# Wulan terbangun oleh kebiasaan yang tidak ia miliki di kehidupan sebelumnya. Aroma kopi. Dulu, ia yang bangun lebih awal. Menyiapkan segalanya. Tak pernah ada aroma kopi yang menunggunya seperti sekarang. Wulan membuka mata perlahan. Langit-langit apartemen Leo menyambutnyq, disusul oleh rasa sedikit tidak nyaman di pusat tubuhnya. Di sisi tempat tidur yang seharusnya menjadi tempat Leo berbaring tadi malam kini telah kosong. Seperti biasa, Leo selalu bangun lebih dulu. "Hah, dari mana dia memiliki tenaga untuk bisa tetap bangun pagi dan melakukan segalanya seperti biasa setelah membuat pinggangku hampir patah?" Dia mengeluh seakan hanya untuk dirinya sendiri. Wulan tidak mengerti bagaimana bisa dia kembali jatuh pada rayuan Leo setelah berhasil bertahan selama beberapa waktu

