Kontrak Pernikahan

1002 Words
Tiang-tiang gantung telah dipersiapkan sekalian dengan tali, membawa ingatan tentang seseorang yang menggantung dirinya didepan para penyiksa yang bersorak girang karena putus asa tak sanggup menahan siksaan. Kursi-kursi yang dipersiapkan berderet lurus sejajar di kiri dan kanan di tempatku diikat, juga digunakan untuk menyentrum dengan listrik bertegangan tinggi. Lalu di dekat setiap kursi ada meja beralaskan kain hitam berbecak darah kering, diatasnya tersedia berbagai macam gunting dan pisau bedah juga sejumlah jarum suntik dan lusinan obat-obatan. Aku melirik pada lantai beton dibawah kaki Jay yang sekarang berwarna merah gelap bahkan hampir menghitam karena tertutup darah kering. Aku gelagapan menelan ludah. Hime benar-benar mengancamku sedemikian rupa. Aku ingin menangis sejadi-jadinya, atau tertawa dengan histeria, tapi yang terjadi aku hanya diam. "Kau akan pulang ke tempatku, Miss Kaznov" katanya penuh perintah disertai ancaman tak terdengar. Sederetan kata yang terdengar di telingaku membuat darah mencapai ubun-ubun, dan hanya kemarahan yang mengisi diriku, menghalau kengerian akan tempatku berada "Aku tak akan pergi denganmu atau siapapun itu. Kalian semua sama bejatnya, sama liciknya. Kalian semua b******k, b******n. Lepaskan aku sialan" Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat, berharap perkataanku tidak terdengar putus asa di telinganya, sebab kata-kataku terdengar amat putus asa di telingaku sendiri. Ia tak pernah melepaskan tatapan kejamnya dariku. Mata ningrat abu-abunya kini kian menusuk "Aku tak pernah memberimu pilihan, tapi perintah Miss Kaznov" "Aku bukan orang yang bisa kau perintah sesuka hatimu, sialan" Teriakku. Aku benar-benar muak dengan segalanya. Semuanya! Mengapa mereka melakukan semuanya terhadapku. Mengapa? Dan ibuku,dia lebih kejam dari pada penjahat. "Tapi aku bisa. Jika kau menolak, aku bisa memaksa" katanya ramah sambil berjalan mendekat kearah meja. Kendati kata-kata itu terdengar datar dipermukaan, tapi tindakannya sungguh diluar dugaan. Aku membelalakkan mata ketika ia menunjukkan foto yang tadi berada di map kertas. Perutku terasa diaduk-aduk dengan pikiran yang terus berputar-putar, benakku dipenuhi segala macam kemungkinan licik yang bakal ia lakukan dengan foto telanjang diriku. Aku gelagapan tidak tahu akan mengatakan apa ketika ia memperlihatkan foto lainnya. Kebencianku langsung berlipat empat. Mereka terus mendesakku dengan sejumlah permainan kotor dan aku sang keledai yang mereka coba tanggap dengan sejumlah perangkap kotor. Jay memicingkan mata, memperhatikan, menatapku penuh kemenangan "Kau lebih suka foto cantikmu tersebar ke publik dari pada menuruti perintahku" katanya sambil menggerak-gerakkan lembaran-lembaran foto ditangannya. "Lakukan apapun sesukamu. Aku tidak peduli dan tidak pernah takut dengan ancaman, b******n. Kau pikir semudah itu aku bakal tunduk dibawah telapak kakimu? Aku lebih memilih menutup mata serta telinga" Kataku menyerah. Benar menyerah. Aku tidak punya banyak harapan lagi. Jay mengangguk kecil mengembalikan foto tadi ke asalnya. Ia tak mempedulikan teriakan dan umpatanku, karena ia sibuk memilih dan menilai sejumlah benda tajam dihadapannya. Setalah yakin dengan pilihannya, sebuah pisau bedah kecil berujung runcing, ia berjalan mendekat dengan senyuman aneh diwajahnya. Ia menempelkan pisau itu di pipiku, rasa dingin langsung terserap kulitku, membawa desiran ketakutan ke darahku. Ia lalu menjalankan pisau itu terus ke leherku dan berhenti pada leher kaos hitam milik Kyoji yang kukenakkan. Tampa aba-aba ia merobek bajuku, membentuk garis lurus menuju perut, dan terhenti pada tali besar yang mengikatku di sana. "Kau lebih suka aku merusak kulit mulusmu, sayang" katanya menatap bagian dadaku yang kini tersingkap, dan ia terkunci di sana. Aku yakin ia baru saja meneguk ludahnya. DASAR LELAKI!!! Aku menatapnya penuh pertentangan, mempersiapkan diri dengan semua kemungkinan. Amarah dan dendam, dua hal besar yang membuatku tak getir sedikitpun, tak takut lagi akan apapun. Sebab aku sudah mempersilahkan penderitaan padaku datang. Jay melepaskan pandangan dari dadaku dan menatapku. Ekspresi yang kini ia tunjukkan tak terbaca sedikitpun. Wajahnya kian mendekat sehingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Ia menatapku makin lekat dan aku balas tanpa rasa takut lagi. Ia mengerutkan kening sebentar. "Kau kelihatan tak masalah dengan kulit cantikmu dan aku juga tak tega melakukannya, sayang. Lalu bagaimana kalau kuganti saja dengan hadiah kecil" bisiknya di telingaku. "Bawa dia masuk" Teriaknya, kali ini bukan di telingaku. Bahuku langsung runtuh seketika, air mataku berdebun jatuh "Ayah..."pekikku parau "Lepaskan Ayahku... Lepaskan dia" jeritku keras dan putus asa. Aku memberontak, mencoba melepaskan diri, mencoba agar bisa mencapai ayahku secepat mungkin, tapi aku terikat di sana. Aku hanya ingin sedekat mungkin dengannya bagaimanapun caranya mengantikan penderitaan dan rasa sakitnya. Aku tidak peduli lagi dengan pergelangan tangan dan kakiku yang kini terasa sakit bahkan mengeluarkan darah "Kumohon... Bebaskan ayahku" Aku tidak berfikir dua kali untuk menandatangani surat pendaftaran pernikahan yang jay layangkan ke depan mataku, bahkan mungkin aku tidak berfikir sama sekali ketika tanganku bergerak di sana. Ketika surat itu disetujui pemerintahan, aku resmi menjadi istrinya, berada di bawah kuasanya, seperti yang telah mereka rencanakan dengan matang dan sempurna. Satu hal yang ingin sekali kuhancurkan saat aku berfikir logis. Rencana mereka berhasil! Tapi aku terlalu hanyut dalam suasana sadis ciptaannya. Ayahku yang diseret layaknya binatang di depan mataku, lehernya berkalung rantai, wajah yang bengkak, memar, penuh luka dan darah segar yang terus mengalir, pemandangan paling pedih yang pernah kulihat seumur hidup. Meski aku sering marah dengan ayahku, aku lebih sering merasa kasihan kepadanya. Ketika kami masih hidup dalam keluarga Hime status ayahku tidak tinggi, di sering tidak dipandang ataupun tidak di hargai sama sekali. Ayahku tidak punya banyak kemampuan, tidak pandai berbicara ataupun bersosialisasi. Dan ibuku, meski dia putri manja keluarga Hime, dia sama sekali tidak peduli dengan perlakuan yang di terima ayahku. Melihatnya sekarang, aku gugup dan khawatir teramat sangat. Karena hanya aku satu-satunya yang mungkin bisa menyelamatkannya karena ibuku sama sekali tidak peduli, apalagi adik-adikku, mereka tidak perlu di harapkan lagi. Baru setelah Jay membawaku keluar dari sana, lebih tepatnya menyeret, memaksa memisahkanku dengan ayah, akal sehatku kembali. Aku sudah benar-benar masuk perangkap mereka, dan termakan umpan sehingga aku terjerat layaknya pecundang. Tidak! Mereka pasti tahu aku paling peduli dengan ayahku! Jay Sykes duduk di sampingku di mobilnya yang mewah, menjauh dari tempat laknat itu serta mengawasiku agar aku tidak kabur. Agar aku tidak kembali histeris dan kembali pada ayahku yang entah bagaimana nasibnya sekarang. Meski Ia telah berjanji jika aku menandatangani surat itu ia akan membebaskan ayahku, tapi bagian dari diriku tidak bisa mempercayai ucapannya seutuhnya. Jay mungkin melepaskannya, tapi Hime tidak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD