Bab 12 – Menata Ulang Hidup

905 Words
Pagi itu, Kirana berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri. Mata yang dulu redup kini mulai menemukan sinar, meski tipis dan belum sempurna. Bibirnya mengulas senyum kecil—bukan karena segalanya sudah baik-baik saja, melainkan karena ia tahu, dirinya masih hidup. Dan hidup harus terus berjalan. Ia merapikan blazer abu-abu yang membalut tubuhnya, memastikan kerahnya rapi, lalu menyemprotkan sedikit parfum di pergelangan tangan. Sudah lama ia tidak melakukan ritual sederhana ini. Sebelumnya, ia hanya terjebak di rumah yang sunyi, menunggu suami pulang, menggantungkan bahagianya pada kehadiran orang lain. Kini, ia melangkah keluar, memulai sesuatu yang baru, meskipun langkah itu masih gemetar. Sinta menjemputnya di depan rumah. Perempuan itu melambaikan tangan dari dalam mobil, wajahnya selalu cerah, seperti mentari yang enggan tenggelam. Sejak Kirana bergabung dengan komunitas perempuan yang pernah melalui rumah tangga beracun, Sinta menjadi kawan seperjalanan. Mereka tak sekadar berbagi cerita, tetapi juga membangun kekuatan bersama. “Kamu cantik hari ini,” puji Sinta sambil mengemudikan mobil. Kirana tersenyum. “Serius?” “Ya. Kamu seperti bunga yang mulai mekar lagi.” Kirana tertawa kecil, meski di hatinya, metafora bunga itu masih terasa getir. Sebab, ia tahu ada bunga yang sudah gugur sebelum sempat melihat cahaya dunia—janinnya. Tapi ia berusaha menerima bahwa meskipun ada yang layu, selalu ada tunas baru yang mungkin tumbuh. Hari itu adalah hari pertama Kirana kembali bekerja di kantor lama, setelah cuti panjang pasca perceraian. Ia sempat ragu, apakah ia mampu berdiri di antara orang-orang yang dulu mengenalnya sebagai “istri Aksa.” Namun, Sinta meyakinkannya: masa lalu tidak mendefinisikan siapa dia hari ini. Sesampainya di kantor, Kirana menghirup udara dalam-dalam. Gedung itu masih sama, dinding putihnya, deretan meja kerja, aroma kopi dari pantry. Tapi ia merasa berbeda. Dulu, ia menjalani hari-harinya dengan pikiran melayang pada keluarga yang ingin ia bangun bersama Aksa. Kini, ia hadir untuk dirinya sendiri. Beberapa rekan menyambutnya dengan hangat, meski ada yang menyelipkan tanya soal perceraiannya. Kirana menjawab dengan tenang, tanpa menjelaskan detail luka. Ia sadar, orang-orang selalu ingin tahu, tapi hanya dirinya yang tahu betapa dalam retak itu pernah menganga. Di meja kerjanya, Kirana membuka laptop, mulai merapikan dokumen yang sempat terbengkalai. Ia larut dalam pekerjaan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa produktif bukan sebagai upaya pelarian, melainkan sebagai bentuk berdamai. Saat istirahat siang, Sinta mengajaknya duduk di sudut kafe kecil dekat kantor. Kopi hangat mengepul di hadapan mereka. “Kamu tahu, Ran,” ucap Sinta, “Kadang kita memang harus kehilangan sesuatu agar bisa menemukan diri kita sendiri.” Kirana terdiam sejenak. Ia membayangkan kamar bayi yang pernah ia dan Aksa rancang bersama. Kini kamar itu kosong, seperti hatinya yang pernah hancur. Namun, ia juga melihat pantulan dirinya pagi tadi di cermin—sosok perempuan yang mulai berdiri di atas kakinya sendiri. “Aku masih takut, Sin,” lirihnya. “Takut kalau aku akan jatuh lagi.” Sinta menggenggam tangannya. “Tak apa takut. Tapi jangan berhenti melangkah.” Sore itu, Kirana pulang dengan rasa letih yang berbeda. Bukan kelelahan karena menangis, bukan lelah karena bertengkar, melainkan lelah yang menenangkan. Ia pulang ke rumahnya yang kini benar-benar menjadi miliknya sendiri. Tanpa jejak Aksa, tanpa bayangan Tiara, hanya dirinya dan ruang yang perlahan menjadi nyaman. Ia duduk di ruang tamu, menatap vas bunga yang masih berdiri di atas meja. Dulu, vas itu melambangkan cinta yang mulai layu antara dia dan Aksa. Kini, vas itu mengingatkannya pada ketahanan. Kirana tersenyum. Besok, ia akan membeli bunga segar untuk menggantinya. Di sisi lain, Aksa pulang ke rumah yang berbeda—rumah bersama Tiara dan bayi mereka yang baru lahir. Tangisan bayi mengisi ruang tamu, seharusnya itu menjadi musik kebahagiaan. Tapi bagi Aksa, suara itu justru mengingatkannya pada keheningan rumah lamanya bersama Kirana. Dulu, ia berharap tangis bayi menghapus sunyi di antara mereka. Kini, saat tangisan itu benar-benar ada, hatinya justru makin kosong. Tiara duduk di sofa, tampak kelelahan. “Tolong gendong sebentar, aku mau mandi,” ucapnya datar. Aksa menggendong bayi itu. Bayi yang seharusnya menjadi jawaban atas kekosongan mereka—tetapi mengapa ia merasa ini bukan jawaban, melainkan beban? Ia mencium kening anaknya, berusaha meyakinkan diri bahwa ia bahagia. Namun, di balik kecupan itu, ada bisikan penyesalan yang terus-menerus mengusiknya. Setelah Tiara selesai mandi, Aksa duduk di sudut kamar. Ia membuka ponselnya, melihat foto-foto lama bersama Kirana. Ada gambar Kirana yang tertawa lepas di taman bunga, ada juga gambar kamar bayi yang dulu mereka rancang. Air mata menggenang di sudut matanya. Ia membuka i********:, tanpa sadar mengetik nama Kirana. Profilnya muncul. Foto terbaru memperlihatkan Kirana berdiri bersama Sinta dan beberapa perempuan lain. Mereka tersenyum, tampak kuat, tampak utuh. Aksa menelan ludah. Kirana tampak baik-baik saja. Lebih baik tanpanya. Ia menutup ponsel, lalu menatap bunga segar di vas yang diletakkan Tiara di meja. Bunga itu indah, tapi entah kenapa, bagi Aksa, ia hanya melihat keindahan yang dipaksakan. Bunga itu segar, tapi hatinya layu. Malam itu, Kirana duduk di balkon rumah, menyesap teh hangat. Ia menatap langit yang mulai bertabur bintang. Di dalam dadanya, luka masih ada, tetapi ia tahu, luka itu tak lagi mengendalikan hidupnya. Ia mengambil vas bunga dari meja, membawanya ke balkon. Besok, vas itu akan diisi bunga baru. Bukan untuk menyenangkan orang lain, melainkan sebagai simbol bahwa ia layak bahagia—dengan atau tanpa siapapun. Saat tangannya menggenggam vas tersebut, angin malam berembus pelan. Kirana tersenyum. Ia belum sepenuhnya pulih, tapi ia tahu, dirinya mulai tumbuh kembali. Bunga yang pernah gugur, bukan berarti tak bisa mekar lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD