Aku tidak menyangka efek balik dari perkataanku bakal mengundang sang setan secara langsung mengunjungi kamarku dengan mata kejam menyala, berjalan tergesa menghentakkan kaki dan aku bisa melihat tanduk merah menyala di kepalanya "Kau tahu berapa lama aku harus menunggu dan seenak jidatmu kau berkata tidak ingin makan. Dimana sopan santunmu, HAH?" semburnya marah dan tanpa aba-aba langsung menyeretku paksa. Aku bisa melihat saluran darahnya yang menyembul keluar karena marah di lehernya.
Tapi bukan Kaella Kaznov namaku jika aku tidak membangkang. Sifat itu sudah terbawa pada setiap gen yang ada di tubuhku, mengalir di setiap keping darahku--itu sebabnya aku tidak menyumbangkan darah, tidak hanya takut jarum suntik, aku juga takut jika sifat pembangkanganku disedekahkan kepada orang lain dan bakal membuat dunia kejatuhan bom.
Aku berusaha keras mempertahankan pendirianku dan melepaskan cengkraman tangannya yang begitu kuat dipergelangan tanganku yang baru diolesi salep oleh Aime, terasa perih ketika cengkraman itu makin kuat "Apa pedulimu, hah? Menjadikan aku boneka? itu maumu sialan. Kau hanya bakal mampu bermimpi" umpatku tidak kalah sengit.
Jay Sykes mengibaskan tanganku, aku memegang pergelangan tanganku yang sekarang terasa sakit dan memerah bekas cengkeramannya "Oh, Tuhan. Kenapa kau selalu mendebatku? Bisakah sekali saja kita tidak beradu mulut seperti ini" katanya dengan nada bicara lebih rendah "Ya Tuhan, beri aku kesabaran" lanjutnya sambil mengacak rambutnya yang tadi klimis dan rapi dengan frustasi.
"Harusnya aku yang mesti bersabar menghadapi sikapmu yang tempramen, suka memerintah, mengintimidasi... "
"Hentikan itu KAZNOV!" katanya begitu keras memotong ucapanku.
Aku bergeming, juga sedikit ketakutan. Aku kehilangan kata-kata dibawah tatapannya. Mulutku kelu dan otakku kehilangan ide untuk membalas ucapannya.
"Kau bisa membuatku benar-benar gila" lanjutnya mulai lebih tenang dan merendahkan nada bicaranya "Kau belum makan apa-apa, bisakah kau makan demi anak yang ada dalam kandunganmu"
Aku melipat kedua tangan didepan d**a dan tersenyum sinis "Kau pikir kau punya anak di rahimku? Kau salah besar, sebab dia tidak ada di sana dan aku tidak sudi mengandung anakmu, b******k" kataku siap beradu mulut lagi dengannya, menyiapkan diri untuk berperang habis-habisan dengannya.
Tapi dia benar-benar Jay Sykes yang punya reaksi luar biasa mengejutkan.
"Itu sebabnya kau mencari pacar sialanmu itu?" tanyanya dengan kepalan tinju melayang menghantam cermin. Aku begitu terkejut dan ketakutan lagi dan lagi "Itu alasan kau pergi ke sana untuk memelacurkan diri? Kau butuh uang untuk mengugurkan kandunganmu? Apa uang yang diberikan ibuku masih kurang? Kalau kau berani macam-macam, pacarmu akan berakhir seperti kaca itu" ancamnya lalu keluar dan membanting pintu.
Aku hanya mampu melongo ketakutan dengan reaksinya, tapi tak seperti sebelum-sebelumnya, sudah mulai membiasakan diri dengan reaksi super mengejutkannya.
Satu kenyataan yang baru kusadari, Jay Sykes tak bermain kasar dengan benda hidup, tapi apapun benda mati disekelilingnya bisa jadi sasaran amukan.
Cermin yang sekarang menjadi mengenaskan membuatku ngeri dan mataku bisa melihat dengan jelas akibat dari amukannya, cermin yang membentuk lubang bekas kejatuhan bom dan darah segar di tengahnya. Aku tahu perkataannya menyinggungku amat dalam, tapi aku tetap lah diriku yang mudah khawatir dan paranoid.
Sadar tak sadar aku menyusulnya, mencari keberadaan tangannya yang sekarang mungkin saja mencucurkan darah segar, tulang-tulang jarinya mungkin saja patah dan ia mesti di larikan ke rumah sakit.
Rumahnya yang besar dan membingungkan serta gaun dan sepatu yang begitu menyulitkanku menemukan si setan. Ia tidak berada di kamar atau di ruang kerjanya. Aku harus membuat gaduh dengan menanyai para pekerja untuk mengetahui keberadaannya.
Tentu saja rumah sebesar ini punya klinik kesehatan sendiri, tapi Aime tak pernah menunjukkan padaku. Ia duduk di sofa dengan dibantu seorang pekerja wanita, lengan kemejanya tergulung hingga siku, menyingkap tangannya yang kokoh. Menyadari diriku yang masuk ke sana dan berjalan mendekat ragu-ragu, ia langsung membuang muka.
Dengan jelas aku bisa melihat darah mengalir ke ujung jarinya dan menetes mengenai rok seragam berwarna gelap pekerja itu. Perasaan bersalah tak bisa tak hinggap di hatiku, sebab akulah biang pancing emosinya yang tempramen itu.
"Biar aku saja" kataku pada pekerja itu, mungkin terdengar bossy sebab pekerja yang tampak seumuran denganku itu tampak kurang senang. Aku tidak tahu apakah ia marah karena aku yang menyebabkan majikannya bersimbah darah atau karena ia menaruh harapan kepada Jay Sykes. Tapi aku menepis pilihan kedua. Pekerja muda itu meninggalkan kami setelah membungkuk hormat memohon izin undur diri. Kalau tidak salah dia salah satu dari tiga pengurus di dapur.
Kuletakkan tangannya yang besar dan kokoh di atas tanganku yang mungil dan kurus, sebuah perbedaan yang dominan. Saat tanganku bersentuhan dengan telapak tangannya, aku merasakan kelembutan di sana, bertolakbelakang secara signifikan dengan tanganku yang kasar dan kapalan.
Aku membersihkan serpihan cermin yang masuk dan menerobos kulit jari-jarinya, dan darah segar mengalir saat aku mencoba mengangkatnya dari sana. Meski meringis saat aku mencabut serpihan cermin, menekan agar darahnya berhenti keluar dan mencoba membersihkan darah yang menyembur dari jarinya, ia tetap memalingkan wajahnya dariku.
Astaga.
Aku benar-benar tidak mengerti sebenarnya ia punya berapa banyak lagi kepribadian. Sesaat yang lalu ia mengaktifkan mode setan dan sekarang mungkin mode kekanak-kanakan yang ia aktifkan.
"Kau harusnya ke rumah sakit. Jari-jarimu mungkin saja retak atau patah tulang, dan lihat darahnya tidak mau berhenti. Kau bisa mati kehilangan banyak darah jika terus begini" kataku mengomel seperti mengomeli adik-adikku yang nakalnya minta ampun, meski lebih sedikit hati-hati, sih.
"Apa pedulimu" katanya memberengut dan tidak lagi berpaling dariku.
Aku menahan tawaku, merasa begitu gemas dengan tingkahnya. Ingin rasanya aku mencubit, memporak-porandakan wajahnya yang tampak begitu manis dan mengemaskan untuk ukuran seseorang yang selalu menatap bagai malaikat pencabut nyawa.
Oke, aku akui, setelah dilihat-lihat dia memang punya sisi manis juga sih.
Berusaha membersihkan lukanya dan tidak terkikik sungguh hal yang sangat sulit kulakukan.
"Apa lukaku tampak seperti lelucon sekarang?" tanyanya makin cemberut.
Mulutku langung terkatup, menghentikan cekikanku, takut-takut ia bakal berapi-rapi lagi seperti sebelum-sebelumnya. Aku belum siap mental dan tidak ingin melihat ia menghancurkan ruang kesehatan pribadinya yang dipenuhi sejumlah alat medis dan beberapa botol cairan kimia. Dan berakhir di rumah sakit sehingga aku punya penyesalan dan rasa bersalah lebih besar lagi.
Tanpa mengatakan apa-apa, aku memilih untuk fokus memperban lukanya yang sudah bersih dari serpihan cermin. Setelah selesai kuletakkan tangannya di atas pahanya, aku hanya bisa terbahak dalam hati ketika melihat tangannya yang sekarang nampak begitu lucu.
"Aku tidak pernah hamil dan kau tidak pernah menghamiliku" kataku tak lama setelah meletakkan cawan tempat kapas-kapas serta serpihan kaca, penjepit dan alkohol yang tadi digunakan keatas meja.
Ia menatapku seperti melakukan pertentangan dengan apa yang ia ketahui dan sedikit mendongak mencari-cari udara untuk menyegarkan pemikirannya "Aku sudah melakukan pemeriksaan, mereka mengatakan aku dalam kondisi prima dan kau juga" katanya mencoba menyangkal tidak percaya pernyataanku.
"Aku tahu, tapi aku mengunakan pengontrol kehamilan dan Kyoji bukan pacarku atau apapun yang kau imajinasikan. Dia sepupuku dan aku mencintainya seperti keluargaku sendiri. Dan satu hal lagi, aku ke sana tidak pernah tersentuh dunia malam seperti yang ada di otakmu" jelasku panjang lebar sambil berusaha berpura-pura menyibukkan diri membersihkan perban dan obat-obatan yang tadi digunakan, lalu menyesali seluruh ucapanku setelahnya. Aku merasa begitu bodoh karena berusaha keras menjelaskan sesuatu yang rasanya tidak penting.