"Apa maksudmu?" tanya Asley panik.
Tatapanku berpaling dari Riley ke Asley, sedikit mundur agar bisa memandang mereka bersamaan "Kau juga begitu kan, Asley. Apakah kalian saling kenal karena satu agensi atau... Sudah saling berbagi cerita" kataku main-main dengan suara rendah dan nada mengolok.
"Cih, dasar gadis kampung. Kau ngingau atau mabuk? Atau otakmu mulai gila untuk memasuki lingkungan kehidupan Sykes?" elak Riley yang jelas-jelas tahu apa yang sedang aku bicarakan. Ia terang-terangan berusaha keras menyembunyikan dosa dan ketakutan terbesarnya sendiri "Ayo Asley, kita bakal buang-buang waktu saja mendengar gadis gila ini terus mengoceh" tambahnya dengan tergesa-gesa tak kalah tergesa-gesa dibandingkan tangannya yang berusaha keras memasukkan kembali perlengkapan make-upnya ke tas lalu langsung menarik lengan Asley seperti bakal dikejar sesuatu dan tertangkap basah di detik selanjutnya, jelas sekali ia mencoba menjauh dariku, ketakutannya akan rahasia besar miliknya bakal terbongkar makin membuatku b*******h untuk menyerang. Tapi Asley yang memiliki keingintahuan sangat besar malah tidak beranjak sama sekali, malah memandangku meminta penjelasan lebih.
"Asley" panggilku prihatin "Apakah kau tahu bahwa teman super modelmu ini adalah seseorang yang dengan senang hati menjual keperawanannya? Aku bahkan masih ingat berapa harga perolehannya, sedikit lebih rendah dari pada harga lelangmu" jelasku tanpa menunggu-nunggu lagi.
"Bagaimana kau tahu itu?" tanya mereka hampir bersamaan, gelagapan dan tidak tahu lagi bakal melajukan apa.
"Kalian bisa saja tidak tahu aku, tapi aku sangat tahu tentang kalian. Akan aku beri tahu sedikit rahasia kecil, hanya kepada kalian berdua, asal kalian tahu aku salah satu juri yang memutuskan apakah kalian layak atau tidak untuk menjual diri. Dan harus kukatakan bahwa aku tahu siapa saja di pesta ini yang berprofesi seperti kalian berdua" kataku berbohong, Kucoba tahan jantungku yang berdebar-debar, aku tidak ingin menjadi jahat tapi aku benar-benar ingin membalas mereka habis-habisan "Dan dengan sedikit prihatin aku harus mengatakan bahwa aku benar-benar tak tertarik dengan pacar kayamu itu barang seujung kuku pun. Jangankan menggoda, melirik saja aku tak minat. Bisakah kau sampaikan padanya untuk berhenti menggangguku?"
Dua gadis binal yang sombong luar biasa itu hanya berdiri kaku ketika aku meninggalkan mereka. Aku sangat puas serta senang luar biasa dan Jay Sykes pasti menyadari perubahan suasana hatiku ketika aku kembali dan dia melirikku dengan sedikit melipat dahinya, dan mungkin saja sebab aku tiba-tiba menggandengnya dengan sangat-sangat bahagia.
"Jangan bilang kau menghajar mereka habis-habisan" bisik Jay Sykes dengan mata yang ditujukan pada dua gadis yang tadi begitu akrab dan terang-terangan merendahkanku, lalu sekarang berubah menjadi begitu canggung dan takut-takut menoleh ke arahku, mungkin sambil berharap aku tidak bakal membocorkan rahasia mereka di pesta yang begitu penting untuk karir mereka.
Jay Sykes sialan, aku sadar dia juga menyadari perbuatan teman-temannya, tapi tidak melakukan apa-apa, hanya sibuk dengan dunianya.
"Maafkan aku" kata Jay Sykes lirih dan penuh penyesalan saat ia mencium puncak kepalaku lama seolah-olah mengetahui umpatan dan keluhan dalam hatiku, dan aku merasa ia menghirup nafasnya begitu dalam di sana, seolah-olah dia menahan sesuatu.
"Kau ingin pulang sebelum moodmu berubah lebih buruk lagi?" Tanyanya.
Aku mengangguk sangat antusias, tersenyum selebar mungkin yang aku bisa, dan aku merasa menjadi orang paling dimengerti olehnya saat itu juga. Meski itu hanya pertanyaan kepedulian biasa, tapi entah mengapa aku begitu senang.
Ketika aku bertemu dengan tatapan Jay Sykes, kesenangan itu memudar, membuat aku mengingat kilasan tatapan lembut di matanya Jay Sykes ketika memandang gadis lain, tapi tatapan itu sekarang sangat acuh tak acuh.
Aku hanya ingin menyendiri secepat mungkin.
Kasur dan kaos oblong yang kucuri, dua hal yang bakal membuat otakku lebih baik.
Semua hal yang terjadi hari ini sangat mengganjal dan meninggal duri di hatiku.
Aku terganggu dengan kedekatan Jay Sykes dengan Yui Kito di siang hari dan aku terganggu oleh penghinaan di malam hari. Yang aku butuhkan sekarang hanyalah semacam tempat untuk mencoba mengobati luka batinku seorang diri.
Jay Sykes balas tersenyum padaku, singkat tapi juga diisi rasa bersalah "Kalau begitu aku akan mencari Eddy dan pamit pulang lebih awal, kau mau menemani?" Tanyanya.
Aku berfikir sejenak, menimbang keputusan paling tepat yang harus ku pilih. Kalau aku bertemu lagi dengan orang-orang yang terang-terangan membenciku amarahku bisa berapi-api lagi. Aku tidak ingin membakar tempat pesta yang sudah dirias begitu meriah, mencolok mata-mata yang merendahkan, mencincang mulut-mulut tanpa beban menghinaku, aku sudah lelah.
"Bolehkah aku tidak pergi? Secara pribadi aku berfikir menunggumu di mobil adalah pilihan terbaik" usulku ragu-ragu.
Mungkin terdengar tidak sopan, tapi aku tidak punya banyak tenaga lagi tersisa hanya berusaha untuk diam dan menahan diri.
"Aku tidak akan lama" Kata Jay Sykes seperti menyetujui gagasanku yang egois, entah dengan karena apa aku merasa makin sedih.
Aku berharap dia lebih peduli padaku, mengajakku lagi untuk pergi, atau kemungkinan paling kecil, dia membalaskan dendamku. Tapi semuanya hanya akan menjadi angan-anganku saja.
Setelah mengenal beberapa saat, aku menyadari bahwa Jay Sykes lelaki yang sensitif, lebih sensitif dari wanita datang bulan sekalipun.
Dia pasti tahu apa yang terjadi padaku, bagaimana rekan-rekan bisnisnya meremehkan kemampuanku, karena aku belum lulus, karena aku perempuan dan karena mereka tidak tahu asal-usulku.
Tidak hanya rekan bisnisnya, karyawan bahkan pekerja rumahnya dan semua orang yang terlibat dengannya memandangku rendah, memandang sebelah mata, memandangku sebagai wanita pongah miskin tanpa uang, tanpa keahlian, tanpa keluarga kaya di belakangku, dan dengan berani menggoda pengusaha kaya dan membuat masuk jebakan.
Jay Sykes sadar dengan perlakuan mereka semua, tapi ia memilih tidak melakukan apa-apa. Kenyataan pahit yang makin menghentakkan aku ke dasar jurang berdasar karang.
Ketika Jay Sykes pergi, aku melihat punggungnya yang lurus dan agung, dan aku benar-benar perlu tenang dan pergi dari tempat meriah, indah, namun aku merasa tidak pada tempatnya.
Tapi ketenangan adalah hal yang mustahil kudapatkan, hal yang bakal jadi angan-angan belaka, sebab seseorang telah mengusik jalan menuju ke sana.
Rasanya begitu percuma aku melarikan diri dari segerombolan mulut kotor yang terus berceloteh merendahkan. Percuma mencoba bersembunyi untuk berusaha mecapai ketenangan dan kedamaian.
Sebab segala hal yang aku angan-angankan dihancurkan oleh kehadiran satu tubuh, satu jiwa dan satu orang yang kuharap enyah dari dunia, atau di tendang ke mars saja, Kristopher Kristoff.
Lorong menuju parkiran hotel tempat pesta diadakan begitu sepi dengan pencahayaan minim. Sunyi dan tidak ada siapa-siapa, selain si laki-laki b******k penjahat kelamin pantang menyerah itu. Ia berdiri sengaja menunggu melipat kedua tangan di depan d**a dengan punggung menyandar kedinding, sedang di mulutnya tersulut sebatang rokok yang baru saja di hidupkan dengan pematik.
Aku menoleh kebelakang berharap Jay Sykes segera menyusul atau siapapun saja yang mungkin muncul dan bisa menolongku. Tanganku seketika menjadi basah oleh keringat dingin, telapak tangan terkepal kuat karena ketakutan mengetahui bahwa Kristopher menatapku dengan mata berbisa, seolah-olah aku mangsa yang hendak dia memakan hidup-hidup, juga dengan seringai begitu m***m seolah-olah siap menerjangku kapan saja.
Demi tuhan, aku bahkan tidak punya lagi tenaga untuk menghadapi seorang Kristopher apalagi mendengar ocehannya atau bahkan membalasnya.