Aku tidak tahu lagi mode apa yang ia aktifkan saat memperbarui posisi duduknya agar lebih dekat ke arahku, bahkan aku bisa merasakan paha kami yang saling bersinggungan. Ia tersenyum sambil merapikan anak rambutku kebalik telinga dengan tangan kirinya, lalu mengelus pipiku hingga dagu dan menariknya agar aku langsung bertatapan dengannya.
Tatapan tanpa kata-kata itu mengunciku dalam pesona mata abu-abunya yang indah, kali ini tidak kejam lagi.
Jantungku malah melompat-lompat tak karuan saat wajahnya semakin mendekat dan tatapannya makin dalam padaku bahkan aku bisa merasakan dan mendengar deru nafasnya.
Tanpa kusadari kedua tanganku telah mencengkram gaun malam abu-abuku di atas paha sedangkan tumitku terangkat dengan sendirinya.
Aku menahan nafas saat bibirnya hampir tanpa jarak dengan bibirku. Kebingungan antara menolak atau menyerah dalam pesona yang bagiku kuat menggoda.
"Aw" ringisku berpura-pura kesakitan dan langsung bangkit, membuat ia menatapku keheranan juga terkejut dengan reaksiku "Aku kebelet kencing" kataku sebelum lari terbirit-b***t keluar dari sana dengan wajah panas dan aku yakin sekarang sudah memerah.
Aku sungguh sangat gugup dengan jantung berdetak dengan cepat.
Kilasan bagaimana ia mengigit bibir bawahnya dan membasahinya dengan wajah kecewa membuat sejurus perasaan aneh bersarang di sudut kecil hatiku.
Kupejamkan mata dan menggeleng pada diriku sendiri menghalau semua pikiran aneh yang berkelebat di kepala. Kupegang dadaku yang bergemuruh tidak karuan, jantungku tengah ber-DJ dibalik tulang d**a, dan aku bisa mendengar ritmenya yang kuat dan cepat.
Kalau kau pikir orang sekaya Jay Sykes bakalan datang bekerja sesukanya, punya banyak waktu untuk menghamburkan uangnya dan menjelajah negeri untuk Petualangan s*x, maka aku cuma ingin mengatakan bahwa pikiranmu terlalu dangkal.
Setelah insiden ciuman gagal itu, hampir tujuh hari dalam seminggu aku menghabiskan waktu dengannya, mengikuti setiap kegiatannya. Dan dia telah kembali mengaktifkan mode dirinya yang sangat kukenal, sesosok monster kejam dan kaku yang mengintimidasi.
Ia adalah gila kerja yang lebih sibuk dari siapapun dikantornya, seseorang yang datang paling awal dan pulang paling akhir, sesosok Bos super duper sibuk yang bakalan tetap bekerja dimalam hari untuk sejumlah pertemuan bisnis, bahkan ia tetap bekerja meski akhir pekan sekalipun untuk mensurvei sejumlah pabriknya.
Ia juga tidak punya waktu untuk dihabiskan dengan kekasihnya, itupun jika ia berniat punya, sebab dia terlalu tengelam dalam ratusan laporan yang melayang kemejanya dari berbagai departemen setiap harinya, mulai dari laporan perkiraan statistik, laporan penjualan, periklanan, laporan produk baru hingga pertemuan dengan berbagai kepala departemen, ia juga masih di tunggu sejumlah bawahan akan keputusannya tentang pembelian, penjualan atau pembangunan pabrik, tidak ketinggalan keputusan final untuk pengangkatan dan pemecatan tenaga eksekutif. Meski ia punya penasehat-penasehat ahli untuk setiap bidang perusahaan, keputusan akhir ada di tangannya. Itu sebab Ia tidak suka pembantahan, karena ia pemimpin perfeksionis yang ingin semua berjalan sesuai kehendaknya.
Kadang ada kalanya aku ingin menjadi salah satu laporan yang bertumpuk di mejanya.
Dia juga tidak punya cukup waktu untuk memikirkan s**********n para wanita cantik dan sexy yang ia temui. Mungkin Ia sudah puas bahkan bosan dengan hal yang dinamakan s*x, seperti yang kalian fantasi bersama anak-anak orang kaya seperti Jay.
Ada puluhan pekerja wanita di lantai tempat Jay bekerja, tapi dia sama sekali tidak memandang mereka, meski semua pekerjaan itu berusaha berdandan lebih cantik dari yang lain. Aku sedikit kecewa, tidak ada kisah cinta sekretaris dan CEO seperti yang k****a.
Entah mengapa aku jadi teringat akan seorang seniorku di Sidne High. Suatu hari ia datang kekelasku bersama gerombolan kacungnya dan langsung duduk di depanku sambil tersenyum nakal. Ia bertopang dagu dengan tangan di atas mejaku, mencondongkan tubuhnya sehingga wajahnya terlalu dekat denganku dan aku bisa mencium bau rokok dari nafasnya "Namamu Kaella, kan?" tanyanya tanpa rasa malu. Aku hanya mengangguk tidak peduli karena gosip buruk tentangnya sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah. "Kalau kau yang minta tidur denganku, aku pasti langsung mengiyakan dan kau tak perlu bersusah mengantri. Kau mau itu kan?" katanya dengan sombong dan angkuh seakan dia begitu yakin aku pasti tidak akan menolak. Ia bahkan menanyaiku setiap tahun dengan pertanyaan yang sama, Dan hal itu terus berlanjut hingga kami duduk di bangku perkuliahan. Menurutku dia hanya melakukannya karena aku tidak terjangkau olehnya dan hanya karena rasa penasarannya. Setelah ia mendapatkannya ia akan pergi.
Kristopher Kristoff juga salah seseorang yang terus menggangguku tahun-tahun selanjutnya, dia bukan cowok tertampan di sekolah, meski cukup lumayan sih, tapi ia cowok paling kaya si Sidne High, kurang lebih setara dengan Jay.
Gadis-gadis di sekolah bahkan dengan rela mengantri memberikan tubuh mereka dan mengerubunginya seperti lalat, menjilat dan berusaha menarik perhatiannya. Ia sudah bosan dengan hal semacam s*x atau apapun yang kalian fantasikan, salah satu alasan beberapa laki-laki kaya menikahi wanita dengan tubuh kurang menarik, kurus dan berdada rata.
Sex bukan aktivitas favorit lebih bagaikan kebutuhan tersier bagi mereka. Alasan sugar dady membelanjakan uang mereka hanya karena mereka mencari sebuah kasih sayang dan perhatian tulus berkedok uang yang tak mereka dapatkan bukan semata memuaskan diri.
Berbicara tentang Jay, sejujurnya aku lebih suka dia yang berdebat dan bertengkar denganku dan favorit ku tentu saja dia yang memberengut kekanak-kanakan, bukan dia yang serius dan kaku, penuh formalitas dan sopan santun memuakkan.
Jauh dalam diriku, sejak insiden ciuman gagal itu, aku jadi takut untuk menatapnya jangankan membantah dan mendebatnya. Dan si monster itu juga tidak pernah menatapku lagi atau berusaha menyentuhku.
Jay Sykes memang telah memberikanku ponsel dan secara tak langsung mengizinkanku berhubungan dengan dunia luar sesukaku, tapi aku masih takut-takut.
Pagi sabtuku yang cerah diisi dengan menghubungi adik-adik nakalku dan tentu saja berbalas pesan dengan sahabatku, Yui dan Camilla, yang luar biasa khawatir saat orang tuaku terus mendesak mereka dan juga sebab aku tak pernah muncul di kampus.
Aku bebas tak harus pergi ke kantor atau makan pagi bersama Jay Sykes, sebab Aime mengantarkan sarapanku ke kamar, aku juga tidak mesti menemaninya untuk makan siang dengan kolega bisnisnya. Sabtu hari bebasku.
Rasanya seperti mendapatkan kebebasan yang hakiki saat aku hanya mengunakan kaos oblong yang kucuri dari lemarinya, salah satu kegiatan favoritku saat ini, dan celana dalam tentu saja.
Tapi kesenangan itu tak berlangsung lama, aku langsung menyembunyikan diri yang tertangkap basah nyolong punyanya, gelagapan bergumul dibawah selimut saat ia tiba-tiba telah berada di kamarku dan duduk dengan santainya di ujung kakiku di pinggir tempat tidur mengunakan pakaian santai, satu pemandangan langka bagiku, sebab ia bahkan hampir sepanjang waktu bersetelan rapi.
Sebenarnya aku juga punya sejumlah baju kaos sih, tapi tak ada yang longgar dan berbau maskulin seperti miliknya.
"Kau cekikan kenapa?" tanyanya mengagetkan. Aku tengah tengelam dalam humor khas Camilla McKenna hingga tak menyadari kehadiran si bos setan di kamarku.