Lagi

1071 Words
"Bagaimana kau masuk ke rumahku?" tanya Jay Sykes serius. Lagi-lagi pertanyaan itu. Aku tidak tahu harus menjawab apa, mana mungkin aku mengatakan bahwa ini semua pekerjaan rapi ibunya, mengantarkan aku kesini dengan segala peringatannya dan membuat aku masuk rumahnya dengan mudah. Aku menelan makanan di mulutku dan menjawab, "Soal itu... Hmm, entahlah." Aku melirik kesamping menghindari matanya. Ia menatap dengan tatapan dalam dan kejam itu lagi, matanya menatap tepat ke mataku dengan kemarahan besar dan aku benar-benar gemetaran menelan ludah panik ketika bersirobok dengan tatapannya. Kucoba berpaling dari tatapannya, tapi tidak bisa. Kucoba berdiri dan melarikan diriku keluar dari sana, tapi aku tidak bisa juga. Matanya seolah menawan dan melumpuhkan aku dengan kilatan kejam membelenggu. Semakin aku mencoba melawan, semakin kusadari betapa sia-sia upayaku. Sendok dan garpu dengan kuat ku cengkram tanpa kusadari. "Baiklah... Baiklah... Aku hanya turun di pemberhentian bus terakhir, lalu berjalan saja sampai ujung jalan, sial bagiku sebab hujan turun. Waktu itu sudah gelap dan aku hanya berlari ke arah cahaya di tengah perkebunan berencana berteduh sebentar, dan aku tidak tahu bahwa ada villa semegah ini," kataku mencoba setenang dan selogis mungkin menjelaskan. "Aku hanya bertanya bagaimana kau bisa masuk nona udang!" tegurnya dan Ia kembali bersikap dingin dan kasar. Sesaat yg lalu ia bagai taman indah penuh bunga bermekaran dan sesaat setelahnya taman indah itu bertranformasi, berubah menjadi hutan kematian. "Nona udang katamu? Aku punya nama. Dan bagaimana aku masuk, aku hanya menekan angka setelah di beri petunjuk dari makhluk di sekitar sini," balasku, dan tanpa sadar nada suaraku menjadi tinggi sebab harga diriku terluka karena hinaannya. Tapi kenyataan lain aku merasa aneh di dekatnya. "Jangan membual. Aku tahu kau memiliki daya imajinasi yang tinggi, tapi aku tidak akan percaya hal-hal semacam itu." Tidak mau kalah, ia meninggikan suaranya yang berat itu. "Aku hanya menekan sembarang angka dan pintunya terbuka begitu saja." "Kau melarikan diri dari sesuatu?" tanyanya menyambar diriku. Melarikan diri? Dia pasti bercanda. Ibunya yang menyeretku ke sini. Tapi dia tidak bisa meneriakkannya. "Benar, ada monster jahat di rumahku, dan aku sedang mencari pedang ajaib untuk membunuhnya sesuai petunjuk seorang nenek gila," kataku akhirnya. "Baiklah." kata Jay Sykes sambil mengangkat tangan menyerah. "Ku ucapkan selamat. Kau bisa langsung masuk rumah sakit jiwa. Tapi aku sungguh tidak peduli, dan aku juga tidak berniat tahu masalah orang gila sepertimu." lanjutnya mengejek. "Tidak peduli? Tapi kau menanyakannya!" kataku langsung tanpa berfikir. Berdebat dengannya membuat otakku cepat panas. Dia tidak suka di debat, tatapan kejamnya itu menunjukkan betapa ia benci dibantah, tapi entah mengapa aku berani melakukannya. Ia menatapku dengan tatapan itu lagi. Sebuah kemarahan yang abadi, tapi tidak se-menakutkan tadi. Inginku colok saja matanya. "Baiklah-baiklah. Kau tidak peduli akan hal itu. Lalu apa yang kau lakukan disini?" tanyaku mencoba meredakan suasana yang makin tegang, membuat tubuhku berkeringat dingin. "Ini rumahku, terserah padaku melakukan apapun, dan bukan hakmu untuk tahu," katanya. Ya Tuhan. Aku hanya mencoba mengalihkan pembicaraan. Tapi lihat, dia benar-benar jelmaan setan. "Jangan sensitif begitu. Aku hanya bertanya basa-basi, dari pada tidak ada yang kutanyakan. Aku juga tidak tertarik tentang apapun yang kau lakukan, aku hanya bertanya karena tidak ingin terlihat makan bersama patung," kataku. "Apa katamu?" tanya Jay Sykes. "Bang," kataku sambil mengarahkan jariku membentuk pistol "Kena kau." Aku terkekeh keras. "Kau pikir itu lelucon?" "Tuan patung, apakah kau selalu bertampang datar dan memasang wajah serius begitu? Huh? Hidup ini tidak seru jika semua orang seperti anda tuan patung, sehingga manusia butuh lelucon di atas kebosanan itu." "Tuan patung katamu, aku punya nama." "Siapa?" "Jay Sykes. Kau?" katanya sambil mengulurkan tangannya. Aku menjabat tangan itu ragu. Ketika aku berada di sana kehangatan mengalir menggetarkan sesuatu pada diriku. Kehangatan aneh yang tertutup. "Kaella Kaznov." Namanya Jay Sykes, keahliannya adalah melakukan pelecehan emosional, dan aku tidak ingin menyelamatkan kelangsungan umat manusia bersamanya. Catat. *** "Kau sudah selesai?" tanya Jay Sykes. Aku tahu asal pertanyaan itu sebab aku sudah mulai bermain-main dengan makananku. Pikiranku berkelana, bagaimana caraku keluar dari lingkar kenyamanan aneh yang ia ciptakan. Perubahan moodnya yang aneh membuat aku gila, sesaat dia marah, lalu ia berubah baik sesaat setelahnya. "Oh, ya," jawabku tergagap. Aku harus secepatnya pergi dari villa mewahnya yang kini berubah menjadi tahanan. Tatapannya mulai membuatku tidak nyaman. Itu bukan kemarahan lagi, tapi... Boleh ku sebut tatapan seorang predator, aku mengenal dengan baik tatapan seperti yang dia lakukan sekarang, tatapan aneh yang serasa menelanjangiku. Jadi yang kulakukan hanya berdiri dan membereskan meja, berusaha menghindari pandangan siap menerkam kapan saja itu. "Biarkan saja di sana, Mrs.Belvis akan membersihkannya nanti setelah aku pergi." katanya tampak kurang senang. "Aku hanya mencuci piring dan itu bukan memindahkan gunung," kataku mencoba rileks, berharap ia tidak akan menyerang dengan kasar lagi. Ketika aku mencuci piring Ia tiba-tiba memeluk dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahuku. Aku terkesiap keras. "Apa yang kau lakukan?" pelukan itu memang nyaman tapi membuatku gelisah. Siapa pria ini, dan apa yang telah ia lakukan pada pangeran AA Enterprise yang dingin dan kejam? "Aku hanya ingin melakukannya. Apakah itu akan lama?" tanyanya manja. Astaga, ia pasti kesurupan setan manja. "Jika kau terus begini, ya. Aku bakal butuh seratus tahun lagi untuk selesai," kataku mencoba melepaskan tangannya. Tapi ia malah mempererat pelukan itu. "Kau bisa menggunakan mesin pencuci piring," katanya sambil memindahkan dagunya. "Untuk piring sebanyak ini? Kau cuma buang-buang listrik," bantahku dengan keras. Permainan apa yang ingin ia lakukan saat ini? Sesaat yang lalu ia masih menatap mengintimidasi. "Tidak masalah. Aku bisa membayar listrik satu distrik jika mau," balas Jay sombong. "Terserah kau Tuan patung sombong dan kaya raya. Tapi sekarang lepaskan aku." Aku makin merasa terganggu ketika ia menggesekkan puncak hidungnya yang tinggi ke leherku. Mengendusnya dan hembusan nafasnya menciptakan sengatan di kulitku. "Baiklah, tapi setelah ini... " "Setelah ini apa?" sergahku. "Kau sudah baikan?" "Ya." Kukira ia menanyakan keadaan demamku. "Di bawah sana?" bisiknya menggoda, sambil menggigit lembut leherku. Bisikan itu membuat wajahku panas seketika, dan itulah tujuan tatapan sialan itu. Dia mencium leherku, setiap kali ia melakukannya, aku selalu merasakan getaran yang memberikan sensasi aneh di antara pahaku. "Aku menganggap itu jawaban, iya." Ia lalu berbisik lebih halus di telingaku. "Aku menginginkanmu lagi. Dan aku tidak bisa menunggu." Ia melepaskan sarung tangan yang ku kenakan dan sekali sentakan membalikkan tubuhku untuk berhadapan langsung dengannya. Tubuhku mulai menerimanya dan tidak lagi berusaha melakukan perlawanan, aku menyerah dalam nafsu yang murni. Kupikir itu hal paling gila yang pernah kulakukan seumur hidupku. Akhir pekan melelahkan yang aku habiskan bersamanya. Dan dia membuatku meresmikan hampir semua tempat di villanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD