Rasa Yang Salah

974 Words
Ketika mobil yang membawanya pulang ke rumah telah berhenti sempurna, Adrian keluar dari mobil dengan langkah gontai. Perpaduan antara lelah dan kesal karena tidak berhasil mendapatkan nomor ponsel Naira membuat kondisi mood -nya kurang baik. Tanpa berkata apapun, dia melangkah langsung menuju ke kamarnya. Lalu berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.  Selesai mandi, Adrian beranjak ke kamar yang terletak tepat di samping kamarnya. Di sana, dia melihat sosok putranya yang sedang tidur ditemani pengasuhnya. "Udah lama tidurnya, Mba?" tanya Adrian sembari mengelus pipi mulus dan gembul milik putranya. "Baru aja, Pak. Dia tadi nggak tidur siang, keasyikan main. Jadi tidurnya cepet." "Ibu kemana?" tanya Adrian menanyakan keberadaan istrinya. Ibu dari putranya yang sedang tertidur dengan lelapnya. "Belum pulang, Pak. Perginya tadi sore, bawa mobil sendiri." Adrian mendengus kesal dan mengambil ponsel di kantong celananya. "Kamu dimana, Za…?" tanya Adrian to the point. "Aku lagi makan sama temen-temenku." sahut Muezza, istrinya. "Ya udah, jangan malam-malam pulangnya. Hati-hati di jalan ya." "Iya, Sayang…"  Muezza segera mematikan sambungan telepon dan melanjutkan acara makan malam bersama sahabat-sahabatnya. Terkadang Adrian ingin marah, namun semua ditahannya karena tidak ingin putranya melihat keributan yang terjadi di antara kedua orang tuanya. Sebagai suami, Adrian ingin merasakan ketika pulang kerja disambut dengan baik oleh istrinya. Disiapkan makan malamnya, disiapkan baju ganti setelah dia selesai mandi. Atau sekedar berbagi cerita mengenai kesibukan masing-masing dalam kesehariannya. Namun yang terjadi, Muezza lebih sering pergi keluar bersama teman-temannya. Entah untuk arisan, makan, atau sekedar berkumpul saja. Adrian sering memperhatikan di sosial media istrinya itu, kemana saja mereka pergi dan menghabiskan waktu.  Entah hanya pemikirannya saja atau bagaimana, kadang Adrian heran dengan istrinya dan juga teman-temannya. Mereka seperti tidak ada beban dan tanggung jawab sebagai istri dan juga ibu rumah tangga yang harus mengurus suami dan anak-anak mereka. Memang, dalam lingkaran pertemanan istrinya bisa dibilang mereka termasuk kalangan berada. Mereka semua pasti memiliki ART dan pengasuh bagi anak-anak mereka. Namun tetap saja peran sebagai istri dan ibu tidak dapat tergantikan oleh ART dan pengasuh, bukan? Adrian menyadari dirinya juga belum bisa menjalankan peran sebagai suami dan ayah dengan baik. Karena sebagian besar waktunya lebih banyak dihabiskan untuk pekerjaan. Tapi semua itu dilakukannya untuk memenuhi segala kebutuhan anak dan istrinya. Demi memastikan anak dan istrinya hidup dengan berkecukupan tanpa kekurangan sesuatu apapun. Nyatanya, karena kesibukannya bekerja yang menyita banyak waktu, dia menjadi kehilangan waktu untuk bersama anak dan istrinya. Sang istri lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya, dibandingkan menunggunya pulang bekerja dan melayani segala kebutuhannya. Belum lagi dengan sang anak yang masih kecil. Hampir setiap hari Adrian pergi sebelum anaknya bangun tidur, dan baru pulang bekerja setelah anaknya sudah tertidur. Interaksi keduanya bisa dibilang sangat sedikit. Dan satu hal yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini yaitu gadis bernama Naira. Adrian sering sekali secara sadar ataupun tidak sadar, membayangkan wajah manis gadis itu. Kadang tanpa sadar dia bisa tersenyum sendiri seperti orang gila, saat menyadari jantungnya berdetak begitu kencang saat dia membayangkan wajah gadis itu.  Jika dibandingkan dengan istrinya, Muezza, Naira memang tidak sebanding secara fisik dan tampilan. Muezza adalah tipe wanita yang sangat memperhatikan penampilannya. Salon dan gym adalah tempat rutin yang dikunjungi istrinya agar penampilannya selalu terjaga. Wajah Muezza sangat cantik dan dewasa, sesuai dengan usianya yang sudah menginjak 30 tahun. Tubuhnya pun sangat indah, tinggi semampai dengan berat badan yang proporsional. Sedangkan Naira, gadis itu lebih sering terlihat polos tanpa make up selain lipstick berwarna pink atau orange yang sering digunakannya. Tubuh Naira cukup tinggi, mungkin sebahu Adrian yang memiliki tinggi 185 cm. Tidak ada yang menarik perhatian dari tubuh Naira karena dia selalu menggunakan pakaian yang longgar tanpa memperlihatkan lekuk tubuhnya. Hanya saja, Naira memiliki senyum manis yang begitu khas sehingga membuat orang yang melihatnya seperti kehilangan kesadaran dan menjadi betah terus memandang wajahnya. Ya, mungkin tidak semua merasa seperti itu. Setidaknya itu yang dirasakan Adrian ketika dia melihat senyum di wajah Naira. Sebuah kecupan mendarat di pipi Adrian dan menyadarkannya dari segala lamunannya.  "Belum tidur, Sayang?" sapa Muezza sembari beranjak ke arah walk in closet untuk mengambil pakaian ganti. "Belum. Kamu kemana aja, Za? Jam segini baru pulang." Jam di dinding kamar menunjukkan pukul sebelas malam. "Tadi habis makan, nongki di kafe, sama temen-temen. Aku mandi dulu ya, capek banget. Kamu tidur aja duluan. Nggak usah nungguin, aku mau berendam air hangat."  Adrian mendengus kesal mendengar jawaban istrinya. Sebagai lelaki normal, tentu saja dia ingin bermesraan sebelum tidur. Atau sekedar berpelukan sembari bertukar cerita. Berbagi kehangatan sambil mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang lelah setelah bekerja. Akhirnya pikirannya kembali melayang pada sosok Naira. Dia kembali mengingat momen makan sore tadi bersama gadis itu, hingga membuatnya tersenyum sendiri. Melupakan kekesalan yang baru saja dia rasakan. Hingga beberapa menit kemudian kesadarannya kembali dan membuatnya berpikir tentang perasaannya. Lelaki ini sadar bahwa semua ini tidak benar. Dia pria beristri dan sudah memiliki satu orang anak. Tidak benar jika dia memiliki perasaan pada wanita lain. Namun siapa yang bisa mengelak jika perasaan itu datang begitu saja.  Adrian ingat dia pernah membaca entah di buku atau di internet yang mengatakan, jika kamu tertarik pada wanita lain di luar sana maka pulanglah. Karena apa yang dimiliki wanita itu, juga ada pada istrimu. Kini Adrian justru bingung, karena ketika dia pulang ke rumah apa yang dia dapatkan? Istrinya belum pulang dan sedang bersenang-senang dengan temannya. Dan ketika istrinya pulang sudah dalam keadaan lelah, sehingga tidak bisa melayani suaminya meskipun hanya sekedar memberikan pelukan hangat menjelang tidur. Semua hal itu berkecamuk dalam pikiran Adrian. Hingga akhirnya dia tertidur dengan sendirinya. Membiarkan tubuhnya kalah oleh segala pikiran tentang Muezza dan juga perasaan yang tidak seharusnya dia rasakan pada Naira. Membawa segala kebimbangannya terbang ke alam mimpi. Semoga saja semua ini hanya mimpi. Dan ketika bangun nanti, semua akan baik-baik saja. Hanya ada Adrian, Muezza dan putra semata wayang mereka. Tanpa ada Naira yang selalu menghantui pikirannya. Semoga saja. 19 Nov 2020 21.30 WIB
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD