19. Pesta

1058 Words
Meski jauh di lubuk hatiku, aku tahu diriku sudah memahami apa yang dilakukan ibuku dan berusaha memaafkannya, mencari alasan bagiku agar bisa menenangkan hatiku, mungkin ibuku bakalan melakukan sesuatu yang baik untukku. Tapi aku masih belum bisa menerimanya, bagian diriku memberontak disaat mencoba berdamai dengan sejumlah hal picik yang telah ia rencanakan dan lakukan di belakangku demi kepentingannya sendiri, demi mencapai hal-hal yang ia inginkan. Ketika Jay datang ke kamarku untuk menjemput, entah mengapa ia malah menjadi sasaran amukan amarah yang telah lama kutahan dalam benak diri ini, entah mengapa aku menjadi bersikap dingin dan ketus terhadapnya. Aku sungguh tidak cemburu!!! Meski ia tetap bungkam dan tidak melakukan apa-apa dengan sikapku yang tiba-tiba mendinginkannya, aku tahu tanda tanya besar tersurat di wajahnya dan bagaimana ia terus curi pandang meminta penjelasan selama perjalanan menuju pesta. Kekesalanku meningkat berkali-kali lipat, dan memuncak saat hampir semua kenalan Jay Sykes meremehkan dan menghinaku dengan tatapan mereka yang merendahkan saat Jay memperkenalkanku sebagai tunangannya, dan juga tidak ketinggalan mereka yang berbisik-bisik kecil yang jelas-jelas aku bisa mendengarnya. Meski tak semua orang begitu, ada juga Eddy, kurasa dia orang paling dekat dengan Jay, sebab ia dengan pacarnya yang imut dan mungil begitu antusias menyambut kami "Brother Jay" sapanya dan menatap ke arahku seperti mendapat hadiah tahun baru dan ulang tahunnya bersamaan, begitu bahagia tanpa sedikitpun kebohongan "Kau benar-benar tidak pernah keluar dari garis yang kau rancang, tapi kau tahu kan kutukan cinta pertama tak pernah berhasil" Ujarnya main-main pada Jay. Kepalaku terasa ditusuk-tusuk jutaan jarum ketika mataku bersirobok dengan tatapan mata Kristopher Kristoff yang terang-terangan menatapku dari kursi dengan mengandeng pacarnya, entah hanya gadis yang ia temukan di bar manapun. Jay yang sibuk bercerita tentang sejumlah hobi yang sama dengan Eddy dan pacar mungilnya yang terus menggamit tanganku tidak bisa melihat bagaimana si sialan penjahat kelamin itu menyeringai m***m ke arahku. Pandangannya adalah tatapan paling menghina diantara orang-orang yang kutemui di pesta. Seketika aku merasa begitu gerah dan mencoba permisi ke toilet untuk menyegarkan pikiranku, yang mungkin-mungkin mendapat inspirasi agar tidak menguliti semua orang yang merendahkanku. Tapi Kristopher Kristoff memang pantang menyerah dan berusaha keras berbicara denganku dengan berdiri menghentikan langkahku "Kupikir kau gadis lugu yang baik hati dan sederhana, dan aku sempat berfikir kau bakal menikah karena cinta bukan harta semata, tapi kau ternyata hanya menunggu mangsa paling sempurna" bisiknya di telingaku dan berusaha mendaratkan tangannya yang gatal di kulitku, tapi dengan cepat aku mengibaskan tangannya dan mencoba diam dan mengabaikannya. Kalau kau balas menyalak kepada anjing yang menggonggong kepadamu, tak ada yang membedakan kau dengannya, lebih baik diam, lupakan dan biarkan berlalu. Aku terus saja berjalan ketika ia berteriak "Kau pikir aku tidak tahu keluargamu tengah mengincar mangsa yang tepat untuk pembuatan Prevkaya Aqua-Line" Katanya. Prevkaya Aqua-Line adalah mega proyek yang dimenangkan perusahan keluargaku, Hime Enterprise, Alasan mereka menjadikanku kontrak proyek sepuluh tahun itu karena berkolaborasi untuk proyek besar itu. Preskaya Aqua-Line adalah proyek terowongan Aqua-Line dan pulau buatan yang digunakan sebagai stasiun istirahat di Aqua-line. Belum selesai dengan Kristopher, aku malah mendengar dengan telingaku sendiri dan melihat dengan mataku sendiri bagaimana gadis-gadis yang memperbaiki dandanan mereka di toilet malam menjadikanku bahan paling empuk untuk digunjingkan. "Kukira selera Jay bakalan sangat tinggi, sebab ia tidak pernah melirik kita sama sekali, tapi malah bertunangan dengan gadis kampungan begitu" cibir gadis bergaun merah menyala yang penuh kesombongan dan bangga mengenalkan dirinya sebagai Asley, model papan atas yang banyak di cari dan mendapat bayaran tertinggi versi dirinya. Aku hanya mematung di pintu toilet ketika lawan bicaranya yang bernama Riley, gadis paling mencolok di pesta, begitu bangga menunjukkan sebagian besar kulitnya yang kecoklatan alami karya salon itu menambahkan "Sok polos dan sok sederhana. Kau lihat kan bagaimana ia berusaha keras tidak mengunakan satupun perhiasan mahal, walaupun dia sudah pasti merecoki Jay untuk membelikan sejumlah berlian dan aku berani bertaruh dia menggoda Jay di Bar dengan pura-pura mabuk" tambahnya dengan nada kebencian yang teramat sangat di tujukan sejadi-jadinya terhadapku "Jay yang malang" lanjutnya berlagak paling prihatin sambil menurunkan gaunnya yang sudah berpotongan kelewat rendah di depan dadanya lalu memperbaiki tatanan d**a kencang hasil tangan dokternya agar tampak lebih bagus dan terlalu mengundang perhatian. Sambil memoles bibirnya dengan lipstik merah p*****r Asley tidak mau kalah menerka bagaimana pertemuanku dengan Jay "Dia mungkin saja gadis kumuh dan malang yang ditemukan oleh Jay karena begitu mudah tersentuh. Aku tidak ingat pernah bertemu dengannya di manapun" "Itu saja tidak mungkin. Dia gadis paling genit yang pernah kutemui, dengan berani ia menggoda Kristopher. Aku sungguh benci gadis sialan itu. Jelas-jelas ia sudah punya tunangan, tapi masih juga main mata dengan kekasih orang" gerutu Riley dengan suara amat tidak suka. "Benarkah?" Asley menatap Riley minta penjelasan lebih. Tapi Riley hanya mencibir membenarkan "Aku juga tidak pernah bertemu dengannya di acara konglomerat manapun. Ia pasti menjajakan dirinya kepada Jay dan si polos Jay yang malang dengan mudah masuk perangkapnya" Mereka terus saja berceloteh sehingga tidak menyadari kehadiranku dan begitu gelagapan ketika aku tiba-tiba berada di tengah-tengah mereka mendadak ikut serta dalam pembicaraan mereka "Tentu saja kalian tak pernah melihatku, sebab aku tidak datang ke pesta rendahan yang selalu kalian datangi dan tentu saja tidak berlumur peluh dengan sejumlah laki-laki hidung belang tua dan kaya, atau para bos yang mengontrak kalian sebagai model. Oh benar saja, apa itu semacam emansipasi di antara...hmm... Bagaimana aku menyebutnya, apakah itu disebut artis HME atau ayam bersepatu ya?" kataku menohok sambil berpura-pura memperbaiki cela dandananku yang sudah sempurna dan menatap mereka dengan terang-terangan satu persatu menilai yang jelas-jelas sudah pucat pasi, mulut yang terus mencibirku tadi malah bungkam tanpa kata kehilangan suara. "Kau... Benar-benar tak tahu diri" kata Riley ketika telah menemukan suaranya yang sempat hilang "Berani sekali gadis kampungan seperti kau berbicara padaku. Kau belum tahu siapa aku" meski suaranya sedikit bergetar aku tahu dia berusaha keras mengancamku, bahkan dengan berani menunjuk-nunjukku "Lihat saja nanti, ketika Kristopher menikahiku kau orang pertama yang bakal ku hancurkan" Aku mengamatinya lamat-lamat dan begitu bahagia ketika otakku menemukan sesuatu yang penting, Mikasa, dan aku ingat kejadian siang tadi, kekesalanku berlipat empat. Sesuatu yang sejak tadi tersembunyi di ingatanku, sebab aku hanya berusaha melarikan diri "Maksudmu aku tidak tahu bagaimana kau bisa menjadi salah satu model HME Entertainment atau tak tahu dari mana kau mendapatkan pemasukan fantastis untuk kau pamerkan dan menggoda laki-laki kaya?" aku melipat kedua tangan di d**a dan terus berusaha menekan kesombongan Riley yang demi apapun aku tidak suka dia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD