Surga dan Neraka

1131 Words
Aku ingin mengeluarkan suara, tapi menjadi erangan karena tertahan mulutnya yang agresif hingga membabi buta, sehingga yang terdengar hanya gumaman tak jelas bercampur desahan. Lidahnya memaksa untuk masuk, meski aku menolaknya, namun tubuhku terlalu hanyut di dalam sensasi itu. Permainan lidahnya yang handal, tangan kokoh yang dengan kuat menahan tekukku, membuatku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Meski tanganku yang bebas terus memukul, mendorong, mencakar, atau melakukan apa saja agar ia menghentikan tindakan brutalnya, tapi tak satupun usahaku membuahkan hasil. Bahkan malah membuatnya makin tertantang menaklukkan dalam belaian demi belaian lidahnya di lidahku. Kakiku mulai terasa kehilangan pijakan, dan aku merasa melayang, bahkan tulang-tulang kehilangan fungsinya. Aku belum pernah merasakan hal semacam itu sebelumnya. Sekuat tenaga aku mencoba memposisikan diri agar tidak merosot kelantai dengan mencengkram lengannya ketika ciuman itu makin dalam dan intens, memberikan kesempatan padanya untuk meremas dua bukit kembarku, menjalar ke b****g. Ia melakukannya dengan cepat dan mengairahkan. Kekerasannya makin mengeras dan makin ditekankan padaku, membuat sekujur tubuhku panas. Ketika aku benar-benar butuh udara ia melepaskan ciuman itu dan menyandarkan dahinya di dahiku. Aku terengah-engah sama seperti dirinya. Dan kami terdiam sambil berpacu nafas. Aku terbangun dan mendapati dirinya yang memandangku. Padangan yang begitu dalam. Dan aku melihat keinginan di dalamnya. Dia menginginkanku, aku tahu itu. Meski aku tidak berpengalaman, aku tahu tubuhku menginginkannya juga, sama seperti dirinya. Kami saling menginginkan satu sama lain. Keinginan paling primitif di dunia. Jay sykes yang dikira penyuka sesama oleh ibunya sangat gila di ranjang, dan sungguh membuatku yang tak berpengalaman kewalahan. *** Laki-laki yang memaksaku kejang-kejang tiga kali itu sudah berpakaian lengkap dan sepertinya sudah selesai mandi. Ia menyeringai dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. "Beberapa saat yang lalu kau masih perawan, huh?" cetusnya penuh kemenangan. Aku tarik selimut dan menutupi wajahku yang memanas sebab aku begitu malu dan merasa bersalah. Benar kata orang, terpaksa seorang wanita berhubungan badan bukan soal tubuhnya, tapi soal batinnya yang dikoyak-koyak. Aku sudah melanggar etika dasar keluargaku. Aku merasakan ia mengusap kepalaku dengan lembut. "Mandilah, aku sudah menyiapkan air panas untukmu dan juga pakaian bersih, meski itu hanya pakaianku. Turunlah jika kau sudah selesai," katanya. Ketika Ia benar-benar pergi keluar dari kamar itu, dan aku segera bangkit dan mengunci pintu. Isak tangis pecah saat aku menyadari diriku merasa nyeri di sana. Tubuhku, terutama kakiku, terasa baru saja tertabrak dengan keras. "Sial," kutukku. Pantas saja banyak temanku mengatakan kalau pengalaman pertama itu bagaikan berada diantara surga dan neraka. Berendam dalam air panas memang mampu meredamkan rasa nyerinya dan membuatku lebih rileks. Pekerjaanku memang sudah selesai, tapi tak sedikitpun aku merasa lega. Malah dilanda rasa bersalah dan dihadang penyesalan yang meluap-luap. Setelah mandi dan membersihkan diri, aku turun menuju ruang makannya yang luas dan indah, karena ditata oleh para ahli, makin mengingatkanku pada penderitaan yang telah aku lalui selama beberapa tahun terakhir. Dulu ketika keluarga kami masih tinggal di rumah besar keluarga Hime, Keluarga asal Ibuku, keluarga berusia seabad yang kaya raya, aku juga pernah merasakan makan di ruang yang begitu mewah dan dilayani sederet pelayan. Sekarang, aku mesti merendahkan diriku, menjual kesucianku hanya demi uang untuk membayar hutang ayahku dan mempertahankan hidup. Ada kalanya aku juga membenci Kelurga besar Hime yang begitu tak toleran. Mengusir kami tanpa memberikan apa-apa. Membiarkan kami berjuang di kehidupan yang begitu keras dan kejam. Mudah untuk hidup dari kemiskinan menjadi kemewahan, tapi alangkah sulitnya hidup dari kemewahan menjadi kemiskinan. Tidak perlu mengkhayalkan aku berjalan anggun menapaki satu persatu anak tangga dengan gaun indah memukau dan tampilan yang mencengangkan seperti dahulu, aku hanya menggunakan baju kaos dan celana kedodoran karena terlalu besar untuk ukuranku. Saking besarnya aku mesti mengikat bagian bawah kaos dan pinggang celananya. Aku cukup kesulitan mencari ruang makannya, karena villa mewahnya terlalu besar dan membingungkan. Aku tidak tahu apakah inspirasi desainernya memang tema labirin, atau hanya aku saja yang buta arah. Harusnya tadi ia melempariku sekalian dengan peta Villanya yang besar dan semua ruangan yang terlihat sama di mataku. Meski Villa tempat tinggal Keluarga Hime juga besar, tapi tak membingungkan seperti tempat ini. Meski bingung, namun sekali lagi aku di hadang perasaan akrab. Akrab seolah-olah aku pernah berada di villa pribadi seorang pria yang baru saja aku tiduri. Aku mungkin benar-benar menjadi gila, tapi perasaan itu nyata adanya. Mendapati Jay Sykes duduk manis di meja makan yang telah terhidang sejumlah makanan, sejujurnya cukup membuatku terkesan, meski aku tidak begitu yakin ia melakukan semuanya sendiri. Ia tampak lebih hidup, ku akui itu, wajahnya bahkan berganti ekspresi ketika sudut matanya menemukanku. Mungkin penampilanku lebih terlihat seperti lelucon di matanya. "Duduklah dan makan," katanya, meski Ia masih saja bossy. Di luar sudah gelap, dan cahaya matahari telah digantikan penerangan yang menakjubkan membuatku cukup terkesima, pada saat yang saman menyadari aku tertidur cukup lama. Ini tidak biasa, aku punya masalah tidur. Dan disini aku tertidur dalam rentang waktu yang cukup lama. Aku duduk tepat di depannya dalam jamuan makan malam, melihat tangan kekarnya yang indah itu, membayangkan sentuhannya yang telah menjelajahi setiap inci bagian tubuhku, membuat bibirku kering. Aku membasahi bibirku. "Kau tidak berusaha meracuniku, kan?" Itu adalah pertanyaan spontanku entah mengapa. Ia mengerutkan kening samar sebelum menyeringai. Melihatnya menyeringai mengingatkanku pada hal yang tak ingin kuingat. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua sikunya bertumpu di atas meja makan, kedua tangannya saling bertautan dan dia menatapku dengan intens lalu berbisik menggoda, "Aku tidak berencana membunuh partner menyelamatkan kelangsungan umat manusiaku." Sialan. Kata-kata itu membuat darahku mendesis, mengalir deras menuju wajahku, dan tidak ada yang bisa dilakukan selain menunduk malu dan membasahi bibirku yang tiba-tiba terasa kering lagi. Baju santai yang pas di badannya... Astaga, sejak kapan otakku dipenuhi hal-hal kotor begini. Fantasi kotor ketika mataku menatap bibirnya berujung membawa kembali kesadaran akan kenyataan pahit. Aku telah menjual diriku, dan aku begitu menjijikkan. Penyesalan lagi-lagi menghantam, dan kali ini lebih kuat. Kenyataan pahit bahwa aku telah menjual diriku. Merendahkan harga diri, mungkin di matanya, dia sudah memandang murahan, gampangan, atau mungkin lebih rendah lagi sekarang. "Kau tidak berencana makan?" tanyanya biasa saja, seperti tak ada pengaruh apapun padanya setelah hal yang telah terjadi tadi. Kenapa dia tiba-tiba memperhatikanku? Sebuah hinaan? Aku memberanikan diri melihat kearahnya. "Tidak." Aku menolak tapi setelah itu perutku mengeluarkan bunyi tidak mau bekerja sama. "Aku tahu. Makanlah. Aku akan pergi jika kau merasa tidak nyaman," katanya dengan anggukan kecil. Dia tampak begitu santai, sebuah tanya besar bagiku. Dia mungkin sering menghadapi gadis asing yang tidur dengannya. Sehingga tidak sulit mengurusku. "Tidak, tetaplah disini," kataku keceplosan. Penyesalan membuat aku takut sendirian. Ruangannya yang serba putih juga begitu mengintimidasi. "Baiklah, tapi kau harus menjawab pertanyaanku." Pertanyaan? Apa yang ingin dia ketahui tentangku? Aku agak gugup entah mengapa. Keluarga? Tentu saja berantakan. Umur? Aku bukan anak di bawah umur. Kalau dia bertanya aku mengidap penyakit berbahaya, tentu saja aku tidak, ibunya sudah memaksaku menjalani sekelumit pemeriksaan kesehatan. Aku hanya mengangguk sambil mengunyah makananku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD