Sesuai janjinya, Nyonya Sykes menepati membayar jika aku sudah selesai melakukan pekerjaan kotor itu, dan ia langsung mentransfer ke rekeningku bahkan membayar lebih banyak dari kesepakatan beberapa jam setelah aku sampai di rumah.
"Terima kasih, Nyonya Sykes," kataku berat. Aku merasa di rugikan, tapi demi kesopanan aku tetap meminta terima kasih.
Tapi setelahnya, aku terus merasa takut, entah mengapa. Ayahku di bebaskan setelah membayar semua hutang judinya, dan di kembalikan utuh karena aku membayar Im$ 50.000 dimuka.
"Ada apa denganmu Ella?" tanya Camilla McKenna ketika aku menemaninya berbelanja. "Kau tampak sangat terganggu, bukankah masalahmu sudah terselesaikan?" lanjutnya dengan alis terangkat.
"Ada beberapa masalah dengan toko kueku," jawabku tersenyum pahit dan berbohong, takut Camilla bisa melihat melalui wajahku, jadi aku pura-pura melihat-lihat gaun yang tak mungkin bisa aku beli.
"Oh, jika itu masalahnya, kau tanya saja Yui. Dia sudah terbiasa mengurus banyak masalah bisnis." Camilla menyarankan sambil memilih baju-baju yang terpajang di salah satu toko di mall kelas atas Prevkaya.
Aku lega dia percaya begitu saja.
"Dia pasti sangat sibuk sekarang, sebentar lagi akan awal bulan. Majalah mereka sekarang di waktu kritis penerbitan," balasku masih mencoba sebaik mungkin memiliki gaun-gaun itu.
Aku agak iri dengan Yui Kito, dia lebih muda dariku, lebih pintar, lebih cantik dan lebih sukses. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa membagi waktunya, kuliah dan bekerja di majalah sebesar dan seterkenal DEpH pada saat yang bersamaan, bahkan aku pernah mendengar dia masih mengurus sebuah panti asuhan.
Padahal di masa awal kuliah dia diintimidasi oleh beberapa orang, sendirian tanpa bantuan keluarga dan menghadapi banyak hambatan, tapi tidak menghentikan semangat juangnya.
"Kau masih di sini, kan?" tanyaku pada Camilla.
"Tidak pasti sih. Aku harus melihat-lihat lagi yang mana yang kusuka."
"Oh, tunggu aku sebentar. Aku akan ke toilet," kataku dan pergi sebelum Camilla merespon.
Aku sebenarnya merasa sangat tidak nyaman. Aku takut jika aku akan menangis dan dilihat Camilla. Aku memasuki toilet dan menunduk, dan kurasakan seseorang menabrakku.
Aku akan mengumpat ketika orang itu telah menghilang begitu saja dan aku melihat sebuah kertas hampir terinjak kakiku.
Hanya sebuah alamat dan bertanda Sharon Sykes.
Dia bisa langsung menghubungiku, mengapa mengunakan cara aneh begini?
Awalnya aku tidak tahu, tapi setelah banyak kejadian terjadi aku tahu kalau itu tindakan Nyonya Sykes.
Meski transaksi sudah selesai, tapi Nyonya Sykes punya cara aneh untuk membuatku setuju bertemu dengannya lagi, dia bahkan hampir tahu semua yang kulakukan.
Bahkan kapan aku berada di toilet umum sekalipun. Ia memberikan undangan untuk bertemu di toilet umum lewat seseorang yang tak tahu itu siapa.
Dia bahkan tahu kapan aku keluar dari rumah, aku seperti diawasi setiap saat dan itu membuatku tidak nyaman dan terus di rundung rasa waswas, bahkan menanggalkan pakaianku dikamar mandiku sendiri.
Secara khusus ia menjemputku sesuai tanggal dan tempat yang telah ditentukan, lalu berujung terkurung dengannya dalam ruangan private sebuah restoran keluarga.
"Bolehkan saya bertanya sesuatu Nyonya Sykes?" kataku sebelum pergi. Ada ratusan pertanyaan berkelana di benakku, terus berputar dan mengorek-ngorek benakku. Sejak hari itu tidak semalampun aku bisa tidur dengan tenang dan damai, jangankan nyenyak dan berdengkur.
Sharon Syker menatapku penuh selidik "Tentu, Apa saja?" ia lalu menggoyang-goyangkan minuman di gelasnya lama, lalu menyesap sedikit wine dari gelas yang ia pegang sedari tadi. Sama seperti terakhir kali bertemu dengannya, tampilannya begitu berkelas, bahkan berlebihan. Jari-jari kurus dan terawatnya bertahtakan cincin berlian, pergelangan tangannya dihiasi jam mewah dan mahal. Gaun tanpa lengannya elegan dan dirancang khusus.
Aku memandangnya lebih lama, menguatkan niat dan memberanikan diri untuk bertanya "Kenapa anda memilih saya untuk... M-membuktikan anak anda normal atau tidak?" aku benar-benar malu menanyakannya, tapi itu adalah pertanyaan utamaku.
Setelah aku keluar dari Villa Jay Sykes, pikiranku menjadi jernih, dan aku merasa ada banyak celah dalam kejadian-kejadian yang menimpaku yang seharusnya membuatku ragu jika aku bisa berfikir dengan tenang kala itu.
"Kau sudah tahu jawabannya, meski kau tidak melakukan apapun kau bisa saja membangunkan singa tidur" jawab Sharon Sykes terlalu hati-hati dan itu membuatku makin penasaran.
"Sebenarnya bukan jawaban itu yang ingin kudengar" kataku tidak sopan. Aku agak dongkol, seolah-olah aku dianggap dungu oleh wanita di depanku.
Sharon Sykes menghembuskan nafasnya dengan kasar, merasa sedikit tersinggung dengan perkataanku, ia meletakkan gelas wine-nya yang telah kosong di meja, lalu melipat kedua tangannya didepan d**a penuh kesombongan. Ia memandangku dengan penuh penilaian "Alasan lainnya, kau cantik, cerdas, kau mungkin saja punya nilai hampir sempurna saat kau lulus nanti, Ambisius, Jiwa seorang pebisnis ulet mengalir di darahmu, Bakery yang kau jalankan itu mungkin saja menjadi salah satu toko kue sukses melihat perkembangannya sekarang dan lagi, kau sebenarnya cukup kaya jika saja ibumu tidak melepaskan diri dari kerajaan bisnis HIME" Jelasnya.
"Apa maksud anda sebenarnya?" memang ia telah menjawab semuanya, tapi telinga dan otakku bersikeras tidak mau percaya. Tanganku terasa dingin dibawah meja, yang ia minta dariku bukan sekedar tidur dengan putranya, tapi hal yang lebih besar dan terlalu menakutkan untukku hadapi.
"Aku sedang mempertimbangkanmu sebagai ibu dari penerus bisnis kecilku, lebih tepatnya aku menginginkanmu sebagai istri Jay. Putraku. Sejujurnya, Tuan Hime sudah setuju dan mengizinkan ibumu kembali. Terlebih AA dan Hime akan bekerja sama. Kontrak di kertas bisa saja dilanggar kapan saja, kurasa sekarang kontrak seumur hidup itu sudah berada di perutmu" jelasnya lagi dengan nada yang lebih lembut, tidak setajam tadi.
"Tidak mungkin!" pekikku tidak percaya.
Bagaimana semuanya terjadi? Apakah semuanya hanya jebakan yang telah disiapkan agar aku terjun kedalamnya.
Aku tahu dari dahulu Ibuku ingin kembali ke keluarga Hime, hidup dalam kemewahan dan kenyamanan, mampu mengangkat dagu dan memandang semua orang seperti semut.
Tapi tak pernah terpikirkan olehku, keluargaku, yang membuatku rela mengorbankan segala tentang diriku, bahkan mungkin nyawaku, akan menggunakanku seperti ini.
"Suntikan di rumah sakit waktu itu bukan kontrasepsi, kau akan diwisuda bulan depan, perutmu belum akan membesar jika kalian menikah akhir bulan depan" Tambah Sharon Sykes makin menguatkan pukulan padaku.
"Tidak mungkin!" Jawabku dengan pasti.
Sharon Sykes hanya menatapku tanpa mengatakan apa-apa. Aku juga tidak tahu harus berkata apa.
"Percaya atau tidak, aku hanya ingin mengatakan padamu, aku memberimu kesempatan untuk menjadi istri putraku. Kau seharusnya bersyukur, tidak mudah untuk masuk keluarga Sykes. Berprilakulah dengan baik. Aku sudah memberi Hime kesempatan, jangan mencoba-coba mengecewakan Sykes. Karena kami bukan orang yang toleran" Ujar Sharon Sykes lebih kepada mengancam.
Tenggorokanku kering seketika, aku meraih gelas yang tak kusentuh sedikitpun tadi. Kepalaku terasa pusing seketika. "Jay juga terlibat?" tanyaku sambil berharap tak mendengar kata-kata yang kutakutkan.
Sharon Sykes menaikkan alisnya yang terukir sempurna sedikit. "Menurutmu?" jawabnya balik bertanya.
Entah apa yang menghasutku untuk menyiramkan wine yang sedang ku pegang kepada nenek sihir itu.
Jika selama ini kupikir adegan menyiram minuman pada lawan bicara tokoh di drama adalah sebuah klise, sekarang kusadari alasannya.
Aku tak tahu harus mengatakan apa, hanya kemarahan yang kusalurkan ketika menyiramnya.