Bertemu Kyoji

1126 Words
Malam telah membekap kawasan Mokswa, di jantung kota Prevkaya. Jarum jam pada patung naga di taman kota sudah menunjuk angka 01:08. Sudah lewat tengah malam dan aku masih berada di jalanan, menyandang ransel berat di punggung. Aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ibuku telah menjebakku dalam sebuah drama konspirasi terencana, dan membuatku naik ke ranjang seorang Jay Sykes. Begitu tidak berperasaan dia terhadapku. Apakah ia menghukum aku? Atau penebusan akan kesalahanku dimasa lalu? Karena dia selalu menyalahkan dalam kesalahan yang tak pernah kutahu. Menikah dengan keluarga Sykes? Membuatku terkurung kehidupan keras keluarga kaya itu? Apakah itu yang diinginkan ibu? Aku tidak mungkin bisa hidup seperti itu. Meski pagi hampir menjelang dan aku sudah merasa teramat sangat letih berjalan tanpa henti dan tanpa tujuan. Aku tak pernah menentukan tempat yang aku tuju.Pikiranku beku, seperti beton yang dipadatkan. Entah dimana aku akan tidur malam ini, aku tidak tahu. Ponsel dan dompet sengaja ku tinggal dnegan egoku yang bodoh. Aku ingin ke tempat temanku, Camilla atau Yui, mereka pasti bakal menolongku, tapi harga diri yang rendah membuatku malu. "Hey, apa yang kau lakukan tengah malam begini?" tanya sebuah suara berat di dekatku. Cukup shock hingga hampir terjungkal bertemu sepupu jauhku, Kyoji Hime. Lebih kepada malu, bahwa aku di temukan tengah malam di tempat yang tak pantas. Aku hanya bungkam tak tahu harus mengatakan apa ataupun menjelaskan dari mana. Keluargaku beranggotakan lima orang, dan tiga orang keluarga Kyoji dikeluarkan dari keluarga utama HIME karena sebuah peristiwa besar. Dan ibuku selalu mengatakan akulah penyebabnya. Katanya karena tubuhku yang menggoda. Dan karena kutukan yang melekat pada diriku. Tapi sekarang aku skeptis akan semuanya hanya alasan ibuku saja. "Hai, Kyoji," sapaku gugup. Kyoji masih setampan dan sepeduli yang kuingat. Wajahnya masih penuh kebaikan dan tidak ada tanda-tanda menyalahkan atau membenciku sama sekali. "Kau kabur dari rumah, kay?" tanya Kyoji lagi penuh selidik pada ransel besar di punggungku. "Ya," jawabku dan aku hanya mengangguk lemah tak berani menatap matanya. "Aku bertengkar dengan ibuku. Dan aku tidak ingin pulang sekarang. Bisa-bisa aku menjadi gila berdebat dengan ibuku sepanjang malam." "Apa kau ingin pergi ke tempatku?" tanya Kyoji seperti dia sangat mengenal karakter ibuku juga "Bisakah kau meminjamkan aku uang? Aku akan naik taksi dan menginap di tempat temanku" kataku malu. Mengapa aku begitu bodoh meninggal dompet dan ponselku dalam keadaan marah. "Tempat teman? Jangan berbohong. Kau ingin menginap di luar sendirian, kan? Tidak aman malam-malam begini," kata Kyoji sedikit menegur. "Tidak. Tidak." Aku menyangkal sambil mengibaskan tanganku. "Aku benar-benar akan naik taksi dan pergi ke rumah temanku." "Kau..." Kyoji menunjukkan jam besar di patung naga taman. "Tidaklah sopan bertamu jam segini. Untuk apa kau sungkan ke tempatku. Kita dulu bahkan tinggal serumah," "Kalau begitu, aku akan merepotkanmu." Kataku tidak lagi menolak. "Terima kasih banyak, Kyoji" Aku mau tak mau tidak bisa menolak tawaran laki-laki bersetelan jas lengkap itu, sambil bertanya-tanya apa yang Kyoji lakukan sampai selarut ini. "Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku ketika kami berjalan ke mobilnya. "Sebentar lagi kau akan tahu," Jawab Kyoji misterius. "Oh!" jawabku tidak bertanya lagi. Tak sampai dua puluh menit mobilnya meringsek masuk ke sudut kota menuju kawasan 'esek-esek', red light district. Aku mengigit bibir dengan sejumlah hal buruk dalam kepalaku."Kyoji," panggilku gugup sambil menelan ludah. Tanganku terasa dingin seketika. Kyoji Hime memandangku sekilas sambil tersenyum aneh yang membuat jantungku hampir copot. Kyoji Hime mungkin saja masih menaruh dendam pada keluargaku, terutama padaku. Matanya menatap nanar ke depan, lalu ia menghela nafas keras. "Sejak di tendang keluar dari keluarga utama, disinilah kami dibuang, untuk menjalankan bisnis kotor Hime. Kami membereskan kotoran yang di hasilkan keluarga utama." Aku Kyoji pahit. Ia tersenyum sekali lagi, kali ini nampak sedih. "Bersyukur keluargamu masih bisa hidup dengan baik, tak berbaur dengan kotoran-kotoran ini," katanya. Aku jadi tak enak hati untuk bertanya lebih, keadaan kami yang dulu sangat dekat bahkan Kyoji Hime sudah bagaikan saudara kandung bagiku dan kini terasa amat canggung. Aku hanya memandang ke sepanjang jalan mendapati susana kehidupan malam yang tengah berlangsung. Beberapa turis asing dan lelaki hidung belang tampak menikmati pemandangan yang menjanjikan berbagai kenikmatan duniawi. Gadis-gadis berpakaian seronok tengah melakukan transaksi dengan calon pelanggan mereka. Kyoji Hime memberhentikan mobilnya di depan sebuah gedung bernama HME, tulisan itu terang benderang bersinar lampu di atas gedung. Sejumlah lelaki berbadan tegap dengan setelan jas hitam berdiri sangar di depan pintu masuk. Ketika mata mereka menemukan kami, lebih tepatnya Kyoji, mereka langsung membungkuk hormat, lalu mengawal kami masuk. Di pintu masuk aku mendengar seorang perempuan berpakaian minim dengan d**a separuh terbuka merengek berpromosi, tak cukup dengan hanya kata-kata saja, ia bahkan mengunakan tangan dan tubuhnya. Tak sungkan mengandeng dan memeluk pinggang calon pengunjung. Dan calon pengunjung tersebut juga tak ingin melepaskan kesempatan untuk meraba-raba si perempuan. Di ruangan pertama kami berhadapan dengan meja resepsionis, seorang perempuan dengan pakaian sedikit lebih tertutup duduk di balik meja. Laki-laki yang di gandeng si perempuan berbaris mengantri. "Membayar tiket masuk, termasuk free first drink," jawab Kyoji terhadap pertanyaanku yang tak terucap. Setelah membayar aku melihat para penjaga sangar mulai menggeledah. "Di dalam klub di larang memotret," jelas Kyoji lagi. Aku hanya mengangguk was-was. Segerombolan lelaki yang masuk hampir bersamaan dengan kami memandangku dengan pandangan penuh nafsu. Aku langsung membalikkan ranselku ke depan, menutupi bagian tubuhku yang mungkin saja mengundang. "Jangan cemas Kay, aku orang pertama yang akan menghajar siapapun yang berani menyentuhmu barang seujung kuku pun," kata Kyoji menenangkan ketika kami masuk semakin dalam dan aku semakin tidak merasa nyaman dan aman. Satu hal yang pasti ingin kulakukan sekarang adalah menutup mata, sebab di sepanjang dinding ruangan diantara remang dan kilatan cahaya lampu gambar-gambar gadis berpose vulgar dipajang. Ketika sejumlah kilasan ingatan muncul secara tiba-tiba di benakku, kenyataan pahit menghentakkan aku menuju dasar jurang. Aku tak jauh berbeda dengan mereka, menjual diri demi uang. Kyoji Hime mengangkat tangan kepada seorang bartender yang sibuk menyiapkan minuman di bar dengan bentuk memanjang ke dalam. Dibelakangnya ratusan botol minuman dalam rak berdinding cermin tersusun sangat rapi. Mukaku terasa panas, beberapa orang tampak menoleh saat kami masuk, pandangan yang serasa menelanjangiku. Belasan gadis belia hilir mudik, beberapa terlihat asyik berbincang dengan pria-pria bersetelan jas lengkap. Aku ingin menghilang saja ketika melihat beberapa gadis tengah melakukan semi-striptease di panggung kecil dekat langit-langit berseberangan langsung dengan mezanin. Aku baru bisa bernafas lega ketika Kyoji membawaku menjauh dari tempat sempit dan penuh bau alkohol serta parfum-parfum aneh yang belum bisa di sesuaikan hidungku. Akses menuju ruangan itu di jaga ketat. Hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan masuk. Ruangan itu lebih mirip dunia lain berupa apartemen mewah yang memisahkan dengan dunia luar. Mataku yang tadi sudah lima watt menyala terang benderang. Kyoji memandangku dengan tatapan aneh. Ia semakin mendekat. "Aku merindukanmu, Kay," katanya lembut dan senang. Ketika ia akan mencapaiku, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Semua menjadi gelap dan terasa dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD