Aku duduk dan menyandarkan punggungku ke kepala tempat tidur, lalu menutupi dadaku dengan selimut, ya, satu kenyataan bahwa aku masih telanjang di bawah selimut.
"Lewat pintu," jawabku asal, sambil berharap wajah datarnya menyingkir, tapi ternyata aku berharap pada kemustahilan. Wajahnya masih sama tenangnya sejak aku pertama kali melihatnya.
"Aku tidak mungkin menembus tembok, kan, atau tiba-tiba berada di rumahmu melewati lorong waktu, yang benar saja!" lanjutku.
"Aku bukan orang yang bisa kau ajak bercanda," balas Jay Sykes tajam dan dingin. Rahangnya yang sempurna bagai pahatan itu mengeras, sorot mata abu-abunya memandang penuh kesuraman.
"Aku juga tidak sedang ingin bercanda dengan Anda tuan wajah datar. Aku benar-benar masuk lewat pintu depan sana," jelasku lagi.
Aku sama sekali tidak berbohong.
Ia menatapku dengan tatapan kejam, seperti tengah berusaha keras menahan kemarahannya. "Aku juga tahu, jejak sepatu kotormu itu mengotori lantai mahal dan sofa kesayanganku. Yang kutanyakan bagaimana kau melewati pintu dengan keamanan itu? Dasar udang!"
"Udang apa?"
"Level otakmu, sama seperti otak udang," katanya dengan datar, tapi aku tahu dia tengah mengutuk.
Selain datar ia juga sangat kasar. Aku cukup tersinggung dengan kata-katanya.
Apakah lelaki semacam ini tidak pernah bercanda sekalipun dalam hidupnya?
Aku tidak menjawab, lebih baik diam dari pada ia membantai dengan kata-kata lebih tajam lagi.
Aku hanya terkunci di bawah tatapan tidak sukanya, dan mengintimidasi, sambil berusaha keras menerka apakah ia tertarik dengan wanita atau tidak.
Tapi otakku tidak bisa berfikir jernih di bawah intimidasi itu.
Mungkin, dibalik wajahnya yang tampan itu, baik, kuakui dia memang tampan, sangat tampan malah, hanya matanya yang menunjukkan sebuah ekspresi. Aku bahkan menerka dia mungkin mengalami kelumpuhan wajah.
Tangannya yang tadi berada di depan d**a kini tersembunyi dalam saku celananya. "Jawab atau segera keluar dari rumahku!" suaranya meninggi dan matanya benar-benar menatapku penuh kebencian.
"Baik," kataku tersinggung.
Dia pikir dia siapa!
Menghinaku, memperlakukan dengan kasar, meninggikan suaranya, lebih baik aku tidak pernah menyetujui semua ini.
"Tunggu!" sergahnya tercekat. "Kalau kau berani keluar dari sana, kau mungkin tidak akan pernah lagi bisa hidup tenang dalam hidup ini."
Ia berlalu pergi dan kembali lagi dengan melempar kemejanya ke arahku. "Pakai ini," katanya penuh penekanan memerintah.
Entah mengapa ada luapan rasa senang yang aneh pada diriku.
Ia cukup terganggu dengan penampilanku. Tadinya aku begitu putus asa, harga diriku terluka, dan jikalau aku mundur hidupku bakal lebih hancur lagi di tangan ibunya.
Tapi aku juga ragu, meski ia penyuka sesama tentu saja ia tetap bertingkah layaknya gentleman, Ia mungkin telah hidup dari dalam kandungan dengan aturan dan kesopanan mutlak.
"Apa aku membuatmu terganggu?" Aku bersumpah demi apapun tidak ada maksud menggoda, meski mengucapkannya dengan datar, suaraku yang rendah dan serak mengakibatkannya terdengar begitu sensual dan aku membencinya.
"Aku tidak tertarik dengan wanita sepertimu, di mataku kau sudah cukup rendah, dan jangan buat itu lebih rendah lagi. Cepat pakai saja!" ujarnya marah.
Hantaman badai akibat kata-katanya menyakitkan, dan melukai harga diriku amat dalam.
Apa yang sebenarnya aku pikirkan?
Apa yang sebenarnya aku lakukan?
Seharusnya aku tidak tersinggung dengan perkataannya, memang benar aku menjual diriku, tidak bisa dipungkiri kenyataan aku murahan, tapi entah mengapa air mataku mengalir begitu saja.
Tanganku gemetar meraih kemeja itu, kepala tertunduk amat malu, dan aku tidak punya sedikitpun keberanian untuk menatap matanya lagi.
Aku ketakutan dengan dirinya, ibunya dan kehidupan kelam diriku sendiri.
Aku tenggelam dalam kekalutan besar saat ia meninggalkanku sendirian.
Terlambat bagiku untuk mundur.
Terlalu banyak yang harus aku selamatkan, sehingga harus mengorbankan diri seperti ini.
Satu-satunya jalan, hanya berhenti mementingkan diri sendiri.
Saat amarah akan diriku sendiri memuncak, ia kembali masuk.
"Turunlah, kau perlu makan," katanya lembut, tapi tak memandangku sama sekali.
Aku menatapnya tidak suka dan sudut bibirku terangkat mengejek. "Cih, jangan berlagak seakan kau peduli," kataku penuh penekanan kebencian.
Siapa yang bisa menebak ia langsung menarik lenganku, dan menyeret dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan?" pekikku kaget. "Lepas. Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri," kataku lagi dengan lebih jelas. "Lepas!"
Aku meronta dan memohon melepaskan diri, tapi ia terlalu keras kepala untuk mengalah.
"Aku juga tidak sudi kau sentuh, asal kau tahu saja," pekikku makin keras agar ia melepaskan. "Jikalau tidak terpaksa, aku juga tidak bakal ada disini. Laki-laki lembek bertampang datar sepertimu tidak bakal membuatku tertarik sama sekali, sialan. Meski hanya kita berdua yang berada di bumi, aku bakal biarkan saja umat manusia punah. Aku sungguh tidak peduli!" teriakku sekuat tenaga sambil menahan kaki kuat-kuat kelantai.
Ketika hampir sampai ke pintu keluar, ia berhenti dan aku jadi tidak sengaja bertubrukan dengan punggungnya.
"Aduh!" kataku mulai mengeluh. "Kalau mau berhenti harusnya kasih aba-aba, gimana sih!" protesku sewot, memegang kening yang berdenyut.
Aku mengangkat kepala dan menyadari matanya tertuju padaku, memandang, memperhatikanku dari ujung kaki hingga kepala, sudut-sudut bibirnya terangkat, tak terlihat tidak senonoh, namun berbahaya, dan seolah-olah akan menerkam di detik berikutnya.
Aku mulai merasa terancam, apalagi sekarang hanya mengunakan kemeja miliknya.
"Benarkah, huh?" tanyanya berat dan berjalan mendekat.
"A... Apa?" Aku tergagap. Pupil mataku melebar sedang kakiku bergerak mundur ketakutan.
Ia mengangkat ujung kaos yang ia pakai, lalu meloloskannya lewat kepala ketika tanpa berhenti mendekat ataupun memandang nakal.
"Apa yang kau lakukan?" pekikku tidak percaya. Ia bertelanjang d**a mempertontonkan otot-otot perut dan d**a bidangnya yang terlatih dan bagus, membuatku meneguk saliva.
"Menurutmu?" cetusnya main-main.
Ujung jariku terasa dingin bersentuhan dengan tembok, jalan buntu! Dan aku berakhir terjebak di antara dirinya dan tembok, meski sudah berusaha melarikan diri, tapi ia menarik tanganku dan mendesak ke tembok.
Mencoba keras menenangkan pacuan jantungku yang makin ngebut, aku menunduk dalam-dalam, membuang muka dari seringainya yang menelanku bulat-bulat.
Aku terkesiap menahan nafas, tangannya sudah berada di bagian dalam pahaku, bergerak makin ke atas dengan lambat, ia mengelus bagian paling sensitif bagiku.
Seluruh rambut di tubuhku meregang oleh perlakuannya.
Ia makin memepet sehingga kulit kami saling bersentuhan.
Tubuhnya yang tinggi besar itu makin berdesakkan terhadapku, sebelah kakinya menggeser kakiku agar terbuka lebar dan ia makin menempelkan tubuhnya. Aku merasakan sesuatu yang keras sudah tertekan ke pangkal pahaku, dan ia mulai menggesekkan dengan diriku.
"Kumohon lepaskan aku... Argh!"
Sensasinya aneh saat ia tak henti-hentinya melakukan gerakan lambat berima yang berimbas pada mulutku terbuka dan satu desahan lolos dari sana.
Rasanya...
... menyenangkan.
Ditengah-tengah sensasi nikmat tersebut tiba-tiba ia berhenti dan mengangkat kerah kemeja yang aku gunakan dengan kasar.
Bagian paling dalam dariku, sangat dalam, dan baru kusadari kehadirannya, merasa sedikit kecewa.
"Lepas!" pekikku mulai histeris dan meronta lagi. Membuat ia makin tersenyum aneh.
"Kau akan menikmatinya, Sayang," suaranya mulai gelap dan tak lagi bisa dikenali. Tatapannya dipenuhi gairah yang buncah.
Sialan, ibunya pasti sudah buta. Apanya yang menyimpang, anaknya jelas-jelas penuh nafsu dan kasar.
Tanpa peringatan atau aba-aba apapun ia menciumiku dengan paksa, melumat bibirku keras.