Setelah kejadian malam itu, tak terasa hari sudah pagi, Alona terbangun tepat jam lima pagi, dia bergegas bersiap - siap berangkat kuliah, setelah selesai mandi, mendadak Alona merasa ada perubahan dalam tubuhnya, dia seperti lebih semangat, dan sangat teliti sekarang. Semua buku sudah masuk tasnya, dan memastikan semuanya sudah tidak ada lagi tertinggal apalagi salah buku.
*Okay semua udah masuk, udah gue cek, nggak ada satu pun yang tertinggal kan, apalagi salah bawa buku lagi, huftt untung deh, semua aman udah, gue jalan sekarang, tar sarapan di kampus aja, hari ini pelajaran Pak Victor sama Pak Robby, eh tunggu kenapa gue jadi berubah gini ya sekarang, gue jadi gampang banget gitu bangun pagi, biasanya kalau nggak pake alarm, gue auto kesiangan, ini nggak, tiba - tiba mata kebangun, badan juga rasanya jauh lebih seger banget, dan gue ngerasa sedikit lebih teliti, apa karena semalam, Vlad sama gue aishhhh masih keinget banget rasa semua surga yang Vlad kasih, koq ada ya lelaki gantengnya kelewatan gitu, wajahnya sama persis kayak tokoh manga yang ada di ponsel gue, sumpah semua anak kampus dan bahkan semua cowok ganteng yang pernah gue lihat, sumpah jauh banget, Vlad gantengnya sangat sempurna kalau untuk gue nilai mungkin lima ratus, hahaha, udah ahh berangkat kuliah dulu* ucap Alona dengan lirih
Tiba - tiba bibi masuk dan melihat Alona seperti ngomong sendiri.
"Non! Bukannya berangkat kuliah, entar telat lagi lho non." ucab Mbok sembari menepuk pundak Alona
Alona sontak terkaget
"ih Mbok apaan sich, ngaggetin aja, kapan masuknya, koq nggak kedengeran."
"Hmm Mbok dari tadi ketuk - ketuk pintu, Non yang kayak lagi ngomong sendiri, komat - kamit, hayo lagi mikirin siapa."
"Nggak usah kepo Mbok, oh ya itu ada setangkai bunga mawar hitam, jangan dibuang ya, itu punya aku, biarin aja ada di situ, buat tugas kuliah." ucap Alona sembari mengarang cerita, agar mbok nggak curiga
"Sejak kapan to Non, Mbok lancang sentuh barang Non, dari kecil, Mbok udah hafal, Non itu mana mau barangnya geser sedikit pun, kecuali sprei sama bantal dan guling."
"Ya aku cuman ingetin mbok, mana tahu Mbok lupa, oh ya Papah dan Mamah belum pulang ya?"
"Belum Non, baru juga beberapa hari, palingan Bapak dan Ibu bisa sebulan baru pulang.'
"Ya udah aku berangkat dulu ya Mbok, aku sarapan di kampus aja, Mbok istirahat aja, nggak usah masak, kayaknya aku pulang maleman."
"Oh ya nanti kalau Bapak sama Ibu telepon, gimana Non?"
"Aku udah bilang sama Papah dan Mamah, jadi Mbok istirahat aja ya, aku jalan dulu ya mbok."
"Ya Non, hati - hati."
"Siap Mbok, tenang aja."
Mbok merapikan tempat tidur Alona, namun saat ingin melepit bad cover, Mbok nggak sengaja melihat ada bercak darah yang sudah mengering.
"Lho ini darah apa ya, oh apa Non lagi halangan kali, ya udah tak cuci ajalah spreinya, nanti tinggal bilang sama Non Alona." ucap mbok sembari menarik spreinya
Tepat pukul tujuh kurang lima menit, Alona sudah sampai kampus. Baru saja dia ingin menutup pintu mobilnya, Vero mendekat dan menyindirnya.
"Beuhh yang sok sibuk ya sekarang, sampe chat gue cuman di read doang, telepon juga nggak diangkat."
"Loe kenapa pagi - pagi udah sewot segala, sejak kapan emang loe jadi temen gue, bukannya loe maunya gue kena hukuman sama Pak Robby, gue cukup tahu aja, so mulai sekarang loe mau call gue keq, mau chat gue kek, selama itu nggak menguntungkan rekening gue, nggak akan mau gue angkat."
"Ya ellah loe masih dendem ama gue, lebay loe ahh, gue cuman mau loe disiplin."
"Eh Vero, setiap orang itu ada kekurangan dan kelebihan, so udah nggak usah deh sekarang calling gue, ataupun ngobrol sama gue. Gue dari dulu nggak pernah jahat sama loe, kurang apa gue sama loe, semoga loe dapet temen yang jauh lebih disiplin dari gue, udah sana minggir loe." jawab Alona sembari mendorong Vero dengan wajah yang sangat kesal
Dari kejauhan Pak Victor melihat Alona dan Vero sedikit ada perdebatan. Dia melangkah dengan cepat menghampiri kedua mahasiswinya itu.
"Pagi - pagi, udah gosip aja kalian berdua, ada apa?" ucap Pak Victor dengan tegas
"Nggak apa - apa Pak Victor, maaf saya mau masuk kelas dulu."
"Hmm Alona, kamu ikut saya dulu sebentar ya."
"Oh iya Pak, tetapi bentar lagi kan mau ada kelas bapak."
"Nggak apa - apa, udah ikut dulu ke ruangan saya."
"Siap Pak."
Alona segera mengikuti Victor, menuju ruangannya. Setelah itu Victor meminta Alona duduk manis, dan memberikan sebuah kotak perhiasan berwarna hitam.
"Ambil, ini buat kamu."
"Buat saya, tetapi untuk apa Pak?"
"Anggap aj sebagai tanda awal."
"Tanda awal, maksdunya apa sich Pak?"
"Sssttt apa perlu saya jelaskan, saya sayang sama kamu, pake kalungnya, itu saya pesan langsung dari Rumania, nggak ada di sini itu."
"Tetapi apa nggak berlebihan ya Pak?"
Victor mendekat dengan cepat, memberikan kecupan lembut di kening dan hidung Alona.
"Kamu itu pantas memilikinya, saya sayang sama kamu, nggak usah banyak nanya."
"Okay... kalau memang bapak maksa, saya pake."
"Hmm sini saya yang pakein, kalau kamu bosen sama modelnya, tinggal bilang."
"Akhh nggak lah Pak, ini udah bagus banget."
"Ya udah masuk kelas, nanti saya menyusul, by the way, nanti kamu pulang sama siapa?"
"Sendiri Pak, bawa mobil, kenapa emangnya?"
"Pulang ke rumah saya ya."
"Pak rumah Bapak itu jauh banget lho, saya ngga kuat nyetir jauh - jauh."
"Udah nggak usah bawel, kamu cukup duduk manis, mobil tinggal di kampus."
"Terus yang nganter mobil saya semalem siapa ya."
"Oh itu ob kampus yang saya suruh anterin mobil kamu, terus dia pulangnya naik ojek."
"Oh. Tetapi bukannya nanti mahasiswi dan mahasiswa lainnya bisa curiga pak, tar saya digosipin, Alona Wiliam pacaran sama dosennya."
"Nggak akan itu terjadi, sekalinya terjadi itu pun, mereka nggak akan bisa berbuat apa - apa, karena saat di kampus ya saya mode serius. Dan kampus itu saya yang punya, saya investor utamanya."
"Oh ya udah Terus emangnya harus gitu tiap hari saya ke rumah Bapak, apa ada tugas tambahan, yang belum bisa bapak selesaikan."
"Nggak!"
"Terus apa?"
"Kangen, saya kangen sama kamu, setiap hari, selamanya."
"Ah palingan Bapak anggap saya cuman pelarian aja, mana mungkin dosen setampan bapak dan setajir bapak, cuman punya satu cewek, nggak mungkin."
"Apa yang kamu rasain sekarang saat kamu begitu dekat sama saya, seharusnya kamu tahu, dan tidak meragukan saya, untuk siapa hati saya, nggak ada saya menyimpan wanita lain, selain kamu, karena jatuh cinta pada pandangan pertama itu masih ada dan benar adanya, itu yang saat ini saya rasain ke kamu."
Alona berdiri dari kursinya dan memberikan kecupan hangat pada Victor.
"Ya udah, saya percaya, sekarang boleh kan saya ke kelas?"
"Boleh, nanti saya menyusul."
"Ya Pak Victor sayang."
"Yes my dear." jawab Pak Victor dengan senyuman yang menggoda