14. Pindah ke Rumah Jay

1038 Words
Aku memandangi Jay Sykes penuh selidik, sebagian diriku ingin menerkam, mencakar, menghajar, menghancurkan dan bahkan melenyapkannya dari dunia. Tapi sebagian lainnya merasa aneh dengan wajahnya yang tampak tenang memandang ke depan tidak berniat berkata-kata kepadaku. Apakah karena ia berhasil mencapai tujuannya atau untuk hal lain yang tidak aku mengerti. "Syukur bahwa keluargamu penganut ketentuan lama" katanya setelah perjalanan cukup jauh. Matanya menatapku ramah dan berpendar "Hanya perlu aku dan ayahmu agar kita menikah" ia sedikit mengernyit melihatku menyatukan kaos Kyoji yang ia robek dengan tangan. Aku menatapnya tidak percaya dan rahangku hampir jatuh ketika mendengarnya. "Hah?" Aku mencoba mengecek kembali apakah telingaku masih berfungsi semestinya, mungkin saja salah dengar. Ia mengamatiku baik-baik, wajahnya nampak khidmat, dan sekarang ia nampak begitu serius "Tiga hari sebelum kita bertemu, keluarga kita melakukan prosesi pengikatan. Kau tak tahu soal itu?" Aku terlalu bingung dan bengong untuk memahami apa yang sebenarnya telah terjadi "Maksudmu, kita sudah dinikahkan sebelum...." aku bingung harus menganalogikan hari laknat yang bakal menjadi beban di pundakku seumur hidup "Hmmm... Hari itu" "Ya" jawabnya seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu dengan saksama. Tapi ia tak kunjung mengutarakannya, atau tak berniat sama sekali mengatakannya. Sebab ia sudah punya jawaban sendiri. BAGUS!!! Sebelum memaksaku dengan cara licik, mereka lebih dahulu memaksa ayahku entah bagaimana. Ayah. Murkaku kembali, amarah itu berkobar. Entah sejak kapan mereka memulai menyiksa ayahku hingga jadi begitu mengerikan dan menyedihkan. Mengingatnya saja membuat hatiku terasa terkoyak-koyak. "Kau tampak kurang senang setelah mendengarnya" Kata Jay Sykes yakin. "Tentu saja" semburku mantap dan pasti dengan kemurkaan blak-blakan. Aku sadar telah menaikkan nada bicaraku padanya dan menjadi pembangkang yang jelas-jelas ia benci. Binar benar-benar sirna dari wajahnya, menyisakan tatapan kejam ketidaksukaan. Ia mengangkat sudut bibirnya dengan angkuh menghina "Itu sebabnya kau berada di tempat yang tak pantas kau kunjungi bahkan kau dekati barang sedikitpun, juga bergaul dengan orang-orang rendahan dan kotor. Kau harus sadar posisimu sekarang bukan gadis jalanan atau para p*****r yang menjajakan dirinya di bar, Tapi pemuasku" murkanya tajam tanpa basa-basi ataupun rem di mulutnya. Nada bicaranya berubah begitu tajam dan menusuk begitu dalam. Perkataannya membuat murkaku berlipat-lipat. Pertama ia menyiksa ayahku dan menjauhkannya dariku entah bagaimana keadaannya sekarang. Kedua ia juga memaksaku untuk berada dibawah kendalinya. Lalu ia jelas tampak begitu senang dengan kemenangannya dan sekarang merendahkanku dan Kyoji sebegitu rendahnya, yang jelas ia tidak tahu apa-apa. "Setidaknya orang yang dianggap kotor dan rendahan itu lebih baik dari pada yang membicarakannya" balasku sengit. Siap berperang dengannya. Siap beradu mulut dengannya. Tapi reaksinya sungguh bertolak belakang dengan yang kubayangkan. Dia berpaling, memandang dunia luar lewat jendela tanpa mengatakan apa-apa setelah menatapku sesaat. Sesaat yang rasanya begitu menakutkan. Aku benar-benar tersinggung dengan perkataannya, dan sekarang jauh lebih tersinggung karena dia mengabaikanku bahkan hingga mobil yang kami tumpangi melesat masuk ke kawasan kediamannya. Meski sejujurnya aku cukup ketakutan dengan tatapan singkatnya tadi. Ia langsung turun dari mobilnya dan membanting pintu mobil dengan kasar. Tanpa memandangiku lagi. Tanpa mengatakan apa-apa lagi. Aku terperanjat dan ketakutan. Bulu romanku langsung berdiri menghasilkan diriku yang gemetaran saat memandang punggungnya dari belakang yang terus menjauh. Kubaringkan tubuh yang teramat lelah, diluar dan di dalam, fisik dan mental. Lalu letakkan kepalaku di tanganku untuk beristirahat. Aku menoleh pada pintu penghubung antata kamarku dengan kamar di sebelahnya. Ia benar-benar menaati ketentuan lama, dimana kamar istri berada di sebelah kamar suaminya. Dijaman se-modern sekarang masih mengunakan peraturan masa purbakala begitu, aku berdecih. Tapi, itu jadi satu keuntungan juga bagiku, aku bisa bebas darinya. Berada di ruangan yang sama dengannya selalu membuatku sesak nafas. Hal terakhir yang kulihat darinya hanya punggungnya yang lebar dan kokoh. Setelahnya aku hanya berurusan dengan para pekerjannya. Salah satunya bernama Aime, perempuan berparas biasa saja, tapi tak bosan dipandang, berusia akhir dua puluhan atau tiga puluh awal, tegas, ramah, terampil dan tidak suka basa-basi. Aime ditugaskan sebagai pelayan pribadiku. Wanita itu mengobati luka di pergelangan tangan dan kakiku, memilih pakaian untuk kugunakan, lalu memperkenalkanku pada para pekerja sebagai istri Jay, meski kuyakin tatapan yang kulihat adalah ketidakpercayaan dan kurang suka yang klasik. Ia juga membawaku berkeliling rumah mewah besar tiga lantai itu, lebih besar dari rumah Camilla dan memiliki sedikit pekerja dibandingkan rumah Camilla. Menurutku rumahnya terlalu besar untuk ditinggali seorang diri. Acara keliling ria itu berakhir di kamar milikku. Aku lelah. Teramat lelah, hingga aku tidak mampu lagi menahan mata mengantuk. Tidurku terasa begitu singkat saat Aime membangunkanku, padahal aku sudah tertidur berjam-jam lamanya. "Anda harus bersiap-siap untuk makan malam, Nona Kaznov" katanya pelan dan penuh sopan santun. Ia menggiringku ke kamar mandi dengan mata yang masih berat, didalam sana ia telah menyiapkan air panas dan wewangian yang begitu menenangkan. Aime bahkan membantuku mandi, memijat kepalaku, meluluri punggungku, satu hal yang benar-benar baru dalam hidupku. Aku memang pernah membaca ketentuan lama karena dipaksa ibuku, tapi aku tidak tahu rasanya tidak nyaman seperti sekarang. Selesai mandi ia menyarankan beberapa gaun malam indah dan mahal untuk kugunakan. Ia begitu terampil saat menata rambutku dan mendandaniku seutuhnya. Untuk seseorang yang terbiasa mengunakan sehelai kaos oblong dan celana dalam, mengunakan gaun malam yang menyapu lantai dan berdandan, satu bentuk penindasan akan jiwa selebor-ku. Dan sejujurnya juga aku tidak suka dengan tatanan rambut glamor, lebih nyaman menyanggulnya acak-acakan. Tapi apa boleh buat. Kebebasan. Satu hal yang telah hilang dariku dimulai saat aku setuju menandatangani surat pendaftaran pernikahan sialan itu. BRENGSEK. umpatku dalam hati. "Aime" kataku ketika kuyakin pekerjaannya telah selesai dengan sempurna "Aku akan turun nanti, bisakah aku punya waktu sebentar untuk diriku sendiri" Tentu saja Aime tak akan membantah, sebab ia juga berada dibawah komandoku. Pantulan diriku di cermin kini tampak begitu menyedihkan, lebih menyedihkan dibandingkan diriku yang dulu, diriku yang membanting tulang, berpakaian lusuh, menahan lapar dan pusing untuk menghemat pengeluaran. Aku merindukan adik-adikku, James dan Hewitt yang selalu bertengkar, memperebutkan sarapan yang kubuat untuk mereka, pakaian yang kubelikan, serta berseteru siapa yang akan di ajarkan tugas sekolah lebih dahulu. Aku juga merindukan sahabatku Camilla, Yui dan Kyoji tentu saja. Semuanya terasa sunyi, ruang besar mewah yang dipenuhi gaun dan perhiasan indah, tak sedikitpun menyenangkan hatiku. Jemariku terasa begitu dingin, sebab aku ketakutan tidak akan pernah berjumpa lagi dengan mereka seperti sebelum-sebelumnya. Aime sudah bolak-balik beberapa kali ke kamarku dan aku hanya menjawab "Sebentar lagi aku akan turun" kali terakhir wajahnya menyiratkan ketakutan saat aku menjawab "Aku tidak ingin makan"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD