Satu hari berlalu, kondisi Alona semakin membaik, dia benar - benar teliti pagi ini, dia sudah mengecek jadwal mata kuliah hari ini, hari ini ada mata kuliah Ekonomi Makro. Dan terdengar kabar, kalau ada dosen baru yang akan menggantikan Pak Septian karena masih cuti, sesampainya di kampus, Alona menghela napas panjangnya, dan mengecek kembali isi tasnya, dan bersyukur dia tidak salah bawa buku lagi. Baru saja dia ingin mengeluarkan bukunya, suara langkah sepatu terdengar, dan benar saja, lelaki yang dia lihat di ruang kesehatan itu, dia adalah dosen baru, wajahnya masih sama, tampannya bak dewa. Suaranya berat, halus, menggoda iman. Alona tak berhenti memandang, dia seperti syok, dan teringat akan suara dalam itu.
"Kok suaranya mirip sama suara... ahhh apaan si, itu kejadian nggak pernah ada, mungkin cuman perasaan gue aja." ucapnya sembari terbayang suara lelaki yang memasuki kamarnya pada malam itu.
Dosen baru itu bernama Victor, dia menggantikan Pak Septian yang sedang cuti karena mengalami kecelakaan tunggal. Yang membuat tangannya tidak dapat bergerak maximal.
"Selamat pagi semuanya, ehmm perkenalkan saya Victor, saya dosen baru sekaligus dosen pengganti Pak Septian, dalam pelajaran Ekonomi Makro ya, boleh di kasih tahu ke saya, udah sampai mana pelajarannya, coba kamu itu yang pake baju kaos abu - abu, siapa nama kamu?" ucap Dosen itu menatap dalam ke arah Alona
"Bapak manggil saya?" jawab Alona dengan menunjukkan jari ke arahnya sendiri
"Hmm menurut kamu siapa lagi, sini maju kamu!"
"Baik Pak."
"Bawa bukunya, dan kasih tahu saya, sampai di mana terakhir Pak Septian mengajarkan pelajarannya."
Alona berjalan pelan, menuju meja dosen tersebut, semakin dekat, tetapi seperti seolah - olah ada sebuah magnet kuat yang membuat Alona begitu terjebak, seperti susah mau menjauh. Alona membukakan halaman bukunya. Dan memberitahukan pada dosen baru tersebut.
"Oh okay, ya sudah tolong kamu rangkum, dan tuliskan di white board."
"Saya yang nulis Pak, kan udah ada dibuku, tinggal kita baca aja."
"Kamu ini ya, yang dosennya siapa, saya kan, kenapa jadi kamu yang ngatur."
"Hehehe iya Pak maaf, ya udah saya tulis dan rangkum deh."
Setelah dua jam, mata pelajaran Pak Victor pun selesai, dan jam istirahat pun di mulai.
"Ya semua boleh istirahat ya, kecuali kamu Alona, kamu ikut ke ruangan saya."
"Hah! Saya Pak, tetapi saya salah apa ya, perasaan saya nggak ada buat salah deh."
"Bawel kamu ya, udah ikut aja, nanti kamu juga tahu."
"Udah Al, loe ikut aja gih, dia dosen lho, nggak usah ngebantah, gue ke kantin dulu ya." saut Vero yang menepuk pundak Alona
"Ya udah kamu ikut saya sekarang, cepet dan bawain buku saya."
"Ya Pak sabar kenapa sih, ampun deh."
Victor hanya tersenyum simpul, membuatnya semakin terlihat tampan, saat dia melewati kelas demi kelas, semua mahasiswi begitu terpesona dengan karismanya. Sementara Alona begitu merasa berat, membawakan tas dan buku dosen baru tersebut. Sesampainya di ruang Pak Victor, dia meminta Alona duduk dan memberikan makanan buat Alona.
"Duduk, makan, biar kamu nggak sakit."
"Nggak usah Pak, makasih kebetulan saya udah sarapan tadi, saya mau ke kantin aja ya Pak."
"Duduk saya bilang, nggak perlu ke kantin, temenin saya makan."
"Saya masih kenyang Pak, beneran deh."
"Makan saya bilang, memangnya kamu lihat makanannya aneh, sampe kamu nggak mau makan."
"Bukannya gitu Pak, ini makanan apa ya, saya baru lihat."
"Hmm, itu saya yang masak, daging, enak pokoknya, kamu nggak akan nyesel. Tenang saya nggak kasih obat apa - apa koq."
"Ya bukannya gitu Pak, tetapi mahasiswi kan banyak ya pak, kenapa harus saya gitu yang nemenin Bapak makan."
"Saya sekarang balik nanya sama kamu, barusan saya ngajar di kelas kamu kan?"
"Ya Pak."
"Ya udah, terus masa saya harus panggil mahasiswi yang bukan jam pelajaran saya, udah makan aja."
"Terus Bapak mana, kok nggak makan?"
"Saya udah makan, itu saya masak lebih, ehmm satu hal lagi, pulang kuliah, kamu tolong bantu cek semua tugas ya."
"Hah! Pak yang bener aja, saya belum ijin sama orang tua saya."
"Gampang nanti saya yang kirim chat, saya tahu kok siapa orang tua kamu.Ya saya ini di luaran kadang banyak urusan, takut tugas anak - anak nggak kepegang, makannya saya minta kamu, tolong bantuin saya, tenang aja, nggak gratis kok, saya bayar jasa kamu, terserah berapa aja."
"Nggak usah Pak, saya ikhlas bantuin bapak, oh ya Pak saya mau nanya sedikit boleh nggak?"
"Tanya apa, kalau nggak penting mending nggak usah saya jawab."
"Ih Bapak, ini justru penting."
"Ya udah apa?"
"Suara bapak itu, mirip banget sama suara bayangan lelaki yang dua hari yang lalu masuk ke kamar saya"
*Menggelengkan kepalanya, dan melihat sinis ke arah Alona*
"Kamu ini kebanyakan nonton film fantasi, jadi pikiran kamu itu isinya imajinasi, makannya doa kamu tuch sebelum tidur. Kamu kalau keterusan kayak gini, lama - lama bisa ke psikolog lho."
"Ih Bapak apaan sich, memangnya saya gila apa, saya jujur Pak, suara bapak nggak asing."
"Kamu ini ya, saya aja nggak tahu rumah kamu dimana, apa jangan - jangan pikiran kamu itu terlalu kotor, kamu mau deketin saya, dengan alasan udah pernah kenal saya."
"Nggak lah Pak, ngapain, maaf ya Bapak itu bukan level saya."
"Aissh kamu pikir, kamu level saya juga, nggak usah sok paling cantik Alona, dah abisin makanannya."
"Nggak Pak udah kenyang, saya udah boleh ke kantin kan pak?"
"Belum, bantu saya dulu, ketikan ini semua."
Alona menerima tugas tambahan dari Pak Victor, mengetikkan dokumen soal - soal buat ujian.
"Pak boleh nggak saya ke kantin dulu, saya mau beli juss buah sama cemilan."
"Udah nggak usah kemana - mana, sebentar saya ambilin, kamu mau jus apa. Saya kemarin beli jus tinggal minum, dan ini ada kue panggang brownis , makan aja, jadi udah nggak usah alasan mau ke kantin, nanti kamu kabur lagi."
"Ya ampun Pak, nggak mungkinlah saya kabur, Bapak aja yang pikirannya jelek banget."
"Terus maunya minum jus apa, kok kamu kayak nggak selera gitu."
"Gimana saya mau selera Pak, Bapak maksa dan ngatur saya harus makan apa, Bapak itu cuman dosen, bukan orang tua saya, saya nggak suka makanan dan jus ini, saya sukanya jus buah seger."
"Okay, nggak usah bawel, mau jus apa, saya yang beliin, kamu nggak usah kemana - mana."
"Saya mau jus mangga pake creamer putih Pak, kue nya risol yang ada di kantin."
"Okay saya beliin, tetapi kamu diem di sini, jangan sekali - kali pergi ya."
"Terserah Bapak deh."
Alona hanya bisa memegang kepalanya, entah apa yang ada dipikiran dosen baru tersebut, selalu ingin membuat Alona susah.