Unloving U Part 14 Pertikaian

1605 Words
Alesha dan Fatya berjalan mengelilingi pasar di malam hari, walau tidak seramai di siang hari tapi Alesha sangat menikmati keindahan lentera yang di pasang di tiap toko dan pinggir jalan, belum lagi makanan makanan yang ada di kota Hava sangat sangat enak, entah sudah berapa banyak uang Alesha yang dia gunakan untuk membeli makanan. Alesha menghentikan langkahnya ketika dia melihat penjual pernak pernik sepi penjual. “Bibi, berapa harga tusuk rambut ini?.” Tanya Alesha sambil memegang tusuk rambut berwarna merah. “Itu hanya lima keping logam Nona, itu sangat bagus jika di kenakan oleh Nona yang sangat cantik ini,” Alesha hanya tersenyum tipis mendengar pujian dari penjual pernak pernik ini. “Baiklah, aku belum dua, Fatya, kamu mau yang mana pilih saja, aku sudah membayarnya,” Alesha meminta Fatya untuk memilih tusuk rambutnya.. “Tidak, aku bahkan tidak tau cara memakainya.” Bisik Fatya membuat Alesha tersenyum. “Baiklah,, baiklah, kalau begitu aku akan memilihkan untukmu.” Alesha mengambil tusuk rambut berwarna merah dengan ukiran bunga kecil di pinggirnya membuat tusuk rambut itu sangat cantik jika di kenakan Fatya. Alesha memberikan tusuk rambut yang ia pilih pada Fatya, mau tidak mau Fatya menerima tusuk rambut yang diberikan Alesha, tapi Fatya tidak memakainya dia hanya menyimpannya di saku bajunya. “Fatya, lebih baik kita kembali, aku lelah dan aku ingin tidur,” Fatya mengangguk mendengar ajakan Alesha. Sebenarnya Fatya juga lelah, namun dia harus mengawal kemana Alesha pergi. **** Kepergian Putra Mahkota dan Putri Alesha membuat Istana cukup lenggang, paviliun milik Putra Mahkota juga lenggang, hanya pengurus paviliun yang berjaga, sementara dayang dayang mendapat bagian istirahat. Sementara di paviliun Elang milik Pangeran harris cukup ramai. Sore tadi Elleanor tiba tiba pingsan di taman, tentu saja hal ini membuat Pangeran harris dan dayang sangat panik. Tabib datang memeriksa Elleanor mengucapkan selamat pada Pangeran Harris jika Putri Elleanor sedang mengandung, perkiraan usia kandungan Elleanor satu bulan. Banyak ucapan selamat dari penghuni Istana termasuk Raja dan Ratu yang datang secara khusus malam ini untuk memberi selamat pada Elleanor. Kedatangan Raja dan Ratu di sambut baik Elleanor dan Pangeran Harris tapi tidak dengan Selir Kaira. Mengingat perlakukan Raja tadi pagi membuat Emosi Selir Kaira semakin menjadi jadi, tapi sebisa mungkin Selir Kaira mencoba untuk menahannya, dia tidak boleh meledakan emosinya disini, bisa turun pamor kalau sampai itu terjadi.. Ratu Maurine dengan lembut mengusap usap perut Elleanor sambil berdoa pada Dewa agar jabang bayi dalam kandungan Elleanor dan Elleanor selalu dalam lindungan Dewa. “Ibunda Ratu terimakasih telah mendoakan kami, terimakasih telah menjenguk kami.” Ucap Pangeran Harris setelah Ratu Maurine berdoa. “Tidak perlu berterima kasih anakku, karena Ibundamu ini dengan tulus datang untuk menjenguk Putri Elleanor.” Balas Ratu Maurine. “Pangeran kamu harus menjaga Putri Elleanor, dia pasti banyak mengalami kesulitan diawal kandungannya,” Raja Lucio memberi saran untuk Pangeran Harris. “Baik Yang Mulia,” Balas Pangeran Harris singkat. “Ngomong ngomong dimana Putra Mahkota dan Putri Alesha, kenapa mereka tidak hadir?.” Tanya Pangeran Harris karena dia sama sekali tidak tau keberadaan Loeniel dan Alesha. “Mereka sedang berdoa ke kuil suci, sekaligus menikmati waktu berdua mereka,” Balas Ratu Maurine, tentu saja Ratu Maurine tidak mengatakan jika Putri Alesha sedang menjalani hukumannya dan Putra Mahkota datang untuk menjemput Putri Alesha. “Wahh,,, mereka sungguh sangat enak sekali bisa berdoa langsung pada Dewa, sementara Pangeran Harris dan Putri Elleanor tidak.” Selir Kaira menimpali ucapan raja. “Selir Kaira jaga ucapanmu!. Semua orang bebas berdoa pada Dewa, di kuil suci ataupun di kuil milik kerajaan,” Balas Raja Lucio. Tentu saja hal itu membuat Selir Kaira langsung mengepalkan tangannya kuat kuat untuk menahan emosinya. “Ibunda, lebih baik Ibunda istirahat, aku tau Ibunda lelah, aku akan meminta dayang untuk mengantar Ibunda,” Pangeran Harris tentu harus membawa Ibunya pergi, atau di paviliunnya akan menjadi tempat berkelahi antara Raja dan Ibunya. Mau tidak mau, Selir Kaira pergi, tanpa mengucapkan salam pada Raja dan Ratu. “Ayahanda, Ibunda Maurine, maafkan kesalahan Ibunda Kaira,” Pangeran langsung meminta maaf atas Tindakan yang dilakukan Selir Kaira. “Tidak perlu meminta maaf begitu Pangeran, mungkin memang Selir Kaira sedang kelelahan hingga membuatnya gampang marah,” Sergah ratu Maurine. “Sudah,,, sudah,.. Ratu, sebaiknya kita kembali bairkan Putri Alesha istirahat,” Ajak Raja Lucio. Ratu Maurine mengangguk. “Kami kembali, kalau ada apa apa jangan lupa beri tau Ayahmu ini,” Pangeran Harris mengangguk. **** Alesha benar benar mendapatkan kembali kenikmatan tidurnya setelah dua malam dia tidak mendapatkan tidur yang baik. Bahkan Fatya telah menunggu di depan pintu kamar Alesha sejak beberapa menit yang lalu, namun Alesha yang masih menikmati tidurnya tidak mendengar Fatya menggedor pintu kamarnya. Fatya yang mulai jengah menggedor pintu kamar Alesha pun mencoba untuk membobol pintu kamar Alesha, persetan dengan pemilik penginapan yang akan memarahinya. Dengan acang ancang Fatya siap menendang pintu kamar Alesha namun aksinya ditahan pria tua yang kebetulan lewat di lorong kamar mereka. “Apa yang kamu lakukan? Kamu mau membobol pintu kamar ini, apa kamu tidak tau berapa harga pintu ini?.” Fatya belum apa apa sudah kena omelan pria tua yang memegang lengannya. “Tuan,, Nona saya di dalam, dia tidak menyahut panggilan saya, jika saya tidak boleh membuka pintu ini secara paksa kalau terjadi dengan Nona saya anda mau tanggung jawab?.” Tanya Fatya pada laki laki paruh baya yang masih memegang tangannya. “Tetap saja tidak bisa, pintu ini sangat berharga,” Pria paruh baya itu masih saja mempertahankan pintu yang menurut Fatya biasa saja tanpa bagus bagusnya.  “Tuan,, kalau Nona saya kenapa, saya sangat yakin penginapan milik anda dan mungkin kota Hava ini akan langsung rata dengan tanah,” Fatya berbisik pada pria paruh baya yang masih memegangi tangannya. “Aku tidak yakin, melihat tampilan kalian yang biasa saja kalian pasti bukan keluarga Bangsawan, apa lagi tiga klan berpengaruh di kerajaan ini sungguh tidak mungkin,” Fatya dibuat geram oleh ucapan laki laki paruh baya itu, andai saja laki laki tua ini tau jika di dalam kamar ini Putri Alesha, mungkin dia akan serangan jantung seketika. Dengan sekuat tenaga Fatya menghempaskan tangan pria paruh baya itu, dan langsung menendang pintu kamar yang di tempati Alesha hingga membuat pintu itu terbuka dengan kerasnya. “Astaga pint ku,, ohhh Dewa,, pintuku,,” Meraung raung matapi pintunya yang sebenarnya tidak apa apa, setelah di tendang Fatya lelaki paruh baya itu mengusap usap bekas tendangan Fatya. Tanpa memperdulikan lelaki tua meraung raung menangisi pintunya, Fatya langsung menghampiri tempat tidur Alesha. Fatya yang melihat Alesha tertidur dengan miring langsung membalik badan Alesha tanpa permisi, kan Fatya takut kalau ada pisau yang menancap di perut Alesha. Sementara Alesha langsung membuka matanya terkejut karena tubuhnya ditarik Fatya tanpa permisi. Alesha tanpa melihat siapa yang membangunkannya langsung menendang orang yang ada di depannya membuat Fatya mundur beberapa Langkah sambil memegangi perutnya. “Aduuuhhh Nona,, ampun,,, ampun ini Fatya,,,” Fatya memohon ampun ketika Alesha kembali ingin menyerangnya. “Astaga,,, Fatya, kamu, kamu enggak papa?.” Alesh buru buru mendekati Fatya.  “Aku baik baik saja selain perutnya yang terasa sedikit nyeri,” Balas Fatya sambil meringis kesakitan, tendangan dari Alesha sepertinya sekuat tenaga atau mungkin memang dirinya yang tidak siap menerima serangan dari Alesha. “Sekarang kita pergi mencari tabib,” Alesha menarik Fatya keluar dari kamarnya, tanpa memperdulikan pria paruh baya yang menangis di depan pintunya. “Ehhhhh,, Nona, nona,, tunggu,,,” Fatya mencoba menghentikan Langkah Alesha keluar dari penginapannya. “Apa lagi Fatya, luka kamu harus segera harus di obati,” Alesha ingin kembali berjalan namun Fatya menahannya. Alesha kesal dengan Fatya yang menganggu tidur indahnya sekarang tambah kesal dengan Fatya yang menahan jalan mereka menuju ke tabib. “Nona, apa anda yakin keluar dengan baju seperti ini??.” Tanya Fatya menyadarkan Alesha jika dia hanya mengenakan baju dalam berwarna putih. Ketika Alesha menyadari kebodohannya, dia langsung berlari menuju kamar yang ia tempati, tanpa memperdulikan laki laki paruh baya yang ada di depan pintu, Alesha langsung menutup pintunya dengan kencang hingga membuat laki laki itu terlonjak. “Ohhhh astaga pintuku yang malang,,” Laki laki itu kembali meratapi pintunya yang baru saja di tutup Alesha dengan sekuat tenaga. Fatya yang menyaksikan laki laki paruh baya menangis meratapi pintunya hanya bisa menahan tawa. Tidak mungkinkan Fatya tertawa terang terangan didepan orang yang sedang bersedih, walau berpenampilan urakan seperti ini, dirinya masih memiliki sopan santun dan etika. **** Semalaman menunggangi kudanya tanpa istirahat sama sekali, akhirnya pagi saat matahari masih di ujung dunia, Leoniel menghentikan kudanya di pinggir danau yang asri di tengah tengah hutan bersama Killian tentunya. Kicauan burung menyambut kedatangan mereka berdua, hutan ini memang masih asri, jangan ada orang yang melewati hutan ini karena saking rimbunnya ini. Jalan menuju distrik Naba memang banyak, dan jalan yang di pilih Alesha dan Leoniel berbeda, Jalan yang di lewati Leoniel memang lebih cepat namun hampir seperempat perjalanannya melewati hutan belantara dan perbukitan terjal, salah sedikit bisa tergelincir ke jurang dan menjadi mangsa binatang penunggu hutan ini. “Tuan, kemungkinan kita akan sampai di distrik Naba menjelang sore, apa tidak papa?.” Tanya Killian memprediksi waktu tempuh mereka menuju distrik Naba setelah Killian meneguk air minumnya yang ia simpan di tempat minum miliknya. “Sebisa mungkin kita harus sampai sana siang hari, agar sorenya bisa kembali ke Istana.” Killian mengangguk mendengar ucapan Leoniel barusan, tapi Killian sangsing Leoniel akan kembali ke Istana sore ini. “Tuan, apa anda yakin langsung kembali ke Istana, apa anda tidak ingin Istirahat di Kota Hava dulu?.” Tanya Kilian lagi, walau sebenarnya tidak apa langsung kembali, namun Killian mengkhawatirkan. “Kita berangkat sekarang,” Leoniel menunggangi kudanya, begitu juga dengan Killian, mereka langsung meninggalkan tepian danau tempatnya istirahat tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD