Aksa duduk di sudut ruang tamu yang kini terasa seperti ruang penghakiman. Sofa yang dulu jadi saksi perbincangan hangat mereka tentang nama-nama calon buah hati, kini hanya jadi tempat ia meringkuk dengan d**a sesak. Kirana berdiri di seberangnya, di dekat jendela, tubuhnya kaku seperti batang pohon yang kehilangan daun.
Hujan di luar menderas. Tetesnya membentur kaca jendela, menciptakan suara yang seolah menggambarkan isak tertahan dalam d**a mereka.
Di tangan Kirana, masih ada sisa bercak merah samar yang tak sempat tuntas dibersihkan. Aksa memperhatikannya, d**a kirinya bergetar nyeri. Ia tahu, darah itu bukan sekadar noda. Itu sisa keberadaan yang telah mereka nantikan bertahun-tahun—anak yang tak sempat melihat dunia.
“Aku ingin kita bercerai.”
Suara Kirana lirih, namun tegas. Seperti pisau yang perlahan mengiris kulit, dingin dan menyakitkan.
Aksa mengangkat wajahnya. Matanya merah, napasnya memburu. “Jangan, Kirana. Aku tahu aku salah. Aku menyesal. Aku akan memperbaiki semuanya.”
Namun, Kirana tak goyah. Ia menatap lurus ke luar jendela, ke pekarangan kecil di mana tanaman-tanaman bunga yang dulu mereka rawat bersama mulai meranggas.
Hujan membuat daun-daunnya jatuh satu per satu. Pemandangan itu seperti menggambarkan isi hatinya. Segala yang telah ia tanam, ia jaga, kini luruh tanpa daya.
“Aku tak bisa lagi memperbaikinya, Aksa,” ucap Kirana pelan, menahan gemetar di suaranya. “Yang gugur tak akan tumbuh lagi dengan cara yang sama.”
Aksa bangkit, melangkah mendekat. Namun, Kirana mundur. Ada jarak di antara mereka yang tak lagi bisa dijembatani.
“Aku mencintaimu,” bisik Aksa.
Kirana menutup matanya sejenak. Kata-kata itu dulu adalah nyanyian di telinganya, tetapi kini hanya bunyi kosong yang bergaung tanpa makna.
“Cinta apa yang kamu maksud, Aksa? Cinta yang membiarkanku menanggung beban seorang diri? Cinta yang membuatku membunuh anak kita karena aku tak ingin dia lahir melihat ayahnya membagi hati dengan perempuan lain?”
Aksa terisak. Ia meraih tangan Kirana, menggenggamnya erat, seolah takut perempuan itu akan lenyap. Kirana membiarkan sejenak, merasakan kehangatan jemari yang dulu membuatnya merasa utuh. Namun, rasa itu tak lagi sama.
“Aku tahu aku telah menghancurkan segalanya. Tapi, beri aku satu kesempatan lagi. Kita bisa mulai dari awal.”
Kirana menggeleng pelan. Air mata mulai membasahi pipinya.
“Tidak ada yang bisa diulang, Aksa. Aku bukan lagi perempuan yang sama. Dan kamu… kamu bukan lagi lelaki yang dulu kujadikan rumah.”
Aksa terdiam. Kata-kata Kirana adalah kebenaran pahit yang selama ini ia hindari.
“Aku tak mau anakku punya ayah seperti kamu,” suara Kirana lirih, namun menggema begitu kuat di telinga Aksa. Kalimat itu seperti cap yang membakar dadanya, meninggalkan bekas luka yang tak bisa sembuh.
Tangis Aksa pecah. Ia jatuh berlutut di hadapan Kirana, meremas tangan perempuan itu, memohon dengan sisa harga dirinya.
“Tolong… aku mohon…”
Kirana mengusap air matanya sendiri. Ia ingin mengasihani Aksa, ingin mengulurkan tangannya untuk membangunkan lelaki itu, tetapi luka di hatinya terlalu dalam. Ada bagian dari dirinya yang telah mati.
“Kita akan berpisah baik-baik. Aku akan mengurus semuanya. Kamu… jalani hidupmu dengan Tiara dan anakmu. Semoga kalian bahagia.”
Kalimat itu menggantung di udara, dingin seperti hawa hujan yang masuk melalui celah jendela. Kirana melepaskan genggaman Aksa perlahan, lalu melangkah menuju kamar. Ia menutup pintu dengan perlahan, namun bagi Aksa, suara itu terdengar seperti gerbang yang menutup selamanya.
Aksa terduduk di lantai. Kepalanya menunduk, air matanya bercampur dengan rasa bersalah yang menenggelamkannya perlahan.
Di atas meja, vas bunga kering yang selama ini dibiarkan Kirana tetap berdiri di sana—batang-batangnya rapuh, kelopaknya menghitam, namun tetap dipertahankan sebagai kenangan akan keindahan yang pernah ada.
Aksa menatap vas itu lama. Ia teringat saat pertama kali Kirana menaruh bunga segar di sana. Kirana tertawa sambil berkata, “Bunga ini simbol kita. Aku akan selalu menggantinya supaya rumah kita penuh warna.”
Namun, bunga itu kini mati. Dan mereka pun demikian.
Keesokan harinya, Aksa mengemasi barang-barangnya. Suasana rumah begitu senyap, seperti berduka atas kepergian sesuatu yang lebih besar dari sekadar perabot atau manusia—kepergian sebuah harapan.
Kirana tak keluar dari kamar. Ia hanya mendengar langkah Aksa berlalu, suara koper yang diseret pelan, lalu pintu yang tertutup.
Saat rumah kembali sunyi, Kirana keluar dari kamar. Matanya sembab, wajahnya pucat. Ia berdiri di depan kamar yang dulu mereka persiapkan untuk calon anak mereka.
Temboknya masih berwarna biru muda, dengan beberapa stiker bintang yang mulai terkelupas. Di sudut ruangan, ada keranjang bayi yang masih kosong. Kirana mendekat, mengusapnya perlahan.
Air matanya jatuh, membasahi anyaman keranjang.
“Aku minta maaf… Maaf…” bisiknya kepada sosok yang tak sempat ia kenali.
Kirana berjalan ke ruang tamu. Ia mengambil vas bunga kering itu, lalu membawanya keluar. Hujan telah reda, menyisakan tanah yang basah dan aroma segar. Kirana menggali lubang kecil di pekarangan, lalu meletakkan bunga kering itu ke dalamnya.
“Bunga ini sudah layu, tapi mungkin dia bisa jadi pupuk untuk sesuatu yang baru.”
Tangannya menimbun bunga itu dengan tanah. Setelah selesai, ia duduk di sana, menatap gundukan kecil itu dengan tenang. Hatinya masih pedih, tetapi ada ruang kosong yang perlahan memberi napas baru.
Di kejauhan, awan mulai menipis, menyisakan semburat cahaya yang mengintip perlahan. Kirana menghela napas panjang. Ia tahu perjalanannya masih panjang, luka itu mungkin tak akan pernah hilang sepenuhnya. Namun, ia berjanji pada dirinya sendiri—ia akan bertahan, dan suatu saat, mungkin, ia akan kembali mekar.
Sementara itu, Aksa duduk di apartemen kecil yang ia sewa bersama Tiara. Tiara tertidur dengan perutnya yang membesar, namun Aksa menatap kosong ke luar jendela. Di sudut meja, ia meletakkan seikat bunga segar yang baru dibelinya—sebagai simbol permintaan maaf yang tak pernah ia ucapkan dengan benar.
Namun, pagi itu, bunga itu mulai layu.
Aksa tahu, ada beberapa hal yang tak akan pernah bisa diperbaiki. Dan beberapa kata, jika sudah terucap, tak akan bisa ditarik kembali.