Ancaman

1031 Words
Aku manggut-manggut, tenggorokanku tiba-tiba terasa kering ketika Kyoji menampilkan data perolehan lelang yang ia sebutkan tadi, berkali-kali lipat dari harga yang di tawarkan Nyonya Sykes. Aku membebaskan tanganku yang sedari tadi berada dipangkuan Kyoji, dan meraih minuman yang telah disediakan dimeja di samping tempat duduk. Kyoji bahkan menampilkan bagaimana proses lelang itu, gadis yang akan di lelang berdiri ditengah ruangan putih berbentuk lingkaran, di dindingnya terdapat semacam sejumlah jendela, dimana peserta lelang bisa melihat untuk saling bersaing harga. "Yang di tayangkan barusan adalah kasta teratas bisnis prostitusi HIME-group, Baby Kay. Sumber pemasukan terbesar untuk investasi. Di kasta dibawahnya terdapat gadis-gadis dari negara berkembang, mereka secara rela atau tidak di jadikan pemuas syahwat di negara yang bahkan mereka tak mengerti bahasanya, berlumur peluh lelaki hidung belang demi memenuhi kebutuhan keluarga yang mereka tinggalkan. Tapi, tak semua mereka bekerja karena kemauan sendiri, ada juga karena di tipu oleh perusahaan pengirim mereka dengan iming-iming yang fantastis. Mereka yang tak sanggup berbulan-bulan dipaksa melayani nafsu lelaki banyak yang mencoba melarikan diri atau meminta pertolongan pada kedutaan negara mereka, tapi pemerintahan mereka kabarnya tak ambil pusing, bahkan polisi saja tak mau ikut campur" Lanjut Kyoji masih menjelaskan. Aku bergindik ngeri bukan kepalang ketika telingaku mendengar rintihan memilukan dan mataku melihat tayangan menyedihkan. Gadis-gadis yang sekarang di tampilan di layar dihajar layaknya binatang. Kyoji langsung memelukku yang gemetaran dan tersedu-sedu menutup mata. Tapi kilasan ingatan tentang bagaimana penyiksaan pedih terhadap mereka terus berputar di kelapaku, bagaimana gadis-gadis itu di telanjangi, dibekap, di ikat, digantung, dicambuk, dipatahkan tulang lengan atau kakinya, di sayat kulitnya, dipotong lidah mereka, bahkan bunyi desiran kulit mereka ketika bersentuhan dengan besi panas seakan masih terngiang di telingaku. "HIME yang sesungguhnya adalah organisasi mafia, Kay. Kau harus tahu itu. Beking dari bisnis haram Prevkaya dan kota-kota besar lainnya. Kami melacak para pekerja yang kabur dari tanggungjawab atau mencoba membeberkan informasi keluar. Siksaan berat menanti mereka dan orang-orang yang membantu mereka, bahkan tak ada kata segan untuk membunuh mereka, kay. Semuanya sudah tercantum di kontrak yang mereka tanda tangani dengan darah segar mereka" Tambah Kyoji seolah-olah aku belum cukup tahu betapa kotornya keluarga yang dibanggakan ibuku. Setelah beberapa hari dikuliahi Kyoji dan Paman Arata aku menemukan sejumlah fakta mengejutkan yang telah lama tersembunyi dari kejayaan besar bisnis HIME Enterprise begitu kotor dan laknat. Ada kebahagiaan bahkan kebebasan orang lain yang harus di korbankan demi kenikmatan dunia petinggi di keluarga utama. Hubunganku dengan Kyoji dan paman Arata makin dekat, aku seperti menemukan sesuatu yang telah lama hilang...sebuah kehangatan. Duduk untuk makan bersama, tertawa dengan lelucon mereka. Bermanja-manja hanya dengan mereka serta perhatian dan rasa sayang yang berlimpah mereka berikan. Kyoji mencium jariku, satu demi satu, lalu mendekatkan tubuhnya dan mencium pipiku. "Maafkan aku, Baby Kay. Aku menyayangimu lebih dari apapun, tapi aku juga tak bisa mengorbankan ayahku, satu-satunya keluargaku yang tertinggal" itu adalah kata-kata terakhir yang kudengar sebelum semuanya gelap untuk kedua kalinya. Aku terjaga dalam kegelapan, semuanya kelam dan dingin yang terasa menusuk hingga ke tulang. Udara lembab disertai bau kental karat besi, anyir dan... Darah. DARAH??? Aroma darah yang sangat pekat membuatku panik bukan kepalang, meski kucoba membebaskan diri dari serangan panik tapi aku terbelenggu di sana, terikat kuat dikedua kaki dan tangan, serta ikatan longgar pada perut dan paha. Aku mencoba berteriak murka, tapi mulutku terkunci oleh bekapan sedemikian rupa. TIDAK!!! TIDAK MUNGKIN!!! Aku menggeleng keras, dengan dahsyat serangan panik mencoba membebaskan diri dari belenggu yang mengikat, dari ingatan yang terus berputar di kepala. Namun, semakin aku berusaha melawan membebaskan diri semakin aku menyakiti diri sendiri. Aku memberhentikan pemberontakan itu karena diriku berdemo menolak, pergelangan tangan dan kakiku terasa perih karena gesekan dengan tali dan borgol. Pahaku yang juga terikat terasa kebas. Inginku menangis dan menjerit, mengumpat dan meratap, tapi yang keluar hanya desiran diam. Aku sudah pasrah dengan keadaan paling buruk yang bakal kuhadapi, mempersiapkan diri dengan penderitaan fisik maupun batin yang bakal kuterima tak lama lagi. Telingaku sontak memusatkan fokus menuju keributan derap langkah berduyun-duyun, lebar dan berat disertai percakapan samar yang teredam. Suara itu makin lama makin cepat dan dekat. Aku tahu mereka sudah berada di dekatku, melakukan sesuatu yang membuat bunyi berdecit pada sesuatu yang lain, mungkin pada lantai. Kegaduhan aktivitas mereka tak berlangsung lama dan derap langkah berduyun itu menjauh hingga yang tersisa hanya keheningan. Kemunculan lagi keheningan itu menambah rasa ngeri jauh dalam diriku. Tapi diantara keheningan nyata itu, ada seseorang yang tinggal, berada di dekatku melepas penutup mata dan lingkaran setan amarah serta murka ku tunjukkan langsung pada siapa pelakunya, Jay Sykes, hanya dia seorang yang tinggal dan aku hendak melahapnya dengan tatapan bengis. Ia memandangku sejenak, lalu melanjutkan aktivitasnya, melepaskan pengikat pembekap mulut, mengeluarkan penyumpal yang memenuhi mulutku, sehingga aku bebas untuk mengatai, menyumpah-nyumpah, tapi sudut bibirku hanya terangkat getir dibawah tatapannya. Lidahku terasa kelu walau aku ingin meludahinya. "Lama tak berjumpa, Miss Kaznov" sapanya kaku dan dingin, sedingin udara yang menyeruak padaku, dan aku juga melihat tatapan kemurkaan pada mata abu-abunya. "b******n!!! apa maumu sekarang, huh?" emosi dari dalam diriku yang tertanam selama berhari-hari buncah. Aku benci dia dan apapun yang terlibat dengannya. Keberadaanku disini juga sebab karena dia. Kenyataan kepedihan yang kurasa sebab karenanya tak bisa dipisahkan jauh-jauh darinya. Ia menatapku sebentar dengan kedua tangan terlipat didepan d**a, lalu memendarkan pandangannya dariku ke sekeliling ruangan, menyuruhku menyadari dimana posisiku berada. Seluruh persendianku langsung lesu seketika. Murkaku surut dan tak sampai sepersekian detik kemudian amarahku pun menghilang, sementara di sekeliling tubuhku di rayapi peluh dingin penuh kengerian. Salivaku naik turun menelan ludah. Aku terhenyak kenyataan kelam, bahwa aku berada di tempat penyiksaan para pemberontak yang ditunjukkan Kyoji Hime beberapa waktu yang lalu di bioskop mininya. DAN SEKARANG AKULAH PEMBERONTAK ITU? karena aku kabur dari rumah, menolak di jodohkan dengan Jay Sykes. Laki-laki yang dengan terang-terangan kubenci sekarang, secara sadar maupun dalam mimpiku. Berbagai macam alat-alat b***t yang sering digunakan tergantung rapi dipertontonkan di tepi ruangan yang lembab yang dilingkupi keseluruhannya dengan dinding beton berwarna gelap, yang kuyakini dahulunya berwarna putih. Tak ada jendela, pintu atau lubang kecil tempat membebaskan diri, tempat melepaskan teriakan, bahkan cahaya saja tak diizinkan masuk jangankan mencoba kabur. Tempat ini lebih mirip basement gedung-gedung perkantoran, dengan lorong-lorong berpencahayaan minim, bedanya tempatku berada sekarang berada dipenuhi berbagai macam alat penyiksa manusia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD