Kekecewaan Terhadap Ibuku

1228 Words
Aku pulang sangat terlambat dengan mata sembab, merah, dan bengkak. Aku tidak ingin pulang sejujurnya, dan tidak ingin menghadapinya semuanya. Aku ingin melarikan diri. Tapi pada akhirnya kakiku masih melangkah pulang, ke rumah dan menghadapi semuanya. Hanya ibuku yang berada di sana, sepertinya adik-adikku belum pulang dari bermain dengan teman-temannya. Soal ayahku, aku tahu ia tidak akan berada di rumah sebelum fajar terbit, bangka tua itu pasti sedang bersenang-senang di rumah bordil lagi atau kasino. Aku sudah membayar semua hutangnya, dan sekarang dia kembali kejalan lamanya. Aku tahu rentenir itu memang nyata, dan ibuku hanya tidak mau mengeluarkan uang untuk ayahku. Dan aku yang mesti harus berkorban. Sayangnya, pengorbananku sia-sia dan tidak ada harganya. "Kau dari mana saja, Kay?" tanya ibuku marah, kedua tangannya bersidekap di depan d**a dan ia seperti sengaja menungguku. Untuk ukuran ibuku yang jarang berada di rumah di siang hari, aku tahu ada hal aneh. Tatapan tidak biasa itu, Ibuku pasti sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan aku pasti menebak dengan benar. "Ibu juga terlibat, huh?" tanyaku tanpa basa basi. Ibuku tampak kaget, ia memilih menatapku dan bungkam. Ya Tuhan. Dia yang menjual aku pada Sharon Sykes. Aku harus tahu itu dari awal. Ada banyak petunjuk yang harus bisa ku hubungkan. Tapi kepanikan membuatku kalut. "Aku anggap itu jawaban ya," kataku tanpa kusadari dengan nada kasar. Aku masuk dan menutup pintu kamarku dengan keras, dan mengurung diri di sana. Meski ibuku berusaha membujuk sekalipun aku benar-benar kecewa, terlalu kecewa, sedih, marah, bahkan putus harapan dan patah semangat, tapi tidak tahu bagaimana melampiaskannya. Tapi aku tahu ibuku tidak akan melakukan tindakan seperti membujuk, belum pernah sekalipun aku melihat ibuku mengalah. Itulah sebabnya dia dan ayahku tidak pernah akur dan bisa hidup damai. Ayahku seorang lelaki yang memiliki harga diri juga, tapi ibuku selalu menginjak-injaknya, menyalahkan, mendebat dan memeranginya, tak sekalipun ibuku mau kalah. Dan sekaranglah aku menyadari betapa egois dan benar sendiri ibuku. Akulah sang keledai bodoh yang dia permainkan dan dia gunakan sesuka hati. Dia tidak pernah mempertimbangkan perasaanku. Tindakannya yang menjebak, drama yang begitu nyata, permainan yang begitu handal, semuanya yang dia lakukan sama dengan menjual diriku kepada keluarga Sykes. "Kay, dengarkan ibu!" bentak ibuku kesal sambil mengetuk pintu kamarku keras-keras, sama sekali tidak berusaha membujuk. Aku tidak ingin mendengar suaranya. Setiap kata terasa menusukku. Bagaimana aku bisa percaya, semuanya terlalu mendadak untukku. Dan aku merasa tidak bisa percaya. Aku yang tak pernah mendaftarkan diri di situs-situs prostitusi, tiba-tiba mendapatkan pelanggan sekaya Sharon Sykes, harusnya aku sudah menyadari dari awal, ibuku yang mencarikan pelanggan, menjual anaknya demi kembali ke keluarga besar Hime. Ibu tanpa memikirkan perasaanku, membuat kesepakatan dengan Nyonya Sykes agar aku bisa tidur dengan Jay dan mengandung anak untuk menikahi keluarga kaya, dan pernikahan itu dijadikan sebagai kontrak kerja sama Hime dan Sykes, dan Ibuku bisa masuk kembali menjadi putri manja yang kaya. Menikmati kejayaan dan kekayaan seperti di masa lalu. Tapi semuanya dilakukan dengan mengorbankan kebahagiaan dan kebebasanku. Aku manusia. Bukan benda. Dan Aku sangat putus asa, karena pelakunya ibuku sendiri. "Aku kecewa, Mom! Kalian memperolokku seperti keledai, dan aku begitu bodoh tidak menyadarinya semuanya dengan cepat," teriakku histeris. "Kau benar-benar tega menjualku! Hanya demi masuk keluarga Hime dan kesombonganmu, kau korbankan aku. Kau anggap apa aku? Apa aku benar-benar anakmu? Atau aku hanya alat bagimu, alat yang bisa kau gunakan dan perlakukan sesukamu? Salahkan aku, jual aku, gunakan aku, korbankan aku! Kenapa kau tidak membunuhku saja. Pernahkan kau merasakan betapa terlukanya aku?" "Kay, ibu benar-benar minta maaf. Ibu hanya ingin menyadarkan ayahmu dan kau, Kay," kata ibuku meminta maaf, tapi tak sedikit maaf dalam nada suaranya. "Aku tak ingin dengar apapun alasannya," kataku sambil mengemasi barang-barangku ke ransel. "Aku tidak percaya lagi apapun yang kau katakan! Jangan perlakukan aku seperti bocah lima tahun!" Menyadarkan aku? Ibuku pikir aku tidak sadar? Tidak sadar bahwa ialah yang melakukan semua kejahatan. "Kay, ibu tahu ini salah. Tapi ibu tidak punya pilihan lain. Kita tidak bisa hidup seperti ini terus menerus. Adik-adikmu perlu masa depan yang lebih baik. Kita perlu tinggal di tempat yang baik. Berhenti dicemooh dan dipandang rendah orang lain. Dan juga, Kau benar-benar tidak punya ketertarikan pada laki-laki, dan itu membuat ibu khawatir. Ibu sudah mempertimbangkan semua ini, dan Sykes-lah yang terbaik untukmu," kata ibuku masih membenarkan diri sendiri. "Kau benar-benar akan hidup dengan baik di keluarga Sykes." "Untukku? Itu terbaik untuk kepentingan kalian semua. Kalian bahagia dengan mengorbankan aku. Memasukkan aku kedalam neraka dan penjara. Sekarang aku sadar, kalian sengaja menyeret, memaksaku untuk memulai bisnis, dengan semua rencana busuk kalian paksa juga aku untuk menikah keluarga Sykes yang ketat dan kejam itu," teriakku marah. Aku benci semua ini. Ibuku yang tak menunjukkan sedikitpun penyesalannya, wajah dengan kemenangan itu, aku tidak tahu dengan siapa dia bertarung lagi. Tapi aku sangat mengenal ibuku. Dia pasti tengah membandingkan dengan seseorang! Seseorang yang juga memiliki tujuan masuk mendaki dan menikah dengan keluarga Sykes. Sekarang aku menyadari segalanya, mungkin ibuku otak di balik hal mengakibatkan melemahnya Hime Enterprise beberapa tahun lalu, ibuku si rubah dalam bayangan itu. Pamannya, Arata Hime, bukan penjahat dalam keluarga melainkan tindak licik ibuku yang memanipulasi seakan itu dia. Aku tahu bahwa aku juga disalahkan selama bertahun-tahun demi menutupi kesalahan ibuku yang lebih besar di belakangku. Tidak pernah ada cinta di hatinya. Yang berhubungan langsung dengan Ratu AA Enterprise, Sharon Sykes, tentu ibuku juga. Pantas saja beberapa waktu lalu ibuku sering berdandan dengan pakaian mewah yang dibelikan paman Arata dan menghadiri pesta ini itu. Semuanya dilakukan demi kepentingannya. Dan akulah tumbal untuk kepentingannya itu. Demi sebuah tujuan, tujuan untuk kembali berkuasa dalam keluarga Hime, ibu mengorbankan aku. "Kay, meskipun kau mengelak sekarang kau sudah punya kontrak itu. Janin itu tidak salah. Jangan terlalu di ambil hati, wanita dingin dan tidak berperasaan sepertimu tidak akan punya masalah menghadapinya," kata ibuku lagi, membuat kemarahanku makin mendidih. Aku membuka pintu kamar dan ibuku tepat berada di depannya. "Ibu pikir aku punya kontrak itu?" tanyaku memandang marah dan juga mengejek samar. Ibuku nampak tertegun sejenak, lalu mengangkat kepala dan memandang tidak percaya. "Kay, jangan bilang kau... " "Aku tidak sejahat itu untuk membuang jiwa kecil nan suci. Tapi, dari awal dia memang tidak pernah ada. Ibu pikir aku masuk perangkap kalian untuk apa? Aku hanya ingin tahu siapa dalangnya. Semuanya direncanakan rapi dan itu sangat ganjil untukku. Aku hanya perlu menghubungi Dokter Marsal dan benar saja, itu bukan kontrasepsi," sergahku menumpahkan segalanya. "KAU... " Ibuku tampak geram, tangannya terkepal kuat, tatapan matanya nampak seolah-olah dia bakal menelanku hidup-hidup di detik berikutnya. Aku kenal ibuku, kekalahan tidak boleh ada dalam kamus hidupnya. Kekalahan bagi ibuku hanyalah sebuah kelemahan. Dan tak boleh ada kelemahan dalam dirinya yang sempurna. Dan bisa kulihat dengan jelas ia menahan kemarahannya yang meledak-ledak. "Rubah kecil... " kataku lirih sebelum melewati ibuku dan berjalan keluar dari rumah. "Kau kemana Kay?" teriak ibuku dari belakang dan penuh kemarahan yang tak tertahankan. Aku hanya melambaikan tangan mengucapkan selamat tinggal. Aku sangat kecewa, kecewa berat. Kadang aku merasa hidupku tidak berarti. Statusku di hati ibuku selalu lebih rendah dari James dan Hewitt. Mungkin karena aku perempuan, ibuku yang patriarki tidak menyukainya, mungkin juga aku tidak terlalu pintar, dan sempurna, tak sesuai keinginannya. Dan status adikku tidaklah lebih tinggi dari egonya. Ada kalanya aku melihat tatapan kebencian dari ibuku, seolah-olah aku melakukan kesalahan besar terhadapnya, padahal aku belum melakukan apa-apa. Dan terkadang dia melihatku seolah-olah mencoba mencari sosok tertentu dariku. Aku bingung dan hilang arah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD