Mulai Dekat

1132 Words
“Mba Erni, Saya titip Rama ya… Kalo ada apa-apa, telpon aja saya atau Bapak.” pesan Muezza sambil merapikan penampilannya dan bersiap-siap untuk pergi ke bandara.  Penerbangannya ke KL dijadwalkan nanti siang, namun karena tidak ada penerbangan langsung dari Palangkaraya, dia harus terbang ke Jakarta terlebih dulu. Dan pagi ini, Adrian akan mengantarnya ke bandara, karena suaminya itu berkata bahwa hari ini tidak ada pekerjaan. Tentu saja tidak ada pekerjaan, karena ini hari Sabtu. Weekend adalah saatnya libur. Namun terkadang ada kalanya Adrian terpaksa harus tetap bekerja di akhir pekan seperti ini. “Za… Aku ikut ya?” tanya Adrian sambil tetap fokus menyetir. Muezza langsung menoleh ke arah Adrian dan memandangnya bingung, “Ikut…?” Adrian mengangguk, “Iya, ikut ke KL. Sudah lama kita nggak liburan berdua. Lagian hari ini dan besok aku juga libur kok. Mobilnya bisa aku parkir di bandara dua hari.” “Sayaaang…” seru Muezza manja sekaligus ada nada kesal dalam suaranya, “Aku pergi sama temen-temenku. Cewek semua dan nggak ada yang bawa suami atau anak-anaknya. Apa kata mereka nanti kalo kamu ikut.” “Ya nggak pa-pa. Bilang aja kita mau honeymoon.” “Next time aja ya, kita liburan bertiga sama Rama.” rayu Muezza sambil mengelus pipi Adrian lembut. Adrian tidak menjawab apapun. Dia hanya menganggukkan kepalanya perlahan, tanpa bisa menyembunyikan rasa kecewa di wajahnya. Dia lalu membelokkan mobilnya memasuki kawasan bandara dan menuju area parkir. Setelah mendapatkan lokasi parkir yang tidak terlalu jauh dari terminal keberangkatan, Adrian membantu Muezza menurunkan koper kecil milik istrinya dari bagasi. Mereka berdua lalu berjalan beriringan menuju bagian pemeriksaan untuk check in. Sepanjang langkah kakinya, Muezza memeluk pinggang Adrian sementara Adrian memeluk bahu istrinya. Secara kasat mata, mereka terlihat seperti pasangan yang berbahagia. Namun jauh di dalam hati Adrian merasa hampa dan seolah ada sesuatu yang kurang. Apapun itu, Adrian juga tidak tahu pasti.  Kemana rasa cinta yang dulu membuatnya merasa lengkap hanya dengan kehadiran wanita di sampingnya ini? Kenapa saat ini dia merasa ada yang kurang, seperti ada ruang kosong di dalam hatinya. Dulu, dia akan sangat merindukan kehadiran wanita ini, meskipun mereka hanya terpisah selama beberapa jam karena Adrian harus ke kantor untuk bekerja. Kini semua rasa itu seolah sirna. Adrian semakin terbiasa dengan ketidak hadiran Muezza di sisinya.  “Hati-hati di sana ya, Za. Selamat liburan.” bisik Adrian. Muezza tersenyum dan mengangguk, lalu memeluknya singkat. Kemudian, wanita cantik itu beranjak melangkah masuk untuk check in dan memasuki ruang tunggu keberangkatan. Ketika sosok Muezza menghilang, Adrian berbalik dan bersiap untuk pulang. Namun langkahnya terhenti saat dia teringat sesuatu. Dia lalu berbalik dan menuju salah satu kafe di sana. Kafe tempat Naira bekerja. Semoga hari ini gadis manis itu masuk shift pagi, bisik Adrian dalam hatinya. Namun ternyata gadis itu tidak ada, sepertinya Naira shift sore, atau dia masih libur? Adrian terlihat kecewa saat mengambil kopi pesanannya dan duduk di salah satu sudut kafe itu. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dan sibuk memeriksa email masuk. Setelah memastikan tidak ada email penting yang masuk, kembali ponselnya dia masukkan ke dalam saku celananya. Dia kemudian terlihat mengedarkan pandangannya ke segala arah. Menikmati hiruk pikuk kesibukan pengunjung bandara. “Mas Rian… Ngapain? Mau berangkat ya?”  Suara yang familiar di telinga Adrian itu membuat kepalanya menoleh dan ketika pandangannya bertemu dengan gadis manis yang kini berdiri di sampingnya, senyumnya tanpa sadar merekah. “Ih, malah senyum-senyum.” seru Naira heran. “Mau ketemu kamu. Tapi kamu nya nggak ada.” sahut Adrian sembari menghirup minumannya perlahan. “Saya masih libur hari ini. Besok baru masuk kerja lagi.” “Trus ini ngapain kesini? Kayaknya kita jodoh ya. Bisa ketemu gini, pas banget saya lagi kangen mau ketemu.”  Naira terdiam sejenak saat mendengar ucapan Adrian, namun kesadarannya kembali dengan cepat, “Saya ada urusan sama teman saya. Ini juga mau pulang kok. Saya duluan ya, Mas. Permisi.” Adrian dengan cepat berdiri dan mengikuti langkah kaki Naira yang terlihat tergesa-gesa. “Kenapa sih, buru-buru banget.” “Engh.. Itu… Ee…” Adrian lalu meraih jemari Naira ke dalam genggamannya tanpa rasa canggung sedikitpun. Kemudian dia berjalan dan mau tak mau Naira mengikutinya. “Saya antar pulang.” Adrian berkata dengan singkat, dengan nada tak mau ada penolakan. “Motor saya gimana, besok pagi saya kerja.” Naira masih berusaha menolak.  “Jangan bohong, besok hari minggu. Hari libur.” seru Adrian santai. Naira lalu mendengus kesal, “Saya itu bukan kerja di kantor yang cuma sampe hari jumat atau sabtu dan hari minggunya libur. Saya kerja di kafe yang hari minggu tetap buka.” “Kalau begitu besok saya antar. Kebetulan besok saya libur.” Naira hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Adrian. Lagipula, tidak bisa dipungkiri ada sedikit ketertarikan yang dirasakannya pada lelaki ini. Genggaman tangannya terasa hangat dan nyaman. Ini bukan pertama kalinya Naira merasakan genggaman di jemarinya, karena sebelumnya pun Naira pernah berhubungan dengan seseorang. Namun hubungan mereka harus berakhir karena kekasihnya itu tidak bisa menerima saat Naira menceritakan kedua orang tuanya masuk penjara karena mengedarkan obat terlarang. Mungkin dia malu memiliki kekasih yang orang tuanya berstatus narapidana. Entahlah, Naira kini tidak lagi memikirkan hal itu. Dia yakin suatu saat akan ada lelaki yang bisa menerimanya apa adanya, termasuk kedua orang tuanya. Mereka berdua kini berada di dalam mobil yang dikemudikan Adrian perlahan. Membelah jalan raya yang masih basah karena tadi sempat turun hujan. Adrian membuka kaca di sampingnya, menghirup udara segar sehabis hujan adalah salah satu hal yang disukainya. Namun Adrian kemudian tersadar satu hal, Naira. Gadis itu sejak tadi hanya diam tanpa berkata apapun, tidak seperti biasanya. Biasanya? Bukankah mereka baru beberapa kali bertemu? Kenapa Adrian merasa seolah sudah lama mengenal gadis di sampingnya ini? “Kok ngelamun, Nai? Mikirin apa?” Naira menggeleng perlahan. “Mau langsung pulang?” tanya Adrian sambil melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sebelas siang, “Atau kita makan dulu ya? Udah mau jam makan siang.” “Saya langsung pulang aja, Mas. Tadi pagi udah masak, kalo makan di luar, mubazir nanti masakan saya.” Adrian mengangguk paham, “Rumah kamu dimana?” Naira lalu menyebutkan alamatnya, sambil menunjukkan arah pada Adrian yang ternyata tidak tahu dengan alamat yang disebutkan Naira. Mungkin ini orang keseringan disupirin, jadi nggak hafal jalan, pikir Naira. Lima belas menit kemudian mereka sudah tiba di depan rumah kontrakan Naira. Rumah mungil tipe 36 yang memiliki halaman asri karena terdapat beberapa pohon buah-buahan dan berbagai jenis bunga yang terlihat sangat terawat. Tidak ada daun berserakan meskipun banyak pohon dan tumbuhan lain di halaman. Rumput liar pun sepertinya enggan tumbuh, karena Naira selalu menyempatkan waktunya untuk sekedar mencabut rumput-rumput liar di halaman. "Naira..." Adrian menjentikkan kedua jarinya di depan wajah Naira hingga membuat gadis itu terlonjak kaget. 21 Nov 2020 22.09 WIB
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD