18. Daddy Jay?

1055 Words
Perasaan aneh yang sekarang bersarang dalam diriku tak kunjung lenyap, meski telah kucoba bercakap-cakap setenang mungkin dengan Yui Kito. Karena sesaat aku merasa dia bukan Yui Kito yang kukenal, seolah-olah kelembutan dan ketenangannya yang biasa hanya ilusi. "Mommy" teriak seorang anak laki-laki dan berlari kearah kami, di tanggannya terdapat sebuah es krim yang kutakutkan bakal jatuh kelantai dan membuatnya menangis, tapi tidak terjadi apa-apa saat anak laki-laki itu berakhir dipangkuan Yui. "Astaga Steve, Kau kabur lagi dari Letta. Kalau ada yang menculikmu bagaimana? Kalau kau tidak bisa bertemu lagi dengan Mommy bagaimana? Jangan lakukan lagi atau Daddy akan memarahimu" Omel Yui persis seperti ibu-ibu "Mana Abiel?" tanya Yui lalu mencuri es krim milik bocah bernama Steve yang mau tak mau membuatku tersenyum. Yui memang suka mengomeli siapa saja seperti ibu-ibu dan aku ataupun Camilla tidak luput dari omelannya pada suatu waktu. "Dia bersama Daddy" jawab bocah itu polos sambil menjauhkan es krimnya dari Yui, takut kalau di curi lagi. "Daddy?" tanya Yui keheranan masih berusaha mencuri es krim bocah itu. "Aku menjemput mereka karena dua bocah nakal ini merindukan Mommynya" jelas suara berat yang sangatku kenal di belakang Yui Kito. Aku maupun Yui menatap heran ke sumber suara meski untuk alasan yang berbeda. Jay! Benar-benar Jay Sykes yang sama seperti ku kenal. Lelaki yang sibuk luar biasa. Bagaimana mungkin Jay Sykes mengendong satu lagi bocah laki-laki yang sangat mirip dengan bocah pertama. Mereka kembar dan keduanya memiliki kemiripan dengan Jay. God! Tangan bergetar hebat luar biasa. Apa hubungan mereka? "Astaga Jay, kau membiarkan Steve berlarian sendirian. Bagaimana jika Steve hilang atau dibawa orang? Kau terlalu memanjakan mereka" omel Yui kepada Jay. "Lain kali tidak akan kubiarkan lagi. Jika dia melakukannya akan kupukul bokongnya" gumam Jay sambil merogoh sakunya, mengeluarkan sapu tangan "Sebelum mengomel perhatikan dulu dirimu" lanjut Jay membersihkan pipi Yui dengan mesra. Interaksi diantara mereka yang begitu manis mau tak mau menghasilkan perasaan ketidaksukaan yang aneh pada diriku. Kesedihan dan rasa sakit. Siapa aku? Dimana dia menempatkanku? Dia begitu acuh tak acuh padaku. Dia sangat sibuk setiap hari. Bahkan di hari dimana aku membersihkan luka tangannya, tangan juga terluka. Tapi dia tidak pernah menanyakan barang sekalipun. Aku melirik pergelangan tanganku yang masih meninggalkan sedikit bilur biru. Mungkin aku terlalu terhanyut dalam suasana terlalu nyaman di rumahnya, setidaknya tidak sekacau-balau rumahku yang hanya diisi pertengkaran setiap hari, sehingga melupakan fakta bahwa aku menikah dengannya hanya demi sebuah kontrak kerjasama. "Kalian saling kenal?" tanyaku seperti orang asing diantara satu keluarga bahagia. Jay Sykes menoleh padaku dan wajahnya nampak kaget sesaat "Ah Yui, ini tunanganku yang kuceritakan padamu" katanya lalu duduk di kursi sebelah Yui Kito dan memangku, mungkin seperti bocah kedua "Jadi kalian sudah saling kenal?" Tanyanya sambil lalu. Seolah-olah yang dia katakan tidak sesuatu yang penting. Aku berharap ia mengenalkanku dengan bangga, tapi ada nada keengganan dalam nada bicaranya yang mana membuat hatiku meringis, hatiku memberontak pada hal yang seharusnya aku tak berhak. "Ella sahabatku, tentu saja aku kenal Jay. Kau sangat beruntung mendapatkan gadis sebaik dia" kata Yui berseri-seri "Nah Ella, kapan kau akan mengatakan ini padaku?" tanya Yui Kito penuh penuntutan. "Aku baru akan meng..." "Astaga Abiel, baju Daddy jadi kotor" kalimatku terpotong oleh omelan Yui Kito saat es krim Abiel meleleh dan mengenai pakaian mahal Jay Sykes. Jay mengacak rambut Yui Kito "Jangan berlebihan, aku punya baju ganti di mobil" katanya. Seseorang kumohon, tenggelamkan saja aku. Sekarang aku tahu Jay Sykes yang ku kenal kaku dan marah-marah juga bisa bertingkah semanis itu pada seorang dan orang itu adalah seseorang yang kuanggap sahabat. Aku tidak mungkin cemburu kan? "Bagaimana kalian bisa seakrab itu?" tanyaku saat Jay membawaku pulang. "Aku donatur tetap untuk panti asuhan milik Yui, anak-anaknya anak-anakku juga" kata Jay dengan santai. Tapi aku tidak suka. Aku tidak suka berbagi sesuatu yang telah menjadi milikku apapun alasannya, tapi disisi lain aku tak berhak. Penjelasannya yang asal-asalan makin membuatku makin merasa terpuruk. "Lalu kenapa anak-anak itu memanggilmu dengan sebutan 'daddy'?" tanyaku dan Jay mungkin menangkap nada tidak sukaku. Jay melirik ke arahku sekilas "Nona Kaznov, apa kau tahu rasanya lahir tanpa ayah? Atau tanpa ibu?" katanya. Nona Kaznov? Aku tahu Jay sedang tidak dalam mood yang baik. "Kau tahu kata apa yang pertama diajarkan pada seorang bayi, Mom dan Dad. Coba sesekali kau bayangkan saat kau tidak punya, dan kau tahu di dunia ini ada panggilan mom dan dad yang harus kau ucapkan" Lanjutnya benar tidak menyembunyikan ketidaksukaan dalam nada biacaranya. Aku terperangah mendengar jawabannya dan merasa menjadi manusia yang begitu jahat di mulutnya. Anak-anak itu tak punya orang tua dan Jay maupun Yui hanya bertingkah untuk mengantikan orang tua mereka. Tak seharusnya aku bertingkah buruk pada mereka, tapi haruskah Jay dan Yui berperilaku sebagai sepasang orang tua yang benar-benar berinteraksi begitu mesra? Aku jelas merasakan tatapan dan kelembutan seorang Jay Sykes pada Yui Kito bukan lah sebuah 'pertunjukan' tapi nyata. Amat sangat nyata. Hal itu terus membuatku merasa terganggu. Pesta adalah salah satu bentuk penunjukan eksistensi diri dalam lingkar sosial anak-anak konglomerat, tempat untuk tetap berkoneksi dan berinteraksi dengan orang-orang yang setara, menunjukkan bahwa kau masih menjadi bagian dari lingkar pergaulan yang sama dengan mereka, selain memamerkan kekayaan dan pasangan kaya mereka. Ketika aku telah selesai berdandan, maksudku selesai didandani dua orang yang kemunculannya entah dari mana, aku tahu mereka bukan dua tikus yang di kirim ibu peri dengan sihir atau fiksi apapun, mereka nyata. Dua orang yang khusus dibayar Jay Sykes untuk mempersiapkanku menemaninya ke pesta, membawa sejumlah gaun super mahal dan menurutku tak ada bedanya dengan yang kutemukan di pasaran untuk kupilih. Kutebak Jay mungkin cemas mempermalukan dirinya sendiri di pesta temannya, sebab pertama aku tidak bisa berdandan, karena di usiaku yang hampir seperempat abad ini, aku belum pernah setengah kalipun mencoba berdandan sendiri. Meski di masa purbakala, maksudku di masa lalu, aku memang sering menghadiri sejumlah pesta besar, tapi tak sekalipun aku diizinkan pergi dengan gaya dan pilihan ku sendiri, karena ibuku tidak ingin bersusah payah merasa rendah diri karena ketidakcakapanku dalam berdandan. Berbicara tentang ibu, sejak hari itu aku bahkan belum pernah mendengar sepatah pun ucapannya apalagi berbicara dengannya. Aku tidak tahu bagaimana akan bereaksi jika suatu ketika bertemu dengannya Alasanku dengan sudi bertahan membesarkan hati di bawah kungkungan Jay Sykes dan tidak berusaha sama sekali membatalkan pernikahan, sebab aku belum siap berhubungan lagi dengan ibuku. Bisa di bilang aku mencoba melarikan diri dan bersembunyi di rumah Jay.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD