Adrian dan Naira kali ini duduk dalam diam selama beberapa menit. Tatapan mata keduanya lurus ke depan. Ke arah gagahnya sebuah jembatan terbentang di atas aliran Sungai Kahayan. Adrian sengaja menepikan mobilnya di tepi jalan yang cukup sepi, karena Naira tidak ingin mengambil resiko jika bertemu dengan lelaki itu di tempat yang ramai. Hanya helaan nafas yang sesekali terdengar keluar dari mulut Naira. Mereka terdiam, seolah saling menunggu lawan bicaranya untuk memulai. Membuka pembicaraan mengenai masalah yang mereka hadapi saat ini. Sehari yang lalu, tepat saat Adrian akan kembali dari luar kota, Naira menghubunginya. Setelah puluhan pesan tidak dijawab bahkan tidak dibaca oleh gadis itu. Naira meminta Adrian untuk menemuinya dan membicarakan hal penting yang membuat gadis itu tidak

