Chapter 8 ; “Punishment”

1050 Words
Kris menatap mata Hana dengan lembut lalu tersenyum. Kemudian ia menyatukan bibirnya dengan bibir Hana. Melumatnya dengan lembut, penuh perasaan. Tidak seperti ciuman biasanya yang selalu menuntut. Hana tersenyum dalam ciuman yang dipimpin oleh Kris, ia membalas ciuman itu. Menyesap bibir sexy milik Kris yang membuatnya seperti sebuah candu. Kris menempelkan pusat tubuhnya dengan milik Hana, mereka berdua sudah dalam keadaan naked. Kris melepaskan ciumannya lalu menatap wajah Hana yang sedang menahan nafsu.   "Assshhh" Hana mengerang ketika kejantanan milik Kris menggoda lubang miliknya. Ia meremas rambut Kris, menyalurkan rasa nikmatnya.   "Khrishh, fuckh mehhh" Hana menatap wajah Kris dengan penuh nafsu, ia menggigit bibir bawahnya agar terlihat lebih sexy. Kris tersenyum senang mendengar permintaan Hana.   "Bad Girl"   Slap   Buk   "Arrrghhh" Hana terperanjat dari tidurnya saat dirasakan tubuhnya terjatuh dari ranjang, ia menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu terduduk dilantai dan bersandar pada ranjang.   "Aww, sakit" Hana menyentuh keningnya karena merasa pusing ketika matanya menangkap cahaya yang memasuki jendela kamar hotelnya.   "Ughh sial, kenapa aku jadi bermimpi erotis seperti ini? Kau terlihat seperti wanita c***l Hana. Ck!" Hana berdecak kesal mengingat mimpinya yang terkesan erotis tadi, selama ini dia tak pernah bermimpi hal-hal yang erotis. Ini adalah pertama kalinya.   "Pria itu benar-benar telah merusak otak ku. Haisshhh"   ***   "Hana, ambilkan jam tangan ro*ex milikku di dalam mobil! Cepat!"   "Baik" Hana menggerutu dalam hatinya ketika ia mendapat perintah dari Kris, ia sekarang sudah berada di lokasi syuting Kris. Di sebuah taman yang terdapat sebuah danau indah di tengahnya. Hana berlari kecil menuju mobil fan yang terparkir cukup jauh dari lokasi syuting.   "Dimana ia meletakan jam tangan itu? Haishh" Hana menggerutu karena tak menemukan benda yang dicarinya, ia sudah membuka laci mobil tapi tak menemukannya.   "Aishh, apa dia sedang mengerjaiku?" Hana kembali menggerutu, segala umpatannya telah keluar dari batinnya, walaupun begitu ia tetap mencari benda itu.   "Ahh, ketemu!" Hana mengambil sebuah kotak yang berisi jam tangan mahal milik Kris yang tergeletak di jok belakang. Ia kemudian keluar dari mobil itu dan tidak lupa mengunci mobilnya. Hana berjalan kembali ke lokasi syuting Kris. Tidak seperti tadi, kali ini dia berjalan dengan santai sambil melihat pemandangan disekelilingnya. Ia menghirup udara dalam-dalam, matanya meneliti setiap orang yang berjalan di sekelilingnya, ada yang sedang lari sore, ada yang sedang berkencan, ada yang sedang mengobrol lalu tertawa satu sama lain. Mereka semua disini terlihat sangat bahagia.   "Apa hanya aku yang merasa sedih disini? Aku ingin bebas" Hana menengadahkan wajahnya, menatap langit cerah di sore hari. Dadanya tiba-tiba terasa sangat sesak mengingat nasib hidupnya yang buruk.   "Kenapa kau memberikanku jalan hidup seperti ini, Tuhan?" Hana bergumam lirih, air matanya telah turun membasahi pipinya. Hana menggigit bibir bawahnya, menahan agar tangisnya tak menimbulkan sebuah suara Hana membuka matanya perlahan ketika merasakan sebuah tangan membelai pipinya. Tidak, bukan membelai, lebih tepatnya menghapus air mata di pipinya.   "Kenapa kau menangis?" Hana menatap seorang pria jangkung yang membelai pipinya, pria itu menatap wajah Hana dengan pandangan sedih.   "Tao" Hana bersuara dengan lirih kemudian tangisnya meledak, ia sudah tidak bisa menahan tangisnnya lagi. Melihat itu, Tao menarik Hana kedalam pelukannya. Mengusap punggung gadis itu lalu mengucapkan kata-kata yang bisa membuat gadis itu tenang.   ***   Tao menatap Hana yang duduk dihadapannya, ia bisa melihat bahwa Hana sedang tidak fokus saat ini Tadi sore saat ia sedang pergi berjalan-jalan untuk mencari sebuh reverensi untuk lagu barunya yang sedang ia buat, tanpa sengaja ia melihat sosok Hana. Kemudian ia mendekati sosok itu. Jantungnya terasa nyeri ketika sosok yang membuatnya gila selama ini ditemukannya dalam keadaan menangis, ia tak suka melihat gadis itu menangis Dan disinilah mereka, di sebuah cafe yang sepi akan pengunjung.   "Aku lelah..." Tao menatap Hana yang kini sedang bersuara, dari nada bicaranya terdengar ia sedang frustasi.   "...Kenapa takdir hidupku seperti ini? Kenapa Tuhan tidak adil padaku? Kenapa aku tak pernah merasakan sebuah kebahagiaan? Kenapa?" Jantung Tao kembali terasa nyeri mendengar ucapan Hana yang terdengar memilukan, ia ingin berbicara tapi seakan bibirnya terkunci dengan rapat.   "Hana" Setelah hening beberapa saat, akhirnya Tao membuka suaranya. Hana menatap Tao dengan tatapan yang sarat akan kesakitan, kepedihan dan kesepian. Lagi dan lagi Tao merasakan nyeri di jantungnya ketika melihat tatapan Hana.   "Aku akan membuatmu bahagia"   ***   Hana berdiri di depan pintu kamar hotel, ia nampak ragu untuk membuka knop pintu kamarnya. Tangannya yang bergetar diangkatnya untuk menggenggam knop pintu itu. Dengan perlahan ia membuka pintu kamarnya, ia mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Merasa aman ia membuka pintu dengan cepat dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Tak lupa ia mengunci pintu tersebut. Ia bernafas lega saat tak menemukan sosok Kris dikamarnya. Sebelumnya, Hana sempat berfikir bahwa Kris akan menunggu dikamarnya untuk mengomelinya karena tak segera kembali saat ia diperintahkan untuk mengambil jam tangan miliknya. Namun, pikiran itu sirna karena tak mendapati sosok Kris dikamarnya, mungkin Kris belum kembali dari lokasi syuting? Yah, mungkin saja.   Hana berjalan lemas ke dalam kamar mandi, ia ingin merilekskan tubuh dan pikirannya dengan berendam. Hana melucuti pakaiannya satu persatu lalu masuk kedalam bathub, ia memejamkan matanya, ia mulai merasa rileks.   "Uhuk uhuk" Hana membuka matanya terkejut saat merasakan lehernya tercekik, ia bisa melihat Kris yang sedang mencekik lehernya. Hana memukul-mukul tangan Kris, memohon kepada pria itu untuk melepaskan cekikan dilehernya.   "K-krishhh ohookk" Kris tak bergerak, ia masih mencekik gadis itu, tatapan matanya sangat tajam. Sangat terlihat dimatanya bahwa ia sedang marah sekarang.   "Darimana saja kau hah?!"   "Krissshh uhukk lehpashkanhhh"   "Apa kau sudah berani kabur hah?!" Hana menggeleng, air matanya sudah menumpuk di matanya. Ia terus berusaha melepaskan cekikan Kris pada lehernya. Kris melepaskan cekikannya, dengan segera. Hana menghirup udara secepatnya.   "Akhhh Krisss" Hana merintih saat kulit kepalanya terasa sangat perih. Kris menarik rambutnya dengan kasar, memaksa Hana untuk menatapnya.   "Panggil aku tuan, b***k bodoh!"   Plak   Kris menampar pipi kanan Hana dengan kencang, membuat pelipis Hana membentur pinggiran bathub dan berdarah, sudut bibirnya pun ikut berdarah.   "T-tuan" Kris tersenyum meremehkan saat Hana memanggilnya dengan sebutan 'Tuan'   "b***k pintar" Kris melepaskan cengkramannya pada rambut panjang Hana, ia kemudian menarik dagu Hana agar menatapnya.   "Sayang, bibirmu berdarah" Kris mengusap sudut bibir Hana yang berdarah lalu tersenyum. Hana bergidik ngeri menatap wajah Kris yang terlihat sangat menakutkan. Kris benar-benar sedang dikuasai amarah sekarang. Senyum yang keluar dari bibir Kris adalah tanda bahwa ia berada dalam keadaan bahaya. Kris mencondongkan tubuhnya, ia membisikan sesuatu pada telinga Hana yang mampu membuat Hana membeku.   "Waktunya untukku memberimu sebuah hukuman..."   "...Budakku”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD