Bab 13 – Langkah Kecil ke Depan

818 Words
Hidup Kirana perlahan menemukan ritmenya kembali. Setelah berbulan-bulan membiarkan kesedihan merambati tiap sudut hatinya, kini ia mulai melangkah, meski pelan, meski ragu. Ada hari-hari ketika ia masih menangis dalam diam, meraba perut yang pernah menjadi rumah sekejap bagi kehidupan kecil yang tak sempat ia genggam. Tapi di antara kesedihan itu, hadir juga cahaya yang mulai merambati celah luka. Siang itu, Kirana duduk di sudut kafe bersama Sinta dan beberapa perempuan dari komunitas. Mereka bercanda tentang hal-hal remeh: soal harga bahan pokok yang kian naik, soal film romantis yang baru tayang, soal tetangga yang ketahuan selingkuh dengan tukang ojek langganannya. Kirana tertawa kecil—tawa yang sudah lama tak ia dengar dari dirinya sendiri. Ringan, meski masih terasa canggung. Di tengah percakapan, seorang pria datang membawa nampan berisi teh hangat dan kue. Raka. Senyumnya lebar, seperti biasa. Ada ketulusan yang melekat di wajahnya, sesuatu yang berbeda dari semua lelaki yang pernah Kirana kenal. Raka bukan pria yang pandai merayu, tak pula menjanjikan dunia. Ia hanya hadir—dan kehadirannya menghangatkan. “Pesanan spesial buat kalian,” ujar Raka sambil meletakkan teh di depan Kirana. “Buat yang senyumnya mulai muncul lagi.” Kirana tersipu, sementara Sinta menyikut lengannya dengan godaan nakal. “Wah, ada yang diperhatikan khusus, nih.” Ia tertawa, tapi kali ini tawa itu terasa lebih mengalir. Entah bagaimana, Raka selalu tahu caranya membuat Kirana merasa dipandang, tanpa membuatnya risih. Sejak awal, pria itu tak pernah bertanya tentang luka masa lalu Kirana. Tak pernah memaksa mendengar kisah pahit tentang pernikahan yang karam, atau tentang anak yang gugur sebelum sempat menatap dunia. Raka hanya ada—dan itu sudah lebih dari cukup. Setelah pertemuan di kafe usai, Kirana memilih berjalan kaki pulang. Jakarta sore itu terasa lebih ramah. Langit senja berwarna jingga, menyapu gedung-gedung yang berdiri angkuh. Angin menyapu wajahnya, seolah ikut membisikkan bahwa hidup bisa kembali baik-baik saja, meski pelan. Langkahnya terhenti di taman kecil dekat rumah. Tempat ia dan Aksa dulu sering duduk sambil berbincang tentang masa depan, membayangkan anak-anak berlarian di sana. Taman itu masih sama, ayunan tua yang berdecit pelan, bangku kayu yang mulai lapuk. Bedanya, kini ia duduk sendiri. Di bangku itu, ia mengeluarkan ponselnya. Jari-jarinya iseng menggulir layar. Foto-foto lama muncul—wajah Aksa, senyum mereka di tahun pertama pernikahan, kebahagiaan yang dulu begitu utuh. Tapi foto terakhir yang tersimpan adalah foto hasil USG itu—potret kecil kehidupan yang tak pernah sempat melihat dunia. Dadanya menghangat dan sekaligus perih. Namun, ada hal lain yang menarik perhatiannya. Foto terbaru yang diunggah Sinta ke media sosial. Foto mereka tadi di kafe. Di pojok sana, Kirana terlihat sedang tertawa, dengan secangkir teh hangat di tangannya. Di balik jendela, samar terlihat Raka yang tengah tersenyum. Komentar memenuhi unggahan itu, kebanyakan teman-teman komunitas yang menggoda Kirana dan Raka. Tapi satu komentar membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Aksa. Ia tak menulis banyak. Hanya satu kata: “Indah.” Kirana terdiam. Jemarinya sempat ingin mengetik balasan, tapi ia urungkan. Sebaliknya, ia mengklik profil Aksa. Melihat hidup yang kini dijalani mantan suaminya. Foto bayi mereka—anak Aksa dan Tiara—tersenyum polos dalam balutan baju biru. Tapi, di foto itu, Aksa tampak lain. Senyumnya dipaksakan, matanya tak lagi menyala seperti dulu. Kirana mengembuskan napas panjang. Ada rasa sakit, tapi kali ini, rasa itu tak menusuk. Hanya perih samar—seperti luka yang mulai kering, tapi masih terasa jika disentuh. Malam itu, Kirana duduk di ruang tamunya. Sebuah vas kosong tergeletak di meja, vas yang dulu selalu diisi bunga oleh Aksa. Dulu, Aksa percaya bunga segar bisa membawa keceriaan ke rumah mereka. Tapi kini, vas itu hanya diisi kehampaan. Kirana menatapnya lama, lalu mengambil kunci rumah. Ia keluar, berjalan ke tukang bunga di ujung jalan. Membeli seikat mawar putih. Mawar—yang melambangkan harapan baru. Mawar—yang pernah ia letakkan di makam anak yang tak sempat lahir. Saat ia kembali dan menata bunga di vas, suara ponselnya bergetar. Pesan dari Raka. “Aku senang lihat kamu bisa tersenyum lagi.” Kirana membalas singkat. “Terima kasih sudah ada.” Raka membalas dengan emotikon senyum, sederhana, tapi cukup membuat Kirana merasa hangat. Di tempat lain, Aksa menatap layar ponselnya. Melihat foto Kirana yang tersenyum dengan orang lain. Dadanya terasa sesak. Ia memandangi bunga mawar yang ia beli beberapa hari lalu untuk diberikan pada Kirana, tapi urung ia berikan. Kini bunga itu mulai layu. Di kamarnya, Tiara sedang menidurkan bayi mereka. Aksa menatap mereka, berusaha merasa bahagia. Tapi, dalam hatinya, ia tahu—ada yang hilang. Bunga yang ia tanam bersama Kirana telah gugur. Dan bunga baru yang tumbuh di hidupnya kini, meski mekar, tak mampu mengisi kekosongan yang mengakar di dadanya. Malam itu, Kirana duduk di sofa, menatap bunga di vas dengan senyum kecil. Untuk pertama kalinya, ia merasa mungkin, hanya mungkin, hidupnya bisa mekar lagi—tanpa harus bergantung pada siapa pun. Langkah kecil ke depan. Tak besar, tak terburu-buru. Tapi cukup. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD