Pukul tujuh pagi, Aksa belum pulang.
Kirana memeriksa ponselnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan.
Makan malam indah yang sudah dia persiapkan sebagai kejutan untuk Aksa pun gagal total. Makanan tersebut basi, seperti semangat Kirana yang kian padam.
Hati kecilnya mulai gelisah, tapi Kirana mencoba menepis pikiran buruk. Mungkin Aksa lembur, mungkin proyek barunya menyita waktu. Ia memutuskan menyiapkan sarapan seperti biasa. Telur mata sapi, roti panggang, dan segelas jus jeruk.
Mungkin bukan makan malam waktu yang tepat mengabarkan soal kehamilan. Pagi yang cerah mungkin jawabannya, setidaknya rasa lelah Aksa bekerja lembur terbayar lunas dengan testpack dua garis merah. Mimpi yang mereka tunggu selama sepuluh tahun.
Sementara, vas bunga kering di meja sudut ruangan itu masih berdiri di tempatnya, seolah menjadi saksi kesunyian yang mulai melelahkan.
Jam delapan lewat dua puluh, suara pintu depan akhirnya berderit.
Aksa masuk dengan wajah letih, aroma parfum asing samar terbawa bersama langkahnya. Kirana sempat mengernyit, tetapi ia buru-buru tersenyum. Hatinya mendesak, ini bukan saatnya mencurigai. Ini saat untuk berbagi kabar bahagia.
“Kamu belum tidur, ya?” suara Aksa datar.
“Aku menunggu kamu. Duduk sini sebentar.” Kirana menarik tangan Aksa lembut, menuntunnya ke kursi. Amplop kecil itu ia dorong perlahan ke hadapan suaminya.
“Apa ini?”
“Buka saja.”
Aksa membuka amplop itu dengan alis mengernyit. Ia membaca baris singkat itu. Mata Kirana berbinar, menanti reaksi yang ia bayangkan semalaman.
Namun, Aksa hanya diam.
Bukan senyum yang ia dapat. Bukan pelukan atau ciuman penuh syukur. Yang tampak justru wajah bingung, tegang, seolah kalimat itu bukan membawa bahagia, melainkan membawa kabar buruk.
“Mas Aksa?”
Suara Kirana bergetar, mulai menangkap ada yang janggal.
“Maksudnya?” Hanya itu kata yang keluar dari bibir Aksa.
“Hm… Aku periksa kemarin. Aku hamil.”
Aksa menatap Kirana, tapi pandangan itu kosong. Kirana bingung, hatinya mulai dipenuhi kecemasan yang tak ia mengerti. Aksa mengusap wajahnya, napasnya berat.
“Ini bukan mimpi?”
“Mas, kamu kok gak bahagia?”
Tiba-tiba, ponsel Aksa bergetar di atas meja. Kirana melihat nama yang muncul di layar: Tiara.
Seketika, hatinya mencelos.
Aksa buru-buru membalik ponsel itu, tetapi sudah terlambat. Kirana melihat. Ia melihat semuanya. Wajah bahagianya seketika memudar.
Amplop kecil berisi kabar gembira itu masih di tangan Aksa, tapi seakan berubah menjadi bara yang membakar jarinya.
“Siapa Tiara?” tanya Kirana lirih.
Aksa terdiam.
Ponsel kembali bergetar. Kali ini, Kirana merebutnya dengan cepat. Ia membaca pesan yang masuk:
“Mas Aksa, anak kita sehat. Aku baru pulang dari dokter.”
Ada ikon hati merah di akhir kalimat itu.
Kirana gemetar. Dunia di sekitarnya seolah runtuh dalam hitungan detik. Ia menatap Aksa dengan mata yang penuh tanya, marah, kecewa, sekaligus luka.
“Apa maksudnya ini? Anak… kita?” Kirana menekankan kata terakhir dengan suara bergetar.
Aksa membuka mulut, hendak bicara, tetapi tak satu pun kata keluar. Ia terjebak dalam kebisuan yang menyiksa.
“Kamu selingkuh?” suara Kirana meninggi, namun lebih terdengar patah daripada marah.
Aksa menunduk, mengakui semuanya tanpa perlu mengucap sepatah kata pun. Kirana limbung, ia harus berpegangan pada tepi meja agar tubuhnya tak ambruk. Air mata yang semula bahagia kini berubah menjadi sungai pedih yang tak terbendung.
“Kamu tahu… aku… aku baru saja hamil,” lirih Kirana. “Akhirnya, setelah bertahun-tahun kita menunggu. Tapi di saat yang sama… kau menghamili perempuan lain?”
Hening menyelimuti ruang itu. Hanya isakan pelan Kirana yang terdengar, bercampur dengan napas berat Aksa yang penuh penyesalan.
“Kirana, aku…”
“Berapa lama?” potong Kirana. “Berapa lama kamu berkhianat di belakangku?”
Aksa menggigit bibirnya. “Beberapa bulan…”
Kirana menutup mulutnya, menahan suara tangis yang ingin meledak. Dadanya sesak. Dunia yang ia bangun bersama Aksa, rumah yang mereka isi dengan harapan, kini runtuh dalam sekejap.
Semua mimpi tentang keluarga kecil, tentang bayi yang akan mereka timang, berubah menjadi puing-puing yang tajam menusuk hatinya.
Ia berjalan perlahan ke kamar, mengambil hasil tes kehamilan yang masih tersimpan di meja rias. Ia kembali ke ruang makan, meletakkannya di atas meja, tepat di samping amplop yang tadi ia tulis dengan cinta.
“Kamu bisa memilih,” suaranya dingin. “Anak yang ini…” Ia menunjuk hasil tes kehamilan. “Atau anak yang itu…” Pandangannya tertuju pada ponsel Aksa.
Aksa menunduk, tak mampu menjawab.
Jawaban itu sudah lebih dari cukup bagi Kirana. Ia tahu, apapun pilihan Aksa, luka ini sudah terlalu dalam. Sesuatu di hatinya telah patah. Bahkan jika Aksa memilih dirinya, ia tak yakin bisa mempercayai pria itu lagi.
Kirana meraih vas bunga kering di meja, memandangnya sejenak. Tangkai-tangkai yang dulunya mekar, kini rapuh dan kusam. Tanpa ragu, ia menghancurkan bunga tersebut dengan genggaman. Kelopak yang telah mati luruh ke lantai, seperti sisa-sisa cintanya.
Ia berjalan keluar rumah tanpa menoleh. Hujan turun deras, membasahi tubuhnya. Ia meraba perutnya perlahan, tempat kehidupan kecil sedang tumbuh. Namun, yang ia rasakan bukan lagi kebahagiaan. Yang tersisa hanyalah ketakutan dan kesedihan yang mencengkeram.
Di dalam rumah, Aksa duduk terdiam, menatap dua benda di depannya: hasil tes kehamilan Kirana dan ponselnya yang masih menampilkan pesan dari Tiara.
Dua kehidupan. Dua perempuan. Dua anak yang belum lahir.
Namun, cinta yang dulu ia tanam, kini telah mati—seperti bunga kering di lantai.
Hanya penyesalan yang tersisa.
“AH, SIALAN!!” teriaknya.