung, tapi tak berkata apa-apa. Aksa menatap setir di depannya, pikirannya berputar.
“Aku… maaf,” ucapnya akhirnya.
Tiara menggeleng. “Udah, enggak usah dipikirin. Kita capek aja, mungkin.”
Tapi Aksa tahu, itu bukan kelelahan. Itu adalah celah. Retakan yang selama ini dia abaikan, kini terbuka lebar. Ia baru saja mengambil langkah pertama ke jurang.
Kemudian, Aksa teringat akan solusi “pelarian” yang sempat disinggung oleh Tiara. Dia berpikir sejenak, apakah ini mungkin pelarian yang tepat dari segala gundah rumah tangganya.
Spontan, dia kembali mencium Tiara, ciuman pun bersambut. Kali ini lebih panas dan bebas. Bahkan, Aksa tanpa sadar jemarinya menelusuri setiap lekuk tubuh Tiara. Dia biarkan semua setan bergelut di tubuhnya, setidaknya malam ini, Aksa butuh pelarian.
Malam itu, di bawah hujan yang menghujam mobilnya, untuk pertama kali dalam sepuluh tahun pernikahannya dengan Kirana. Aksa, b********h dengan wanita lain. Dia tergoda akan pelarian yang katanya memberi sedikit kebebasan.
Saat tiba di rumah, Kirana sudah tertidur di sofa. Tubuhnya meringkuk, pelan napasnya teratur. Ada selimut yang setengah melorot, seakan dia tertidur sembari menunggu. Aksa berdiri di ambang pintu, memandang perempuan yang telah menemaninya selama ini.
Hatinya nyeri.
Ia mendekat, membungkuk, lalu mencium kening Kirana pelan. Kirana mengerjap sebentar, setengah sadar, lalu tersenyum tipis.
“Kamu udah pulang,” gumamnya.
Aksa mengangguk, menelan ludah. Dadanya sesak.
“Maaf, aku pulang telat.”
Kirana tak menjawab, hanya merapatkan tubuh ke sofa, lalu kembali terlelap. Aksa duduk di sebelahnya, menatap vas bunga kering di meja. Daun-daunnya semakin keriput, warnanya pudar. Kirana terlalu sayang untuk membuang bunga itu. Dibiarkannya tetap di situ, meski tak lagi segar.
Bunga itu seperti cinta mereka. Pernah indah, pernah hidup. Kini tinggal sisa-sisa kehangatan yang hampir mati.
Aksa menatap Kirana. Ia tahu, ia masih mencintai perempuan ini. Tapi mengapa hatinya goyah? Mengapa Tiara kini hadir di antara mereka?
Ia ingin menghapus apa yang terjadi di mobil tadi. Ingin kembali ke awal, menjadi suami yang setia. Tapi waktu tak bisa diputar. Bibir itu telah bertemu. Langkah pertama sudah diambil.
Dan ia tahu, sekali kaki melangkah ke jurang, sulit untuk kembali.
Di luar, hujan masih turun. Menciptakan genangan di halaman. Setiap tetesnya seperti mengiringi kejatuhan cinta yang perlahan mulai kehilangan pijakan.
Aksa menunduk, menutupi wajah dengan telapak tangan. Dalam gelap, hanya ada penyesalan yang mulai berbisik. Tapi ia juga tahu, penyesalan kadang datang terlambat. Dan cinta yang sekali retak, tak selalu bisa utuh lagi.
Vas bunga kering di atas meja tetap diam, menyaksikan semuanya.