Chapter 9 ; “Save Me! Pt.2”

1875 Words
"Aghh tuan" Hana mengerang kesakitan ketika Kris kembali menarik rambut panjang Hana hingga kepalanya mendongak. Kulit kepalanya terasa sangat perih karena Kris menariknya dengan kasar. Ia memejamkan matanya, menahan rasa perih di kulit kepalanya.   "Tatap aku" Hana membuka matanya perlahan ketika ia mendengar nada perintah yang tak bisa di tolak dari seorang Kris. Turuti kemauannya atau kau akan lebih menderita. Hana menatap wajah Kris yang menampilkan senyuman setan, kilatan matanya sangat jelas, menunjukan bahwa dirinya sedang sangat marah.   "Aku memiliki beberapa aturan dalam hukuman ini" Hana menelan liurnya kasar mendengar pernyataan Kris, perasaannya sudah tidak enak karena ucapan Kris.   "Yang pertama. Kau tidak boleh menyentuhku saat hukuman berlangsung" Hana menelan liurnya kasar, ia sudah menduga ini akan terjadi.   "Yang kedua..." Kris mencondongkan wajahnya, menghembuskan nafasnya di sekitar kuping Hana yang membuat Hana merinding.   "...Karena ini hukuman untukmu..."   "...Kau dilarang menikmatinya dan..." Kris menjilat cuping Hana yang membuat Hana menegang dan menahan desahannya.   "...Kau dilarang mengeluarkan cairan milikmu" Kris membisikan kata terakhir dengan suara yang dibuat se sexy mungkin untuk menggoda Hana.. Hana menggigit bibir bawahnya mendapat godaan dari Kris ditambah lagi dengan peraturan yang Kris buat. Apa-apaan itu? Tidak boleh menikmati permainan ini? Oh, Hana sudah membayangkan bahwa dirinya tidak akan sanggup dengan peraturan yang Kris buat seenak jidatnya. Hana tidak mau munafik, walaupun diawal ia terpaksa untuk menuruti permainan Kris, tapi ia selalu menikmatinya. Entah Kris akan bermain kasar ataupun lembut, Hana akan selalu menikmati permainan itu. Bibir tebal yang terkesan sexy milik Kris, sentuhan kasar yang terkesan menggoda milik Kris, suara bass milik Kris yang terdengar sexy di telinga Hana, makian Kris yang terkesan sexy bagi Hana saat permainan sedang berlangsung dan milik Kris yang panjang dan juga besar yang selalu menerjang Hana. Membuat sosok Hana yang polos menjadi liar jika sudah bermain.   "Tuan, aku rasa aku..."   "Ssstttt..." Kris menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya, mengisyaratkan untuk Hana agar ia diam.   "...Kau tahukan, aku tidak menerima penolakan. Itu artinya, kau harus menuruti semua keinginanku. Budakku"   ***   Kris menyesap bibir Hana dengan kasar, ia menggigit bibir bawah dan atas Hana secara bergantian, lidahnya menjilati bibir atas dan bawah Hana. Gigi nakalnya menggigit gemas bibir bawah Hana, membuat Hana lemas. Hana mengalungkan tangannya pada leher Kris, menarik tengkuk Kris agar menciumnya lebih dalam.   Plak   "Tak ada sentuhan" Kris memukul lengan Hana keras, membuat Hana meringis karena lengannya terasa perih. Tercetak jelas bekas tamparan Kris di lengan Hana yang putih, Hana menurunkan tangannya, memilih untuk menyentuh pinggiran bathub. Kris kembali menyerang bibir Hana dengan ganas, membuat Hana kewalahan untuk menyeimbangi permainan Kris yang kasar. Hana meremas pinggiran bathub ketika lidahnya berperang dengan lidah milik Kris, badannya terasa lemas karena ciuman menggoda dari Kris. Hana menginginkan lebih, ia merasakan miliknya dibawah sana sudah ingin dimanja. Tapi Kris tidak akan peduli akan hal itu, karena ini adalah hukuman. Kris akan membuat Hana tersiksa. Hana menarik nafas dengan rakus saat Kris melepaskan tautan bibir mereka, jembatan saliva terbentuk karena permainan panas mereka. Bibir Hana terlihat agak membangkak karena ulah Kris.   Kris berdiri, membuka seluruh pakaian miliknya. Dimulai dari kaos hitam miliknya kemudian celana jeans miliknya dan hanya menyisakan celana dalam berwarna hitam miliknya yang terlihat sudah membengkak.   "Berdiri" Hana berdiri, menuruti perintah Kris. Ia menutup dadanya dan k*********a yang terpampang nyata dengan kedua tangannya. Hana memalingkan wajahnya, terlalu malu melihat wajah Kris yang menatapnya dengan tatapan lapar. Walaupun mereka sudah sering bermain, tapi hal ini tetap memalukan bagi Hana.   Sret   "Akhhh" Hana mengerang sakit saat punggungnya menubruk dinding kamar mandi dengan keras. Kris menarik tangannya lalu membanting tubuhnya ke dinding dengan kasar. Kris menjilat bibir bawahnya sendiri, menatap tubuh polos indah milik Hana dengan tatapan lapar. Hana meringis ketika Kris meremas lengannya keras, rasanya perih sekali karena kuku tajam milik Kris sudah menancap sempurna di kulit lengan Hana. Kris mencondongkan badannya, mengecupi pundak mulus milik Hana. Hana mengerang ketika lidah Kris menjilati pundaknya dan Kris mengigit pundaknya, meninggalkan sebuah kissmark dipundaknya.   "Ahhh" Hana mendesah ketika tangan nakal Kris membelai bagian pinggir dadanya dengan menggoda. Jari telunjuk dan jari tengahnya berjalan didada Hana, menyentuh nipel Hana dan menyentilnya. Membuat cairan Hana merembes keluar. Kris tersenyum setan, mengetahui bahwa bagian bawah milik Hana sudah mengeluarkan cairan walau hanya dengan godaan-godaan kecil. Hana menikmati permainan ini.   "Apa kau basah b***h?" Kris berbisik di telinga Hana, kemudian ia menghembuskan nafasnya pada leher jenjang Hana yang sensitif dan mengecupinya.   "Ti-tidak" Hana menjawab pertanyaan Kris dengan berbohong. Lagi dan lagi, Kris mengeluarkan senyum iblisnya.   "Kau sudah berani berbohong rupanya hmm? Baiklah, hukumanmu akan bertambah berat" Kris menjauhkan tubuhnya dari Hana, melepaskan celana dalamnya sehingga tubuhnya benar-benar telanjang, ia lalu mengambil sabuk miliknya yang tergeletak di lantai kamar mandi. Hana membulatkan matanya melihat Kris kembali dengan membawa sebuah sabuk.   "Tu-tuan, anda tidak akan melakukannya kan?" Keringat dingin keluar dari tubuh Hana, tubuhnya bergetar membayangkan apa yang akan Kris lakukan dengan sabuk itu.   "Why not?" Kris berjalan mendekati Hana, senyum setannya selalu bertengger pada bibir sexy-nya. Hana melangkah mundur, memberikan jarak dengan Kris yang semakin mendekatinya. Hilang sudah gairahnya untuk melakukan s*x. Tubuh Hana sudah terhimpit oleh dinding, sebuah seringai tercetak diwajah Kris. Sebuah seringai yang semakin membuat wajah Kris terlihat menakutkan. Wajah Hana berubah menjadi pucat ketika jaraknya dengan Kris semakin dekat.   Sret   "Ahhh" Hana mengerang ketika Kris membalikan tubuhnya menghadap pada dinding dan menghimpitnya. Kris mengangkat kedua tangan Hana keatas kepalanya. Mengunci tangan Hana dengan tangan kirinya yang kekar. Hana tak bisa berkutik karena tenaganya tak seberapa dengan tenaga seorang pria. Kris membelai p****t mulus milik Hana, membuat Hana menggigit bibir bawah miliknya, menahan desahan yang ingin sekali dikeluarkannya.   Slap   "Ahhh" Tubuh Hana menegang ketika Kris menampar bokongnya dengan tangan kanannya. Meninggalkan tanda pada p****t putih milik Hana. Kris meramas p****t Hana, membuat Hana melantunkan desahannya yang sedaritadi di tahannya.   Slap   "Arghh" Hana mendongakan wajahnya, terlalu terkejut tubuhnya saat mendapatkan sebuah cambukan dari Kris. Yah, Kris mencambuk pantatnya dengan sabuk yang dibawanya dengan cukup keras. Membuat Hana menahan air matanya agar tak jatuh dan menahan rasa perih di pantatnya.   Slap   Slap   Slap   "AAARRRGGGHHHH" Hana menjerit dengan keras ketika Kris kembali mencambuk tubuhnya dibagian pinggang, bahu dan bagian belakang tubuh Hana dengan keras.   Slap   Slap   Slap   Slap   Slap   Lagi dan lagi Kris mencambuki tubuh Hana dengan keras, membuat tubuh Hana terluka dan beberapa bagian tubuhnya mengeluarkan bercak darah. Hana menangis merasakan perih di sekujur tubuhnya.. Kris tertawa mendengarkan isak tangis Hana, ia kemudian menyeret tubuh Hana, membawanya kebawah sebuah shower dan menyalakan shower tersebut.   "Arrggghh, perihhh. Tholhong hentikhann" Hana meronta, merasakan perih di tubuhnya dua kali lipat karena tersiram oleh air. Kris mencengkram pundak Hana, membalikan tubuh Hana lalu mendorong tubuh Hana agar sedikit membungkuk. Membuat air yang mengalir dari shower membasahi punggung Hana yang terluka.   "Akkhhh, hentikhann. Kuhmohonh" Hana mengepalkan tangannya merasakan perih pada tubuhnya, air matanya terus mengalir.   Jleb   "ARGHHH" Hana menjerit karena Kris dengan tiba-tiba memasukan juniornya kedalam lubang v****a milik Hana dari belakang. Tubuh Hana terasa sangat lemas, ia merasakan kesakitan bertubi-tubi pada tubuhnya. Tubuhnya sudah hampir ambruk namun ditahan oleh Kris. Kris menggenjot miliknya maju dan mundur dengan cepat, tidak membiarkan Hana untuk bernafas normal.   "Ahhhh ahhhh"   "Ashhh shhh akhh"   "Argghh f**k it bae"   "Ahhh tuanhhh hahhh"   "Yesss babe arghhh like thathh"   "Akhhhh arghhh ashhh emhhh"   "Bitchh youhh fuckhhh"   "Arrrghhh yahhh"   "Tuanhhh akhhh akhuhh akhann arghh" Kris menghentikan genjotannya saat merasakan cairan kenikmatan milik Hana membasahi miliknya. Kris mematikan shower lalu mencabut miliknya dengan kasar. Hana ambruk kelantai karena tubuhnya terasa sangat lemas, Kris mengambil sebuah handuk yang tergantung di dalam kamar mandi itu. Ia lalu kembali menarik Hana agar berdiri dan menghimpit tubuh Hana.   "Kau basah dan aku tak suka itu" Kris mengelap bagian bawah Hana dengan handuk, menghapus cairan kenikmatan yang dikeluarkan oleh Hana hingga v****a itu terasa kering kembali. Hana sudah tak dapat berfikir jernih, ia lebih memilih untuk menghirup oksigen sebanyak banyaknya.   Jleb   "Arrrrggghhhhhhh" Hana menjerit kencang ketika miliknya yang kering dimasuki oleh milik Kris yang panjang dan besar. Rasanya seperti kau pertama kali melakukannya. Sangat sakit.   "Sakithhh hiks" Hana kembali terisak, merasakan nyeri di bagian bawah tubuhnya. Kris tertawa senang melihat wajah kesakitan Hana. Hana memukuli pundak Kris dengan lemah, tubuhnya sudah tidak bertenaga. Kris menggeram kesal ketika tangan lemah Hana memukuli pundaknya, ia mencengkram kedua tangan Hana lalu mengunci tangannya diatas kepala milik Hana, menghimpit tangannya dengan dinding. Kris kemudian menggenjot miliknya dengan kasar membuat Hana mengerang kesakitan.   "Pelannhhh tuanhhh"   "I wont then"   "Shhhh akhhhh" Kris mengecupi d**a milik Hana, ia lalu melahap niple milik Hana dengan rakus, sesekali ia menghisapnya dengan kasar. Membuat otak Hana tak mampu berfikir lagi, yang bisa Hana lakukan hanya mendesah, mengerang dan merintih dibawah kuasa seorang Kris.   "Argggghhh" Hana mengerang kesakitan saat Kris menggigit nipelnya dengan keras, seperti hendak memotong niple itu.   "Aaakhhh hiksss"   "Ahhhhh stpohhh pleashhh"   "I can't bae"   "Yeshhh bebhhh argghhh, so tasthyy arghhh" Kris mendongakan wajahnya, melepaskan hisapannya pada d**a Hana saat dirasakan dirinya akan mencapai puncaknya.   "Arggghhhh" Kris menekan miliknya semakin dalam saat merasakan pelepasan pada dirinya. Ia lalu melepaskan tautan miliknya dengan kasar dan menyeret tubuh lemah Hana menuju keluar balkon kamar hotel milik Hana. Kris membanting tubuh Hana pada besi yang menjadi pelindung pada balkon tersebut. Hana merintih meraskan perih pada punggungnya. Ia lalu menjilati pundak Hana yang memiliki bekas luka akibat ulahnya.   "Tu-tuanhh, hentikhann ahhh, inihhh diluarhhh"   "Lalu?" Jilatan Kris naik keatas, Kris menjilati leher jenjang milik Hana, sesekali ia mengecup leher itu.   "Bagaimanahh jika ahh, ada yang melihatnya?"   "Ini L.A, negara dimana s*x sangat dibebaskan. Tidak peduli kau mau melakukannya dimanapun, bahkan di tempat umum sekalipun" Kris menatap wajah gugup Hana lalu ia menyeringai, ia mengucup pucuk hidung Hana lalu membalikan tubuh Hana membuat Hana menungging dan memasukan miliknya kedalam lubang Hana.   Jleb   "Ahhhh" Kris langsung menggenjot miliknya cepat, tangannya yang menganggur meremas kedua p******a Hana yang menggantung menggodanya. Mulutnya mengecup dan menjilati bekas luka cambukan yang dilakukan olehnya kemudian menggigit pundak Hana yang terluka hingga mengeluarkan bercak darah.   "Arrrrgggghhhhhh"   "Aaahhhhh shhhh"   "Argghhhh yeahhh"   "f**k it b***h akhhh"   "Shhh eumhhh ahhh yaahhh akkhhh"   "Ashhhh hah"   ***   Hana duduk dilantai kamar hotel dengan keadaan naked, ia kemudian mengambil selimut diranjangnya lalu melilitkan tubuh telanjangnya dengan selimut itu.   "Ashh" Hana meringis saat punggungnya ia sandarkan pada ranjang, ia lupa bahwa punggunya sedang terluka sekarang. Hana menyembunyikan wajahnya pada kedua lututnya, ia terisak mengingat kejadian tadi. Ia bermain 7 ronde tanpa henti dengan Kris dan Kris terus bermain kasar dengannya, membuat dirinya tak mampu berjalan. Kemudian saat selesai bermain Kris meninggalkannya begitu saja di luar balkon. Kris pergi entah kemana. Membuat Hana harus merangkak bahkan hingga mengesot-ngesot (?) untuk kembali masuk kedalam kamar.   Bayangan ketika Kris mencambukinya kembali terngiang di otaknya, ia tak habis fikir bahwa Kris akan bermain sakasar ini hingga membuatnya terluka. Hana semakin terisak mengingat hal itu, tubuhnya bergetar ketakutan.   Hana mendongakan wajahnya mengingat sesuatu, ia kemudian merogoh bawah ranjangnya. Mengambil sebuah paper bag dengan tubuh bergetar. Hana kemudian mengambil sebuah kotak dari dalam paper bag itu dan membuka kotak tersebut yang ternyata berisi sebuh ponsel. Hana menyalakan ponsel tersebut, ponsel tersebut sudah dimasukan SIM CARD yang telah aktif. Hana kemudian memencet tombol dial angka satu dan meletakan ponsel tersebut pada telinganya.   "Halo, hiks" Hana masih terisak ketika menghubungi seseorang, bibirnya dan tubuhnya masih bergetar ketakutan. Seolah-olah ia akan di jemput oleh malaikat maut.   "..."   "Tolong aku hiks"   "..."   "Dia menyiksaku"   "..."   "Bawa aku pergi dari sini"   "..."   "Tolong aku Tao”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD