Unloving u Part 13 Lekas Membaik

1593 Words
Leoniel langsung menemui Raja di paviliun Teratai Ketika Kasim Prama memintanya datang ke paviliun Teratai saat itu juga. Dengan langkah lebarnya Leoniel berjalan tergesa gesa menuju paviliun Teratai. Leoniel takut jika Ibundanya semakin parah sakitnya, melihat Kasim Prama yang terburu menemuinya pasti ada hal penting yang ingin di sampaikan Kasim Prama. “Ayahanda, apa Ibunda baik baik saja?.” Tanya Leoniel Ketika dia sampai di paviliun Naga. “Anakku, Ibundamu ini baik baik saja, kamu bisa duduk Nak,” Ratu Maurine menyuruh Leoniel untuk duduk di kursi kosong. “Maaf Ayahanda, Ibunda, apa yang sebenarnya terjadi sampai aku harus datang kemari?.” Tanya Leoniel penasaran. “Putra Mahkota, apa engkau tau jika Putri Alesha pergi ke kuil suci seorang diri?.” Tanya Raja langsung, tanpa mau menyapa anaknya. “Ya, Ayahanda, aku tau,” Balas Leoniel. “Apa kamu sudah tidak waras Putra Mahkota, bagimana bisa kamu membiarkan istrimu pergi seorang diri sementara keadaan di Kerajaan ini belum aman dari terror bandit dan pemberontak. Kakek dan Paman Putri Alesha datang jauh jauh dari perbatasan untuk bertemu Putri Alesha, Ayahmu ini malu karena tidak ada yang memberi tau jika Putri Alesha sedang pergi ke kuil suci, sekarang, pergi susul Putri Alesha ke Kuil suci, jangan Kembali ke Istana tanpa membawa Putri Alesha.” Titah Raja Lucio barusan mau tidak mau harus di patuhi Putra Mahkota. “Suamiku, Putri Alesha telah bersalah, sesuai aturan Kerajaan yang ada dia harus di hukum,” Ratu Maurine secara tidak langsung membela anaknya. “Istriku,, aku memang tidak tau apa kesalahan Putri Alesha hingga kamu menghukumnya, akan tetapi kita tidak bisa lepas tangan begitu saja, tidak apa jika kondisi Kerajaan ini baik baik saja, namun saat ini berbeda, banyak pemberontak dan bandit, jika terjadi sesuatu dengan Putri Alesha Klan Geovano bisa menuntut kita, ingat, klan Geovano memiliki satu pertiga prajurit, di Kerajaan ini walau kemungkinan tidak ada perang namun hati dan fikiran orang siapa yang tau.” Ratu Maurine langsung tertunduk, memang benar klan Geovano memang menguasai beberapa hal penting di Kerajaan ini, dan selama ini cukup aman tanpa ada masalah karena semuanya saling menjaga satu sama lain. “Ayahanda, jangan salahkan Ibunda, aku akan segera pergi ke kuil suci untuk menjemput Putri Alesha, Ayahanda, Ibunda aku mohon undur diri.” Raja Lucio hanya mengangguk, begitu juga dengan Ratu Maurine. “Putra Mahkota tunggu.” Sebelum Leoniel benar benar pergi meninggal paviliun Teratai Ratu Maurine menghentikan langkahnya. “Ada apa Ibunda?.” Tanya Leoniel. “Hati hati anakku, semoga kau kembali dengan selamat,, begitu juga Putri Alesha.” Leoniel mengangguk, dia kembali melanjutkan jalannya meninggalkan paviliun Teratai. ***** Tepat tengah hari, Putri Alesha sampai di kuil suci, Putri Alesha menyerahkan kudanya pada penjaga. Awalnya memang tidak ada yang menyadari jika itu Putri Alesha, namun setelah memperlihatkan lambang Kerajaan pada penjaga mereka langsung menyambut kedatangan Putri Alesha. “Aku tidak ingin berlama lama dikuil suci, aku hanya ingin berdoa pada Dewa setelah itu aku akan Kembali ke Istana,” Para dayang yang ada di kuil suci mengangguk mendengar ucapan Alesha, namun ketua dari dayang disini angkat bicara. “Putri Alesha, sebaiknya anda tinggal di kuil hingga esok hari agar anda bisa istirahat terlebih dulu.” Ucap ketua dari dayang yang ada disini. “Tidak, aku ingin segera kembali ke Istana, aku tidak bisa berlama lama meninggalkan suamiku,” Para dayang tersipu malu mendengar perkataan Alesha barusan, Setelah Alesha membersihkan diri dengan di bantu dayang Istana yang memang di perkerjakan di kuil suci untuk melayani keluarga Istana yang datang berkunjung ke kuil suci. Alesha diarahkan menuju tempat ibadah, karena dia baru sekali datang kemari dia tidak tau apapun tentang kuil dewa yang terletak di distrik Naba. Di kota kerajaan juga ada kuil suci yang sering Alesha kunjungi untuk berdoa pada Dewa. Alesha terbiasa disana namun dia tidak tau apa apa dengan kuil disini. Setelah sampai tempat ibadah, Alesha langsung menyalakan dupa, dan mulai berdoa pada Dewa. “Ya Dewa semoga hubungan suami istri ini terjalin sampai maut memisahkan kita, Dewa semoga Engkau memberikan kami Pangeran dan Putri untuk kerjaan ini,, Ya Dewa, semoga ayahanda dan Ibunda selalu sehat dan selalu dalam lindunganmu. Dewa, jadikan Kerajaan ini aman dan tentram, jangan sampai ada pertikaian antar keluarga kerajaan, semoga semua lekas membaik. Dewa, di perjalanan aku bertemu seorang wanita yang ingin menitip doa padaMu, dia ingin menikah dengan kekasihnya Leoniel, semoga dia bisa menikah dengan kekasihnya dan hidup Bahagia, Dewa, terimakasih telah mengizinkan aku untuk berada disini, di tempat suci ini.” Rampung berdoa, Alesha langsung mengganti pakaiannya, yang tadi dia gunakan untuk berdoa adalah pakaian resmi Kerajaan. “Nona, apa anda tidak ingin istirahat disini terlebih dulu?.” Tanya dayang lagi yang membantu Alesha. “Tidak, aku akan melanjutkan perjalanan ini sebelum malam aku harus meninggalkan distrik Naba, agar aku bisa sampai di Istana lebih cepat.” Dayang yang membantu Alesha mengangguk. Mereka para dayang sebanarnya ingin Alesha istirahat di kuil, karena mereka tau bagaimana banyaknya bandit dan perampokan di hutan bahkan di desa, mereka hanya tidak ingin calon Ratu mereka terluka, tapi mau bagaimana lagi, Alesha adalah orang keras kepala dan berpendirian teguh pada keyakinannya. Jika dia mengatakan kembali maka dia tidak ada orang yang bisa menghadangnya untuk tinggal. Alesha menunggai kudanya meninggalkan kuil suci setelah dia berganti pakaian dengan pakaian sederhana yang ia kenakan tadi.  Langkahnya di hadang orang yang menggunakan pakaian serba hitam, Alesha tentu ingat siapa dia, dia orang yang menolongnya tadi. “Ada apa?.” Tanya Alesha pada orang yang menghadangnya. “Putra Mahkota sedang menyusul anda kemari sebaiknya anda menunggu Putra Mahkota,” Dari suaranya Alesha bisa mendengar jika orang di hadapannya seorang wanita. “Aku tidak ingin menunggu Putra Mahkota, aku ingin melanjutkan perjalananku, sebaiknya kamu minggir.” Ucap Alesha. “Anda tidak bisa pergi begitu saja Putri Alesha, Besok pagi Putra Mahkota sudah sampai di distrik Naba, sebaiknya anda istirahat di kuil terlebih dulu,” Orang yang menghadang Alesha menyuruhnya istirahat. “Aku tidak perduli, sebaiknya kamu minggir,” Alesha menarik kekang kudanya, namun kudanya tidak mau bergerak sama sekali. “Ya,,, apa yang kamu inginkan, aku tidak punya waktu untuk meladenimu, sebaiknya kamu enyah dari hadapanku,” Ucap Alesh kasar, “Saya hanya menahan anda sampai Putra Mahkota sampai disini, sebaiknya anda menurut, jika tidak jangan salahkan saya menahan anda dengan kekerasan,” Alesha hanya melepas kekang kudanya. Melihat orang ingin mampu mengendalikan kudanya, Alesha yakin dia bukan orang sembarangan, Alesha yakin orang di hadapannya ini memiliki ilmu kanugara. Alesha memutuskan untuk turun dari kudanya, jika kudanya tidak bisa berjalan, dia masih punya kaki yang bisa berjalan. Berjalan beberapa Langkah tubuh Alesha luruh ke tanah, kakinya lemas tidak bisa menopang tubuhnya. “Ya,,, apa yang kamu lakukan padaku,” Alesha benar benar di buat marah dengan wanita dihadapannya itu. “Maaf Putri tapi saya hanya menjalankan perintah.” Wanita itu benar benar menguji kesabaran Alesha, walau berat akhirnya Alesha memutuskan untuk mengikuti kemauan wanita di depannya ini. “Baiklah aku akan di distrik Naba sampai Putra Mahkota datang, sekarang lepaskan aku dan kudaku,, aku ingin mencari penginapan.” Orang yang menghadang Alesha terbang menuju kuda Alesha, dengan santainya dia duduk di belakang Alesha. “Saya akan menemani kemana anda pergi.” Alesha hanya mengangguk dengan malas. Alesha dan Fatya sedang duduk di kedai makan yang ada di tengah kota Hava, pusat dari distrik Naba. Alesha memakan makanannya dengan lahap, selama perjalanan menuju kuil suci, Alesha hanya memakan makanan seadanya, tanpa bisa merasakan makanan seenak ini. “Putri Alesha, apa anda ingin makan lagi?.” Tanya Fatya, pada akhirnya Alesha bertanya nama Fatya tadi saat mereka menunggangi kuda mencari penginapan untuk mereka malam ini. “Tidak. Fatya, jangan panggil aku Putri, aku tidak mau ada orang yang tau keberadaanku disini,” Fatya mengangguk mendengar apa yang dikatakan Alesha barusan, memang ada benarnya, mereka disini tanpa pengawalan prajurit, kalau ada bandit atau pemberontak habislah mereka berdua. “Baiklah Nona.” Fatya mengganti memanggil Alesha dengan sebutan Nona. “Tidak dengan Nona, panggil aku Alesha, atau Ale, anggap saja kita teman, ahhh sudahlah, aku ingin membayar makanan ini.” Alesha bangkit dari duduknya.  Namun, Alesha menghentikan Langkah kakinya ketika melihat segerombolan orang orang membawa pedang datang ke kedai. “Mana upetinya, kalian harus membayar upeti,” Segerombolan orang itu mendatangi penjual di kedai ini. “Maaf Tuan, kami tidak bisa memberikan banyak upeti pada Raja Lucio, mohon ampuni kami..” Sepasang suami istri bersujud di hadapan orang orang berbadan kekar sambil menyodorkan beberapa keping uang logam. “Apa kalian kira kita bodoh, Raja tidak akan menerima upeti sekecil ini, jika kau ingin mendapat berkah dari Raja maka berilah Raja uang yang banyak.” Orang itu bahkan tidak mau mengambil kepingan logam yang di sodorkan penjual itu, bahkan meminta lebih. “Ampun Tuan, Tuan, kami benar benar tidak mempunyai uang lagi, tolong bantu kami Tuan, bagaimana kami harus berjualan untuk hari esok Tuan,,” Kali ini Sang istri yang memohon, namun orang orang yang berdiri di depan mereka sama sekali tidak perduli. Alesha yang merasa kasihan dengan penjual itu ingin membantunya, namun Fatya menahannya. “Ini bukan urusan kita Alesha, jadi jangan membuat masalah.” Fatya menahan Alesha. Membuat Alesha kembali duduk di kursinya. **** Leoniel sedang memacu kudanya bersama Killian, mereka hanya berdua untuk menjemput Alesha di distrik Naba.. Walau sebenarnya Loeniel enggan untuk menjemput Alesha, tapi mau bagaimana lagi, perintah Raja adalah hal yang harus dia taati. Menjelang malam mereka telah sampai di perbatasan distrik Nawa dan Kala, mereka berdua tidak istrihat karena mereka harus bisa sampai di distrik Naba esok hari. Beruntungnya mereka tidak bertemu bandit bandit di hutan jadi perjalanan mereka cukup lancar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD