Selesai pulang dari acara keluarnya bersama Lucas, Cyrine memegangi kepala dan perutnya ketika hendak masuk kedalam rumah. Seluruh badannya terasa gatal.
"Sister," panggil Gabriel.
Cyrine menatap Gabriel. Melihat wajah dan badan Cyrine muncul ruam merah dan menahan kesakitan Gabriel berteriak melengking memanggil mamanya. Rasya buru-buru keluar. Melihat keadaan Cyrine ia langsung mengajak Cyrine pergi ke rumah sakit.
"Kamu nggak tau kalau alergi kacang?" tanya Rasya khawatir.
"Aku nggak tau, kalau makanannya bahannya kacang." jawab Cyrine.
"Kata Dokter kamu harus opname sampe 2 hari."
Cyrine menggeleng. "Aku rawat jalan aja. Lagian kalau disini. Aku bakal bikin masalah. Mending dirumah aja."
Rasya menghela napas. Akhirnya ia menuruti permintaan Cyrine. Aril yang mendengar jika Cyrine sakit gara-gara memakan kacang langsung memarahinya habis-habisan. Akibatnya ia di kurung selama 3 hari dirumah.
Cyrine turun untuk mengambil wine yang telah ia simpan. Ia menjumpai temannya Aril bersama istrinya yang perutnya sendiri sudah besar. Dari yang ia tau dari Rasya, Gisel temanya itu sering sekali bermain dengan Gabriel. Rasya juga bilang, Gisel selalu berdoa agar memiliki anak seimut dan selucu Gabriel.
Cyrine menuangkan wine yang sempat dibelinya lalu meminumnya dengan berdiri. Tiba-tiba ada laki-laki tinggi, Rasya cukup familiar dengan laki-laki itu. Laki-laki itu menyodorkan gelasnya seolah meminta dituangkan wine ke gelasnya. Cyrine menuangkannya.
"Kamu Cyrine ya?"
Cyrine menganguk.
"Sean." kata Sean dengan mengulurkan tangannya.
"Cyrine." balasnya dengan menjabat tangan Sean.
"Aku kemarin lihat kamu nyanyi di club." tegur Sean dengan tersenyum lebar.
"Aku parttime disana." balas Cyrine santai. Cyrine menuangkan winennya kembali lalu meminunnya perlahan.
"Emangnya Aril nggak ngasih jajan sampe kamu harus parttime?"
"kalau gitu bukan parttime. Tapi hobi." balas Cyrine. Sean menyeringitkan keningnya bingung. Perempuan di depannya benar-benar luar biasa.
Cyrine menuangkan winenya kembali. Sean mengucapkan terimakasih lalu meminumnya kembali.
"Kata Aril kamu dulu sering banget ya nonton konser kayak Coachella?"
Cyrine menganguk kembali.
"Aku juga. Tiap tahun aku selalu datang nonton festival itu. Tapi tahun ini nggak bisa. Istriku sedang hamil anak pertama kita." kata Sean sangat bahagia.
Cyrine menatap Sean. Ia mampu menemukan mata biru ke abu-abuan itu.
"Lain kali ... Ayo kita nonton bareng sama anak-anak yang lain." ajak Sean.
Cyrine menggeleng ia menolaknya. Ia sudah cukup trauma.
"Kenapa?" tanya Sean penasaran.
"Seru tau kalau nonton rame-rame. Aku dulu selalu nonton bareng Irenee sama Darrell."
Mendengar nama Darrell Cyrine teringat ucapan Lucas yang mengatakan orang yang bernama Libra itu adik Darrell.
"Darrell?"
"Iya. Dia sepupuku. Jadi kita sering nonton bareng. Kadang Aril juga ikutan kalau dia lagi liburan ke LN. Kalau Reyhan sama Lucas mereka berdua cuma pernah sekali doang ikut nonton festival."
Mendengar jawaban itu, Cyrine akhirnya menemukan sebuah titik terang atas masalah yang menimpanya. Jawaban yang di berikan Sean ini mampu membuatnya membuat keputusan. Oke ... Sekarang mari kita pancing Sean sedikit lebih dalam.
"Kakak," panggil Cyrine dengan tersenyum menggoda. Jelas Sean tersentak dengan panggilan itu.
"Iya?"
"Kakak tau Casino Hell-0?"
"Taulah, Casino itu masih punya keluargaku. Kenapa tanya itu?? Kamu suka main judi ya??" tanya Sean seolah menuduh Cyrine.
Cyrine tersenyum lalu menggeleng.
"Aku dulu pernah kesana. Kakak suka main judi?"
"Bukan aku! Libra yang suka main judi."
"Libra?? Dia siapa?"
"Adeknya Darrell. Sepupuku juga."
"Aku bisa lihat orangnya nggak?" tanya Cyrine.
Sean tersenyum dan menganguk. Ia lalu mengeluarkan handphonenya dan menunjukan fotonya Libra.
"Dia namanya Libra?" tanya Cyrine memastikan.
Sean menganguk mantap.
Cyrine memperhatikan foto itu dengan detail. Laki-laki di foto ini tersenyum sangat lebar, seolah-olah laki-laki di foto ini sangat berbeda dengan orang yang pernah di kenalnya. Tapi, Cyrine mengingat pasti apa yang pernah di katakan Libra padanya. Libra bertanya kenapa Serangga sepertinya bisa muncul disini. Lalu peringatan Libra yang menyuruhnya hidup seperti orang mati, sangat menakutkan. Tapi kenapa di foto ini dia terlihat seperti orang yang berbeda.
"Cyrine," panggil Sean kesekian kalinya.
"Sai, Cyrine."
"Ah ya?" respon Cyrine akhirnya.
"Ada apa?" tanya Sean.
Cyrine menggeleng lalu tersenyum. Ia berpamitan untuk naik sebelum mulutnya lepas kontrol dan menanyakan pertanyaan selanjutnya. Cyrine masih ingat dengan ancaman itu,
"Kau tau.. Aku sangat ingin mencongkel matamu karna kau telah melihat wajah hal yang seharusnya tidak kau lihat." ycapnya tanpa ekspresi dengan mengarahkan sebuah belati ke mata Cyrine.
Cyrine segera menggelengkan kepalanya. Benar-benar menyeramkan.
"Jika aku tau kau mengatakan hal ini kepada orang-orang diluar sana. Aku akan merobek mulutmu sampai ke telinga, memotong lidahmu sebelum benar-benar mencongkel matamu."
Cyrine mengambil minum lalu meminumnya. Benar-benar sangat menakutkan. Cyrine tak pernah menganggap ancaman itu hanya sekedar ancaman setelah apa saja yang telah ia lihat dengan kedua matanya.
"Huek..."
Cyrine berlari ke kamar mandi kamarnya dan memutahkan isi perutnya. Badannya gemetar kembali. Padahal hanya mengingat sedikit kilas balik kenangannya, tapi badannya sudah gemetar, perutnya mual, dan kepalanya pusing. Ia takut. Ia takut harus kembali ke tempat itu lagi.
Tidak. Dia tidak akan kembali kesana lagi. Ia harus tenang. Ia harus tenang. Dia tidak akan kembali ke tempat menakutkan itu lagi. Iya ... Dia tidak akan kembali ke tempat menakutkan itu lagi.
******
Mentari menangis, apa yang dilihatnya tadi benar-benar menyakitkan hatinya. Lucas bilang laki-laki itu mencintainya. Tapi kenapa Lucas tadi bersikap seperti itu kepadanya. Kenapa sikap Lucas sangat dingin kepadanya. Rasanya sangat menyakitkan. Benar-benar sangat menyakitkan.
Ia pikir ia adalah perempuan yang sangat spesial bagi Lucas hingga laki-laki itu menunjukan semua yang ia suka hanya padanya. Ia pikir ia adalah satu-satunya. Tapi nyatanya tidak.
Mentari mengingat kenangannya dulu bersama Lucas.
"Lucas ... Lucas jangan sering-sering makan junkfood kek gini. Nggak baik tau buat kesehatan." kata Mentari yang mengomeli Lucas sembari membersihkan Apartemen Lucas yang penuh dengan bungkus makanan cepat saji.
Lucas hanya tersenyum dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Jangan ketawa! Berapa kali aku harus bilang supaya kamu dengerin aku!" ucapnya dengan cemberut.
"Aku kan nggak bisa masak. Kalau mau makan di tempatmu terus kan aku nggak enak."
"Tapi Aku gapapa kalau Lucas mau makan di Panti bareng aku." kata Mentari dengan menatap Lucas.
"Kamu seneng kalau aku makan dipanti?" tanya Lucas.
Mentari tersenyum lalu menganguk cepat.
"Kamu mau nikah sama aku?" tanya Lucas.
Senyum manis di bibir itu sirna.
"Maaf Lucas."
Lucas menghela nafas. Ia lalu mendekati Mentari dan mengacak rambutnya.
"Hai, Its oke ... Aku bakal tunggu sampe kamu mau sama aku." ujar Lucas dengan tersenyum lembut kepada Mentari.
"Tolong, jangan bilang kek gitu. Kamu bikin aku nggak nyaman." kata Mentari.
Lucas menghela nafas.
"Aku tunjukin ke tempat makan favoritku!" ajak Lucas tiba-tiba.
"Kemana?"
"Udah ayok,"
Lucas menarik Mentari mengajaknya keluar, sampai di parkiran aprtemennya Lucas menyuruh Mentari naik ke motornya membawanya menuju tempat di pinggir jalan.
"Itu tempat kesukaanku."
"Pecel?"
"Iya .... Aku suka sama Pecel. Tempat ini fovoritku. Aku suka banget sama makanan disini." kata Lucas lagi yang kini menggenggam tangannya membawanya duduk di pinggir jalan. Melihat wajah antusias Lucas, Mentari tersenyum.
"Lucas datang lagi ya? Siapa nih, pacarnya??"
"Bukan bu. Saya bukan pacarnya." Sangkal Mentari.
Lucas menganguk lalu memesan makanan.
"Kamu satu-satunya yang pernah ku ajak kesini." bisik Lucas.
"Satu-satunya?"
"Iya ... Baru kamu yang pernah ku ajak kesini."
Perasaan Mentari menghangat mendengarnya.
******
Lucas menatap keluar jendela kamarnya dengan meminum Whisky. Ia bisa melihat pemandangan dari atas sini. Langit malam yang hitam kota dengan penuh kendaraan. Pikirannya melayang kepada Mentari, perempuan itu ... Apa kabarnya?? Kemarin sekali lagi ia mengabaikan Mentari.
Yah, itu lebih baik untuknya. Ia harus segera melupakan perempuan itu. Tak lama hpnya bergetar, ada pesan dari Sean yang sedang mengirimkan sebuah link. Lucas membukanya. Sebuah room chat. Lucas melihat itu,
Playboy
Nah.. Silahkan kalian chatingan. Kalo jadi kabar-kabarin gua ya..
Cyrine lo baik-baik sama sobat gua! Dia jomblo dari lahir soallnya.
Playboy keluar
Lucas menatap pesan grup itu yang hanya berisi 2 orang.
628*****
Kak Sean maksudnya apa sih...
Lucas membaca balasan itu, Cyrinee??
Lucas
Sean emang suka nggak jelas. Jadi jangan peduliin.
Cyrine
My Sexy Man save aku ❤
Lucas menatap handphonenya terpanah. Ini baru pertamakalinya ada yang memberikan emot love padanya. Lucas tanpa sadar tersenyum. Ia lalu menyimpan nomor Cyrine.
Cyrine
My Sexy Man ... Tau nggak, nomormu ku save pake nama My Sexy Man!
My Sexy Man lagi ngapain? Sibuk nggak?
Membaca pesan itu, Lucas lalu mengingat Cyrine, ia lalu mengubah nama Cyrine di kontaknya.
Lucas
Nggak, aku cuma lagi duduk aja.
Mediterania
Kalau butuh teman hubungi aku ya❤
Lucas
Kalau aku bilang aku butuh teman sekarang?
Mediterania
Aku akan datang padamu :)
Lucas tersenyum membacanya.
Mediterania
Apa kamu ingin aku datang?
Lucas
Iya.
Mediterania
Kalau begitu tunggu aku! Aku akan datang ke tempatmu. Jadi berikan aku alamatmu.
Lucas
Apartemen GEA, lt.5 no.5
Meditetania
Tunggu aku!
Lucas
Iya