Bab 7 – Dua Garis Merah

629 Words
Pagi itu, Kirana duduk di tepi ranjang dengan tangan gemetar. Ujung jarinya mengusap perut yang masih rata, kosong dari tanda kehidupan. Sudah dua minggu telat. Ia mencoba menepis harapan, namun denyut kecil di hatinya terus berbisik: mungkin kali ini berbeda. Ia menatap test pack di genggaman—barang kecil yang berkali-kali menjadi saksi kegetiran. Sebelumnya, garis kedua selalu buram, samar, atau bahkan absen sama sekali. Harapan yang dipaksa tumbuh, lalu patah dengan kejam. Tetapi hari ini, matanya membelalak. Dua garis merah, tegas dan jelas. Detik itu, seolah waktu berhenti. Darah mengalir lebih cepat ke seluruh tubuhnya. Air mata mendesak keluar. Ia menggigit bibir, mencoba menahan suara yang hampir pecah. Rasa bahagia yang sempat ia lupakan menyeruak lagi, bercampur haru dan ketakutan. “Aku hamil…” ujarnya. Bisikan itu nyaris tak terdengar, tapi menggema dalam relung hati yang sekian lama kosong. Kirana duduk bersimpuh di kamar mandi, tangannya meraba perut. Ia membayangkan kehidupan kecil sedang tumbuh di sana, sekuntum bunga yang selama ini dinanti. Terbayang wajah Aksa—tatapan yang dulu berbinar saat mereka membicarakan nama-nama anak, saat tangan mereka menoreh cat biru muda di dinding kamar kosong yang diniatkan menjadi kamar bayi. Semua itu, kini terasa mungkin. Kirana beranjak berdiri. Ia mengambil ponselnya, hampir saja menghubungi Aksa. Namun, jarinya terhenti. Ingatannya melayang ke malam-malam sunyi belakangan ini—Aksa yang kerap pulang larut, dengan bau parfum asing menempel di bajunya. Senyumnya yang dulu hangat, kini terasa dingin. Pelukan yang terasa hampa. Kirana menepis keraguan itu. Ia ingin percaya bahwa kabar ini akan mengubah segalanya. Mungkin kehadiran anak ini bisa menyelamatkan pernikahan mereka. Mungkin, ini jawaban Tuhan atas semua doanya. Ia menyiapkan sebuah kartu kecil. Di atasnya, dengan tulisan tangan yang rapi, ia tulis: “Akhirnya, bunga kita akan mekar.” Ia menyelipkan kartu itu di dalam amplop putih. Senyum kecil menghiasi wajahnya. Sore nanti, ia akan mengajak Aksa makan malam. Ia membayangkan mata suaminya berkaca-kaca, tangannya meraih perut Kirana dengan penuh cinta, seperti yang sering mereka mimpikan bersama. Namun, dunia tidak selalu berjalan sesuai harapan. Sementara itu, di sudut lain kota, Aksa duduk di dalam mobil bersama Tiara. Mereka baru saja menghabiskan siang dengan tawa lepas di sebuah restoran sepi. Tiara bercerita tentang rencananya membuka bisnis baru. Aksa mendengarkan, tapi pikirannya melayang. Ada rasa bersalah yang mulai menggerogoti dirinya setiap kali pulang ke rumah. Tatapan Kirana yang lembut justru membuatnya merasa seperti penghianat. Namun, bersama Tiara, ia merasa hidupnya seperti menemukan sisi yang lain. Kebebasan, kehangatan yang ringan, tanpa beban percakapan soal anak atau sindiran keluarga. Tiara adalah angin segar di tengah sesak rumah tangganya. Tiara tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari tas. Sebuah amplop kecil. Dengan suara yang sedikit bergetar, ia berkata, “Mas Aksa… aku hamil.” Dunia Aksa seketika limbung. “Kamu… yakin?” Suaranya lirih. Tiara mengangguk. “Dua minggu telat. Aku sudah periksa. Dua garis merah.” Aksa merasakan jantungnya mencelos. Dua garis merah—sesuatu yang selalu ia harapkan bersama Kirana, kini justru datang dari perempuan lain. Bukan rasa bahagia yang menyergapnya, melainkan ketakutan yang mencengkeram. “Aku nggak minta apa-apa sekarang, Mas. Aku cuma pengen kamu tahu… dan aku pengen kita hadapi ini sama-sama,” kata Tiara, suaranya lirih. Aksa terdiam. Ia menatap wajah Tiara yang menanti jawaban, lalu memandang perutnya yang masih rata, seperti menyadari konsekuensi dari semua pelariannya. Tubuhnya terasa berat, seakan terbenam dalam lumpur. Dalam hati, Aksa tahu. Apa pun yang ia putuskan, hidupnya takkan pernah sama lagi. Namun, perasaan bahagia tak bisa terbendung. Ini penantiannya selama sepuluh tahun, akhirnya buah cinta dari darah dagingnya akan segera lahir ke bumi. Meski bukan Kirana orangnya. Setelahnya, Aksa memeluk Tiara erat. Dia mengecup dahi wanita itu, dia biarkan kebahagiaan tenggelam antara mereka berdua. “Aku tidur di tempat kamu malam ini, setidaknya aku mau habiskan malam indah ini bertiga, bersama anak kita.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD