Bab 9 – Gugurnya Harapan

1004 Words
Suara jarum jam berdetak pelan di ruang tunggu yang dingin. Kirana duduk di sudut, tangannya menggenggam perut dengan jemari gemetar. Udara pagi yang basah oleh sisa hujan semalam menyisakan aroma tanah, menyelinap masuk lewat celah jendela. Pandangannya kosong menatap lantai keramik putih bersih, tetapi pikirannya penuh riuh suara—suara Aksa, suara Tiara, suara bayi yang belum sempat ia temui. Suster memanggil namanya. Lembut, tapi terdengar seperti palu godam. Kirana berdiri perlahan, seolah setiap langkah menuju pintu ruangan itu menambah beban di punggungnya. Di dalam, dokter tersenyum tipis, penuh pengertian. Tapi senyum itu justru mengiris hati Kirana. Ia berbaring di ranjang periksa. Lampu sorot di atas kepalanya terasa panas, seperti menghakimi. Tangan dokter menyentuh perutnya, hangat dan hati-hati, seakan tahu bahwa yang disentuhnya bukan hanya rahim, melainkan harapan yang baru saja tumbuh, dan sebentar lagi akan layu. “Apakah ini keputusan yang benar, Bu Kirana?” tanya dokter, suaranya serupa desir angin. Kirana menutup mata. Bayangan Aksa dan Tiara melintas. Kalimat yang diucapkan Aksa beberapa malam lalu terngiang lagi: Mungkin aku memang tak ditakdirkan punya anak darimu. Dan sekarang, Tiara mengandung anak Aksa. Kirana menarik napas dalam. Tenggorokannya tercekat. Ia tahu, jawaban ini akan menghantuinya seumur hidup. “Ya, Dok. Lanjutkan.” Detik itu, sesuatu di dalam dirinya remuk. Prosedur berjalan cepat. Tubuhnya ditangani dengan hati-hati, tapi batinnya terkoyak tanpa belas kasih. Saat semuanya selesai, Kirana membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa kosong—lebih kosong daripada rumah yang ditinggal pergi penghuni. Tangan dokter menepuk pundaknya lembut, tapi sentuhan itu hanya terasa seperti angin dingin yang lewat. Ia pulang sendirian. Di dalam taksi, Kirana menunduk, menatap telapak tangannya sendiri. Ada sisa bercak darah, samar, namun terasa mencolok. Seolah-olah cinta yang selama ini ia jaga telah luruh di sana—nyawa kecil yang seharusnya hidup, kini hanya menjadi bagian dari masa lalu. Hujan rintik-rintik turun. Kirana menempelkan kening di kaca jendela mobil, menatap butiran air yang meluncur seperti air mata. Ia ingin menangis, tetapi air matanya telah habis. Hanya ada kehampaan yang menguasai dirinya. Sesampainya di rumah, pintu terbuka perlahan. Aroma kayu dan hujan menyatu. Kirana melangkah masuk, mendapati rumah yang dulu terasa hangat kini menjelma seperti gua gelap yang menelan dirinya. Aksa duduk di ruang tamu. Matanya sayu, wajahnya letih, seakan hidup telah menghukumnya dalam beberapa hari terakhir. “Kirana… Aku mencarimu. Kamu ke mana?” suaranya parau. Kirana melepaskan jaket, tubuhnya masih basah karena gerimis. Ia memandang Aksa dengan tatapan yang tak lagi sama—bukan marah, bukan benci, tapi kosong. “Aku ke dokter,” jawab Kirana pelan. Aksa berdiri, mendekat, tapi langkahnya ragu. “Bagaimana? Anak kita… sehat?” Kirana tersenyum tipis, senyum yang menyakitkan. Ia menatap Aksa seperti menatap orang asing. “Anak kita sudah tiada.” Kalimat itu jatuh, lebih dingin daripada hujan di luar. Aksa terpaku. Bibirnya bergetar, matanya membesar. “Apa maksudmu?” “Aku mengugurkannya.” Suara Kirana datar, tapi di balik itu, dadanya seperti disayat ribuan bilah pisau. Ia melihat Aksa mundur selangkah, seakan ditampar kenyataan yang terlalu pahit untuk diterima. “Kirana… kenapa?” Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Aksa, tetapi Kirana tetap berdiri tegak. “Aku tidak mau anakku lahir dalam keluarga yang seperti ini. Aku tidak mau anakku punya ayah yang membagi cintanya dengan gundik liar di luar sana. Aku memilih menyelamatkan dia… dan diriku.” Aksa jatuh terduduk di sofa. Ia menundukkan kepala, menutupi wajah dengan kedua tangan. Isaknya pecah, menggema di antara dinding rumah yang sepi. “Apa yang telah aku perbuat maafkan aku, jangan hukum aku seperti ini.” Aksa memukul wajahnya, berharap Kirana berbelas kasih. “Kamu bercanda, itu semua bohong, kan, bahwa anak kita telah tiada?” “Aku memilih menjadi seorang pembunuh daripada harus berbagi kasih dengan gundik itu. Kamu telah menghina sepuluh tahun pernikahan kita, Mas.” Aksa kian histeris, tangisnya pecah. Ini pertama kali Kirana melihat Aksa menangis penuh penyesalan. Kirana hanya berdiri, memandang sekeliling. Ruang tamu ini dulu penuh tawa. Di sudut sana, ada rak buku yang pernah mereka rakit bersama. Di meja sudut ruangan, masih ada vas kecil—wadah yang kerap diisi bunga mawar merah sebagai simbol cinta yang abadi. Sekarang, bunga itu hanya menjadi pengingat luka. Kirana melangkah ke kamar. Di sana, ada ruangan kecil yang dulu mereka rancang untuk calon bayi. Tempat tidur mungil, boneka beruang, dan baju-baju bayi yang masih tergantung. Ia meraih baju bayi berwarna biru pastel, mengusapnya perlahan. Perutnya terasa sakit, tapi bukan hanya karena prosedur tadi—melainkan karena rindu yang tak akan pernah bisa terobati. Ia mendengar langkah Aksa di belakangnya. “Aku menyesal, Kirana. Aku bodoh… Aku mencintaimu… Aku ingin kita memperbaiki semuanya.” Suara itu lirih, tapi bagi Kirana, sudah terlambat. Ia menoleh, menatap Aksa yang berdiri di ambang pintu dengan mata sembab. “Aksa, aku juga pernah sangat mencintaimu. Tapi cinta kita sudah berubah. Aku sudah mengubur perasaan itu hari ini… bersama anak kita.” Aksa kembali menangis. Kirana menatapnya, lalu memejamkan mata sejenak. Ia tahu, hatinya pun berlumuran luka. Tapi ia memilih untuk melangkah maju, meski kakinya gemetar. Malam itu, Kirana tidur sendiri. Aksa duduk di ruang tamu, menatap vas bunga kering yang sudah diremuk Kirana. Ia mencoba menyentuhnya, namun kelopaknya hancur begitu disentuh—seperti cinta mereka yang kini hanya tinggal serpihan. Kirana terbaring di tempat tidur, memeluk baju bayi itu untuk terakhir kalinya sebelum ia masukkan ke dalam kotak. Air mata yang tertahan sepanjang hari akhirnya jatuh perlahan. Ia tidak tahu apakah keputusan ini benar atau salah. Yang ia tahu, ia telah kehilangan dua hal yang sangat berharga hari ini—anaknya, dan pria yang dulu ia cintai. Hujan masih turun di luar jendela. Tetesannya membentuk irama sedih yang menemani Kirana melewati malam itu. Di sudut kamar, ada bunga lain—bukan bunga kering, melainkan tunas kecil di pot mungil, yang dulu Kirana tanam diam-diam. Ia menyentuh daun itu pelan. Barangkali, meski bunga yang ia harapkan telah gugur, masih ada kehidupan lain yang menanti untuk tumbuh. Tapi untuk malam ini, Kirana membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Karena sebelum mekar kembali, ada luka yang harus ia sembuhkan sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD