Bab 11 – Luka yang Tak Sembuh

821 Words
Rumah itu masih sama. Dinding berwarna pastel lembut, lemari kayu jati di sudut ruang tamu, dan vas tempat bunga kering di atas meja yang tak pernah Kirana buang—meski sisa kehidupannya sudah dia kubur. Namun, keheningan yang menguasai sudut-sudut rumah terasa lebih pekat dari sebelumnya. Setiap langkah Kirana di atas lantai keramik seperti menimbulkan gema panjang di telinganya sendiri. Sudah tujuh bulan sejak ia menutup pintu pernikahan yang dibangun dengan Aksa selama sepuluh tahun. Waktu berjalan lambat, setiap detiknya terasa seperti mengunyah duri. Ada luka yang tak terlihat, tetapi menganga lebar di dadanya. Keputusan itu diambilnya dengan penuh keberanian, tetapi keberanian tak serta-merta menghapus kesedihan. Pagi itu, Kirana duduk di kursi rotan dekat jendela. Ia menyesap teh hangat perlahan, menatap hujan tipis yang membasahi halaman. Di antara rintik gerimis, ia bisa melihat bekas pot tanaman yang dulu mereka tanam bersama. Pohon kecil itu tak pernah tumbuh besar, mati perlahan—seperti harapan mereka tentang anak. Hujan selalu menjadi pengingat yang pedih. Hari ketika ia menghapus keberadaan janin kecil di rahimnya, hujan juga turun deras. Seolah-olah langit ikut menangisi keputusan itu. Setiap tetesnya adalah belati yang mengiris ingatannya. Telepon genggam di meja bergetar, mengusik lamunannya. Nama Sinta tertera di layar. Kirana menghela napas, ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Halo, Kirana… Kamu apa kabar?” Suara Sinta terdengar hangat, tetapi Kirana tahu, ada kekhawatiran tersembunyi di balik nada itu. “Baik…,” jawabnya singkat. Bohong, tentu saja. Tapi kebohongan itu menjadi kalimat yang paling mudah diucapkan belakangan ini. “Kita ketemuan, ya? Ada acara kecil di komunitas perempuan. Sekadar ngobrol, berbagi cerita.” Kirana ingin menolak, seperti sebelumnya. Tapi kali ini, bibirnya justru mengucapkan, “Iya, boleh.” Mungkin, ia lelah berbicara hanya dengan bayangannya sendiri. Sore itu, Kirana melangkahkan kaki ke sebuah kafe kecil yang hangat. Aroma kopi bercampur kayu manis menyambutnya. Di pojok ruangan, beberapa perempuan duduk melingkar, saling bercerita dengan raut wajah yang sesekali mengeras, lalu mencair oleh tawa. Sinta segera melambai. “Kirana, sini.” Ia duduk di sebelah Sinta. Perempuan-perempuan itu menyambutnya dengan senyum lembut, seolah menyadari bahwa Kirana datang membawa luka yang masih basah. Mereka mulai berbicara. Tentang suami yang berselingkuh, tentang perceraian, tentang keguguran, tentang perasaan gagal menjadi perempuan. Setiap kisah yang terucap adalah cermin bagi Kirana—menggambarkan kepedihannya sendiri. Tapi, di antara cerita itu, ada satu hal yang membuatnya tertegun: mereka semua masih berdiri. Mereka tidak hancur. Air mata Kirana menggenang tanpa bisa dicegah. Ini pertama kalinya ia menangis di depan orang lain setelah perpisahan itu. Sinta menggenggam tangannya erat, seperti Aksa dulu—tetapi kali ini, genggaman itu memberi kekuatan, bukan rasa sakit. “Tidak apa-apa, Kirana. Kita semua pernah runtuh. Tapi kita bisa bangkit lagi,” ujar salah satu perempuan, sambil tersenyum. Kirana tersenyum kecil, walau bibirnya bergetar. Untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit lebih ringan. Malam harinya, Kirana duduk di atas tempat tidur yang terasa terlalu luas. Biasanya Aksa ada di sana, membacakan berita atau sekadar mengeluh tentang pekerjaannya. Kini hanya ada kesunyian. Namun, di kesunyian itu, ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda: ketenangan. Luka itu belum sembuh, tetapi ia mulai paham bahwa dirinya masih bisa bernapas meski tanpa Aksa. Di sisi lain kota, Aksa sedang menimang bayinya. Ruangan kamar penuh dengan tangisan anak yang baru lahir, tetapi yang terdengar di telinga Aksa justru suara Kirana saat memberitahunya bahwa ia hamil—kabar yang seharusnya menjadi kebahagiaan mereka, tetapi justru berakhir dengan kematian. Tiara terlelap di sampingnya, tampak kelelahan setelah seharian mengurus bayi. Aksa menatap wajah anaknya yang mungil. Ada cinta di sana, tetapi juga perasaan bersalah yang membebani setiap detak jantungnya. “Andai waktu bisa kuputar…,” gumamnya lirih. Ia teringat surat kecil yang tak pernah sampai ke tangannya. “Akhirnya, bunga kita akan mekar.” Kalimat itu terus terngiang—seperti doa yang terkatung-katung di udara. Beberapa hari kemudian, Kirana menerima pesan dari Raka. Teman lama yang dulu sekadar menyapa, kini mengirimkan kalimat sederhana: “Apa kabar? Semoga kamu baik-baik saja.” Raka tahu tentang perpisahan itu. Mungkin Sinta yang bercerita, atau mungkin kabar itu memang sudah tersebar. Tapi tak ada nada kasihan dalam pesannya—hanya perhatian yang tulus. Kirana tersenyum kecil. Ia belum siap membuka hati, tetapi pesan singkat itu seperti setetes embun di daun kering—memberikan harapan bahwa dunia belum sepenuhnya gelap. Sore itu, ia berdiri di halaman rumah. Menatap pot tanaman yang mati, ia teringat akan vas bunga di meja. Perlahan, ia mencabut tanaman yang layu itu. Tangannya kotor oleh tanah, tetapi hatinya terasa sedikit lebih bersih. Esok hari, ia akan membeli bibit baru. Mungkin bukan bunga yang indah, mungkin hanya tanaman kecil yang sederhana. Tetapi ia ingin mencoba menanam lagi—bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk dirinya sendiri. Bunga yang gugur boleh saja mati, tetapi bukan berarti tak akan ada yang tumbuh kembali. Simbol itu terasa kuat di dadanya. Kirana menatap langit yang mulai cerah setelah hujan. Ia tahu, lukanya belum sembuh. Tapi ia juga tahu, perlahan-lahan, ia akan baik-baik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD