Masih di lingkungan kampus, tepatnya di dalam ruangan Pak Victor. Jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Pak Victor segera meminta Alona menutup laptopnya dan meneruskannya di rumah.
"Alona udah tutup laptopnya, jangan lupa save dulu, terusin di rumah saya aja, saya barusan udah calling orang tua kamu, jadi udah aman ya."
"Hmm saya nggak bawa baju ganti Pak, nanti gimana kalau saya mau mandi."
"Ya gampang, saya ada baju di rumah, nanti kamu mandi aja di rumah saya."
"Rumah Bapak di mana sich, jauh ya dari sini?"
"Ya lumayan, sekitar empat jam an, makannya saya kan ngajar di sini seminggu cuman dua kali aja, selebihnya saya urus kerjaan yang lain."
"Hah! Empat jam, astaga saya pulang nanti gimana Pak?"
"Tenang aja udah nanti saya yang anterin kamu pulang."
"Emangnya Bapak tahu gitu rumah saya?"
"Bukan hal yang sulit untuk tahu rumah kamu, ya walau saya belum pernah tahu, gampang ada gps kan."
"Tar kalau saya kesiangan lagi gimana?"
"Udah nggak usah bawel, naik mobil saya sekarang, udah mendung langit, nanti keburu hujan."
"Hmm ya Pak siap."
"Bawain itu laptop saya."
"Terus tugas yang harus saya cek di mana?"
"Udah ada di rumah saya, ya udah cepet naik."
"Ya Pak."
Alona dibuat kagum, dengan mobil milik Pak Victor, keluaran sedan mewah dengan inisal merek RR, dalam interiornya yang begitu mewah, dan membuatnya sangat nyaman. Dengan aroma parfum mobil yang sangat menggoda hasrat.
"Kamu kenapa liatin mobil saya kayak gitu, nggak pernah lihat mobil mahal?"
"Ehmm hahaa nggak Pak, saya nggak nyangka aja, dosen kayak bapak, tajir juga ya mobilnya mewah banget, mirip mobil Papah saya di rumah."
"Oh, ya mobil kesukaan saya ini."
"Aroma parfum mobilnya enak Pak, membuat tenang."
"Saya nggak suka pakai parfum mobil, itu memang aroma ac nya yang enak."
"Koq beda, mobil Papah saya nggak gini deh wanginya, sama Papah saya juga nggak terlalu suka aroma parfum mobil."
"Ya udah, kamu keliatannya capek, perjalanan juga lumayan panjang, kamu tidur aja dulu di mobil, nanti kalau udah sampai, saya bangunin."
"Emangnya boleh Pak saya tiduran."
"Silahkan, tidur aja, nggak apa - apa, saya lihat kamu capek banget."
"Makasih Pak."
"Nggak usah berlebihan, biasa aja."
Saat melihat Alona sudah tertidur pulas, Victor hanya tersenyum simpul melihat wajah lelah wanita yang menjadi mahasiswinya saat ini. Hasrat hatinya ingin sekali membawa gadis itu ke dalam pelukannya, namun Victor berusaha menahan hasratnya. Di dalam perjalanan yang cukup panjang, Victor menyalakan musik di dalam mobilnya, dengan memutar lagu my baby love dari Nicole Scherzinger. Malam yang sudah mulai sunyi, hanya ditemani lampu - lampu jalanan yang menerangi setiap sudut jalan, setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya sampailah di sebuah mansion klasik, bangunan kuno yang megah mirip istana kerajaan. Victor tidak mau membangunkan Alona yang dilihatnya masih tertidur pulas, dengan kekuatannya Victor membawa Alona dan menidurkannya di salah satu kamar di rumahnya.
Sementara itu Victor menuju dapur, dan menyiapkan beberapa menu untuk makan malam Alona. Tiga jam berlalu, Alona pun terbangun, dia terkejut, melihat kamar yang dihiasi ornamen kerajaan yang begitu mewah, dengan nuansa warna merah keemasan, dia melihat semua ruangan tidak melihat satu pun ac, tetapi kamar itu begitu sejuk dan nyaman. Alona mencoba keluar, dan melihat Victor sedang menyiapkan semua makan malam ini.
"Hmm enak ya tidurnya, maaf ya saya nggak berani bangunin kamu, tadi saya lihat kamu ngantuk banget."
"Terus gimana caranya saya bisa ada di dalam kamar Bapak?"
"Itu kamar tamu, bukan kamar saya. Saya gendong kamu tadi, kamu nyenyak banget sampai nggak terasa kalau saya gendong kamu ke kamar."
"Oh.. maaf ya Pak, mungkin saya kecapean, ini rumah bapak ac nya di mana ya?"
"Kenapa nanya ac, kamu kepanasan ya di sini."
"Oh nggak Pak, malahan dingin banget sumpah, Bapak pake ac central ya?"
"No, saya nggak pake apa - apa, kamu lihat aja rumah ini atapnya saya design sangat tinggi, jadi wajar kalau adem rumahnya, nggak perlu pakai pendingin apapun."
"Terus ini semua Bapak yang masak, duh jadi repotin ya Pak?"
"No, biasa aja, duduk lah, kamu makan dulu."
"Ya Pak, abis itu saya mau mandi, terus lanjut kelarin tugas dari Bapak."
"Nggak usah, semua udah selesai, saat kamu tidur tadi, sudah saya kerjain semua, takutnya kamu capek nanti, kalau mungkin nanti kemaleman kamu nginep ya."
"Maksudnya, saya bermalam di rumah Pak Victor gitu?"
"Ya, tetapi nggak apa - apa kamu kalau mau pulang, tetap saya anterin."
"Saya mending pulang aja Pak, saya bisa pesan taxi online aja."
"Hmm kenapa kamu takut gitu, saya jahatin?"
"Nggak Pak, kalau saya bermalam di sini, besok kuliah saya bareng lagi sama Bapak, yang ada bisa jadi gosip di kampus."
"Mana ada yang berani seperti itu?"
"Maksudnya gimana Pak?"
"Itu kampus saya yang punya Alona, saya yang bangun kampus itu dan mendanai semua keperluan kampus."
"What! Bapak yang punya kampus, pantesan aja bapak kayak bossy banget ya."
"Hmm kamu aja yang merasa begitu, saya biasa aja, oh ya sembari makan, saya mau nanya, kamu itu kenapa nyangka suara saya mirip sama lelaki yang dua hari dateng ke rumah kamu, maksudnya gimana?"
"Udah ah Pak, nggak usah dibahas juga, kan nggak penting buat Bapak."
"Cerita aja, saya penasaran soalnya, tenang aja, saya bukan orang yang suka bongkar rahasia orang."
"Saya malu Pak ceritanya, jujur nggak ada yang tahu masalah ini, karena takut malah jadi boomerang buat saya, kalau saya cerita ke orang yang nggak tepat."
Tiba - tiba secara cepat Victor yang tadinya berhadapan dengan Alona, dia sudah berada tepat di samping Alona.
"Astaga Pak, Bapak gimana caranya Bapak bisa ada di sebelah saya." ucap Alona yang setengah terhipnotis kekuatan Victor
"Nggak pake cara apa - apa. Dah cerita aja, kamu nggak usah sungkan."
"Duhh dari mana ya awalnya, tetapi Bapak bisa nggak jangan terlalu deket, saya agak risih Pak.'
"Oh maaf."
"Jadi sebenarnya saya ngerasa dua hari yang lalu itu, kayak bercinta sama lelaki misterius Pak, awalnya saya pikir itu ah cuman mimpi, tetapi nyata adanya, saat saya lihat bercak merah di atas ranjang, saya cium aromanya, memang aroma darah."
"Terus kamu lihat jelas nggak siapa lelaki itu?"
"Nggak begitu jelas Pak, karena saat kejadian malam itu, lampu saya kayak tiba - tiba gelap, tetapi pelukannya, sentuhannya semua nyata, saya nggak bisa lupain malam itu, sampai sekarang, saya bener - bener terbuai dengan semua kenikmatannya Pak."
"Jadi kamu udah nggak suci lagi?"
"Ya Pak sepertinya, tetapi saya bingung saya cek di kamera cctv, bayangannya nggak ada, cuman keliatan jendela saya kayak ada dorongan angin yang kenceng."
"Kamu takut nggak sama lelaki misterius itu?"
"Nggak Pak, tetapi saya cuman heran, dia hantu apa manusia?"
"Hahha kamu ini, kayaknya kamu ditidurin bangsa gaib itu."
"Ih apaan si Pak, mana bisa gaib kayak gitu, nggak usah ngarang deh Pak."
"Hehehe tetapi jika suatu saat dia dateng lagi, kamu gimana?"
"Saya tanya lah, dia siapa, kenapa harus merenggut kesucian saya."
"Oh jadi kamu lagi berharap dia dateng lagi ya?" tanya Victor dengan tatapan tajam ke arah Alona
"Ya saya nggak munafik sich Pak, saya baru pertama kali melakukan itu, tetapi kayak saya jadi kangen sama dia, nggak ada rasa pemberontakan, seperti kayak runtuh semua pertahanan saya."
"Hmm nakal kamu ya, ya semoga aja dia dateng lagi ya."
"Nggak tahu lah Pak, saya bingung, by the way saya sembari lanjutin makan ya Pak, laper banget soalnya."
"Silahkan, makanlah, yang banyak ya."
"Bapak nggak makan?"
"Udah tadi sebelum kamu bangun, udah kamu makan aja, saya mau ke kamar dulu sebentar."
Alona pun menikmati hidangan yang dibuat oleh Victor, sementara itu Victor memasuki kamarnya, dengan terus mengukir senyuman di bibirnya.